
"Kamu kan yang kemarin mau nyulik adik aku kan?"
Wanita itu mengulang pertanyaannya namun, Abian tak menjawab sebab atensinya sedang terpusat memandang paha mulus milik sang wanita.
"Hai, jawab!"
Wanita itu memperhatikan arah pandang Abian dan seketika langsung mengetatkan rahang. Secepat kilat dia menoyor kepala Abian dengan menggeram marah.
"Eh, apa? Aku?" Abian menunjuk dirinya sendiri. "Aku Abian. Kamu siapa?"
"Siapa yang nanya nama kamu, bego."
Seketika kedua pipi Abian bersemu merah karena malu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu bertanya, "Emang tadi kamu bilang apa?"
Wanita itu semakin mengetatkan rahang, maju mendekati Abian dan tiba-tiba…
Dug.
Satu tendangan maut mengenai tepat ke gundukan daging di antara pangkal paha Abian. Membuat pria itu menjerit kesakitan sambil menangkup benda pusakanya.
Dan alhasil semua orang di minimarket itu menoleh pada Abian karena mereka penasaran akan apa yang terjadi.
Sedangkan wanita yang telah menendang junior Abian tanpa rasa bersalah melenggeng pergi meninggalkan minimarket.
"Sial. Siapa sih wanita itu?" geram Abian menahan rasa sakit sambil memandang arah perginya sang wanita.
*
*
*
Di sebuah kamar kecil dengan perabotan yang tidak begitu banyak, seorang pria duduk di lantai menghadap ke layar laptop. Sesekali dia mengetik di kayboard, dan sesekali pula pria itu mengacak rambutnya.
Frustasi. Satu kata yang menggambarkan perasaan sang pria saat ini. Penjualan produk pakaian dalamnya belum mencapai target yang dia inginkan.
Bahkan belum ada satu pun yang terjual.
Pria itu menghela nafas kasar, termenung sejenak, dan tiba-tiba dua buah telapak tangan menutup matanya dari arah belakang.
Tanpa melepaskan tangannya yang menutupi penglihatan si pria, seorang wanita berbisik, "Selamat ulang tahun, Elang, suamiku."
Bibir Elang melengkungkan senyuman, melepas tangan si wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Ayana, istrinya, lalu dia memutar badan.
Dia rengkuh tubuh Ayana dan menaruhnya di atas pangkuan.
"Kamu ingat hari ulang tahunku?"
"Tentu saja," ucap Ayana mengusap rambut suami mudanya. "Kamu mau kado apa dariku?"
Sambari terus memandang wajah Ayana, tangan Elang mengusap perut istrinya itu dengan lembut.
"Kamu sudah memberikan aku hadiah paling spesial di ulang tahunku."
Ayana mengulum senyum. Dua lengannya dia lingkarkan di leher Elang dan perlahan dia memajukan wajahnya.
Bibir mereka beradu saling menuntut satu sama lain dengan dua tangan Elang yang bergerilya di setiap inchi tubuh Ayana.
Rasa frustasi Elang mendadak lenyap entah kemana begitu dia mencium Ayana. Berganti dengan perasaan nyaman dan tentram yang setiap kali dia rasakan jika berada di dekat istrinya itu.
Suasana di dalam kamar semakin terasa panas dan dipenuhi oleh suara kecapan dan erangaan. Namun, di saat itu juga …
Tok… tok… tok..
__ADS_1
Elang dan Ayana langsung melepaskan ciuman panas mereka dan serempak menoleh ke arah pintu. Mereka berdua mendengar suara Farel yang memanggil nama Elang.
Menjadikan Elang menghembuskan nafas kasar dan terpaksa bangkit berdiri untuk membukakan pintu.
Elang melihat Farel yang berdiri di deoan pintu dengan satu tangan memeluk bantal dan sebuah selimut tersampir di bahu kirinya.
"Mau apa sih? Ganggu aja."
"Sorry, Lang. Tapi aku boleh nggak numpang tidur di kamar kamu."
Mulut Elang terbuka sedikit melongo. Dia tak mengira Farel akan tidur di kamarnya padahal hasratnya pada Ayana sedang menggebu-gebu.
"Apa? Mana bisa? Tidur di kamar kamu sendiri lah," kata Elang yang hendak menutup pintu.
Namun, pintu itu segera ditahan oleh Farel. Dengan memasang wajah memelas, dia mengerahkan tenaga untuk bisa masuk.
"Lang, tolong aku. Aku nggak mau tidur bareng Hani."
"Emang kenapa sih? Dia kan sekarang istri kamu. Sah sah aja kalah kalian tidur bareng."
"Lang, please, tolong aku," rengek Farel.
"Nggak!" tegas Elang.
Detik berikutnya, terjadilah aksi saling dorong mendorong pintu. Sekuat tenaga Elang berusaha menutup pintu namun, Farel pun tak mau kalah ingin menerobos masuk.
Ayana yang melihat tingkah dua pria di depannya hanya berdecak sambil menggeleng kepala. Dia meraih bahu Elang lalu menariknya ke belakang.
Membuat Farel terhuyun ke depan dan jatuh terjerembab di lantai. Akan tetapi Farel sama sekali tak meringis kesakitan.
Dia malah tersenyum senang sambil bangkit berdiri dan berpindah membaringkan tubuhnya ke atas kasur.
"Ay, kok kamu biarin dia masuk sih?" protes Elang begitu melihat Farel tanpa dosa tidur di kasur yang biasa mereka tempati.
Ayana menarik lengan Elang untuk keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, Elang menatap sinis pada Farel karena telah merusak momen panasnya bersama Ayana.
Dengan langkah yang santai, Ayana berjalan ke lantai bawah dan kebetulan sekali mereka berpapasan dengan Hani yang sudah memakai baju tidur dan rambut dicepol.
"Kalian lihat Farel?"
"Dia tidur di kamar kami," jawab Ayana.
Hani hanya menyahut dengan oh pelan. Lalu berniat melangkah ke arah tangga.
"Eits, tapi tunggu dulu," Ayana mencekal lengan Hani meminta waktu sebentar pada wanita itu.
"Kenapa?"
"Malam ini malam pertama kalian kan?"
Hani mengangguk dengan raut wajah bingung. Berbeda dengan Ayana yang tersenyum penuh makna.
"Bagaimana kalau kita bertukar kamar? Kamu nggak perlu susah-susah membangunkan Farel untuk pindah kamar. Kalian tidur di kamar kami, kami tidur di kamar kalian."
Sejenak Hani berpikir lalu dia pun mengangguk sambil mengulum senyum.
"Oke, setuju."
Kemudian Hani naik ke atas. SementaraElang dan Ayana masuk ke dalam rumah dan melesat masuk ke dalam kamar Farel.
Ukuran kamar itu jauh lebih luas dari kamar Elang di lantai atas, serta sudah dihias dengan berbagai bunga mawar merah yang bertebaran di atas ranjang.
Badan Ayana yang memang sudah lelah, langsung menjatuhkan diri ke ranjang dan memainkan kelopak bunga mawar.
__ADS_1
Bibir Elang menyeringai. Dia ikut merebahkan diri di samping Ayana.
"Akhirnya nggak ada lagi yang ganggu kita," ujar Elang tepat sebelum dia mengecup pipi Ayana sekilas.
"Malah kita jadi bisa tidur di kamar pengantin," imbuh Ayana.
Tanpa menunggu lama lagi, Elang menyusupkan kepalanya ke dalam baju Ayana dan memainkan bukit kembar yang sangat menggugah selera.
Elang menggigit bra yang di pakai Ayana dan menurunkannya bersamaan dengan tangan yang mengusap punggung untuk melepas ikatan.
Namun, Elang sedikit mengalami kesusahan saat melepas pengait bra di belakang punggung Ayana. Membuat Ayana berinisiatif melepaskannya sendiri.
"Begini cara lepasnya, Lang," Ayana menunjukan cara melepas bra yang dia pakai.
Mendadak seperti ada lampu yang menyala di kepala Elang. Seketika dia membulatkan mata dan menjetukan jari.
Melihat perubahan raut wajah Elang, membuat Ayana mengangkat alisnya. Dan bertanya, "Apa ada yang salah?"
"Aku punya ide supaya bisnisku maju, Ay."
Elang langsung turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu. Akan tetapi langkah kaki Elang mendadak berhenti ketika dia mendengar Ayana berdehem keras.
Elang memutar tubuhnya untuk melihat Ayana yang kini berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan terlipat. Sorot mata tajam terpancar dari dua bola mata Ayana.
"Kamu mau kemana? Mau ninggalin aku begitu saja?" Ayana bertanya dengan nada galak.
"Oh iya, lupa," Elang cengengesan sambil menggaruk kepala.
Dia berjalan mendekati Ayana yang memanyunkan bibir. Untuk meluluhkan hati Ayana yang sedang ngambek, Elang melingkarkan tangan di pinggang Ayana serta melabuhkan satu kecupan di bibir.
"Jangan marah ya! Ayo, kita main kuda-kudaan."
"Nggak mau." tolak Ayana memalingkan muka.
Elang menarik nafas panjang, berusaha untuk tetap sabar.
"Ya sudah kalau nggak mau. Aku pergi sekarang."
"Eh, jangan!" teriak Ayana spontan. Dia langsung menutup mulutnya yang kadang suka tidak bisa terkontrol.
Elang tersenyum penuh kemenangan, lalu membaringkan Ayana dengan pelan.
Dalam sekejap, kamar pengantin yang didekor secara mendadak itu berubah berantakan oleh sepasang suami istri yang tengah mengejar kenikmatan dunia.
Di saat mereka sedang melewati malam yang panas, tiba-tiba ponsel di atas nakas berdering. Ponsel itu milik Farel yang ketinggalan di kamar.
Karena berisik, Elang pun mengangkat telepon itu.
"Halo, Rel," kata Abian di seberang sana.
"Ini aku, Elang. Bukan Farel," jawab Elang yang mengangkat telepon tanpa menghentikan gerakan naik turun di atas tubuh Ayana.
"Lang, tolong bantu aku, please. Junior aku nyut-nyutan."
Elang berdecak kesal, dan mengira Abian sedang menonton film dewasa yang membuat benda pusakanya berdenyut.
"Berhenti nonton film, apa susahnya sih?"
"Bukan itu, Lang. Ini lebih parah, bahkan harus dibawa ke rumah sakit."
Terdengar suara Abian merintih, membuat Elang mendengus kasar dan mendengus.
"Ck, oke, aku ke sana sekarang. Tunggu satu ronde lagi."
__ADS_1