
Di dalam sebuah taksi, duduklah sepasang sejoli di kursi belakang mobil. Si pria tak henti-hentinya mengusap perut wanita dengan senyum yang tak pernah lekang dari wajahnya.
Sesekali pria itu menunduk mengecup perut istrinya. Membuat si supir taksi melirik melalui kaca spion, untuk melihat tingkah pasangan di belakang.
Mereka adalah Elang dan Ayana yang baru saja pulang dari rumah sakit, memeriksa kandungan Ayana.
Kebahagiaan Elang tak bisa tergambarkan setelah dokter mengatakan bahwa Ayana hamil enam minggu. Tangan Elang bergerak memeluk tubuh Ayana dengan begitu erat dan tidak lupa dia jatuhkan satu kecupan di dahi.
"Lang, sudah dong. Malu tahu," kata Ayana sambil melirik ke supir taksi.
Melalui pantulan kaca spion tengah, Ayana tampak mengenali supir taksi itu, seperti pernah melihat pria itu sebelumnya tapi dahi Ayana mengerut karena dia tidak bisa mengingatnya.
Berbeda dengan Elang yang tidak peduli pada keberadaan si supir, karena perhatian Elang tercurahkan semua pada Ayana dan juga anaknya yang masih berada di dalam perut sang istri.
Si supir taksi berdehem, lalu berkata, "Sudah sampai, Pak, Bu."
Ayana melempar pandangan ke luar jendela dimana dia melihat halaman rumah kedua orang tuanya yang tampak sepi seperti biasa.
Setelah membayar ongkos taksi, Ayana dan Elang pun turun. Sejenak mereka memandang ke arah rumah sebelum akhirnya melangkah melintasi halaman.
Ayana dan Elang sengaja mengunjungi rumah Jodi dan Asih untuk memberitahu kabar bahagia kehamilan Ayana.
Di depan pintu, Ayana mengetuk dengan pelan sambil memanggil ayah dan ibunya. Tak lama pintu pun terkuak, menampilkan wajah Asih yang langsung membelalakkan mata karena terkejut
"Aya, kamu datang kemari, Nak?" ucap Asih terperangah tak percaya.
"Iya, Ma. Aku kangen Mama."
Segera Ayana langsung melesat ke dalam pelukan Asih. Ibu dan anak itu saling berpelukan dengan sangat erat selama beberapa menit.
Sementara Elang hanya menundukkan kepala memberi hormat pada ibu mertuanya.
"Kabar kalian berdua baik-baik aja kan?" tanya Asih ketika melepas pelukan.
"Baik kok, Ma," sahut Elang.
"Aku punya kabar bahagia, Ma," kata Ayana tersenyum dan melirik sekilas ke arah Elang.
Alis Asih terangkat. Dia memandang Ayana dan Elang secara bergantian.
"Kabar bahagia apa?"
__ADS_1
Ehem.
Suara deheman mengagetkan tiga orang yang berdiri di ambang pintu. Lalu mereka serempak menoleh ke sumber suara, di mana Jodi sudah berdiri dengan melayangkan tatapan tajam.
Seketika suasana berubah tegang, semua orang terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Mau apa kamu ke sini? Nggak bawa sesuatu buat mertua lagi," Jodi mencibir dengan memandang tajam pada Elang.
"Papa," bisik Asih untuk memperingatkan suaminya.
"Apa, Ma? Memang benar, kan? Menantu kita itu nggak bisa kasih apa-apa ke kita. Datang ke sini pakai tangan kosong."
Elang maju satu langkah mendekati Jodi dengan badan tegak dan membalas tatapan sang ayah mertua.
"Saya kemari membawa sesuatu kok, Pa," Elang mengambil sebuah amplop coklat dari saku jaket dan menyerahkannya ke depan Jodi
Melihat Elang mengeluarkan amplop, dua bola mata Jodi langsung berbinar. Secepat kilat dia menyambar amplop coklat itu dengan tidak sabar dan air liur yang sepertinya akan menetes.
Jodi sudah sangat yakin jika isi amplop coklat itu adalah uang. Menjadikan jiwa mata duitan di dalam diri Jodi meronta-ronta.
Namun, begitu amplop itu dibuka, dahi Jodi mengerut heran. Sekilas dia memandang Ayana, Elang dan beberapa foto hitam putih yang ada di tangannya.
Asih yang ikut melihat benda di tangan Jodi, langsung membekap mulutnya yang menganga tak percaya. Dia tahu foto hitam putih itu adalah foto hasil USG.
Asih melempar pandangan pada Ayana untuk meminta penjelasan dan Ayana pun membalas dengan anggukan kepala.
"Aku hamil, Ma."
"Hamil?" Asih kembali terperangah. Lalu pandangannya turun tertuju pada perut Ayana.
Dengan senyum yang mengembang di bibir, Asih mengusap perut itu secara lembut dan pelan. Dia tak akan menyangka dirinya akan menjadi seorang nenek dalam waktu dekat.
"Hamil?" Jodi ikut bergumam.
Namun, tidak seperti Asih yang berwajah gembira, Jodi justru mengepalkan tangan geram.
Detik berikutnya, Jodi tiba-tiba saja mengayunkan kepalan tangan hendak meninju wajah Elang.
Untung saja, dengan sigap Elang membungkuk dan kepalan tangan Jodi pun mengenai wajah Asih.
"Auwwh, Papa!" pekik Asih sambil menutupi mata kirinya yang terasa sakit dan mungkin saat ini sudah berubah warna menjadi ungu lebam.
__ADS_1
"Eh, aduh. Mama, maaf."
"Ck, Papa itu kenapa sih? Tiba-tiba mau mukul Elang. Mana melesat ke muka Mama," Asih menggerutu dengan menyorot pandangan sebal ke arah Jodi.
"Papa mau menghajar anak ini, Ma. Karena dia sudah menghamili anak kita."
Secepat mungkin, tangan Jodi menyambar bagian depan jaket Elang agar bisa menarik tubuh pria itu agar semakin dekat dengannya.
Wajah Jodi yang menyeringai hanya terpisahkan jarak lima sentimeter dengan wajah Elang yang berekspresi santai. Cengkraman tangan Jodi begitu erat menggenggam jaket Elang, lalu dia pun mengguncangkan tubuh menantunya itu.
"Bocah seperti kamu bisa apa, hah? Mau dikasih makan apa cucuku nanti?" teriak Jodi membahana ke penjuru ruangan. "Kamu menghamili Ayana tanpa pikir panjang ke depan."
"Maaf, Pa. Tapi bukankah Papa sendiri yang menikahkan kita ya? Terus apa salahnya kalau aku menghamili Ayana," kata Elang santai dan tanpa rasa berdosa, sebab dia memang merasa tidak bersalah atas hamilnya Ayana.
Perkataan Elang membuat Jodi terdiam seketika. Dia baru sadar jika dia lah yang memiliki peran yang cukup besar dalam terlaksananya pernikahan Ayana dan Elang.
"Elang benar, Pa," Ayana ikut menimpali sambil maju satu langkah, berdiri di samping Elang. "Papa kan, yang menikahkan aku dengan Elang. Waktu itu, Papa bahkan nggak mau dengar kalau Elang sebenarnya bukan pacar aku."
Asih menepuk bahu Jodi. Dengan satu mata yang lebam, dia menatap sang suami.
"Pa, sudah lah. Apa yang dikatakan mereka benar dan apa yang sudah terjadi, biarkan lah terjadi. Memangnya Papa ingin mereka pisah? Papa mau Ayana jadi janda, begitu?"
Jodi menarik nafas panjang. Dia melirik sekilas pada Elang dengan tatapan penuh arti lalu menoleh pada Asih.
"Papa bukan ingin Ayana dan Elang pisah. Cuma, Papa ingin memberi peringatan pada Elang supaya dia nggak main-main dan harus bekerja keras menafkahi keluarganya. Oke, kalau mereka menikah tapi untuk masalah anak, apa mereka sudah siap? Menjadi orang tua bukan perkara yang gampang. Itu adalah pekerjaan seumur hidup."
Ayana menempelkan tangan di dahi ayahnya. Membuat semua orang terheran akan tindakan Ayana.
Kemudian Ayana beralih ke samping Asih dan berbisik, "Papa makan apa hari ini, Ma? Kok tumben waras."
"Hush, kamu itu, Ay. Jangan ngomong gitu!" Asih ikut berbisik dan melirik sekilas ke arah Jodi. "Papa kamu itu memang waras dari dulu juga. Cuma kalau masalah uang, dia kadang berubah jadi gila."
Ehem.
Jodi berdehem menyela pembicaraan Ayana dan Asih. Ketika itu pula, Elang melakukan hal yang mengejutkan semua orang.
Elang bersimpuh di depan Jodi dan berkata, "Papa tenang saja. Aku akan berusaha membahagiakan Ayana dan juga anak kami nantinya. Aku akan berusaha memenuhi kebutuhan keluargaku tanpa meminta-minta dan… "
Elang menelan saliva sebelum melanjutkan perkataannya.
"Dan aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anakku."
__ADS_1