Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
37. Minta Pisah


__ADS_3

Ayana mengerjapkan mata, tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dia kembali memandang foto keluarga Bram dengan seksama.


Memang benar potret pria yang Ayana duga adalah putra dari Bram itu sangat mirip dengan Elang, suami Ayana. Namun, Ayana berusaha berpikir positif. 


Mungkin hanya sebuah kebetulan mereka berdua mirip, pikir Ayana.


Tak lama, Bram masuk ke ruang tamu dengan penampilan orang yang baru saja bangun tidur. Tubuh terbalut baju tidur kimono satin dan sandal bulu yang kebesaran di kaki.


Mungkin bagi sebagian orang, akan menganggap Bram kurang sopan menerima tamu dengan penampilan seperti itu. 


Namun, bagi Ayana tak jadi masalah. Dia memaklumi mengingat Bram yang sedang sakit.


Wajah Bram pun tampak pucat dan dari pancaran mata tersirat pria itu sedang banyak pikiran.


Bram duduk di kursi yang berhadapan dengan Ayana. Bersamaan dengan pelayan yang menyuguhkan dua cangkir teh di meja.


"Silahkan diminum tehnya, Ayana," ucap Bram menunjuk cangkir teh di depan Ayana. "Tidak masalah kalau saya panggil Ayana saja kan?"


"Terima kasih, Pak Bram. Tidak masalah kok," sahut Ayana sambil tersenyum ramah.


Dengan tangan yang sedikig gemetar, Ayana meraih cangkir teh lalu meneguknya perlahan.


Sambil memandang Ayana yang sedang minum, Bram mengangguk pelan dan berkata, "Sebab saya risih jika harus memanggil dengan sapaan 'Bu' pada menantu sendiri."


Bbbrrrpp…


Uhk… uhk… uhk…


Segera Ayana menyeka mulutnya yang basah karena tak sengaja menyemburkan air teh. Sambil menahan rasa perih di hidung, Ayana menatap Bram.


"Menantu? Maksud Pak Bram?" tanya Ayana bingung.


Bram melempar pandangan ke foto keluarga yang hanya berisi dirinya dan Raynar. Lalu dia bangkit berdiri di hadapan foto itu.


"Dia anak semata wayangku. Nama aslinya adalah Raynar tapi para guru dan semua teman sekolah mengenalnya sebagai Elang Angkasa."


"Apa?"

__ADS_1


Seperti tersambar petir di siang bolong, Ayana sungguh tak menyangka akan kenyataan yang ditutupi oleh Elang selama ini.


Dia tercengang dan tak bisa berkata-kata. Mendadak ingatan Ayana mengulang kembali saat-saat dia bersama Elang.


Ketika Elang sering kedapatan menghabiskan banyak uang serta ketika Elang memberikan bantuan pada Diva dan juga orang tua Ayana, kini terjawab sudah pertanyaan dari mana Elang mendapatkan uang sebanyak itu.


Ayana terdiam, masih butuh waktu untuk menerima kenyataan. Lalu muncul berbagai pertanyaan di benaknya.


"Tapi untuk apa Raynar menyembunyikan identitas aslinya?" tanya Ayana masih menampilkan wajah tak percaya.


Bram terus menatap potret anaknya dengan sorot mata tajam. Tanpa mengalihkan pandangan, Bram pun menceritakan kisah hidup Raynar.


Dari Raynar lahir tanpa kehadiran seorang ibu sampai pada Raynar  memberontak ingin terbebas dari aturan yang dibuat Bram dan memilih bersekolah seperti remaja pada umumnya.


"Padahal dulu Raynar adalah anak yang patuh. Tak ada satu pun peraturan dariku yang dia langgar. Tapi pada kenyataannya dia malah memberontak dan bahkan sekarang dia berani berbohong padaku."


Ayana menarik nafas panjang untuk menetralkan perasaan yang semrawut. 


Sedangkan Bram berbalik badan menatap wanita muda yang menjadi istri anaknya. Lalu dia kembali duduk di sofa.


Ayana membalas tatapan Bram, tampak tangan Ayana meremas ujung bantal kursi yang ada di pangkuannya. Ayana berdehem agar suara yang keluar tidak terdengar serak.


"Apa dengan kami berpisah, Raynar akan mau kembali ke rumah ini?" tanya Ayana dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Ya, tentu saja," Bram mengangguk mantap tanpa ada keraguan. "Aku memberikan kebebasan pada Raynar dengan syarat dia tidak boleh menjalin hubungan asmara dengan seorang wanita, dan dia sudah melanggar janjinya itu dengan menikahimu. Jadi, aku minta padaku, Ayana. Berpisahlah dengan anakku!"


Ayana tergugu. Ludahnya terasa kelu tak dapat digunakan untuk berbicara.


Seharusnya Ayana senang, karena dari awal dia memang tidak mencintai Elang. Pernikahan mereka pun terpaksa agar sang ayah tidak menikahkan Ayana dengan Samsul.


Tapi sekarang, orang tua Ayana sudah membebaskan Ayana untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia bisa saja memutuskan berpisah dengan Elang dan mencari suami lain yang lebih dewasa tapi entah kenapa Ayana enggan melakukan hal tersebut.


"Maaf, Pak Bram. Tapi harus saya katakan, anda sangat egois dalam mengatur kehidupan Raynar."


"Ini juga untuk kebaikan kalian berdua, Ayana. Apa jadinya nanti kalau semua orang tahu Raynar menikah di usia muda dengan gurunya sendiri? Apalagi keluarga kami selalu menjadi sorotan publik, pasti kalian akan menjadi gunjingan jika berita ini sampai mencuat."


"Jika aku menolak berpisah dengan Raynar, apa yang akan anda lakukan?" tanya Ayana dengan nada yang tenang.

__ADS_1


"Aku akan memberimu uang. Berapapun yang kamu minta akan aku berikan asalkan kamu pergi jauh dari Raynar."


Ayana menyeringai dan menggelangkan kepala tak percaya jika sosok Bram yang dihormati banyak orang memiliki pikiran yang picik. 


Melihat respon Ayana, Bram pun mengangkat alisnya dan berkata, "Kenapa? Bukankah kamu menikah dengan Raynar karena menginginkan hartanya? Aku tahu, Ayana. Inilah yang aku tidak suka jika Raynar menjalin cinta dengan seorang wanita."


"Pak Bram, maaf sekali. Saya tidak tertarik dengan uang yang anda tawarkan, berapapun itu," Ayana mencondongkan tubuhnya agar dapat lebih dekat menatap Bram. "Dan satu hal yang harus anda ketahui, Pak Bram, selama ini saya tidak tahu kalau Elang adalah anak anda."


Bram menarik nafas panjang. "Baiklah kalau kamu tidak mau uang dariku, tidak masalah. Tapi janji tetap lah janji, Raynar harus tetap kembali kepada peraturan yang aku buat. Jadi jangan kaget jika suatu saat aku memaksa Raynar untuk meninggalkanmu."


"No, Dad!"


Sebuah teriakan dari arah pintu mengagetkan Bram dan juga Ayana. Mereka berdua lantas menoleh ke sumber suara.


Di ambang pintu, Elang sudah berdiri dengan nafas terengah dan menatap tajam ayahnya. Perlahan dia pun mengayunkan kaki mendekati Ayana yang kini berdiri karena terkejut melihat kehadiran pria yang sedang menjadi topik pembicaraan.


Sekilas Elang melirik Ayana, lalu kembali menatap Bram. Mendadak raut wajah Elang menampilkan raut memelas.


"Dad, jangan pisahkan aku dengan Ayana! Aku mohon."


Baik Bram dan juga Ayana tersentak ketika tiba-tiba Elang berlutut di depan Bram sambil menyatukan kedua telapak tangan.


Sebuah pemandangan yang jarang sekali Bram lihat. Sang anak berlutut dan memohon padanya.


Namun, Bram berusaha untuk tetap pada pendiriannya. Dia pun mengelengkan kepala dan berkata, "Tidak, Raynar. Kamu harus menepati janjimu. Mulai hari ini kamu harus bersekolah dari rumah dan ikuti aturan dari Daddy."


"Oke, aku akan turuti semua kemauan Daddy, asalkan Ayana juga tinggal di rumah ini dan jangan pisahkan kami. Aku mohon, Dad."


Bram terdiam, memandanga Ayana sekilas, lalu menghela nafas.


Melihat ada keraguan di wajah Bram, Elang pun meneruskan ucapannya.


"Apa Daddy kasihan pada Ayana? Dia itu sedang mengandung anakku, Dad."


"Apa?" teriak Bram kaget. Bahkan kedua mata Bram melotot seperti mau copot. 


Bram menoleh pada Ayana dan bertanya, "Apa itu benar, Ayana?"

__ADS_1


__ADS_2