Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
68. Geng Boker


__ADS_3

"Ternyata kamu suka main pedang-pedangan."


"Aya, ini tidak seperti yang kamu lihat," Elang berjalan mendekati Ayana. "Aku sedang mencoba membuat Farel sadar. Itu saja."


Ayana mundur beberapa langkah saat Elang mendekat sambil menampilkan raut muka bergidik ngeri. 


"Jangan dekat-dekat!"


"Tapi, Ay."


Ayana langsung menghambur keluar ruangan. Dia sama sekali tidak memperdulikan teriakan Elang yang memanggil namanya. 


Sedangkan Abian segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Tak berselang lama, dokter yang menangani Farel berlari tergopoh-gopoh bersama seorang perawat. 


Tercengang.  Itulah ekspresi yang ditampilkan oleh sang dokter saat pertama kali melihat Farel. Meskipun begitu, sang dokter berusaha untuk tenang dan mulai memeriksa kondisi Farel. 


Di saat yang bersamaan, sang perawat meminta dengan sopan pada Abian dan Elang untuk menunggu di luar. 


Tanpa diminta pun Elang sudah berlari mengejar Ayana, meninggalkan Abian yang mau tak mau bergabung bersama orang tua Farel karena tak ada yanh bisa dilakukan selain menunggu. 


"Aya," teriak Elang seraya mempercepat langkah kakinya. 


Elang hendak meraih tangan Ayana tapi langsung ditampik oleh wanita itu. 


"Aya, yang aku lakukan itu untuk mencoba membangunkan Farel. Please, kamu percaya sama aku!"


"Cuci tanganmu!" bentak Ayana masih dengan memasang muka galak. 


"Iya, iya, aku cuci tangan sekarang!"


Elang menengok kanan dan kiri mencari tempat yang bisa dia gunakan untuk mencuci tangan dan kebetulan sekali dia menemukan wastafel yang ada di ujung lorong. 


Elang berjalan ke arah wastafel, mencuci tangannya sampai tiga kali untuk membunuh kuman yang bersarang di tangannya. Selama mencuci tangan, Elang teringat kembali bagaimana dia membangunkan junior Farel, membuatnya kembali bergidik ngeri. 


"Sumpah. Aku nggak akan melakukan hal itu lagi."


Selesai mencuci tangan, Elang memutar tubuhnya untuk menunjukan pada Ayana bahwa tangannya sudah bersih.  Namun, sayang sekali Ayana sudah tidak berada di tempat semula. 


"Lho, Ayana mana?"


Elang melangkah di sepanjang lorong rumah sakit sambil menyisir pandangan mencari keberadaan Ayana. Merasa tak dapat menemukan Ayana, Elang pun bermaksud untuk kembali menemui Abian. 


Sampai di depan ruangan, ternyata dokter sudah berada di luar sedang berbicara dengan orang tua Farel. 

__ADS_1


"Jika kondisi kaki Farel membaik, mungkin dalam beberapa hari Farel sudah diperbolehkan pulang," ungkap sang dokter yang bisa Elang dengar. 


Sorot mata kedua orang tua Farel mendadak berbinar bahagia. Mereka mengucapkan rasa syukur karena anak mereka akhirnya bisa melewati masa kritis. 


Sang dokter yang tengah menatap orang tua Farel juga ikut tersenyum bahagia dan dia juga tak habis pikir. Selama bertahun-tahun dia menjadi dokter, baru pertama kali ini ada pasien yang dalam keadaan kritis bisa membaik dengan sangat cepat. 


Sebuah keajaiban yang patut disyukuri. Hanya saja sang dokter penasaran akan apa yang telah dilakukan oleh salah satu teman pasien.


"Kalau boleh tahu, bagaimana ceritanya Farel bisa sadarkan diri?" dokter bertanya sambil menatap Elang dan Abian secara bergantian. 


Abian segera menunjuk Elang. "Dia yang melakukannya,  Dok."


Sang dokter pun mengalihkan pandangan kepada Elang. Dia menatap lekat Elang serta mengguncangkan kedua bahu pemuda itu. 


"Katakan! Bagaimana caranya?" ucap dokter terkesan memaksa. 


"Hmmm anu... itu... " Elang gelagapan untuk berbicara. "Sebenarnya tadi itu... "


"Ck, ayo katakan saja! Jangan ragu-ragu! Siapa tahu saya bisa mempraktekannya kepada pasien lain."


"Aku ragu dokter mau melakukan yang barusan dilakukan Elang," Abian bergumam sangat pelan sehingga hanya dia saja yang mendengar. 


"Tadi itu... " Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 


Dering ponsel dari ponsel Elang, membuat pemuda itu dapat menghirup nafas lega karena memiliki alasan untuk menghindar dari pertanyaan sang dokter. 


"Permisi, Dok. Saya mau angkat telepon dulu."


Elang berjalan menjauh sebelum mengangkat telepon dari Ayana. Sekilas dia menoleh ke arah dokter dan Abian memastikan mereka tidak dapat menguping pembicaraannya bersama Ayana, lalu dia pun menempelkan ponsel ke daun telinga. 


"Halo, Ay. Kamu dimana si? Main kabur aja. Aku khawatir tahu," protes Elang begitu sambungan telepon terhubung. 


"Aku mau pulang dan untuk malam ini kamu nggak dapet jatah kelon. Ngerti?"


"Tapi, Ay. Kok gitu sih? Kamu masih nggak percaya sama aku? Aku ini laki-laki normal, Ay."


Tut… Tut… Tut… 


Elang mendesah frustasi kala melihat layar ponsel dimana sambungan telepon telah terputus. 


Dan Elang pun memutuskan untuk bermalam di rumah sakit bersama Abian. Ibu Farel tak henti-hentinya menangis karena meski Farel sudah sadar, tetapi dia sama sekali tidak mau berbicara pada orang tuanya. 


Hal itu sukses membuat hati ibu Farel hancur sekaligus merasa bersalah. Sehingga ayah Farel memutuskan untuk pulang mengantar ibu Farel dan meminta Abian serta Elang yang menemani anaknya. 

__ADS_1


Pukul sebelas malam, ketiga sahabat itu masih belum tidur. Mereka duduk di sofa yang ada sudut ruang VIP sambil bermain game online. 


Sementara Farel yang sudah sadar namun belum diperbolehkan berdiri, asyik menonton acara televisi. 


Kemudian Farel menoleh pada Elang dengan wajah memberengut. Satu tangan Farel meraih botol air mineral dan dia lempar ke arah Elang. 


Tengah fokus bermain ponsel, Elang terlonjak saat ada botol air mineral mendarat tepat ke wajahnya. Lantas dia pun melempar pandangan pada Farel. 


"Apa sih, Rel?" protes Elang dengan nada kesal. 


Bukannya merasa bersalah, Farel justru menampilkan raut wajah yang lebih kesal. 


"Lang, kamu harus tanggung jawab."


"Tanggung jawab apa?" Elang bertanya bingung. 


"Kamu masih tanya tanggung jawab apa?" geram Farel melayangkan tatapan tajam. "Kamu sudah melakukan pelecehan, Lang. Aku sekarang sudah ternodai. Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus tanggung jawab."


Elang menghela nafas dan menatap Farel jengah. 


"Aku tanggung jawabnya dengan cara apa? Nikahin kamu gitu?" Elang bergidik ngeri. "Ih amit-amit."


"Sudah deh, Rel. Lagian Elang melakukan itu untuk kebaikan kamu juga," kata Abian mencoba menjadi penengah. 


Dan agar Farel tidak lagi mempermasalahkan tindakan Elang, Abian berinisiatif mencari topik lain. 


"Eh, ngomong-ngomong ya. Kita tuh kompak banget ya? Satu dapat masalah, yang lain juga kena masalah."


Perhatian Farel pun teralihkan dan berkata, "Iya yah. Bener lho. Abian gagal dapetin Samantha, Elang diusir sama Daddy nya, terus aku juga."


Elang menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ditatapnya Abian dan Farel secara bergantian. 


"Maka dari itu, aku berencana mengajak kalian membangun bisnis," ucap Elang. 


"Bisnis apa, Lang? Aku mau banget tuh. Aku pengin nunjukin ke orang tua aku kalau aku bisa sukses meski nilai ujian nggak sebagus harapan mereka," Farel berkata mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.


Kemudian Abian menjetikan jari dengan bola mata yang membelalak senang. "Gimana kalau kita bisnis pakaian dalam, Lang? Aku juga mau sukses biar Samantha nyesel sudah mencampakan aku."


Ketiga sahabat itu saling menatap dengan pandangan yang mantap. Lalu Elang mengulurkan tangan yang langsung diikuti oleh Abian dan Farel. 


Mereka menumpuk saling tangan sambil mengucapkan yel-yel geng. 


"Geng Boker!" teriak Elang. 

__ADS_1


Lalu Abian serta Farel menyahut, "Bohay tapi kere. Yeah!"


__ADS_2