Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
41. Masa Muda Bram


__ADS_3

Ayana berlari menaiki tangga. Kebetulan sekali dia berpapasan dengan seorang pelayan yang sedang membawa keranjang berisi pakaian kotor.


Ayana bertanya keberadaan suaminya dan pelayan itu menjawab bahwa Elang berada di ruang kerja.


Lantas Ayana pun berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh pelayan. Dia langsung menerobos pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Membuat Elang yang sedang berkutat dengan laptop otomatis menoleh ke arah Ayana dengan dahi mengerut bingung. Sedangkan Ayana mendekat sambil memanyunkan bibir.


"Aku kesal sama Daddy dan kamu juga, kenapa kamu nggak bangunin aku?"


Dengan wajah bingung, Elang membuka mulut hendak berbicara. Tapi sebelum kata-kata keluar dari mulutnya, Ayana lebih dulu menurunkan celana panjang serta bokser Elang.


Lalu Ayana menunduk di depan kursi siap melahap gundukan daging yang masih dalam keadaan menggerut nan menunduk.


Segera tangan Elang menahan bahu Ayana dan wajahnya menampilkan rasa takut.


"Jangan dimakan, Ay!" pinta Elang.


"Ish, diam!" Ayana menampik tangan Epang. "Aku butuh pelampiasan untuk melepaskan rasa kesal aku ke kamu."


"Tapi, Ay. Jangan di sini!"


Tak mau menggubris, Ayana tetap melahap benda yang berada di inti tubuh Elang yang semakin lama dimainkan, semakin mengeras.


Elang tak dapat menahan suara menggeram nikmat, meski kini kedua pipinya bersemu merah. 


Dia melirik sekilas ke layar laptop. Lalu kembali memandang Ayana yang sedang berjongkok di bawah meja.


"Ay, aku… a aku…"


Ayana mendongak menatap wajah Elang yang tampak gugup.


"Lang, diam kenapa sih? Lagi dibikin enak malah nggak mau."


Ayana kembali menunduk, hendak melanjutkan permainannya yang tertunda. Tapi sekuat tenaga, tangan Elang menahan dagu Ayana.


"Aku lagi meeting sama karyawan kantor, Ay."


JEDER!!!


Ayana seperti tersambar petir seketika itu. Padahal cuaca di luar sedang terik-teriknya. 

__ADS_1


Tubuh Ayana membeku, sulit untuk digerakan. Dia masih tak percaya akan ucapan Elang. Sehingga dia pun mendongak untuk dapat mengintip layar laptop di atas meja.


Ternyata benar. Elang sedang melakukan virtual meeting bersama beberapa karyawan kantor.


Kedua pipi langsung memerah. Kemudian dia melotot melayangkan tatapan tajam pada Elang.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?" geram Ayana dengan suara yang direndahkan.


"Ya habis kamu sih. Dateng-dateng langsung nyosor si junior."


Ayana menghela nafas berat. Secepat kilat dia berlari keluar ruangan sambil mengiris malu.


Hari ini hari apa sih? Kok aku sial terus. Gerutu Ayana dalam hati.


Merasa tak ada yang harus dikerjakan, Ayana memilih untuk berjalan menuju ke taman belakang. 


Akan tetapi diakibatkan Ayana belum terlalu mengenal denah rumah yang luas itu, menjadikan dia malah nyasar ke dapur.


Di sana dia bertemu dengan seorang pelayan wanita seumuran Asih. Hanya saja badan pelayan itu lebih gempal. Pandangan mata pelayan wanita itu bertemu dengan pandangan mata Ayana.


Wanita itu pun menundukkan kepala sembari memberikan senyuman ramah.


Akhirnya Ayana memutuskan untuk mengobrol dengan pelayan wanita itu setelah melihat sikapnya yang ramah dan terbuka dengan orang baru.


"Bu Sari sudah lama kerja di rumah ini?" tanya Ayana dengan tangan yang sibuk memotong buah tomat.


"Lama, Non. Sudah ada dari Tuan Bram menikah."


Ayana mengangguk paham. 


"Nona Aya sendiri betah kan tinggal di sini?"


Ayana tertawa sumbang seraya melirik Sari sekilas. "Kok tanya begitu sih, Bu? Ya, mau betah atau nggak betah harus betah lah, Bu. Orang Raynar harus diwajibkan tinggal di sini."


Sari tersenyum sekilas. "Sabar ya, Nona Aya. Sebenarnya Tuan Bram itu baik orangnya, cuma dulu Tuan pernah dikhianati sama istri pertamanya, jadi sekarang beliau seperti antipati sama perempuan."


"Aw, sakit…" ringis Ayana.


Karena terkejut mendengar penuturan Sari, pisau yang digenggam Ayana sampai tergelincir dan malah melukai ujung telunjuknya.


Melihat Nona mudanya terluka, Sari langsung dilanda panik. Matanya medelik menatap jari Ayana yang mengucurkan darah.

__ADS_1


Dengan sigap, Sari mengambil plester di kotak p3k yang dia gunakan untuk membalut luka.


"Bu Sari tadi bilang, istri pertama Tuan Bram?" Ayana bertanya sambil menyipitkan mata memandang Sari. "Memang ayahnya Elang menikah berapa kali, Bu?"


Sari menarik nafas sejenak sambil meneruskan memasak. Lalu dia pun bercerita dengan suara yang sengaja direndahkan agar tak ada yang mencuri dengar.


"Dulu sebelum bisnis Tuan Bram belum maju seperti sekarang ini, Tuan punya istri tapi sayangnya selingkuh, Non."


"Waduh," Ayana tersentak kaget dengan mata membulat lebar. 


Rasa penasaran pun mulai menyergap Ayana. Dia semakin merapatkan diri ke tubuh Sari setelah menengok kanan kiri, untuk memastikan tak ada orang di dapur selain mereka.


"Terus, Bu Sari. Ceritanya bagaimana kok bisa selingkuh sih?"


"Saya juga nggak tahu persisnya, Non. Tapi yang jelas semenjak cerai, Tuan Bram sangat terpukul dan melampiaskan rasa sakit hatinya dengan bekerja tanpa mengenal waktu. Sampai bisnis Tuan Bram maju. Tapi sukses pun nggak membuat Tuan jadi bahagia. Banyak wanita yang mendekati Tuan karena melihat dari hartanya saja."


Ayana mengangguk menyimak cerita Bu Sari. 


"Terus, Bu?"


"Tuan Bram nggak menikah lagi. Nah, saat menginjak kepala empat, mungkin Tuan berpikir, siapa yang akan meneruskan bisnisnya nanti kalau beliau nggak punya anak. Akhirnya Tuan menikah deh sama almarhumah ibu Tuan Raynar. Tapi itu juga nggak didasari cinta, Non. Tuan Bram hanya mengingiankan seorang anak saja dari pernikahan itu."


Ayana menghela nafas berat setelah mendengarkan cerita dari Bu Sari. Dia termenung sejenak.


Sedangkan Bu Sari yang sedang berjibaku dengan bahan masakan melirik sekilas pada Ayana.


"Kenapa Nona Aya malah jadi melamun?"


"Aku lagi berpikir, Bu Sari. Mungkin itu sebabnya Daddy itu melarang Elang menjalin hubungan asmara sama perempuan. Hanya karena dikhianati satu wanita, Daddy jadi mengecap semua wanita matre."


"Dan kalau Nona Aya ingin tahu, salah satu alasan kenapa Tuan Bram nggak memasukan Tuan Raynar ke sekolah konvensional karena, selain ingin mendidik Tuan Raynar dengan caranya sendiri, Tuan Bram juga nggak mau Tuan Raynar pacaran apalagi terpengaruh pergaulan bebas."


Mulut Ayana sedikit terbuka menganga. "Sampai segitunya, Bu?"


"Ya, begitulah. Tuan Bram itu displin banget kalau urusan mendidik Tuan Raynar."


"Aku jadi kasihan. Ayah sama anak sama-sama kurang mendapatkan cinta dan kasih sayang," gumam Ayana. "Apalagi Elang."


Bu Sari sedikit tersenyum ketika mendengarkan gumaman Ayana. 


"Tapi kan sekarang sudah ada Nona Ayana yang akan memberikan cinta dan kasih sayang ke Tuan Muda Raynar."

__ADS_1


Tanpa Ayana dan Sari sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka serta menyimak pembicaraan dua wanita berbeda generasi itu sejak tadi.


Lalu sosok itu berbalik dan pergi meninggalkan tempat persembunyiannya tanpa menimbulkan suara.


__ADS_2