
Abian duduk di bangku taman menunggu mobil yang akan menjemputnya. Rintik air hujan membuatnya semakin gelisah menunggu kedatangan seseorang yang telah dia nantikan selama lima belas menit.
Sekali lagi Abian mendesah frustasi, melirik layar ponsel yang tidak ada apa-apa.
Dia melonggarkan dasi yang melingkar di leher. Setelan jas hitam yang dia pinjam dari Elang sangat pas di tubuhnya. Membuat beberapa gadis yang melewati taman melirik ke arah Abian dengan pandangan takjub.
Tapi Abian sama sekali tidak peduli pada para gadis itu. Yang dia pedulikan adalah kedatangan wanita bernama Samantha.
Tak lama, sebuah mobil putih berhenti tepat di hadapannya. Kaca jendela mobil perlahan bergerak turun menampakan wajah cantik seorang wanita yang mengarahkan pandangan kepada Abian.
"Kamu Abian Saputra ya?" tanya Samantha menunjuk Abian.
"Iya. Kamu Samantha Amelia?" tebak Abian pada wanita cantik dengan wajah kebule-bulean.
Samantha menganggukan kepala tanpa melepas tatapan pada Abian. Lalu dia menyuruh Abian untuk masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, suasana canggung langsung menyergap. Samantha dan Abian saling terdiam namun sesekali mereka melirik ke samping.
Ehem.
Samantha berdehem untuk mulai berbicara.
"Kamu sudah tahu kan? Apa yang harus kamu lakukan nanti?"
Abian mengangguk tanda dia telah mengerti.
"Kita pura-pura pacaran dan jangan sampai membuat malu di acara pernikahan mantan pacar kamu."
"Sip. Pinter," puji Samantha yang kemudian mempercepat laju kendaraan.
Tujuan mereka adalah gedung yang sedang dikerumuni banyak orang. Lebih tepatnya orang-orang berkelas yang menaiki mobil mewah. Semewah pakaian mereka.
Abian menelan saliva. Dalam sekejap dia disergap rasa gugup yang membuatnya terdiam mematung di tempat.
Kalau bukan Samantha yang menarik lengan Abian, mungkin dia akan diam seharian di sana.
Memang ini bukan lah pertama kali Abian datang ke acara pernikahan. Namun, yang membuatnya gugup adalah dia datang dengan pacar jadi-jadiannya.
"Aku langsung kenalin kamu sama mantan aku saja ya?"
Tanpa meminta persetujuan Abian, Samantha langsung menarik lengan Abian dan membawanya ke hadapan seorang pria memakai jas putih.
Pria itu menyeringai kala memandang Samantha. Lalu pandangannya beralih kepada Abian. Dia meneliti penampilan Abian dari bawah sampai ke atas.
"Josh, kenalkan ini pacar baru aku. Namanya Abian," kata Samantha memperkenalkan Abian sambil menggelayut manja di lengan.
Josh mengulurkan tangan menyalami Abian dengan raut muka yang sulit dibaca. "Joshua."
"Abian."
Beberapa saat berlalu, tangan Abian dan Joshua saling meremas kuat selaras dengan tatapan tajam yang saling mereka lempar.
__ADS_1
Hingga akhirnya Samantha yang melepaskan tautan tangan mereka setelah merasakan hawa peperangan yang berhembus.
Joshua berdehem lalu menoleh ke samping di mana perempuan memakai gaun putih tersenyum lebar.
"Perkenalkan juga ini istriku. Dia seorang model. Jadi nggak heran kalau dia sangat cantik," Joshua sengaja memuji istrinya agar membuat hati Samantha meradang.
"Oh begitu ya?" Samantha mencibir. "Pacar aku juga seorang pengusaha. Jadi nggak heran kalau dia kaya raya. Iya kan, Bi?"
Dengan gugup, Abian membenarkan perkataan Samantha. Namun, ekspresi yang ditampilkan oleh Joshua seperti terlihat kurang suka.
Kembali dia menelisik wajah Abian. Sejauh ini Joshua telah mengenal banyak pengusaha-pengusaha kaya. Akan tetapi dia seperti baru pertama kali melihat wajah Abian.
Menjadikan Joshua mencium bau-bau kebohongan.
"Memang kamu itu pengusaha apa?"
"Aku pengusaha pakaian dalam."
Joshua mendengus mengejek. "Jangan bohong kamu! Aku tahu banyak tentang dunia bisnis dan sepertinya aku nggak pernah lihat kamu di mana pun."
Abian berdecak santai. "Aku memang pengusaha pakaian dalam tahu. Kalau nggak percaya nih aku buktikan."
"Hei, kamu mau apa?" teriak Joshua membelalakan mata saat melihat Abian yang hendak menurunkan celananya.
Dengan tangan yang memegangi ikat pinggang dan wajah tanpa dosa, Abian berkata, "Mau mempromosikan produk dari perusahaanku lah."
"Ya, jangan dibuka celana mu dong!" geram Joshua dengan manik matanya yang mengedar ke sekeliling. "Apalagi di pesta pernikahanku."
Sedangkan Samantha hanya terkikik pelan sambil menutupi mulut menggunakan sebelah tangannya. Dia sangat gemas dengan tingkah Abian yang mampu membuat Joshua geram.
"Habis tadi kamu bilang nggak percaya. Ya, sudah aku mau memperlihatkan salah satu produk dari perusahaanku malah nggak boleh. Gimana sih?"
"Ah, sudahlah sana pergi," kata Joshua mengibaskan tangan karena tak mau jika Abian membuat onar pestanya.
Abian dan Samantha pergi dari atas panggung menuju meja prasmanan. Tentu mereka tidak mau rugi datang ke acara pesta Joshua.
Mereka mengambil makanan banyak-banyak sampai menggunung di piring. Padahal Samantha hanya memberikan amplop berisi daun kering.
"Eh, Bi, memang bener ya kamu itu pengusaha pakaian dalam?" tanya Samantha ketika mereka tengah menikmati makanan hasil rampasan. "Pekerjaan kamu sebenarnya apa sih?"
Sejenak Abian berpikir. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya kalau dia hanyalah pelajar SMA.
Takut jika Samantha nantinya akan menjauhinya karena menganggap Abian masih bocil.
"I-iya bener dong. Aku itu pengusaha pakaian dalam. Kalau kamu nggak percaya nanti aku kirimkan salah satu produk terbaik dari perusahaanku."
Samantha menganggukkan kepala percaya saja pada ucapan Abian.
"Habis puas makan, kita langsung cabut aja ya?"
"Lah kok langsung pulang?"
__ADS_1
"Buat apa lama-lama disini. Melihat dua kutu busuk bahagia," Samantha berucap ketus sambil melirik tajam pada Joshua dan istrinya di atas pelaminan.
Abian menolehkan kepala untuk melirik sekilas arah pandangan Samantha. Lalu dia kembali lagi menatap Samantha dengan sorot mata kasihan.
Dia hanya menyetujui saja permintaan Samantha. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pergi dari gedung itu.
"Kapan-kapan kita bisa jalan bareng lagi kan?" tanya Abian saat mereka berjalan bergandengan tangan.
Samantha tersenyum dan menganggukan kepala, pertanda dia setuju akan bertemu dengan Abian lagi.
Abian bersorak dalam hati setelah merasakan tanda-tanda lampu hijau dari Samantha.
Namun, saat mereka berada di tempat parkir mobil, Samantha berpapasan dengan Bram yang baru saja turun dari mobil.
"Tuan Bram," ucap Samantha menyapa Bram dengan sedikit membungkukan badan.
Diikuti juga oleh Abian yang membungkuk dengan kikuk, sebab ini pertama kalinya dia bertemu langsung dengan ayah Elang sekaligus bos ayahnya sendiri.
Bram membalas dengan sedikit menundukan kepala. Dia menatap Samantha dan pria yang wajahnya tampak seperti tidak asing.
Bram mengerutkan dahi sambil menunjuk Abian. "Kamu Abian kan?"
Abian membulatkan mata lebar. Tak menyangka Bram akan mengenalinya. Dengan perasaan gugup, dia menjawab, "I-iya, Tuan."
"Lho Tuan Bram kenal sama Abian?" tanya Samantha menunjuk Bram dan Abian secara bergantian.
"Ya kenal dong dia itu anak sekretaris saya," ucap Bram menepuk bahu Abian.
Sedangkan Samantha hanya ber-oh kecil dengan kepala manggut-manggut tenang. Berbeda dengan Abian yang menelan saliva karena gugup, jantungnya berdebar kencang dan peluh sebesar biji jagung melintas di kening.
Dengan tangan yang masih menepuk bahu Abian, Bram melanjutkan perkataannya, "Dan dia juga teman sekolah Raynar di SMA."
Detik berikutnya, Samantha mendelikan mata setelah mendengar ucapan Bram.
"Apa? Teman sekolah?"
*
*
Nyapa pembaca dulu ah.
Hai, semau apa kabar? Semoga dalam keadaan baik ya?
author mau ngucapin terima kasih untuk kalian yang masih pantengain cerita ini meski alurnya absurd. Se absurd diriku hehehe
Absen dulu dong. Siapa yang mau cerita ini akan terus berlanjut? Tulis di kolom komentar ya.
Dan satu lagi. Jangan lupakan kebiasaan baik menekan like setelah membaca 😊
Terima kasih.
__ADS_1