
Beberapa saat sebelumnya.
Samantha berjalan dengan gaya angkuh melewati ambang pintu setelah Elang mempersilahkan masuk ke dalam kamar. Pandangan matanya langsung tertuju pada Ayana yang baru saja turun dari ranjang.
Ayana membalas tatapan Samantha dengan santai. Bahkan dia menaikan alisnya dua kali sebagai tanda pertanyaan ada apa.
Samantha menghela nafas lalu berkata, "Kenapa kamu memperkenalkan aku dengan bocil? Aku sudah membantu menutupi kebohongan kalian dengan cara mengatakan kalau Ayana hamil, tapi kalian seperti mempermainkan aku tahu."
Alis Ayana mengerut bingung. "Mempermainkan bagaimana maksud kamu?"
"Kamu kenalin aku sama anak sekolahan, Ay. Kamu serius nggak sih?" tanya Samantha geram.
"Memang apa yang salah dengan Abian?" Elang ikut bertanya sambil berjalan mendekat dan merangkul Ayana. "Kalau masalah umur, aku juga lebih muda dari Ayana tapi kita bisa jadi pasangan suami istri. Apa yang salah?"
"Ck, itu karena kalian pasangan aneh. Aku nggak mau tahu, kalian harus suruh Abian supaya nggak dekatin aku lagi atau aku akan bilang ke Tuan Bram kalau sebenarnya Ayana nggak hamil."
Brak.
Ayana, Elang dan Samantha terperanjat kaget ketika mendengar suara pintu yang terbanting terbuka. Refleks mereka menoleh ke arah pintu dan mereka semakin dibuat terkejut dengan kehadiran Bram.
Entah sejak kapan pria itu ada di sana. Dilihat dari raut wajahnya yang kesal dan menahan marah, pastilah Bram sudah mendengar pembicaraan Ayana dan Samantha.
Mata Bram menyala menyorot kemarahan pada tiga orang di dalam kamar yang berdiri kaku. Mereka merasakan tegang sampai sulit menggerakan anggota badan.
Satu per satu secara bergantian, Bram menatap tajam Samantha, Ayana, lalu terakhir pada anaknya, Elang.
"Kenapa kalian tega sekali membohongi saya? Kenapa?" tanya Bram penuh penekanan pada setiap kata.
"Dad, aku bisa jelaskan tapi Daddy tenangkan diri dulu," kata Elang berusaha mendekati ayahnya.
Namun, Bram menampik tangan Elang. Bahkan dia mendorong dada Elang agar tidak menghalangi langkahnya yang ingin meraih Ayana.
Bram berdiri tepat di depan Ayana dengan rahang yang mengetat. Sekilas dia melirik pada Samantha melalui ekor matanya.
"Kamu juga, Dokter Samantha, kenapa kamu mau saja membantu Ayana dan Raynar?"
Samantha menundukan kepala, nyalinya menciut kala bertatapan langsung dengan Bram, lalu dia pun berkata dengan suara pelan, "Maaf, Tuan. Saya dipaksa."
Kembali Bram menatap Ayana yang menelan saliva karena gugup. Gurat kemarahan sangat jelas terlihat di wajah tua Bram, membuat pria itu terlihat menakutkan.
"Dari dulu Raynar tidak pernah berani berbohong padaku. Sama sekali tidak pernah dia berbohong. Dia selalu berkata jujur," ucap Bram bernada geram. "Tapi sejak anakku mengenal dirimu, dia jadi suka berbohong."
"Dad," Elang maju satu langkah mendekati Bram. "Ini bukan salah Ayana. Ini salahku. Aku yang memiliki ide untuk berbohong supaya Daddy nggak memisahkan aku sama Ayana."
"Cukup, Raynar," bentak Bram. "Kamu…"
Bram tidak melanjutkan ucapannya sebab secara mendadak dia memegang dada sebelah kiri sambil menampilkan wajah meringis seperti orang kesakitan.
Bram membungkukkan badan dengan tangan yang semakin mencengkram kuat bagian dada. Sedangkan Ayana, Elang dan Samantha panik dibuatnya.
__ADS_1
"Dad, are you ok?" tanya Elang.
Bram tidak menjawab. Justru dia mengerang kesakitan dan seketika tubuhnya ambruk di atas tempat tidur.
Ayana dan Samantha sontak menjerit melihat Bram pingsan.
Sebagai orang yang memiliki gelar sebagai dokter kandungan, Samantha maju berniat mengecek keadaan Bram.
Bola mata Samantha seketika membola sempurna kala tidak dapat merasakan denyut nadi pada pergelangan tangan Bram. Lantas dia pun menoleh pada Ayana dan Elang dengan menampilkan wajah pucat.
"Tuan Bram meninggal."
"Apa?" Ayana dan Elang serempak berteriak terkejut.
Krik… krik… krik…
Beberapa saat berlalu dengan suasana hening tanpa ada yang bicara. Mereka bertiga saling menatap satu sama lain.
Lalu tiba-tiba…
"Yeahh, Daddy meninggal," Ayana dan Elang bersorak gembira.
Bahkan mereka berdua sampai berjingkrak riang saking senangnya. Sementara Samantha hanya bisa terperangah melihat kelakuan sepasang suami istri absurd itu.
Mulut Samantha sampai melongo dibuatnya. Sungguh heran dia pada Elang dan Ayana.
Di saat Bram meninggal, mereka malah senang bukan main.
"Karena… itu artinya nggak ada lagi yang ngatur-ngatur hidup aku," ucap Elang.
"Dan nggak ada lagi mertua menyebalkan," imbuh Ayana.
Mereka berdua kembali berjingkrak riang sampai akhirnya berhenti ketika merasakan sesuatu menarik daun telinga mereka.
Sambil mengaduk kesakitan, Ayana dan Elang menoleh pada Bram yang sudah dalam keadaan berdiri dan menjewer telinga mereka.
"Oh, jadi kalian senang Daddy meninggal? Iya?"
"Lho kok Daddy hidup lagi?" tanya Elang panik.
"Dokter Samantha, tadi Dokter bilang Daddy meninggal. Apa mungkin yang menjewer telinga kita arwahnya Daddy?" tanya Ayana pada Samantha yang hanya bisa tertawa menutupi mulutnya.
"Ops, sorry. Kalian kena prank," Samantha tersenyum penuh arti.
"Sini kalian! Kalian berdua harus diberi pelajaran biar tahu rasa," ucap Bram menarik telinga Ayana dan Elang.
Dia tidak melepaskan kedua tangan dari daun telinga Ayana dan Elang. Bahkan saat mereka berjalan menuruni tangga.
Bram sama sekali tidak memperdulikan suara ampunan yang keluar dari mulut Ayana dan Elang. Rasa marah menuntutnya untuk terus menarik mereka ke area kolam renang.
__ADS_1
Sedangkan Samantha berjalan mengekor di belakang Bram. Sambil tersenyum puas melihat Ayana dan Elang dihukum push up seratus kali.
"Jangan berhenti sampai hitungan ke seratus! Mengerti?"
Ayana yang siap dengan posisi push up, tiba-tiba mendongak dan bertanya, "Apa ini saja hukumannya, Dad?"
"Kamu mau yang lebih dari ini?" Bram balik bertanya seraya mendelikan mata.
Menjadikan nyali Ayana menciut dan segera menggelengkan kepala. "Nggak, Dad."
"Ya sudah. Push up sampai seratus kali."
"Satu… dua… tiga…"
Ayana dan Elang push up sambil berhitung bersama-sama.
"Tuan, saya permisi mau pulang," kata Samantha pada Bram yang berdiri dengan menggenggam kedua tangan di belakang tubuhnya.
"Hmm, terima kasih kerjasamanya, Dokter."
Samantha melirik sekilas pada Ayana dan juga Elang, tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
"Semangat kalian berdua."
Ayana memandang sinis pada punggung Samantha yang ditemani Bram berjalan menuju pintu depan. Sejenak dia berhenti namun badannya masih tengkurap di pinggir kolam.
Begitu pula dengan Elang yang memilih berhenti selagi Bram pergi mengantar Samantha ke depan.
"Ternyata Samantha kerjasama sama Daddy. Ish, dasar licik," geram Elang.
Ayana menganggukan kepala tanda setuju dengan perkataan Elang.
"Iya, ternyata dia menusuk dari belakang. Tapi aku heran, kok Daddy cuma nyuruh kita push up ya?"
Mendengar suara derap langkah, Ayana dan Elang kembali melanjutkan push up.
"Empat puluh empat… empat puluh lima…"
Melihat Ayana dan Elang masih menjalankan hukuman, bibir Bram pun melengkungkan sebuah senyuman tipis. Dia duduk di salah satu kursi di dekat mereka.
Setelah selesai pada hitungan ke seratus, bersamaan pula dengan datangnya dua orang pelayan membawa dua buah koper.
Ayana dan Elang mengerutkan wajah kebingungan. Perasaan mereka menjadi tidak tenang melihat koper itu dijejerkan di hadapan mereka.
"Raynar, kamu senang jika Daddy tidak ada karena tidak ada lagi orang yang mengatur-ngatur hidupmu?"
"Dad, bukan begitu. Aku cuma…"
"Cuma mengungkapkan isi hatimu, begitu?" Potong Bram sambil menatap tajam pada Elang yang menundukan kepala.
__ADS_1
"Sorry, Dad."
"Baiklah. Kalau itu kemauan kamu. Mulai hari ini kamu dan istrimu jangan lagi menginjakkan kaki di rumah ini dan Daddy akan mencabut semua fasilitas yang Daddy berikan padamu."