
"Itu sebabnya kamu melarang aku masuk ke kamar kamu, Lang? Supaya rahasia kamu nggak kebongkar?"
Elang mengangguk mengiyakan. "Selain itu karena ada surat-surat penting dan uang yang aku simpan di dalam brangkas. Jadi aku kurang nyaman kalau ada orang masuk ke kamar aku."
"Brangkas di mana?" Ayana mengerutkan dahi. "Kok aku nggak lihat waktu aku masuk kamar kamu?"
"Brangkasnya tertanam di lantai dan ditutupi karpet."
Elang menundukan kepala untuk melanjutkan memijat benda kenyal milik Ayana. Lalu dia menyesap seperti bayi yang kehausan.
Di saat Elang sibuk dengan mainan barunya, Ayana membuka satu per satu kemeja Elang dan membuangnya ke lantai. Sehingga tubuh bagian atas mereka berdua sama-sama polos dan menempel tanpa ada lagi kain penghalang.
"Lalu kenapa kamu memilih nama Elang Angkasa sebagai nama samaranmu?"
Elang berdecak kesal. Sungguh dia sedang tidak mau diberi pertanyaan untuk saat ini.
Namun, karena tak ingin membuat Ayana marah dan berujung dia tidak dikasih jatah, Elang pun memberi jawabannya.
"Karena aku ingin seperti burung elang yang bisa terbang bebas di angkasa," Elang berkata dengan nada malas. "Apa ada pertanyaan lagi?"
"Selama ini, apa kamu punya keinginan terpendam, Lang?"
Elang menghembuskan nafas panjang sambil bola mata yang menerawang seakan sedang membayangkan sesuatu.
"Sebenarnya aku ingin kuliah di jurusan seni. Tapi sepertinya Daddy nggak akan mengizinkan aku."
Detik berikutnya, Elang mengangkat alis dan kembali pada santapannya yang sejak tadi selalu saja terjeda. Sedangkan Ayana yang kegelian membuat dia lupa ingin bertanya apa lagi.
Lantas Ayana pun membuka celana Elang dan memainkan benda yang sedang menegang menggunakan tangannya.
Mereka berdua berada di dalam kamar tanpa ada yang mengganggu sampai malam menyambut.
Di ruang makan, Bram mengepalkan kedua tangan ketika pelayan yang ditugaskan untuk memanggil Elang dan Ayana malah kembali lagi tanpa membuahkan hasil.
Apa selama tiga tahun tidak tinggal di rumah utama membuat Raynar lupa peraturan penting setiap malam? pikir Bram.
Dia pun bangkit berdiri sambil menggeram kesal. Dengan langkah yang lebar, Bram berjalan menuju pintu kamar anaknya. Lalu ditekuknya pintu kayu itu dengan sangat keras.
Brak Brak Brak
"Raynar, buka pintunya!"
Bukan suara sahutan yang Bram dengar, melainkan suara jeritan sang anak dari dalam kamar.
"Ay, jangan di makan, please! Jangan di makan!"
__ADS_1
Menjadikan Bram membulatkan mata lebar dan wajahnya dipenuhi kebingungan.
"Apa yang sedang mereka lakukan?"
Sekali lagi Bram mengetuk pintu lebih keras dari sebelumnya. Tak lama pintu terkuak terbuka namun sangat sedikit, hanya cukup untuk Elang menyembulkan kepalanya.
Tampak rambut Elang yang acak-acakan dan bertelanjang dada hanya memakai celana panjang.
"Kalian sedang apa di dalam?" tanya Bram kesal.
Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Daddy seperti nggak pernah muda saja."
"Tapi ini sudah jam makan malam, Ray. Kamu tahu kan kalau acara makan malam bersama itu wajib diikuti oleh semua anggota keluarga kita. Jadi sekarang bawa istrimu ke bawah! Daddy beri waktu kalian lima menit."
Setelah selesai berbicara, Bram memutar badan dan berjalan kembali ke ruang makan.
Sedangkan Elang menutup pintu lalu berbalik badan menatap Ayana yang tubuh polosnya terbungkus selimut tebal. Dia segera mengajak Ayana memakai pakaian untuk mengikuti salah satu protokol wajib di rumah, yakni makan malam bersama.
Lima menit, Ayana dan Elang masuk ke ruang tamu sambil bergandengan tangan. Mereka menundukan kepala sejenak pada Bram yang melayangkan tatapan tajam.
Kemudian, Elang dan Ayana pun duduk bersebelahan. Sementara Bram duduk di ujung meja yang merupakan kursi favoritnya saat makan.
Selama makan malam, Ayana hanya menguyah makanannya tanpa diselingi obrolan. Jujur masih ada ketengan di antara Ayana dan juga Bram. Terlebih jika Ayana teringat saat Bram memintanya pergi menjauhi Elang.
Ada rasa marah dan juga tidak terima karena Ayana dianggap mengincar harta dari Elang.
Ucapan tiba-tiba dari Bram itu cukup membuat Ayana kaget dan hampir saja tersedak. Berbeda dari Ayana, Elang justru menanggapinya dengan santai.
"Dad, ini kan sudah malam. Ayana perlu istirahat. Kapan-kapan saja diperiksa ke dokternya, oke?"
"Daddy ingin tahu kondisi cucu Daddy. Apa itu tidak boleh?" tanya Bram galak.
"Boleh, Dad. Tapi kemarin kami baru saja memeriksa kandungan Ayana dan dokter bilang cucu Daddy baik-baik saja," Elang mengambil potongan ayam goreng dan meletakan di piring Ayana. "Kamu harus makan yang banyak, Sayang. Ada anak kita yang perlu diberi makan."
Bram memutar bola mata malas, tampak tidak senang dengan kehadiran Ayana di rumah sekalipun wanita itu sedang mengandung cucunya.
"Terserah kamu saja. Tapi dokter Samantha sudah sedang menuju kemari."
"Kalau begitu aku akan menghubungi dokter Samantha supaya kembali saja ke rumahnya," kata Elang dengan enteng tapi Bram justru semakin kesal.
Bram menghela nafas. Tepat saat itu juga makanan di piring Bram sudah habis dan nafsu makannya pun sudah hilang.
Di malam pertama Elang kembali ke rumah, tak membuat serta merta dia menuruti ucapan Bram. Dan Bram menduga, Ayana lah yang telah mempengaruhi anaknya.
Bram memilih pergi dari ruang makan. Meninggalkan Elang dan juga Ayana yang belum selesai makan.
__ADS_1
"Elang," kata Ayana sambil menatap punggung Bram yang pergi menjauh.
"Hum."
"Sepertinya, Daddy marah sama kita."
"Biarkan saja. Apapun yang Daddy katakan, jangan diambil hati! oke?"
Ayana menganggukan kepala. Lalu mereka pun menghabiskan makan malam berdua.
Setelah itu, mereka berjalan kembali ke kamar dengan perut kenyang serta rasa kantuk pun yang mulai melanda.
Namun, sejenak Ayana tersentak saat mengingat suatu hal. Dia mendadak berhenti dan menoleh ke arah Elang dengan mata melotot.
"Ada apa, Ay?"
"Lang, aku baru ingat. Dua orang yang kemarin mau menculik aku, ternyata memang benar-benar anak buah ayah kamu dan pastinya kamu kenal mereka kan?"
Mendadak Elang membulatkan mata, tampak gugup, dan dia pun cengengesan sambil mengusap tengkuk.
"Jadi kemarin kalian berkelahi itu hanya…"
Elang mengangguk seraya tersenyum. Lalu dia melanjutkan ucapan Ayana dengan berkata, "Hanya sandiwara. Supaya kamu terkesan sama aku."
Tangan Ayana mengepal yang kemudian dipakainya untuk meninju dada bidang Elang. Gurat kemarahan terlihat jelas di wajah Ayana. Tak lupa juga mata yang melayangkan tatapan menghunus ke arah Elang.
"Elang, kamu itu keterlaluan!" geram Ayana masih mengepalkan kedua tangan. "Malam ini kamu tidur di luar! Aku nggak mau kelonin kamu."
"Apa? Tapi, Ay…"
Ayana tak mau mendengar pembelaan apapun dari Elang. Dia memilih melangkah menuju kamar, tak peduli akan Elang yang terus mengucapkan kata maaf sambil mengejarnya.
Begitu sampai di kamar, sekuat tenaga Ayana membanting pintu tepat di depan muka Elang.
"Aya, buka pintunya! Please!" pinta Elang mengetuk pintu.
Kemudian bibir Elang mengembangkan senyum ketika pintu perlahan terbuka.
Akan tetapi...
Plak.
Bukan sambutan hangat dari Ayana yang didapatkan, melainkan sebuah bantal melayang yang mendarat tepat di wajah Elang.
Lalu pintu pun kembali ditutup oleh Ayana.
__ADS_1
"Ah, sial. Malam ini nggak bisa kejar setoran deh," gerutu Elang sambil memungut bantal di lantai.