
Elang tak pernah mengira jika benda yang tergeletak di sudut halaman samping rumah adalah tubuh Farel. Seketika jantung Elang berdegup kencang mengakibatkan ujung jemarinya bergetar.
Kedua tangan Elang menangkup wajah Farel yang penuh oleh darah. Sambil memanggil nama sahabatnya, Elang menepuk pelan pipi Farel agar membuka matanya.
Namun, sayang seribu sayang. Mata itu tetap terpejam. Membuat Elang semakin panik dibuatnya.
Dengan cepat, Elang mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mengetahui dari mana Farel jatuh.
Elang memperkirakan Farel jatuh sampai berdarah dan tak sadarkan diri pastilah dia dari lantai dua rumahnya.
"Lang, tadi aku dengar suara benda jatuh. Apa sih itu?" tanya Ayana yang sedang menuruni tangga.
Elang melempar pandangan pada Ayana dengan wajah pucat dan tangan bergetar ketakutan.
"Farel, Ay. Farel bunuh diri."
"Apa?" Ayana tersentak. "Jangan bercanda deh, Lang. Nggak lucu."
Segera Elang menarik tangan Ayana dan memperlihatkan tubuh yang terbaring di atas rumput dengan berlumuran darah.
Saat itu juga, Ayana memekik saking kagetnya. Untung saja jantung Ayana masih aman berada di tempatnya. Meskipun terkejut, Ayana berusaha untuk tetap tenang.
"Lang, cepat kita bawa Farel ke rumah sakit!"
Elang mengangguk mantap. Secepat kilat dia lari ke dalam rumah untuk mengambil kunci motor vespa yang tadi sempat dipinjam.
Elang meraih kunci itu tak memperdulikan tatapan tajam dari ayah Farel yang masih berada di ruang tengah bersama istrinya.
"Mau apa lagi kamu?" tanya ayah Farel galak.
"Farel jatuh, Om. Permisi saya pinjam lagi motornya," ucap Elang yang detik berikutnya langsung berlari kembali ke luar rumah.
Sementara dua orang tua Farel langsung tercengang setelah mendengar perkataan Elang. Mereka saling tatap dengan dua mata membelalak.
Beberapa detik berlalu mereka saling terdiam saking syoknya. Baru setelah mereka tersadar barulah mereka ikut berlari keluar rumah.
Ketika dua orang tua Farel berada di halaman depan, mereka sudah melihat badan Farel yang berlumuran darah dinaikan ke atas motor vespa dihimpit oleh tubuh Elang dan Ayana.
Teriakan nyaring yang keluar dari mulut ibu Farel terdengar sangat mengerikan di gelapnya malam. Wanita paruh baya itu hanya bisa menangis dan seketika berlutut di atas rumput karena kakinya mendadak lemas.
__ADS_1
Berbeda dengan ayah Farel yang masih bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Bahkan pria itu melotot pada Elang yang siap melajukan motor.
"Hai, tunggu! Kalian mau bawa anak saya pakai motor?" tanya ayah Farel.
Elang menoleh pada ayah Farel dengan wajah datar. "Memang kenapa, Om? Salah?"
Ayah Farel menghela nafas. "Kita telepon ambulance saja. Bahaya kalau naik motor bertiga seperti ini."
"Sudah lah, Om. Ini darurat. Kalau telepon ambulance akan lebih lama lagi," kata Ayana dengan nada cemas. Lalu tangan Ayana terulur menepuk pundak Elang. "Ayo, Lang. Jalan saja!"
"Sorry, Om. Saya lebih setuju pada Ayana," kata Elang sesaat sebelum dirinya menancapkan gas.
Dan seketika motor pun melaju kencang menuju jalanan, meninggalkan ayah dan ibu Farel yang menatap nanar. Tak mau tinggal diam, ayah Elang mencari taksi untuk menyusul Elang.
Di jalanan malam ibukota yang masih padat oleh kendaraan, ada satu motor yang melaju dengan kecepatan penuh dan berusaha menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya.
Motor vespa yang memiliki suara knalpot bising itu menjadi perhatian banyak orang. Selain karena melaju di atas batas normal, dinaiki oleh tiga orang dan tidak memakai helm pula.
Namun, yang membuat semua orang tercengang adalah ketika mereka melihat pemuda bersimbah darah di atas motor itu.
Dengan tidak sabar, Elang menyembunyikan klakson serta berteriak agar pengendara lain menepi untuk memberikan jalan.
"Lang, ngebut lebih kencang lagi bisa nggak?" teriak Ayana begitu dia tidak merasakan denyut nadi di leher Farel.
Alhasil sekarang mereka pun diikuti oleh satu motor polisi yang berteriak agar mereka berhenti.
"Waduh, kita dikejar polisi nih," gumam Elang saat melirik spion. "Gas aja, deh. Sekarang nyawa Farel lebih penting."
Bukannya berhenti, Elang malah semakin gesit mengendarai motor. Raungan suara sirine dari motor patroli polisi tidak digubris oleh Elang.
Aksi kejar kejaran itu pun terus berlangsung sampai mereka tiba di tempat tujuan mereka. Elang tetap melajukan motor menerobos pintu masuk rumah sakit.
Semua orang yang berada di rumah sakit melongo melihat sebuah motor vespa masuk ke dalam lorong rumah sakit dan berhenti tepat di depan brankar kosong yang sedang didorong oleh seorang perawat.
"Sus, tolong! Ada pasien gawat darurat."
*
*
__ADS_1
*
Beberapa jam kemudian.
Elang dan Ayana berdiri di pintu IGD dengan rasa gelisah yang bersarang di hati mereka. Meskipun mereka menarik nafas beberapa kali dan berjalan mondar-mandir untuk melenyapkan rasa gugup, namun tetap saja mereka tidak bisa tenang.
Sedangkan ayah dan ibu Farel duduk di kursi tunggu. Ibu Farel tak henti-hentinya menangis sejak datang ke rumah sakit. Dia duduk berdampingan dengan ayah Farel yang tak jenuh menenangkannya.
Tak lama, mereka mendengar suara derap langkah menuju tempat mereka. Membuat pandangan semua orang tertuju pada Abian yang berlari mendekat.
"Lang, aku dengar Farel masuk rumah sakit? Kok bisa sih? Gimana ceritanya?" Ahian mencecar pertanyaan kepada Elang yang melirik sekilas ke arah orang tua Farel.
Elang menghela nafas sebelum dia berkata, "Farel bunuh diri dengan cara melompat dari lantai dua."
Tercengang. Satu kata yang menggambarkan raut wajah Abian saat ini. Dia berdecak dan menggelengkan kepala tak percaya.
"Bagaimana bisa, Lang? Yang kita tahu Farel kan baik-baik saja. Nggak pernah dapet masalah."
"Ya itu kan dari pandangan kita, Bi. Nyatanya, Farel memendam masalahnya sendirian," ucap Elang dengan suara lemas dan kepala tertunduk.
Tepat saat itu, pintu IGD terbuka dan seorang dokter pria keluar dari sana. Dalam sekejap mata semua orang langsung mengerubungi sang dokter untuk meminta penjelasan.
"Dok, bagaimana keadaan anak kami, Dok?" tanya ibu Farel sesenggukan.
"Iya, Dok. Nggak ada luka serius kan?" timpal ayah Farel tidak sabar.
"Pak, Bu, mohon maaf. Saya harus menyampaikan bahwa saat ini Farel dalam kondisi kritis dan Farel juga mengalami patah tulang di bagian kaki kirinya," jelas sang dokter dengan berat hati.
"Cuma kaki kiri doang, Dok?" tanya Abian dengan wajah tak bersalah.
Plak.
Elang memitak kepala Abian. "Emang kamu pengin di mana lagi?"
Abian tersenyum malu dan terkekeh pelan. "Maaf. Maksudnya di bagian lain nggak ada yang cedera serius kan, Dok?"
"Tidak ada. Namun, saat ini kondisi kaki Farel harus mendapatkan perawatan lebih serius."
Ibu Farel tidak bisa menahan tangisannya. Dia menangis lebih keras dari sebelumnya dan menghambur ke dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
"Kami akan berusaha sebaik mungkin agar Farel cepat pulih. Selain itu, kami juga meminta bantuan semua orang untuk memberikan semangat pada Farel," kata sang dokter yang kemudian menundukan kepala dan pamit undur diri.
Elang menepuk bahu Abian, mengajak sahabatnya itu untuk masuk ke dalam ruangan. "Kuy, kita semangatin Farel."