
Hani membuka daun pintu secara perlahan tanpa menimbulkan bunyi. Bibir merahnya mengulum senyum kala melihat tubuh Farel yang terbaring di atas kasur.
Diam-diam Hani menutup pintu dan berjalan mengendap-endap. Lalu ikut berbaring di samping Farel.
Tak disangka-sangka, lengan kekar Farel melingkar di perut Hani tanpa pria itu sadari. Bahkan Farel menarik tubuh Hani jauh ke dalam dekapannya.
Tentu saja Hani senang bagai terbang melayang dibuatnya.
"Bantal guling punya Elang kok anget ya?" gumam Farel tanpa membuka mata. Saking penasarannya, tangan Farel mulai bergerilya ke setiap jengkal tubuh Hani.
Kemudian tangan Farel berhenti tepat di atas salah satu puncak bukit kembar milik Hani. Sang pemilik bukit membulatkan mata karena terkesiap. Namun, sebisa mungkin Hani membungkam mulutnya agar tak bersuara.
"Ini sih, bantal guling multifungsi. Bisa dipakai guling, tapi ada mainan squishy nya juga."
Hani terkekeh mendengar ocehan Farel yang masih memejam matanya dan belum menyadari kalau benda yang dianggap guling sebenarnya adalah tubuh Hani.
Tangan Farel meremas benda kental itu, membuat Hani tak bisa menahan suara erangaan, meski dia sudah menahannya sekuat tenaga.
Mendengar suara wanita mengerang membuat ujung bibir Farel terangkat. Fantasinya mulai membayangkan suasana yang biasa dia tonton bersama Abian.
Sebagai laki-laki normal, tentu Farel mulai bergairah begitu mendengar suara desahaan yang tidak bisa Hani tahan karena Farel tak henti-hentinya memainkan bukit kembarnya.
"F-farel," pekik Hani ketika tubuhnya bergetar akibat sensai nikmat tak tertahankan.
"Wah, ini bukan sembarang guling. Bantal ini bahkan bisa bersuara dan tahu namaku," Farel berdecak kagum. "Aku nggak nyangka Elang punya benda kayak begini. Coba dari dulu aku tahu, kan aku bisa pinjem tiap malem."
Hani membuka mulut untuk menjelaskan bahwa benda yang dikira Farel adalah guling sebenarnya adalah dirinya. Namun, detik berikutnya, dia berubah pikiran dan memilih untuk diam saja.
Dengan menggigit bibir bawahnya, Hani memejamkan mata meresapi setiap sentuhan tangan Farel.
Farel sendiri pun sesungguhnya penasaran akan benda yang tengah dia gerayangi. Akan tetapi tubuhnya yang lelah membuat kelopak mata Farel sangat berat untuk membuka.
Dan Farel pun tak mau ambil pusing, dia terus saja memainkan benda yang ada di dekapannya itu seperti video dewasa yang pernah dia tonton.
Sampai Farel merasakan bahwa guling itu memiliki tangan yang bisa membuka bajunya. Merasa ada satu hal yang aneh, Farel memaksakan diri untuk membuka mata.
"Hani?" Farel terkejut bukan main ketika mendapati Hani berada di bawah kungkungannya dengan tubuh mereka yang sama-sama polos.
Kedua pipi Hani perlahan bersemu merah karena untuk pertama kalinya dia bisa seintim itu dengan seorang pria.
Dan jangan tanyakan bagaimana detak jantung Hani saat ini. Sebab jantung Hani berdegup kencang di atas batas normal.
Farel pun sama. Jantungnya berdegup kencang. Hanya bedanya, jantung Farel berdegup kencang sebab dia sangat terkejut dan panik.
"Astaga. Aku sudah melakukan pencabulan sama kamu, Han," ucap Farel begitu dia sadar apa yang sejak tadi dia gerayangi.
Farel segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Hani. Terkejut, bingung dan cemas masih menghiasi wajah Farel.
__ADS_1
"Kamu nggak akan laporin aku ke polisi kan, Han?"
Hani terkekeh mendengar Farel yang begitu cemas. "Apaan sih, Rel? Kita kan sudah nikah."
Plak.
Farel menepuk jidatnya sendiri. Dia baru sadar bahwa statusnya sekarang sudah berubah menjadi suami dari wanita bernama Hani.
"Oh, iya, kita kan sudah nikah ya? Kok aku bisa lupa sih."
Hani senyum-senyum sendiri sambil memandang wajah Farel. Di bawah selimut, tangan Hani menyambar gundukan daging yang sudah menengang.
Menjadikan Farel membulatkan mata seketika karena terkesiap. Jiwa laki-lakinya semakin meronta kala tangan Hani bergerak naik turun mengurut miliknya.
"Hani?"
"Hum"
"Stop it!" tegas Farel.
Detik berikutnya, Hani menghentikan pergerakan tangan. Dia memandang wajah Farel beberapa saat sebelum akhirnya dia berbicara.
"Emang nggak enak, Rel?" tanya Hani tiba-tiba.
"Ya enak sih. Cuma aku nggak mau kelepasan."
"Kalau enak, ya sudah. Nikmatin aja, Rel."
Secepat mungkin Farel menurunkan tangannya menahan pergerakan tangan Hani.
"Han, stop!"
"Enggak!" sahut Hani tak kalah tegas.
Hani menampik tangan Farel dan segera dia naik ke atas tubuh Farel. Kedua lengan Hani mencekal tangan Farel dan mengunci pergerakan pria itu.
Membuat Farel tak bisa berkutik di bawah tubuh Hani. Rasa panik di dalam diri Farel semakin meningkat kala Hani berusaha menyatukan milik mereka.
Keringat dingin langsung membasahi kening Farel. Jantung kembali berdetak kencang, menjelang detik-detik hilangnya keperjakaan Farel.
Merasa tak punya pilihan lain, Farel pun sontak berteriak.
"Tolong! Aku diperkosa. Tolong… Aku dinodai tol… "
Suara teriakan Farel terbungkam oleh dua telapak tangan Hani yang menutup mulut Farel dengan sangat kuat.
"Pst, Farel. Diem dong. Kita tuh sudah nikah. Jadi bukan pemerkosaan namanya."
__ADS_1
Sekuat tenaga, Farel menyingkirkan tangan Hani dari mulutnya. Lalu berkata, "Kamu paksa aku, Han. Itu sama aja pemerkosaan tahu."
"Ck, mau dibikin enak nggak sih?"
"Mau," jawab Farel cepat.
"Ya sudah diem."
"Nanti aku sudah nggak perjaka lagi dong, Han."
"Kamu pikir, setelah ini aku tetap jadi perawan? Nggak, Rel. Tapi aku penasaran. Jadi, kamu cukup diam. Oke?"
Farel menelan salivanya dengan susah payah. Entah kenapa kepalanya mengangguk menyutujui perkataan Hani.
Dia diam dan pasrah akan apa yang hendak Hani lakukan pada tubuhnya yang belum terjamah oleh wanita. Kemudian dua insan itu pun memulai ronde pertama dari sebuah olahraga yang baru mereka lakukan pertama kali dalam hidup.
Berbeda dengan dua insan yang berada di kamar bawah, dimana mereka sudah menghabiskan entah berapa ronde permainan. Yang pasti sudah tak ada lagi tenaga bagi si wanita.
Mereka adalah Ayana dan Elang.
Sekilas Elang membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh Ayana. Lalu dia kecup kening Ayana dengan lembut agar tidak mengganggu tidur nyenyak wanita itu.
Setelah itu, Elang turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya. Sesuai janji, dia akan menemui Abian yang berada di rumah sakit.
Elang berjalan perlahan keluar rumah dan dengan memakai motor milik Farel, dia menghambur ke jalanan malam yang dingin.
Lima belas menit berlalu, Elang sudah tiba di rumah sakit dimana Abian dirawat. Begitu masuk ke ruangan, Elang langsung memandang Abian dengan dahi mengerut bingung.
Dilihat dari mata, Abian memang seperti orang sehat tanpa ada luka sedikit pun. Namun, siapa sangka kalau pria itu tengah berjuang menahan rasa sakit yang mendera benda pusaka miliknya.
"Kamu kenapa, Bi?" tanya Elang saat berada di samping brankar.
Abian mejunjuk ke inti tubuhnya.
"Ini semua gara-gara wanita itu, Lang. Salah dia sendiri pakai rok mini terus pakai sengaja berdiri di depan aku lagi. Nggak salah kan, kalau junior jadi ikut berdiri?"
Dahi Elang semakin mengerut heran. "Wanita itu yang mana?"
"Wanita itu lho. Kakaknya Tisa. Anak kecil yang pernah aku serempet."
Elang ber-oh hingga bibirnya membentuk o bulat.
"Aku nggak mau tahu, Lang. Pokoknya aku harus balas dendam sama wanita itu," Abian menoleh cepat pada Elang dengan sorot mata serius. "Maka dari itu, Lang. Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Tolong cari informasi tentang wanita itu, Lang! Aku akan balas dendam dan aku nggak mau tahu pokoknya wanita itu harus menjadi sarang pertama bagi juniorku, Lang."
__ADS_1