
Elang menatap bangunan rumah yang sangat sederhana seperti rumah miliknya dulu. Lalu kaki Elang melangkah menapaki halaman
Dari gelapnya malam, Elang masih dapat melihat gerobak kecil di halaman depan rumah yang dipastikan menjadi tempat Mbok Nilem berdagang.
Di atas gerobak itu pula tergantung spanduk yang bertuliskan, 'sedia rujak buah dan pecel sayur'.
Elang mengetuk pintu. Satu kali, tak ada sahutan. Sehingga dia mengetuk lebih keras lagi. Begitu seterusnya sampai pada ketukan yang kesekian kalinya, barulah pintu perlahan terbuka.
Suara derit pintu menjadi nada pengiring munculnya sosok wanita tua dari balik pintu. Sekilas Elang mengamati penampilan sang nenek dari bawah hingga ke atas kepala.
Wanita tua itu seperti seorang nenek pada umumnya, memakai kebaya model lawas, dengan rambut putih disanggul tapi masih berantakan, dan wajah yang sudah dipenuhi kerutan.
Elang menundukan kepala sejenak untuk menunjukan rasa hormat.
"Dengan Mbok Nilem?" tanya Elang memastikan terlebih dahulu bahwa dia datang ke rumah yang tepat.
Wajah wanita itu yang pada dasarnya sudah mengerut, semakin mengerut dengan ekspresi bingung.
"Saya Mbok Nilem. Bukan pasar malem. Mau apa datang kemari?"
Elang dibuat terkejut akan respon dari Mbok Nilem. Dia mengusap tengkuknya yang meremang dan merasakan hawa yang tidak enak.
"Saya mau beli rujak buah."
"Hah? Apa? Kamu mau ngajak saya nikah?" ucap Mbok Nilem terkejut. "Saya sih mau-mau aja. Tapi apa kamu bersedia nikah sama nenek seperti saya?"
Plak.
Elang menepuk jidatnya dan mendesah frustasi. Apa salah dan dosanya sampai harus bertemu dengan Mbok Nilem?
Meskipun begitu, Elang berusaha untuk tetap tenang. Dia menarik nafas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara serta kesabaran.
Kemudian Elang menunjuk ke spanduk yang tergantung di atas gerobak. Dia menunjuk kata 'rujak buah' dan mengacungkan jari telunjuk memberi kode 'satu'.
Dan Mbok Nilem pun langsung mengerti. Wanita itu ber-oh pelan sambil menganggukan kepala.
Sementara Elang menghela nafas lega karena Mbok Nilem akhirnya paham akan apa yang menjadi keinginannya.
__ADS_1
Mbok Nilem menyuruh Elang masuk ke dalam rumahnya yang berantakan seperti kamar seorang bujangan.
Elang mengangkat bahu tak mempermasalahkan rumah yang berantakan. Dia menyimpulkan kalau Mbok Nilem ini tinggal sendiri dan kondisinya yang sudah tua membuat Mbok Nilem tak memiliki banyak tenaga untuk beres-beres.
Sambari menunggu Mbok Nilem kembali dari dapur, Elang menjatuhkan bokongnya ke sebuah sofa reot yang busanya sudah jebol. Elang menoleh ke samping di mana ada seekor kucing oren tengah tertidur dengan posisi melingkar.
Tepat saat itu juga, Elang baru sadar jika rujak yang diminta Ayana harus berbumbu pedas dan buah mangganya harus yang muda. Lantas Elang pun bangkit berdiri dan berjalan menyusul Mbok Nilem ke dapur.
Di dapur, Elang melihat Mbok Nilem yang sedang memotong buah dan akan ditaruh ke dalam wadah styrofoam. Dia berjalan mendekat dan berkata dengan baik-baik.
"Mbok, saya minta bumbunya yang pedas ya? Sama pake buah mangga…"
Plak.
Tiba-tiba Mbok Nilem menampar pipi Elang dengan sangat kuat. Tentu saja Elang dibuat terkejut oleh tindakan Mbok Nilem itu.
Sambil tangannya memegangi pipi, Elang menatap Mbok Nilem dengan sorot mata keheranan. Dipandangnya raut wajah Mbok Nilem yang penuh amarah.
Menjadikan Elang menelan saliva takut meski setengah dari dirinya bingung apa yang membuat Mbok Nilem marah.
"Astaga naga. Perasaan aku bilang buah mangga. Kenapa Mbok Nilem dengernya buah dada? Aneh," gumam Elang masih memegangi pipinya yang memerah. "Buah mangga sama buah dada kan jauh."
Elang menoleh pada Mbok Nilem. Dengan mengerahkan seluruh kesabarannya, dia menarik ujung bibir membentuk senyuman.
Jika bukan karena Ayana yang ingin rujak buah, Elang pasti lah lebih memilih kabur sejak tadi.
Namun, dia tetap berdiri di depan Mbok Nilem, berusaha menampilkan senyum terbaiknya dan menundukan kepala.
"Maaf, Mbok. Saya bilangnya mangga," kata Elang dengan menaikan nada suara menggerakan bibir untuk menciptakan artikulasi yang jelas.
"Oh, mangga. Bilang dong dari tadi."
Mbok Nilem pun mengambil buah mangga yang tergeletak di salah satu keranjang yang ada di dapur. Dia mengupas mangga itu dengan sangat cekatan. Kentara sekali jika Mbok Nilem sudah berpengalaman menjadi pedagang rujak.
"Mbok, itu mangganya manis?" tanya Elang begitu melihat daging buah mangga yang berwarna agak kekuningan.
Secepat kilat, Mbok Nilem melempar pandangan ke arah Elang dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Siapa yang bau amis? Kamu kali. Memangnya saya ikan, bau amis," cibir Mbok Nilem melanjutkan kembali memotong buah.
Elang hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya. Akhirnya dia memilih untuk diam saja daripada kena omel Mbok Nilem lagi.
Tanpa sepengetahuan Mbok Nilem, Elang mencomot satu potong buah dan mencicipinya. Begitu pula pada bumbu rujaknya.
Lumayan lah. Sesuai sama keinginan Ayana, kata Elang dalam hati.
Tak lama rujak buah yang ditunggu oleh Elang pun jadi. Dia menatap dengan mata berbinar pada kantong plastik yang berisi rujak buah pesanan Ayana.
"Makasih, Mbok," kata Elang menundukan kepala pada Mbok Nilem. Lalu dia bergumam pelan sambil memandang rujak buah di tangannya, "Akhirnya dapet juga meski harus berhadapan dengan Mbok Nilem yang budeg."
Plak.
Kali ini pantat Elang yang bernasib sial mendapat pukulan keras dari Mbok Nilem. Elang meringis kesakitan dan mengusap bokongnya yang pasti sekarang sudah berwarna merah.
"Saya dengar, kamu ngatain saya budeg. Iya kan?" raung Mbok Nilem berang dengan tangan menggenggam sapu lidi yang barusan dia gunakan untuk memukul pantat Elang.
Elang menoleh pada Mbok Nilem sambil menggerutu, "Dari tadi saya bicara nggak nyambung. Tapi sekalinya aku ngomong budeg, malah denger."
Plak.
Sekali lagi Mbok Nilem memukul pantat Elang. "Dasar anak muda, nggak ada sopan-sopannya sama orang tua. Masih saja ngatain saya budeg."
"Saya nggak ngatain Mbok Nilem budeg kok, sumpah," ucap Elang membela diri.
Satu kaki Elang melangkah mundur siap untuk kabur dari rumah begitu Mbok Nilem terlihat semakin marah.
Wanita tua itu mengetatkan rahang, tangannya mencengkram kuat gagang sapu dan matanya melotot menyala.
"Sekali lagi kamu bilang saya budeg, akan aku cincang kamu," Mbok Nilem menggeram.
"Tapi Mbok kan emang budeg," celetuk Elang yang langsung menutup mulut begitu menyadari dirinya salah bicara.
Ketika Mbok Nilem melototkan mata sambil mengacungkan sapu, detik itu juga Elang berlari terbirit-birit dan langsung menaiki sepeda motor.
"Hai, anak muda, jangan kabur kamu ya? Saya sumpahin suatu hari nanti kamu punya anak juga budeg sama seperti saya," teriak Mbok Nilem memandang punggung Elang yang semakin lama semakin menjauh bersama sepeda motor yang bersuara berisik.
__ADS_1