
Elang berjalan dengan langkah gontai menapaki halaman depan cafe. Dia mendekati Ayana yang berdiri di samping motor vespa yang dipinjam dari Farel.
Ayana menyadari ada yang berbeda dari Elang. Sehingga dia pun bertanya, "Ada apa, Lang?"
"Ternyata penyebab aku nggak diterima kerja karena Daddy," ungkap Elang dengan wajah yang lesu.
Ayana terdiam sejenak. Dia mengusap lembut punggung Elang untuk sedikit memberi ketenangan.
"Kamu yang sabar ya, Lang. Sebaiknya kita pulang aja yuk. Udah sore juga nih."
Elang mendongak menatap langit jingga. Tak terasa hampir seharian penuh dia mencari pekerjaan tapi hasilnya nihil.
Elang dan Ayana naik ke motor vespa butut yang dia pinjam dari Farel. Sambil mengendarai motor, Elang melamun meratapi hidupnya yang kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Di tengah jalan, terlebih dahulu mereka mampir ke kedai makan sederhana. Mereka memesan makanan untuk tiga porsi. Satu porsi lagi hendak mereka berikan pada Farel sebagai bentuk terima kasih sudah dipinjamkan motor.
Sampai di rumah yang letaknya di kawasan padat penduduk, Elang menghentikan motornya.
Di halaman depan rumah itu, ada sebuah tangga yang terhubung langsung ke lantai dua. Sehingga penghuni rumah tidak terganggu dengan keluar masuknya para penghuni kost.
Begitu turun dari motor, Ayana berniat naik ke atas untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Elang lebih dahulu memberikan kunci motor dan juga makanan yang sudah dia beli untuk Farel.
Elang mengetuk pintu depan yang tidak terkunci. Samar-samar dia mendengar suara orang yang mengobrol sehingga Elang pun melongok ke dalam.
"Permisi," teriak Elang sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu. "Farel?"
Tidak ada siapapun di ruang tamu. Tapi Elang semakin jelas mendengar suara orang berbicara.
Elang tahu yang dia lakukan kurang sopan. Meskipun begitu dia tetap melangkahkan kaki menuju ke dalam rumah, lebih tepatnya ke ruang keluarga.
Di sana dia melihat Farel yang duduk dengan kepala tertunduk. Sementara dua orang tua Farel menatapnya dengan tajam.
"Kenapa nilai ujian kamu bisa jelek seperti ini, hah?" ayah Farel bertanya galak.
Farel mendongakkan kepala memandang wajah sang ayah dengan mata yang nanar.
"Nilai aku nggak jelek-jelek amat kok, Pa. Lagipula aku sudah berusaha belajar tapi memang hasilnya segitu," ucap Farel memberikan pembelaan.
"Bohong!" teriak wanita paruh baya yang rambutnya digulung di segala sisi. "Kamu pasti main terus kan? Kalau belajar, mana mungkin dapat nilai seperti ini."
Kini Farel melempar pandangan pada mamanya. "Ma, apa Mama nggak liat tiap malam aku belajar sampai begadang. Aku nggak bohong. Aku memang belajar, Ma."
__ADS_1
"Mama nggak percaya. Pasti kamu belajar cuma di depan Mama aja. Kalau di belakang Mama kamu main. Iya kan?"
"Mama kamu benar. Ini pasti karena kamu bergaul dengan dua teman kamu yang bandel itu. Kamu jadi ketularan malas."
Farel menundukan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang ingin sekali menangis. Sambil mendengar ocehan dari sang ayah, perlahan Farel mengepalkan kedua tangannya.
Usahanya setiap malam dan siang untuk mendapatkan nilai bagus ternyata hanya sia-sia belaka.
Sebenarnya nilai yang didapat Farel tidak terlalu buruk. Rata-rata nilainya delapan.
Namun, bagi kedua orang tua Farel, angka delapan bukanlah angka yang memuaskan. Mereka sangat mengharapkan Farel bisa mendapatkan nilai sembilan atau lebih bagus lagi jika memperoleh nilai sempurna.
"Stop!" teriak Farel tiba-tiba.
Dia sudah tak mampu membendung air matanya lagi. Satu bulir bening tumpah melintasi pipi dan jatuh di pangkuan Farel.
Melihat sang anak berteriak kencang dan menangis, membuat dua orang tua Farel terdiam. Namun, tidak menyurutkan rasa marah di hati mereka.
"Kenapa Papa sama Mama terus menekan aku? Aku bukan robot yang bisa menjadi apapun yang kalian mau," Farel berkata dengan tangis yang semakin deras. "Lama-lama aku bisa gila karena kalian!"
Ayah Farel tampak mengetatkan rahang menahan marah. Lalu satu tangannya berayun menampar pipi Farel.
Ibu Farel sampai membekap mulutnya menggunakan kedua tangan saking terkejutnya melihat penamparan yang dilakukan oleh sang suami pada Farel.
"Papa dan Mama melakukan ini demi kebaikan kamu, supaya kamu terus bergerak maju. Nggak malas-malasan di usia muda," geram ayah Farel mendelikan mata marah.
Farel tertawa garing sambil membalas tatapan tajam sang ayah.
"Demi kebaikan aku?" ulang Farel tersenyum sinis. "Yang Papa dan Mama lakukan ke aku justru membuat aku stres. Aku tertekan selama ini."
"Kamu itu anak tidak tahu terima kasih. Papa kerja banting tulang demi kamu bisa sekolah dengan benar, dapat nilai bagus, kuliah di kampus terkenal dan kerja di perusahaan besar. Apa itu salah, hah? Kalau kamu tertekan, itu artinya kamunya saja yang lemah. Supaya kamu bisa bertahan, kamu memang harus ditekan, Farel."
Farel diam kehabisan kata-kata berbicara pada ayahnya. Sesungguhnya ada banyak rasa sesak yang ingin dia tumpahkan kepada orang tuanya.
Namun, hal itu dirasa percuma. Mengingat sang ayah yang keras kepala dan merasa benar pada pendiriannya.
Sehingga Farel pun memilih untuk lari dari ruang tengah rumahnya. Dia bahkan sampai menabrak bahu Elang yang berdiri di ambang pintu.
Pikiran Farel dipenuhi oleh rasa amarah, sehingga dia tidak terlalu memperdulikan keberadaan Elang yang masuk ke rumahnya. Dia terus berlari melesat keluar rumah.
Sementara itu, Elang yang mendengar percakapan Farel dengan kedua orang tuanya masih berdiri di tempatnya. Setelah menghela nafas panjang, Elang memberanikan diri untuk maju satu langkah mendekati ayah Farel.
__ADS_1
"Maaf, Om," kata Elang membuat pria paruh baya berkumis lebat terlonjak kaget karena tidak mengetahui keberadaan Elang.
"Mau apa kamu?" tanya ayah Farel mendelik galak pada Elang.
"Saya bukan mau ikut campur, tapi menurut saya, tujuan Om sudah benar hanya saja caranya yang salah."
Ayah Farel melempar pandangan tajam pada Elang. Kumisnya bergerak-gerak pertanda dia sedang menggeram marah.
Ayah Farel menyeringai. "Kamu itu tahu apa, hah? Bocah bau kencur?"
"Ya, karena kamu juga Farel jadi sering mendapat nilai buruk. Jadi kami ingin kamu jangan bergaul lagi dengan Farel," imbuh ibu Farel melotot tajam pada Elang.
Elang menghela nafas mencoba untuk sabar. "Maaf, Om dan Tante. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya ingin menyampaikan…" Elang menoleh ke arah ayah Farel. "Bagaimana perasaan Om ketika Om sudah berkerja keras di sebuah perusahaan tapi Om sama sekali nggak dihargai sama atasan?"
Ayah Farel terdiam. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arah lain. "Memang apa hubungannya?"
Elang tak langsung menggubris. Dia malah menoleh pada ibu Farel. "Dan bagaimana perasaan Tante ketika Tante sudah berusaha menyenangkan hati mertua tapi mertua nggak pernah melihat usaha Tante? Bagaimana rasanya?"
Ibu Farel mendengus kesal dan memandang rendah pada Elang. "Jangan menggurui kami! Apa yang kami lakukan itu untuk kebaikan Farel dan nggak ada hubungannya sama atasan dan mertua."
"Aku nggak menggurui siapapun. Aku hanya sedang mengajak Om dan Tante membayangkan berada di posisi Farel."
Ayah dan ibu Farel saling menatap beberapa saat lalu kembali memandang Elang. Entah dari mana tiba-tiba saja rasa sesal menyusup masuk ke dalam hati mereka.
"Di sekolah, Farel adalah temanku yang rajin belajar. Dia melakukan itu untuk menyenangkan hati Om dan Tante. Tapi usahanya itu sama sekali nggak mendapat apresiasi dari hanya karena sebuah nilai yang belum memuaskan Om dan Tante."
"Sudah, cukup!" sentak ayah Farel. "Ini urusan keluarga kami. Kamu tidak ada hak untuk ikut campur."
Elang menundukan kepala. "Saya tahu, Om. Saya nggak akan berbicara banyak. Hanya saja, kapan terakhir kali Om mengatakan bahwa Om bangga memiliki anak seperti Farel?"
Ayah Farel menelan saliva dengan perasaan gelisah yang menyergap. Sedangkan Elang menaruh makanan yang di atas meja lalu setelah menundukan kepala, dia berjalan keluar.
Baru satu langkah melewati pintu, Elang dikejutkan dengan suara benda jatuh yang membuatnya terlonjak dan refleks menoleh ke sumber suara.
Di dalam bayang-bayang malam, Elang tidak dapat melihat dengan jelas benda yang terjatuh itu. Didorong oleh penasaran yang besar, Elang melangkah ke sudut halaman rumah di mana benda besar itu tergeletak.
Perasaan Elang menjadi tidak enak terlebih setelah kakinya menginjak cairan berwarna merah kental dan berbau anyir.
"Darah?" gumam Elang membelalakan mata. Dia langsung bersimpuh untuk membalikkan benda yang ternyata adalah tubuh Farel.
"Farel! Nggak mungkin!"
__ADS_1