Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
44. Kerja Sama Dengan Samantha


__ADS_3

Dokter Samantha berdiri di depan pintu kamar Ayana cukup lama. Dia menghela nafas mulai bosan.


Kemudian pintu pun perlahan terbuka dengan menampilkan Elang yang memakai kaos dan celana panjang berbahan jeans. Elang mempersilahkan Samantha masuk tapi dia segera menutup pintu saat Diva maju satu langkah mendekat.


"Sorry, Div. Cukup dokter Samantha saja yang masuk," ucap Elang sebisa mungkin menampilkan senyum ramah agar Diva tidak tersingung.


Diva mengangukan kepala memaklumi. Lau dia pun melangkah pergi.


Merasa cukup aman, Elang segera mengunci pintu, memutar badan dan melihat Samantha yang kini tengah berdiri di samping tubuh Ayana yang berbaring di atas ranjang.


"Nona Ayana, saya periksa tekanan darah Nona terlebih dahulu ya?" kata Samantha meminta izin yang direspon oleh Ayana dengan sebuah anggukan.


Namun, tiba-tiba Ayana menarik kedua lengan Samantha ke belakang dan menahannya dengan sekuat tenaga. Meskipun Samantha memberontak minta dilepaskan, tapi stamina Ayana sebagai guru olahraga lebih kuat.


Ditambah Elang yang berlari mengambil seutas tali di laci nakas. Lalu tali itu dia gunakan untuk mengikat tangan Samantha.


Tak lupa Elang mengambil sehelai kain untuk membekap mulut Samantha supaya dokter wanita itu tidak bisa berteriak minta tolong.


Ayana dan Elang tertawa puas sambil berkacak pinggang ketika mereka berhasil meringkus Samantha yang kini menggeliat di atas ranjang, berusaha untuk melepaskan diri.


Meskipun mulut Samantha dibekap, tapi dia masih dapat mengeluarkan suara geraman mengucapkan sumpah serapah.


"Maaf, Dok. Kami terpaksa melakukan ini," ucap Ayana dengan raut dibuat menyesal.


"Kami akan melepaskan Dokter jika mau bekerja sama dengan kita berdua


 Bagaimana? Apa Dokter bersedia?" imbuh Elang sebelum akhirnya dia melepas kain di mulut Samantha.


"Aku dibayar oleh Tian Bram. Jadi aku akan lebih menuruti perintah Tuan Bram daripada kalian," Samantha menggeram kesal seraya menatap tajam Ayana dan Elang bergantian.


"Ya, sudah. Kami bekap lagi mulut Dokter," ancam Elang.


"Kalian nggak bisa mengurung aku di sini. Kalau aku nggak keluar dari kamar ini, maka Tuan Bram pasti akan curiga dan mencari keberadaanku," Samantha berkata penuh percaya diri.


Sementara Elang dan Ayana saling tatap sambil menyunggingkan seringai. 


"Ya, tapi sebelum Daddy menemukan Dokter, kita telah puas membuat Dokter menderita," kata Ayana tersenyum penuh makna menatap Samantha.


"Apa maksud kalian?"


Ayana dan Elang tak menjawab. Tangan Elang merogoh isi tas Samantha, seolah sedang mencari sesuatu. Lalu dia pun bersorak riang saat tangannya mengeluarkan stetoskop dari dalam tas.


Stetoskop itu Elang berikan pada Ayana yang langsung memasangkan ke dua telinga Samantha.


Kemudian Ayana mengambil ujungnya dan berteriak, membuat Samantha terlonjak kaget. Dokter wanita itu memaki tingkah Ayana dan Elang cekikikan yang seperti anak kecil.

__ADS_1


"Kalian!" raung Samantha berang. "Sebenarnya apa mau kalian? Hah?"


Elang yang sudah dapat menghentikan tawanya pun berbicara, "Dok, tolong bekerja samalah dengan kami! Katakan pada Daddy kalau Ayana sedang hamil!"


"Ini demi kelangsungan hidup kami, Dok," timpal Ayana yang kini menyatukan kedua telapak tangan memohon.


Dengan wajah tercengang, Samantha menatap Elang dan Ayana secara bergantian. Dahi Samantha mengerut bingung sekaligus manik matanya menyipit curiga.


"Jadi, sebenarnya Nona Ayana nggak hamil?"


Ayana dan Elang serempak menggelangkan kepala. 


"Kami terpaksa berbohong supaya Daddy nggak memisahkan kami," jelas Elang memeluk Ayana.


Sepasang suami istri di hadapan Samantha itu pun memasang wajah memelas agar permintaan mereka dikabulkan.


Sejenak Samantha menghela nafas seraya berdecak. Dia mengelengkan kepala sebagai jawaban.


"Nggak bisa. Sebagai Dokter, saya nggak mau mengambil resiko jika ketahuan memberikan hasil pemeriksaan palsu."


"Tapi kami akan membayar Dokter dua kali lipat dari bayaran Daddy," kata Ayana memulai tawar menawar.


Sayang sekali, Samantha tampak tidak tertarik dengan menawaran Ayana. Dia malah menggerakan tubuhnya supaya tali yang mengikat pergelangan tangan bisa sedikit longgar.


"Bagaimana kalau kita membayar Dokter Samantha tiga kali lipat dari uang yang diberikan Daddy?" 


Tak mau kalah, Elang terus berusaha memberikan tawaran agar melukuhkan hati Samantha. Akan tetapi, Samantha tetap pada pendiriannya.


Sambil terus menolak, Samantha menggesekkan kedua tangannya dan ikatan tali pun terlepas karena sebenebarnya Elang mengikat tidak terlalu kencang.


"Saya akan keluar dari kamar ini dan mengatakan pada Tuan Bram kalau anak dan menantunya bersekongkol telah melakukan sandiwara," ancam Samantha berbicara setengah berteriak sambil melemaparkan tali.


Kemudian, Samantha turun dari ranjang, menyambar tasnya dan berjalan keluar. 


Tentu saja Ayana dan Elang tidak tinggal diam. Mereka berdua menahan Samantha agar tetap berada di dalam kamar sebelum dia setuju menutupi kebohongan mereka.


"Saya nggak tertarik dengan uang kalian. Memang aku nggak bisa cari uang sendiri apa?" teriak Samantha berang. 


Sungguh dia tidak terima dengan sikap Ayana dan elang yang seolah mereka pikir, uang bisa membereskan semua masalah.


"Bagaimana kalau pacar?" celetuk Ayana tiba-tiba.


Dan secara ajaib, Samantha berhenti memeberontak. Dia menoleh cepat pada Ayana dengan sorot mata berbinar.


"Pacar?" Samantha mengerutkan dahi tampak sedang berpikir. "Maksudnya kalian mau mengenalkan aku dengan seorang pria, begitu?"

__ADS_1


Ayana tampak ragu tapi dia mengiiyakan saja.


Kemudian Samantha semakin berpikir kers mempertimbangkan penawaran dari Ayana.


Kebetulan sekali, Samantha mendapatkan undangan dari mantan pacar yang menikah dengan sahabatnya sendiri. Tentu Samantha tidak ingin datang seorang diri ke pesta pernikahan itu.


Dia tidak mau dianggap kurang laku atau belum bisa move on. Sehingga akhir-akhir ini Samantha sedang berusaha mencari pacar baru.


"Apa dia tampan?"


"Tentu saja tampan. Sangat-sangat tampan malah," kata Ayana penuh semangat.


Lalu dia mengambil ponsel milik Elang yang tergeletak di atas nakas, mengutak-atiknya sebentar, lalu menunjukan foto Abian pada Samantha.


"Hmm lumayan lah," gumam Samantha. "Baiklah. Aku setuju."


"Yeah," sorak Ayana dan Elang bersama-sama.


Mereka pun akhirnya menjalin kerja sama. Samantha akan mengatakan kepada Bram bahwa Ayana hamil lima minggu dengan syarat besok Ayana harus mengenalkan Samantha dengan pria bernama Abian.


Setelah itu, masalah telah teratasi. Dokter Samantha sudah keluar dari kamar, sehingga kini tersisa Ayana dan Elang yang berbaring bersama di atas ranjang.


"Ay, apa nanti Abian mau diajak kencan sama Dokter Samantha?" Elang bertanya sambil memandang langit-langit.


"Ya, harus mau lah. Kalau nggak mau, kamu yang paksa dia."


Elang memberutkan bibir, tampak sedang berpikir agar Abian mau diajak kencan dengan Samantha.


Kalau Samantha tahu Abian masih sekolah, apa dia nanti nggak pingsan tuh? Pikir Elang dalam hati.


Siang itu, dilalui Ayana dengan berbaring di tempat tidur, karena kebiasannya jika hari pertama datang bulan, perutnya akan terasa sakit.


Meski rasa sakitnya sudah berangsur menghilang sebab tadi dia sudah meminta obat pada Samantha dan juga mengompres perutnya dengan air hangat. Akan tetapi Ayana malas untuk bangkit dari tempat tidur.


"Lang, aku minta tolong boleh?"


Elang yang sedang bermain ponsel mendongak sejenak menatap Ayana.


"Tentu saja boleh. Kamu mau apa, Sayang? Katakan saja! Kamu nggak perlu turun dari tempat tidur, biar aku yang melakukan semua untukmu," kata Elang dengan penuh keyakinan.


"Stok pembalutku sudah menipis. Jadi tolong kamu belikan pembalut di mini market!"


Senyum penuh keyakinan di bibir Elang mendadak leyap tak berbekas. Dia menoleh cepat ke arah Ayana dengan manik mata membulat lebar.


"Aku? Membelikan pembalut?" tanya Elang menastikan dan Ayana pun menganggukan kepala. "Astaga! Ini pasti akan memalukan."

__ADS_1


__ADS_2