
Elang memungut bantal yang tergetak di lantai. Lalu dia putuskan pergi ke ruang baca untuk mengambil beberapa buku sebelum dia tidur.
Tetapi di tengah perjalanan menuju ruang baca, Elang berpapasan dengan Bram. Tampak Bram juga akan pergi ke tempat yang sama dengan tujuan Elang.
Bram melirik sekilas bantal yang didekap Elang, lalu bertanya, "Kamu mau ke mana? Kenapa tidak tidur dengan istrimu?"
"Aku belum mengantuk dan juga nggak mau ganggu Ayana, Dad. Jadi aku ke ruang baca saja," kata Elang berbohong untuk menutupi fakta bahwa Ayana sedang ngambek.
"Kebetulan ada sesuatu yang ingin Daddy bicarakan denganmu."
Elang dan Bram berjalan berdampingan ke ruang baca. Mereka langsung memilih tempat duduk yang ada di tengah ruangan.
"Apa yang ingin Daddy bicarakan?"
"Ini tentang istrimu, Ray." Bram menghempaskan punggung ke sandaran sofa. "Belum sehari kamu pulang ke rumah, kamu sudah melanggar peraturan makan malam dan malah sibuk dengan istrimu di kamar."
Elang menghela nafas dan berdecak malas. Dia pun ikut menyandarkan punggung ke sandaran sofa lalu meraih buku yang tergeletak di meja.
Elang membaca buku dan memilih mengabaikan Bram yang menatapnya tajam. Dia tak mau berdebat panjang dengan ayahnya sendiri hanya karena masalah sepele.
Namun, pengabaian Elang justru menyulutkan emosi Bram. Dia mengepalkan tangan dan berdehem keras untuk meminta perhatian Elang.
Lantas Elang pun mendongak dari buku yang dia baca. Menatap Bram dengan sorot yang santai tanpa ada rasa bersalah.
"Lihat kamu sekarang! Kamu jadi berubah tak mau mendengarkan Daddy."
Bram menggeram kesal. Sedangkan Elang membanting buku yang dia baca ke sofa dan bangkit berdiri.
"Dad, aku nggak mau berdebat sama Daddy hanya karena masalah makan malam. Aku dan Ayana hanya terlambat makan malam beberapa menit saja, Dad."
Bram menatap Elang dengan perasaan tak percaya. Anak yang dulu penurut, selalu patuh dan tidak banyak berdebat kini selalu melawan ucapannya.
"Raynar, peraturan tetap peraturan. Jam makan malam, ya itu artinya semua harus berkumpul di ruang makan. Kamu mengerti?" kata Bram dengan penuh penenkanan di setiap kata. "Dan jangan lupa beritahu istrimu apa saja peraturan di rumah ini!"
"Dad, aku ini sudah dewasa. Aku tahu mana yang baik dan mana yang salah. Tolong jangan atur hidupku seperti ini, Dad."
"Raynar, jangan membantah Daddy. Apa Ayana yang membuat kamu menjadi berani melawan Daddy? Iya?"
Elang berdecak kesal sambil memalingkan muka. Dia berusaha untuk tetap tenang meski kini hatinya sedang memanas dan sangatningin berteriak.
"Jangan menyalahkan Ayana, Dad. Dia nggak tahu apa-apa."
__ADS_1
Bram mendengus sekaligus menyeringai. "Apa kamu pikir Daddy tidak tahu? Beberapa bulan terakhir, kamu sering mencairkan uang dalam jumlah banyak. Tidak mungkin uang itu kamu habiskan sendiri. Pasti Ayana yang menghasutmu kan?"
"Dad, cukup!" teriak Elang tak tahan lagi. "Nggak pernah sekalipun Ayana menghasutku, Dad."
Detik berikutnya, Elang mengambil bantal dan beberapa buku. Tanpa berbicara apapun Elang melangkah melesat keluar ke ruang baca.
Tak peduli Bram berteriak memintanya kembali, Elang memilih untuk pura-pura tuli. Dia membelokkan langkah masuk ke kamar tamu dan memutuskan tidur di sana.
Malam itu, Ayana tidak bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa kali dia berguling di tempat tidur mewah tapi entah kenapa tidak memberikan kenyamanan.
Saat itu Ayana tersadar. Mungkin inilah yang dialami oleh Elang selama ini. Dia hidup dalam kegelimangan harta tapi sama sekali tidak membuatnya bahagia.
Ayana mendesah frustasi. Dia ingin memanggil Elang untuk kembali ke kamar tapi rasa gengsi membuatnya mengurungkan niat.
Karena tidak bisa tidur, Ayana memilih untuk membuka ponsel dan berselancar ria di sosial media. Dia tertawa saat sesekali melihat konten yang lucu sampai dia lupa waktu.
Lewat tengah malam, barulah Ayana bisa tidur dengan ponsel yang masih menyalakan video bertajuk 'tips membuat anak kembar'.
Ayana merasa dirinya baru tidur beberapa jam tapi suara gedoran pintu membuat Ayana terbangun dan menghela nafas berat. Dengan menahan rasa kantuk, Ayana pun membuka pintu.
Dia mendapati seorang pelayan wanita berdiri dengan wajah tegang dan bola matanya melirik ke samping. Lantas dia juga ikut menoleh ke arah lirikan si pelayan.
Rupanya di tak jauh dari sana sudah ada Bram yang berdiri dengan sorot mata mencemooh.
Meski Ayana kurang menyukai mertuanya itu, tapi dia tetap berusaha untuk bersikap sopan.
"Kamu tahu ini jam berapa?" Bram bertanya sambil berkacak pinggang.
Ayana mengeryitkan dahi. Karena baru saja bangun tidur, dia tidak tahu pukul berapa sekarang ini. Sehingga Ayana pun menggelengkan kepala.
Bram menghela nafas, menunjukan jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah jam 7 pagi. Apa kamu tidak ke sekolah untuk mengajar?"
Ayana tersentak kaget. Sontak dia membulatkan mata lebar, jantungnya berdegup kencang seketika, dan dia tak mendengarkan lagi ocehan Bram karena Ayana segera menutup pintu lalu bergegas ke kamar mandi.
Untung saja, kemarin pelayan rumah sudah menyiapkan beberapa pakaian Ayana di lemari baju Elang.
Secepat kilat, Ayana berdandan sampai lupa dimana Elang berada saat ini.
Ketika Ayana keluar dari kamar dan berjalan melintasi rumah pun, dia sama sekali tak melihat batang hidung Elang dan juga ayah mertuanya. Tak mau ambil pusing, Ayana langsung menyuruh salah satu supir untuk mengantarnya ke sekolah.
__ADS_1
"Tapi, Nona Aya."
"Sudah, Pak. Cepat jalan! Saya sudah terlambat lho ini," geram Ayana.
Sesuai permintaan Ayana, si supir melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Sehingga tak butuh waktu lama, Ayana sudah sampai berada di depan gerbang.
Dia berlari ke gerbang yang sudah ditutup dan berteriak memanggil pak satpam yang bertugas.
Namun, sama sekali tak ada yang menyahut. Bahkan sekolah tampak sepi bagai tak berpenghuni.
Supir yang mengantar Ayana menggelangkan kepala sambil berdecak. Kemudian, dia turun dari mobil untuk menghampiri Ayana.
"Nona Aya, hari ini kan hari libur nasional. Mau Nona berteriak sampai suaranya hilang juga nggak akan dibuka."
"Apa?"
Secepat kilat, Ayana memutar badan untuk menatap si supir. Dia menggeram kesal sambil menghentakan kaki ke tanah.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Pak?"
Supir itu menggaruk kepala yang tidak gatal sambil tersenyum malu-malu.
"Maaf, Non. Kan Nona sendiri yang nyuruh cepet-cepet."
Ayana menggerutu sambil masuk kembali ke dalam mobil. Diikuti juga oleh supir yang masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobil.
Di sepanjang jalan, Ayana melipat tangan di depan dada, melempar pandangan ke luar jendela dengan sorot mata kesal dan bibir yang mengerucut.
Begitu sampai rumah, Ayana di sambut oleh Bram yang duduk di ruang tamu sambil tertawa puas.
Ayana berhenti sejenak dan melayangkan tatapan tajam pada mertuanya.
"Apa Daddy puas mengerjai aku?" tanya Ayana kesal.
Bukannya menjawab, Bram malah semakin tertawa sampai dia terbatuk-batuk.
Haha…haha… uhuk… uhuk..
Ayana pun mendengus sekaligus menyeringai melihat mertuanya terbatuk.
"Nah kan? Itu yang dinamakan kualat, Dad. Tapi Daddy jangan khawatir! Akan segera aku buatkan batu nisan untuk Daddy."
__ADS_1
"Hei, apa kamu bilang?" teriak Bram marah.
Namun, Ayana secepatnya berlari ke dalam kamar.