Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
52. Investigasi


__ADS_3

Ayana memasukan barang-barang pribadinya ke dalam kardus. Mengemasi meja guru yang baru beberapa bulan dia tempati.


Kemudian sambil menenteng kardus, dia berjalan keluar gedung sekolah di mana sopir pribadi Elang sudah menunggunya. 


"Aya."


Panggilan dari Elang menghentikan langkah kaki Ayana. Dia memutar badan menatap Elang yang menghampirinya bersama dua pengikut sejati, Abian dan Farel.


"Aya, aku akan berusaha supaya kamu bisa mengajar lagi di sekolah ini," ucap Elang mantap.


"Bu Aya, aku sedih Bu Aya nggak ngajar lagi," Abian.


"Iya, Bu. Saya jadi suka pelajaran olahraga sejak ada Ibu. Sekarang, Ibu malah pergi," imbuh Farel.


Ayana tersenyum menatap tiga muridnya secara bergantian. Setelah memberikan sepatah dua patah kata untuk menyemangati mereka, Ayana pun masuk ke dalam mobil.


Sementara Elang, Abian, dan Farel menatap nanar kepergian mobil yang membawa Ayana pergi. Sampai mobil itu berbelok ke jalanan pun mereka masih berdiri di tempat yang sama.


"Yah, Nggak ada Bu Aya, nggak seru."


"Iya, kita jadi nggak bisa lihat wajah cantik dan tubuh bahenol Bu Aya."


Plak.


Elang memitak kepala Abian yang membicarakan bentuk tubuh Ayana. Sedangkan Abian hanya bisa meringis sambil mengusap kepalanya.


Dia terkekeh menyadari telah salah bicara. "Sorry, Lang. Btw, Bu Aya kan sudah nggak di sini lagi, kamu masih mau nggak lulus tahun ini?" 


"Lulus, nggak lulus bukan masalah besar. Masalah aku sekarang, aku nggak ada penyemangat saat ada di sekolah."


Farel tertawa mengejek. "Makanya, Lang. Kalau bucin jangan berlebihan. Sedikit-sedikit minta cium, sedikit-sedikit minta peluk."


Elang melempar tatapan tajam pada Farel yang menjadikan pria itu terdiam seketika.


"Hei, dengar ya? Kalian bisa bilang begitu karena kalian nggak punya pacar atau istri. Suatu hari nanti, kalau kalian bertemu sama cewek yang kalian sayang, kalian bakal lebih parah daripada aku, tahu," kata Elang ketus.


"Iya deh. Sorry," sahut Farel. "Sekarang kalau di sekolah, kamu nggak bisa lagi minta cium ke Bu Aya dong, Lang."


Abian ikut menertawakan Elang. "Cium aja tuh pohon palem."


"Pohon palem?" Elang termenung mengulangi kata-kata dari Abian.


Detik berikutnya, dia langsung tersadar, segera dia meminta Abian dan Farel untuk mengikutinya. Mereka bertiga berlari ke sebuah pohon palem yang ada di dekat ruang guru.


Sesaat Abian dan Farel mengerutkan dahi tak mengerti akan tujuan Elang membawa mereka ke tempat tersebut.

__ADS_1


"Abian, Farel, coba deh kalian perhatikan baik-baik foto aku sama Ayana!"


Abian dan Farel mengikuti perintah Elang tanpa banyak protes. Mereka membuka ponsel dan memperhatikan foto Ayana yang mencium Elang.


Mereka berdua pun langsung menyadari jika foto itu diambil saat Ayana dan Elang berada di salah satu sudut sekolah dekat ruang guru.


"Foto itu diambil saat aku dan Ayana berada di sana," Elang menunjuk ke sudut sekolah. "Kalau kalian perhatikan dari sudut pengambilan gambar, pasti yang memotret foto itu berdiri di sini. Di dekat pohon palem ini. Iya kan?"


Abian dan Farel mencocokan lagi foto dan juga tempat yang tadi sempat ditunjuk Elang.


"Bener, Lang. Berarti kita tinggal cari siapa orang yang berdiri di sini saat kamu ciuman sama Ayana," kata Farel yang kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Farel langsung tersenyum semringah ketika melihat kamera CCTV yang tak jauh dari mereka. Dia menyikut Elang untuk mengikuti arah pandangannya.


Mereka bertiga pun bergegas ke ruang pengawasan kamera CCTV untuk melihat rekaman hari kemarin. Namun saat sampai di depan pintu ruang pengawasan, mereka bertemu dengan satpam sekolah yang sedang bertugas.


"Kalian mau apa kemari? Ini sudah masuk jam pelajaran, kenapa kalian nggak masuk kelas?" tanya si satpam galak.


"Kita ke sini mau ketemu sama Bapak," kata Farel berbohong.


"Jangan bohong! Memangnya kalian ada urusan apa?" 


Satpam itu menyipitkan mata memandang tiga murid yang terkenal selalu membuat onar dan rajin masuk ke ruang BK.


"Kita kemari karena mau kasih tahu kalau Bapak lagi di cariin sama Pak Trisno tuh," kata Abian.


"Tadi sih Pak Trisno bilang, Bapak mau naik gaji bulan ini," Elang membual yang kemudian melirik dua sahabatnya dan menaikan alis.


"Yang bener?" 


Mendadak kedua mata Pak Satpam itu berbinar bahagia. Detik berikutnya, tanpa banyak bicara satpam itu pun berlari tergopoh-gopoh pergi.


Sementara Elang dan dua sahabatnya langsung masuk ke ruangan sempit yang berisi beberapa layar komputer. 


Elang duduk di kursi, mengutak-atik komputer sebentar dan tak lama dia menemukan rekaman CCTV saat dirinya berciuman dengan Ayana.


"Kalian kenal sama orang ini, nggak?" tanya Elang menunjuk di layar komputer di mana ada satu siswa yang terlihat jelas sedang motret Ayana dan Elang.


Sejenak Farel dan Abian membungkukan badan dengan mata menyipit untuk dapat melihat dengan jelas orang yang ditunjuk oleh Elang. 


"Aku kenal, Lang. Dia itu adik kelas kita, namanya Deri," kata Farel tanpa melepaskan pandangan dari layar komputer.


Abian menepuk pundak Elang. "Lang, mending kamu sekarang tenangin diri dulu. Soal Deri, biar kita yang urus."


Elang menatap kedua sahabatnya secara bergantian dengan senyum terukir di bibir. Dia sangat beruntung memiliki dua sahabat yang selalu ada setiap kali dibutuhkan.

__ADS_1


Hari itu, Elang memutuskan untuk bolos sekolah. Bukan karena Ayana yang pergi dari sekolah, tapi karena seluruh teman dan guru membicarakan Elang.


Dengan dibantu Abian, Elang melompat pagar belakang sekolah tanpa ketahuan siapapun. Dia sudah memberikan kunci motor kepada Abian agar pulang sekolah nanti, Abian yang membawa sepeda motornya.


Elang pulang menaiki taksi. Hanya dalam waktu dua puluh menit, dia sudah sampai di rumahnya.


Elang yakin Ayana sudah lebih dulu sampai di rumah, itu karena mobil yang mengantar Ayana sudah ada di halaman depan. Dia pun semakin mempercepat langkah kaki masuk ke dalam rumah.


"Ayana! Aya!"


Panggil Elang sambil melewati ruang tamu. Dia terus berteriak, namun tak ada sahutan dari Ayana. 


Malah orang yang tidak diinginkan Elang yang datang menghampiri. Siapa lagi kalau bukan Bram.


Pria tua itu menatap dingin Elang untuk beberapa saat yang lama. Kemudian Bram menunjuk ke sebuah sofa di sudut rumah, meminta agar Elang duduk di sana.


Elang menuruti tanpa banyak bicara. Sedangkan Bram masih tetap berdiri seraya terus melayangkan tatapan menghunus.


"Dad, Ayana mana?" Elang memberanikan diri untuk bertanya.


Bukan menjawab, Bram malah berkata, "Daddy tidak suka jika ada berita buruk menimpa keluarga kita. Selama ini Daddy selalu menjaga agar tidak ada orang yang mencelamu. Tapi semenjak kamu bersama Ayana…"


"Dad, cukup!" sela Elang. "Aku nggak mau Daddy terus menyalahkan Ayana."


Bram menghela nafas ketika melihat emosi Elang yang mulai tersulut.


"Raynar, tapi ucapan Daddy benar, kan? Karena kamu menikahi Ayana, semua orang menggunjingmu. Dan Daddy tidak suka hal itu terjadi," Bram memalingkan muka agar Elang tidak melihat wajahnya yang mengetatkan rahang menahan geram. "Andai dulu kamu tidak menikahi Ayana."


"Daddy salah," ucap Elang mengepalkan tangan juga merasa geram pada sang ayah. "Daddy pikir selama ini aku selalu dipuja oleh semua orang? Daddy salah besar."


"Selama ini karyawan kantor memang memuji aku di depan Daddy. Banyak orang bilang, aku hebat karena di usia muda sudah mampu bekerja di perusahaan besar tapi di belakang, mereka meremehkan aku, Dad. Mereka memandang sebelah mata hanya karena usiaku yang jauh lebih muda dari mereka. Dan Daddy nggak tahu hal itu kan?"


Bram menoleh pada Elang yang memandang dengan manik mata berembun. Jelas sekali jika sang anak tengah menumpahkan semua perasaan terpendamnya.


"Semua orang menyegani aku, menghormati aku, tapi itu hanya saat ada Daddy. Banyak dari mereka yang meremehkan aku, Dad. Itu lah salah satu alasan aku nggak mau bekerja di kantor."


Bram mendengus sekaligus menyeringai. Meskipun terlihat tercengang, tapi dia tetap menampik dan berkata, "Tidak mungkin mereka seperti itu."


"Itu kenyataan, Dad. Jadi jangan lagi Daddy mencari-cari alasan untuk menyalahkan Ayana."


"Tapi, Ray."


"Justru hanya Ayana yang membuat hidupku berwarna, Dad," kata Elang dengan nada yang ditinggikan.


Beberapa saat berlalu, anak dan ayah itu saling terdiam dengan sama-sama beradu pandangan tajam. 

__ADS_1


"Ulangi sekali lagi perkataanmu, Raynar!" perintah Bram yang ingin melihat kesungguhan sang anak.


"Hanya Ayana yang membuat hidupku berwarna, Dad," Elang berkata dengan penuh penekanan di setiap kata. "Dan hanya pada Ayana saja, juniorku selalu berdenyut."


__ADS_2