Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
Minuman


__ADS_3

Di ruangan rawat inap VVIP, tampak Abian, Farel dan Hani mengerubungi sebuah boks bayi. Di dalam sana terdapat bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap.


Melihat penuh perasaan gemas pada Tiger, tangan Hani terasa gatal ingin sekali mencubit pipi bayi kecil itu. Untung saja Farel selalu sigap menahan lengan Hani.


Sementara itu Elang sendiri sedang membantu Ayana menyisir rambutnya. Lalu mereka didekati oleh Abian.


"Lang, enak nggak sih punya anak?"


"Ya enak lah," celetuk Elang dengan santai. Kemudian dia menambahkan, "Apalagi proses pembuatannya. Iya kan, Ay?"


Ayana hanya tersipu dengan pipi yang memerah. Lalu menyikut dada Elang supaya tidak bicara blak-blakan soal masalah ranjang mereka.


Mendengar jawaban dari Elang, Abian seketika termenung dan dahinya pun mengerut. Entah perasaan dari mana, Abian menjadi penasaran bagaimana rasanya proses membuat anak itu.


"Kamu kenapa, Bi?" Elang bertanya secara tiba-tiba membuat Abian tersentak. "Jangan bilang kamu belum unboxing istri kamu?"


Abian hanya bergumam dengan gelagat salah tingkah. Farel yang mendengar perkataan Elang pun langsung menoleh dan segera menghampiri Abian.


Dirangkulnya sahabatnya itu sambil berbisik, "Serius, Bi? Kamu belum membobol benteng pertahanannya Brisia?"


Dengan malu-malu Abian menganggukan kepalanya secara perlahan. Dia menghela nafas lalu menunduk lesu.


Merasa iba, Elang pun menyeret Abian dan Farel menuju sudut ruangan. Dibiarkan saja Ayana bersama Hani yang berbincang seputar kehamilan dan merawat bayi.


Sementara si tiga sahabat itu saling melingkar dan berbisik.


"Serius, Bi?" tanya Elang tak percaya.


Abian tersenyum getir dan menjawab, "Dua rius malah."


"Lah bagaimana ceritanya kamu nggak bisa membobol benteng pertahanan istri kamu sendiri? Dan bukannya kamu bilang istri kamu lagi hamil." Farel ikut bertanya tak kalah penasarannya.


"Ya bagaimana kita mau melakukan hal yang satu itu kalau aku sama Brisia selalu berantem," tutur Abian apa adanya. "Sebenarnya, aku pura-pura bilang ke kalian kalau Brisia hamil. Supaya nggak terlalu malu-maluin gitu."


"Kan bisa saja perkosa dia atau pakai cara apa kek," celetuk Farel tanpa pikir panjang.


Abian berdecak kesal dan melirik Farel, "Kamu nggak tahu, Brisia itu jago bela diri. Kalau aku perkosa dia yang ada malah burung aku bakal dipatahin jadi dua."


Tiba-tiba Elang tertawa yang membuatnya menjadi pusat perhatian kedua temannya. Lalu Elang membentangkan lengannya untuk merangkul Abian dan Farel yang berada di samping kanan dan kiri.


"Aku punya ide, Bi. Bagaimana kalau kamu kasih istri kamu obat perangsang aja."


Abian mengerutkan dahi. Berpikir sejenak untuk menerima usulan dari Elang atau tidak.


"Tapi, Lang. Itu sama aja aku memperkosa istri aku sendiri dong."

__ADS_1


"Ya memangnya salah kalau memperkosa istri sendiri, Bi?" Farel bertanya yang membuat Abian kembali terdiam. "Menurut aku, idenya Elang patut dicoba. Kalau misal gagal, baru cari cara lain."


"Bener juga ya?"


*


*


*


Abian berjalan dengan langkah yang mantap menuju halaman rumah sakit dan masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan dia memacu kendaraan roda empat itu sangat kencang.


Hingga sampailah dia di rumah kecil bergaya minimalis yang merupakan kado pernikahan dari orang tua Brisia.


Di rumah ini lah Abian dan Brisia tinggal. Meski Abian menganggap rumah tersebut sebatas tempat bersinggah karena dia tidak menemukan kehangatan di dalamnya.


Ketika Abian melangkah di ruang tengah, manik matanya menangkap sosok Brisia yang sedang lari di atas treadmill. Peluh membanjiri tubuh wanita itu membuat baju olahraga putih yang digunakan Brisia basah dan terlihat menerawang.


Otomatis Abian harus menelan salivanya dengan susah payah melihat lekuk tubuh istrinya yang sangat menggiurkan dengan keringat yang mengucur.


"Apa lihat-lihat?" tanya Brisia begitu memergoki Abian memandanginya.


Sontak Abian langsung memalingkan muka dan bersikap cuek. "Bagaimana aku nggak lihat kamu kalau kamunya saja ada di depan aku?"


Namun, baru seteguk Brisia meminum, Abian dengan sengaja melewati tubuh Brisia yang membuat bahu mereka saling berbenturan dan gelas yang ada di tangan Brisia pun jatuh ke lantai.


"Eh, sorry nggak sengaja," bohong Abian dengan nada super santai.


Brisia menunduk menatap kepingan kaca di lantai. Kemudian dia mengalihkan sorot mata tajam pada Abian dan raut wajahnya menunjukan kekesalan.


"Kamu apa-apaan sih?" tanya Brisia jengkel sambil berkacak pinggang.


"Kan sudah aku bilang nggak sengaja. Aku mau lewat eh, malah nggak sengaja nyenggol bahu kamu."


"Aku nggak mau tahu ya? Kamu harus ganti minuman aku."


"Ya iya, istri bawel. Aku buatkan lagi minuman," ucap Abian dengan ekspresi jengkel pula.


Dia pun beranjak ke dapur dan seketika raut wajahnya berubah berseri-seri. Dia membuat orange juice lalu mencampurkan obat perangsang yang baru saja dibelinya.


Setelah itu, Abian membawa segelas orange juice itu kepada Brisia yang sudah menunggunya duduk di sofa. Brisia langsung menyambar dan meneguknya seperti seorang bayi yang kehausan.


Dalam hitungan detik, minuman berwarna jingga itu langsung habis tak bersisa. Sementara Abian sebisa mungkin untuk tetap menyembunyikan tawa bahagianya.


"Apa kamu lihat-lihat?" tanya Brisia.

__ADS_1


Abian tak menjawab hanya mengambil kedua telapak tangan Brisia dan menariknya berniat untuk menggajak ke kamar.


Namun, Brisia malah menampik tangan Abian dan mengerutkan dahi.


Tampaknya obat perangsang memang belum bekerja pada tubuh Brisia. Terlihat dari Brisia yang masih memasang wajah masam pada Abian.


"Apaan sih pegang-pegang."


Kemudian Brisia pun melesat pergi entah kemana. Meninggalkan Abian yang berdecak kesal dan memijat pangkal hidungnya.


Abian melepas jaket yang dia kenakan dengan perasaan kesal. Hasrat yang memuncak namun tak dapat dilampiaskan, mengobarkan semangat Abian untuk segera menaklukan Brisia.


Dia berjalan penuh semangat menghampiri Brisia dan menangkap pinggang wanita itu. Diapitnya ke tembok yang membuat Brisia menjerit terkejut dan Abian pun menahan lengan Brisia agar tak dapat melakukan perlawanan.


"Kamu mau apa?" bentak Brisia yang mulai diselimuti rasa takut.


Namun, Abian tidak menjawab. Pandangannya hanya tertuju pada bibir merah delima milik Brisia.


Dia seperti sudah tersihir dengan bibir yang menggoda sekaligus yang selalu mengeluarkan kata-kata umpatan untuknya.


Abian membiarkan nalurinya sebagai laki-laki yang bekerja. Perlahan namun pasti kepala Abian bergerak mendekat sementara Brisia semakin terlihat ketakutan dan rasa gugup mendadak menyergap.


"Bri, kita bikin anak yuk."


"Ayo," jawab Brisia tanpa disadari.


Detik berikutnya, Brisia membulatkan mata karena tersadar dengan apa yang baru saja diucapkan. Namun tepat saat itu juga, bibirnya menyatu dengan bibir Abian.


Sebuah gelombang menggetarkan tubuh Brisia kala merasakan kecupan dari laki-laki yang sekarang menjadi suaminya. Dia pun terbuai dan larut dalam ciuman itu.


Mereka pun saling mengecap penuh gairah. Merasa mendapat sambutan hangat dari Brisia, Abian hanya melengkungkan bibirnya membentuk senyuman tipis.


Dugaan Abian, obat yang perangsang yang dia berikan sudah bekerja seutuhnya di dalam tubuh Brisia.


"Abian," ucap Brisia dengan suara mendayu dan nafas yang terengah.


Abian semakin gencar melakukan serangan. Dikecupnya leher sang istri sambil tangannya menyingkap kaos putih yang menjadi penghalang sebuah pemandangan indah.


Begitu kaos itu terlepas, Abian langsung menghisap salah satu gundukan daging kenyal milik Brisia. Dia menirukan persis seperti yang biasa dia lihat di video dewasa.


"Abian," ulang Brisia yang kini menaikan nada suaranya karena tak tahan menahan sensasi geli bercampur nikmat.


Sejenak Abian menghentikan aktivitasnya untuk melihat reaksi Brisia. Wanita itu menatap Abian dengan tatapan yang tidak biasanya.


"Kamu kasih apa di minumanku tadi hah?"

__ADS_1


__ADS_2