
Pagi beranjak menuju siang. Hawa panas membuat semua orang malas untuk keluar rumah serta memilih mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Begitu pula dengan keluarga kecil yang terdiri dari Bram, Elang dan Ayana.
Mereka sedang menikmati makan siang tanpa ada obrolan. Hanya terdengar dentingan suara sendok yang beradu dengan piring.
Namun, tiba-tiba Bram berkata, "Raynar, tadi pagi istrimu bilang akan menyiapkan batu nisan untuk Daddy. Dia keterlaluan sekali ingin Daddy cepat-cepat masuk ke liang lahat."
Bram melirik pada Ayana dan seketika bibirnya melengkungkan seringai. Dia yakin Elang pasti akan naik pitam lalu memarahi Ayana.
Dan benar saja. Elang menegakkan punggung dengan mata melotot menoleh ke arah Ayana yang berada di sampingnya.
Raut wajah yang ditunjukan Elang terlihat seperti orang marah dan siap menyemprotkan kata-kata kasar.
"Apa itu benar, Aya? Kamu mau menyiapkan batu nisan untuk Daddy?" tanya Elang dengan sorot mata yang mencekam.
Mendadak Ayana menjadi gugup. Dia mengusap tengkuknya yang terasa meremang tanpa sebab.
"I-iya, Lang." jawab Ayana takut.
Alis Elang menaut seperti orang marah tapi detik berikutnya, tiba-tiba sekali raut wajahnya berubah kalem dan dia berkata, "Bagus. Kapan kamu akan menyiapkannya?"
"Raynar!" Bram meraung marah membuat Elang tersentak kaget.
"Oh, maksudku. Jangan seperti itu, Ay! Bagaimana pun juga kamu harus menghormati Daddy ku seperti kamu menghormati Papa mu," kata Elang buru-buru memperbaiki ucapannya dengan nada tegas.
Kemudian Elang mencondongkan tubuhnya untuk bisa berbisik di telinga Ayana, "Tapi kalau kamu mau menyiapkan batu nisan untuk Daddy mulai dari sekarang, boleh-boleh saja."
Ehem.
Bram berdeham keras. "Ray, Daddy dengar apa yang kamu bisikan pada Ayana."
Elang cengesan menoleh Bram. "Aku bercanda Daddy."
Bram mendengus. Usahanya agar Ayana kena marah Raynar, justru gagal total. Sehingga dia kembali menyantap makan siangnya dalam diam.
Ketika makanan penutup disajikan, Bram baru ingat sesuatu hal yang harus dia sampaikan pada Elang dan juga Ayana. Bram meneguk minumannya sebelum berbicara.
"Karena sekarang Ayana tinggal di rumah ini dan dia dalam keadaan hamil. Maka dari itu, Daddy akan mempekerjakan satu orang pelayan baru. Pelayan ini yang akan melayani segala keperluan Ayana," terang Bram yang direspon oleh Elang dan Ayana dengan anggukan kepala.
"Pelayan wanita kan, Dad?" tanya Elang untuk memastikan pelayan yang akan mengurus kebutuhan Ayana adalah perempuan.
Sebab jika pelayan baru itu adalah laki-laki, Elang akan langsung memecat pelayan bahkan sebelum si pelayan sempat mengucapkan kata perkenalan.
"Ya, pelayan wanita tentu saja. Yayasan penyalur kerja baru saja memberitahu Daddy kalau si pelayan baru akan datang siang ini."
__ADS_1
Elang menaikan alisnya sambil mengambil gelas air minumnya. "Bagus lah kalau begitu."
Ayana memiringkan badan sampaj kepalanya bersandar di bahu Elang. Bukan berniat ingin bermesraan, tapi Ayana ingin membisikan sesuatu pada Elang.
"Lang, mempekerjakan pelayan baru? Untuk apa? Memangnya aku bayi yang keperlyannya harus dibantu oleh pelayan."
"Sudah kamu turuti saja kemauan Daddy."
Ayana menghembuskan nafas panjang. Jujur, perasaan Ayana menjadi kurang enak, tapi dia berusaha untuk tetap berpikir positif.
Tepat ketika makan siang selesai, Bu Sari yang merupakan kepala pelayan melaporkan pada Bram jika pelayan baru sudah datang.
Saat itu juga, Bram menyuruh si pelayan baru untuk masuk dan memperkenalkan diri. Perlahan samar-samar terdengar derap langkah dari luar pintu ruang makan.
Mendadak rasa penasaran melanda Ayana. Dia ingin tahu seperti apa rupa pelayan yang nanti akan banyak menghabiskan waktu dengannya.
Ayana bahkan sampai tidak berkedip memandang pintu. Lalu dilihatnya sepasang kaki yang memakai flatshoes melangkah masuk.
Pandangan Ayana pun perlahan naik dari bawah ke atas dan manik matanya membola sempurna kala mengenali wajah si pelayan baru.
"Diva?" ucap Elang dan Ayana bersamaan.
Mereka berdua bersitatap untuk beberapa saat lalu kembali memandang Diva dengan sorot mata tak percaya.
Entah sebuah kebetulan atau memang dunia ini yang sempit, dari banyaknya calon pekerja di luaran sana, kenapa harus Diva yang menjadi pelayan Ayana.
Bukan Ayana membenci Diva. Tapi dilihat dari pancaran mata, jelas sekali kalau Diva seperti menyimpan rasa terpesona pada Elang.
Sebagai seorang perenpuan, insting Ayana menyalakan tanda bahaya dengan kehadiran Diva di rumah.
"Kalian sudah saling mengenal?" Bram bertanya sambil menatap Ayana, Elang dan Diva secara bergantian.
"Dia temanku, Dad."
Bram mengangkat alis dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan. "Oh, hanya teman."
Sementara Diva sendiri juga tercengang mendapati bahwa majikannya adalah Elang.
Meski di dalam hatinya bertanya-tanya heran. Mengingat Diva mengenal Elang sebagai pemuda yang biasa saja, bahkan tinggal di rumah yang sederhana.
Namun, hari ini Diva melihat Elang berada di rumah mewah dan memanggil 'Daddy' pada pria yang telah mempekerjakannya. Sehingga Diva langsung menyimpulkan jika Elang adalah putra dari Bram.
Bibir Diva melengkungkan senyum tipis dan sorot matanya memancar penuh damba saat melihat Elang.
Ternyata selama ini kamu itu orang kaya raya, Lang. Pantas saja kamu bisa menebus semua hutang-hutang ayahku, ucap Diva yang hanya diucapkan dalam hati.
__ADS_1
"Jadi, namamu Diva. Pelayan yang dikirim yayasan sapu bersih untuk bekerja kemari?" kini Bram bertanya pada Diva.
"Benar, Tuan," sahut Diva menganggukan kepala.
"Tugasmu di sini melayani menantu perempuan saya. Namanya Ayana. Urus semua kebutuhan dan juga keinginannya dengan sebaik-baiknya karena dia sedang mengandung cucu saya."
"Cucu?"
Seketika Diva terlonjak kaget menoleh pada Ayana. Setahu dia, Elang terpaksa menikahi Ayana dan pastinya tak ada cinta di antara mereka berdua, tapi sekarang Ayana malah hamil anak Elang.
Tentu saja kabar itu membuat hati Diva menjadi meradang. Tanpa terlihat oleh siapapun, Diva mengepalkan tangan seraya menatap tajam Ayana.
Ehem.
Bram berdeham setelah mengamati Diva yang malah melamun.
"Apa kamu dengar, Diva?"
Diva tersentak. "Eh, iya. Baik, Tuan. Saya akan melakukan tugas dari Tuan Bram dengan sebaik-baiknya."
"Kamu bisa bekerja hari ini juga. Nanti Bu Sari yang akan menunjukan kamarmu."
Setelah itu, Bram berdiri meninggalakan ruang makan sebab sudah saatnya bagi Bram untuk melakukan jadwal berikutnya yaitu, tidur siang.
Sedangkan Elang dan Ayana masih berada di ruang makan meskipun mereka sudah selesai makan siang.
"Apa kabar, Div? Jadi kamu melamar bekerja sebagai pelayan rumah?" tanya Elang berusaha berbasa basi meski terdengar sangat canggung.
Diva tersenyum. "Aku baik, Lang. Iya, ini berkat kamu, sekarang aku jadi bisa mencari uang dari pekerjaan yang halal. Ya, meski hanya seorang pelayan."
"Syukur deh. Aku ikut seneng. Meski hanya pelayan tapi itu lebih baik dari pada pekerjaanmu yang sebelumnya."
Melihat Elang dan Diva asyik berbincang tanpa memperdulikan dirinya, Ayana pun sengaja dibuat-buat terbatuk. Membuat Elang dan Diva tersentak dan refleks menoleh.
"Kamu kenapa, Ay? Mau aku ambilkan obat?"
Ayana mengegelangkan kepala sambil memaksakan diri tersenyum pada Diva.
"Nggak perlu. Terima kasih," Ayana menggaitkan lengannya ke lengan Elang dengan begitu posesif. "Kerongkonganku terasa nggak enak soalnya belum makan makanan penutup."
Dahi Elang mengerut bingung. "Lho bukannya kamu tadi sudah makan puding?"
"Bukan. Makanan penutupku itu bukan pudung melainkan burungnya Elang," ucap Ayana sambil tersenyum lebar, sengaja ingin membuat hati Diva panas. "Kita ke kamar yuk, Sayang."
Mendengar ajakan Ayana yang sangat menggoda, menjadikan Elang tak mau menolak. Lantas dia pun mengangguk cepat dengan bibir yang tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ayo, Ay! Kita kejar setoran."
Mereka pun berjalan melupakan Diva yang mulutnya menganga tak percaya.