Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
38. Kamu Hamil?


__ADS_3

Ayana tak langsung menjawab. Dia sendiri pun kaget Elang akan mengatakan bahwa dirinya hamil.


Bagaimana mau hamil, membuatnya saja baru semalam? gerutu Ayana dalam hati.


Elang bangkit berdiri di samping Ayana, tangannya mengusap lembut perut Ayana yang masih datar dengan tatapan berbinar, lalu dia menoleh kepada Bram.


"Dad, di sini ada kehidupan seorang penerus bisnis Daddy. Kalau Daddy tidak mengizinkan Ayana tinggal di rumah ini, itu sama saja Daddy mengusir cucu Daddy sendiri."


Bram masih tidak percaya dengan ocehan Elang. Dia menatap lurus pada bola mata Ayana dan bertanya sekali lagi.


"Apa itu benar, Ayana? Kamu sedang mengandung cucu pewarisku?"


Ayana dilanda gugup. Dia mencondongkan kepalanya untuk bisa dekat dengan telinga Elang.


"Lang, apa-apaan kamu ini?" bisik Ayana.


"Sudah, bilang saja kamu sedang hamil anakku," kata Elang dengan suara pelan tanpa menggerakan bibir.


"Ayana, jawab pertanyaanku! Apa benar kamu hamil?" Bram bertanya sedikit kesal karena Ayana tak kunjung memberi jawaban.


"Eh i-iya, s-saya sedang hamil," kata Ayana terbata-bata sambil mengusap perutnya.


"Dad, aku minta maaf. Aku bukan bermaksud berbohong pada Daddy, aku sudah memiliki niat mengatakan tentang pernikahanku ini setelah aku lulus, Dad."


Bram membuang muka tak mau menatap wajah Elang. Dia sudah cukup kecewa karena sang anak menikah tanpa meminta restu terlebih dahulu padanya.


Terlebih Elang menikah dengan gurunya sendiri, wanita yang usianya lebih tua dari Elang.


Menyadari jika Bram masih marah, Elang pun kembali bersimpuh di depan lutut Bram. Dia menundukan kepala dalam.


"Dad, Daddy selalu bilang agar aku harus menjadi pria sejati yang tidak boleh meninggalkan tanggung jawab, kan? Maka dari itu aku tidak akan meninggalkan Ayana, karena dia dan anak yang di dalam kandungannya adalah tanggung jawabku."


Bram menarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut. Lantas dia pun menganggukkan kepala pelan.


"Baiklah, Daddy mengizinkan Ayana tinggal di rumah ini."


Ucapan Bram itu menjadikan bibir Elang merekahkan senyuman dan langsung melontarkan ucapan terima kasih pada sang ayah.


Namun, tiba-tiba Bram mengangkat satu jari telunjuk sebagai kode peringatan. 


"Tapi ingat, Raynar. Kamu harus bekerja di perusahaan Daddy mulai besok."


Elang mengangguk mengiyakan, "Tapi aku akan tetap bersekolah sampai aku dinyatakan lulus SMA. Boleh kan, Dad?"

__ADS_1


"Tidak," jawab Bram tegas. "Sudah cukup satu permintaan yang Daddy berikan padamu, Ray."


Elang menghela nafas panjang dan merengek seperti anak kecil. Membuat Ayana yang melihatnya, menjadi bergidik ngeri.


Bagaimana tidak? Dia baru sadar memiliki suami yang sangat manja. Jauh dari kriteria suami idaman.


"Come on, Dad. Hanya beberapa bulan lagi, aku akan lulus."


Elang memasang wajah puppy eyes yang membuat Bram menghela nafas berat. Tak ingin anaknya kembali memberontak seperti dulu, akhirnya Bram lagi-lagi mengiyakan permintaan Elang.


Kemudian Bram memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar Elang dan Ayana yang tidak kembali ke sekolah, karena sudah mendapat izin dari Trisno.


Tak butuh waktu lama, sepasang suami istri itu kini sudah berada di dalam kamar yang luas dengan cat dinding biru gelap. 


Dari perabot di dalam ruangan, jelas sekali bawha kamar itu dulunya dihuni Elang ketika masih tinggal di rumah.


Elang langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang ukuran king size super empuk yang sudah lama tidak dia tempati. Lalu tangan Elang bantal di samping kanan kepalanya. Meminta agar Ayana juga ikut berbaring.


Namun, Ayana merasa enggan. Dia melipat tangan di dada dan bibirnya mengerucut sebal.


"Lang, kenapa selama ini kamu bohong sama aku? Dan kenapa pula kamu berbohong sama Daddy kamu kalau aku hamil?" Ayana mencecer pertanyaan dengan suara yang ditinggikan.


Alih-alih menjawab, Elang malah menekan jari telunjuk ke bibir. Memberi tanda agar Ayana menurunkan nada bicaranya supaya tidak terdengar oleh Bram.


"Sebenarnya aku mau jujur sama kamu, tapi kemarin aku lupa karena saking senengnya dapat jatah dari kamu," terang Elang entang.


"Terus kenapa kamu bohong kalau aku hamil?" Ayana bertanya tanpa menatap wajah suaminya. Sebab wajah Ayana kini tenggelam di dada bidang Elang.


"Ya, biar Daddy nggak pisahin kita lah."


"Tapi kan aku nggak hamil."


"Ya, maka dari itu aku mau kejar setoran supaya kamu cepet hamil, Ay."


Elang melirik ke arah pintu, memastikan bahwa pintu dalam keadaan tertutup dan terkunci, lalu dia tersenyum penuh arti saat memandang wajah Ayana.


Tangan Elang menyusup masuk ke dalam pakaian Ayana, memijat dua gundukan daging yang kenyal namun juga padat, lalu dia labuhkan kecupan di bibir istrinya.


Sambil menahan sensasi nikmat yang ditimbulkan dari pijatan Elang, Ayana bertanya, "Apa ada lagi yang kamu sembunyikan dariku, Lang?"


Elang menarik ke atas baju Ayana, lalu tangannya mengusap punggung untuk melepas pengait bra. 


"Hanya sedikit orang yang tahu. Bahkan karyawan kantor dan beberapa pelayan rumah menyangka aku remaja usia delapan belas tahun tapi sebenarnya bulan depan usiaku dua puluh tahun."

__ADS_1


Ayana berdecak. "Dua puluh? Aku dua puluh dua. Jadi masih tetap tua aku."


Elang terkekeh sesaat, "Aku tidak tahu tujuan Daddy menyamarkan usiaku tapi setidaknya umur kita jadi tidak terpaut jauh kan?"


Kemudian Elang menyesap salah satu puncak bukit milik Ayana dan memainkannya dengan lidah. Membuat Ayana sedikit mengerang sambil mencengkram rambut Elang.


"Lalu apa lagi?"


"Aku sudah punya ijazah S1."


"Apa?" pekik Ayana terkejut.


Dia menunduk memandang Elang yang masih asyik dengan mainan barunya. 


"Kalau kamu punya ijazah S1, kenapa kamu sekolah SMA?"


Elang menghentikan kegiatannya, mengecup sekilas puncak bukit lalu mendongak membalas tatapan Ayana.


"Dari aku kecil, Daddy menerapkan pembelajaran home schooling dan itu pun pelajaran yang aku dapat hanya seputar bisnis, manajemen dan semua hal agar aku bisa memimpin perusahaan."


Tangan Elang bergerak mengusap lembut rambut Ayana tanpa mengaluhkan pandangan dari wajah istri tercintanya.


"Kenapa aku memilih bersekolah SMA? Karena banyak orang bilang masa paling indah adalah masa-masa di SMA, dan benar saja. Di sekolah ada banyak yang nggak aku dapatin selama ini. Pertemanan, kebebasan, dan juga kamu."


Elang mengulum senyum dan mengecup bibir Ayana. Sementara Ayana sendiri masih terpaku tak dapat berkata-kata.


Di saat kebanyakan remaja bersekolah karena disuruh orang tua untuk menuntut ilmu, dia malah melawan ayahnya sendiri hanya karena ingin tahu rasanya berangkat ke sekolah.


Pantas saja Elang menjadi siswa yang suka seenaknya saja. Karena dia tidak pernah mendapatkan kebebasan saat berada di rumah.


"Ayana."


"Hum."


"Kamu nggak marah sama aku?"


"Marah kenapa?"


"Karena aku bohong sama kamu."


Ayana menghela nafas dan meraut kedua pipi Elang. "Awalnya aku marah, tapi aku malah jadi kasihan saat mendengar cerita masa kecil kamu. Pasti kamu tertekan ya, Lang?"


"Sangat tertekan, Ay," ucap Elang tersenyum getir.

__ADS_1


__ADS_2