
Samsul mematung melihat pria yang menjadi suami Ayana adalah Tuan Raynar, anak seorang pengusaha kaya raya bernama Bram Rasyid.
Dari berita yang beredar, Samsul tahu jika Raynar, anak dari Tuan Bram, sudah terjun ke dunia bisnis sejak berusia sangat muda. Sehingga tidak diragukan lagi akan kepiawaian suami Ayana dalam mengumpulkan pundi-pundi uang.
Samsul mengerjapkan mata, berharap apa yang dia lihat adalah mimpi tapi sayangnya, Samsul harus menelan pil pahit saat menyadari dia berada di dunia nyata.
Tangan Samsul langsung terasa lemas sampai ponsel yang menempel di daun telinga akhirnya melosot jatuh dan membentur ke tanah.
"Ini nggak mungkin. Bagaimana bisa Tuan Raynar yang kaya raya itu adalah suami Ayana?" Samsul bergumam pelan sehingga hanya dia saja yang mendengar.
"Samsul, maaf. Sepertinya saya akan membatalkan niat saya untuk berbisnis dengan anda," ucap Elang menyeringai.
Samsul gelagapan seketika. Tentu saja dia semakin terkejut setelah mendengar ucapan Elang.
"T-tapi kenapa?"
Elang menoleh pada Ayana, mengusap lembut rambut wanita itu, lalu melempar pandangan sinis pada Samsul. "Karena kamu sudah membuat nama baik istri saya tercemar. Bahkan sampai istri saya diberhentikan mengajar di sekolah."
"T-tapi…"
Samsul tergagap tak bisa berbicara dengan jelas. Harapan untuk membangun kembali bisnisnya seketika runtuh saat itu juga.
Samsul tidak tahu harus berbuat apa. Satu hal yang ada di kepalanya adalah berlutut dan memohon pada Elang.
"Saya mohon, Tuan Raynar. Sebenarnya bisnis saya hampir bangkrut dan anda harapan saya satu-satunya," Samsul memelas dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, Samsul. Sekali saya bilang batal maka artinya batal. Semoga ada orang lain yang mau membantu bisnismu," Elang menarik tangan Ayana. "Sampai berjumpa lagi, Samsul."
Kemudian Elang dan Ayana bergandengan tangan masuk ke dalam mobil. Mereka meninggalkan Samsul yang masih menunduk di pinggir jalan dengan perasaan yang campur aduk.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin ungkapan itu pas untuk menggambarkan nasib Samsul saat ini.
Dia sudah diceraikan semua istrinya, bisnisnya bangkrut, dan harapan untuk mendapatkan investor juga pupus sudah.
Tak ada lagi yang bisa Samsul banggakan dari dirinya. Bahkan di saat dia terpuruk, tidak ada satu istri pun yang menemani.
Padahal dulu dia adalah seorang laki-laki yang tidak pernah kesepian. Selalu ada wanita yang menemani tidur serta tidak pernah kekurangan harta.
Samsul bangkit berdiri. Mengusir debu yang menempel di celana panjangnya, lalu rahang Samsul mendadak mengetat karena marah saat dia menyadari semua kemalangan yang menimpa dirinya tidak akan terjadi jika Ayana tidak membuat ulah.
"Awas saja kamu, Aya. Kamu pikir aku akan diam saja."
__ADS_1
*
*
*
Sementara itu, di dalam sebuah mobil hitam yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, si supir beberapa kali melirik ke belakang untuk melihat dua penumpang sekaligus majikannya sedang duduk himpitan.
Atau lebih tepat dikatakan, si majikan wanita yang berusaha menghimpit suaminya.
Si sopir menggelangkan kepala, lalu kembali fokus mengemudi mobil. Sedangkan si majikan wanita bergelayut manja di lengan Elang.
"Lang, kalau dipikir-pikir lagi ada sisi baiknya juga aku berhenti mengajar," ucap Ayana sambil memainkan kancing kemeja paling atas yang digenakan Elang. "Kita jadi bisa fokus untuk membuat anak."
Elang berdecak kesal. Bukan dia tidak suka jika Ayana bermanja-manja padanya. Hanya saja karena keadaan Ayana saat ini, membuat Elang tidak mau benda pusakanya menegang tapi tidak bisa dipuaskan.
"Jangan bahas membuat anak! Tamu bulananmu juga belum pergi," kata Elang mengalihkan pandangan keluar jendela mobil.
"Siapa bilang?"
Elang tersentak dan langsung menoleh pada wajah Ayana yang bersandar di bahunya dengan senyum lebar.
Sejak sebelum menikah pun, Ayana selalu memiliki masa datang bulan yang tidak terlalu lama. Hanya lima sampai enam hari dan tadi pagi tamu bulanan Ayana sudah go away.
Karena mereka harus melancarkan aksi balas dendam pada Samsul, membuat Ayana belum sempat mengatakannya pada Elang.
Mendengar penjelasana dari Ayana, Elang hanya menganggukan kepala paham. Perlahan bibirnya melengkungkan seringai yang memiliki banyak arti.
Elang kelingkarkan tangan di pinggang Ayana, mengecup bibir menggoda iman sambil mendorong bahu wanitanya hingga mereka berdua berbaring di kursi belakang mobil.
Mendapat serangan dadakan dari Elang, Ayana terkejut lalu mendorong dada bidang Elang agar ciuman mereka terlepas.
"Kenapa?" Elang bertanya dengan menampilkan raut muka tidak senang karena Ayana terkesan menghindari ciumannya.
Bola mata Ayana melirik ke arah kursi pengemudi. "Sabar dong, Lang. Kita mainnya di rumah. Kalau di sini ada pak supir."
Elang mendesah frustasi ketika menoleh ke depan. Di mana ada sopir pribadinya yang tengah fokus melajukan mobil tapi dengan bibir yang melengkung seperti sedang menahan tawa.
"Pak, tolong cepat sedikit! Kalau perlu ngebut."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Sang supir pun mengebut dengan kecepatan penuh. Sehingga tak sampai sepuluh menit, mobil sudah sampai di halaman depan rumah.
Elang langsung turun dengan menyeret tangan Ayana. Dia sudah tidak sabar untuk berolahraga bersama Ayana di ranjang.
"Lang, jangan seret aku kaya gini dong! Sakit tahu," sungut Ayana memandang sebal pada Elang.
"Oh iya, maaf."
Elang melepas tangan Ayana. Detik berikutnya, tanpa ada aba-aba, dia langsung menggendong Ayana seperti karung beras. Membuat Ayana menjerit saking kagetnya.
Bentuk badan Ayana yang mungil, menjadikan Elang tidak merasa berat saat menggendong Ayana sambil menaiki anak tangga hingga mereka sampai ke dalam kamar.
Dengan hati-hati, Elang menurunkan Ayana ke atas ranjang yang setiap malam menjadi tempat mereka tidur. Lalu Elang duduk di sampaing Ayana.
"Kamu sudah siap, Ay?" bisik Elang di depan telinga Ayana.
"Tapi kamu nggak akan main kasar kan?" Ayana balik bertanya.
Mendadak entah apa yang membuat Ayana menjadi merinding saat mendengar bisikan dari Elang.
Akan tetapi Elang tidak menggubria pertanyaan Ayana karena dia langsung mengecup lembut bibir Ayana.
Tangan Ayana bergerak mengusap pipi Elang dan merambat ke tengkuk. Dia menahan tengkuk Elang untuk memperdalam ciuman sekaligus sebagai pegangan saat Elang merebahkan tubuhnya.
Pelan tapi pasti ciuman itu berubah menjadi penuh tuntutan dengan kedua tangan mereka yang saling sibuk melucuti pakaian masing-masing.
Ruang kamar yang dicat dengan nuansa monokrom itu pun dipenuhi oleh suara kecapan dari dua bibir serta sesekali terdengar pula suara mengerang kenikmatan.
Tangan Elang mengusap punggung Ayana untuk melepas pengait bra. Setelah itu, tangannya berpindah ke depan untuk meremas dua benda kenyal milik Ayana.
Tak hanya meremas, Elang juga menyesap salah satunya. Menciptakan getaran di dalam tubuh Ayana yang mengelikan.
Tangan Ayana mengusup masuk ke sela-sela rambut Elang dengan mulut yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara desahaan.
Lalu tiba-tiba…
Tok… tok… tok…
"Raynar! Raynar! Buka pintunya! Daddy mau bicara sebentar."
Teriakan Bram di luar pintu kamar menjeda aktivitas dua insan yang tengah merengkuh nikmat surga dunia. Mereka menghela nafas berat dengan saling bertatapan.
__ADS_1