
Maka dari itu, Diva memutuskan untuk membuat minuman untuk dirinya sendiri. Di saat Diva mengaduk cangkir teh, dia mendengar derap langkah.
Semakin lama derap langkah itu semakin jelas terdengar. Sehingga dengan cepat Diva memutar badan dan seketika dia menghela nafas lega.
Rupanya suara derap langkah itu berasal dari Bram yang berjalan menuju dapur. Bram menautkan alis mendapati Diva yang belum tidur.
"Kamu sedang apa?" tanya Bram menelisik raut wajah sembab Diva.
"Aku sedang membuat minuman. Tuan Bram sendiri, kenapa kemari?"
"Sama. Saya sedang tidak bisa tidur. Tolong sekalian buatkan saya teh chamomile ya, Div!"
Diva mengangguk dan mengambil cangkir untuk membuatkan teh yang diinginkan Bram. Selagi Diva mengaduk tehnya, Bram memperhatikan bentuk tubuh Diva dari atas hingga ke bawah.
Bram memperhatikan dengan sangat serius dan dahinya mengerut seperti sedang berpikir.
Merasa diperhatikan, Diva pun menoleh ke arah Bram. Rasa risih langsung menyergap wanita itu. Ingin rasanya dia kabur ke dalam kamar, tapi teh yang dibuatnya belum jadi.
Rasa gugup semakin menjadi ketika Bram melangkah mendekat. Lalu berkata, "Kalau dilihat-lihat kamu itu lumayan cantik juga ya?"
Deg.
Bulu kuduk Diva langsung meremang. Baginya, suasana seperti ini lebih horor daripada ketemu hantu di malam jumat kliwon.
Bahkan Diva sangat kesusahan menelan salivanya. Lalu menarik nafas panjang untuk bisa bersikap tenang.
"Badan kamu juga bagus."
Astaga. Ternyata aku punya majikan tua-tua keladi. Ih amit-amit. Sepertinya aku harus mandi kembang tujuh rupa nih. Kata Diva dalam hati.
"T-tuan, ini tehnya."
Diva menyodorkan cangkir teh dengan tangan yang gemetar. Bahkan air teh di dalam cangkir pun ikut bergetar dan sebagian air tumpah ke piring ke yang menjadi alas cangkir.
Bram menerima cangkir itu dengan tatapan yang lepas dari wajah Diva. Tak sengaja tangan Bram menyentuh tangan Diva saat menerima cangkir, yang membuat Diva semakin bergidik ngeri.
"Terima kasih," ucap Bram sebelum akhirnya dia meneguk sedikit tehnya.
"Tuan, permisi saya mau ke kamar."
Diva mengambil cangkir tehnya, langsung berjalan tergesa-gesa menuju kamar. Namun baru beberapa langkah, Bram memanggil Diva.
Menjadikan Diva mau tak mau menghentikan langkah kakinya dan kembali memutar badan untuk menghadap Bram.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?" tanya Diva luar biasa gugup.
"Diva, kamu mau tidak jadi…"
"SAYA NGGAK MAU! SAYA NGGAK MAU JADI ISTRI TUAN. SAYA NGGAK MAU. JANGAN PAKSA SAYA, TUAN!"
Diva langsung bersimpuh di lantai, memohon agar dia tidak dijadikan istri dari Bram. Meskipun pria itu kaya raya, tapi Diva mau memiliki suami yang tampan dan masih muda seperti oppa oppa korea. Atau setidaknya yang sebelas dua belas dengan Elang.
Melihat sikap Diva, Bram pun menghela nafas. Kembali dia meneguk lagi tehnya dengan raut yang sedikit kecewa.
"Ya sudak kalau tidak mau. Padahal
aku itu mau menawarkan kamu pekerjaan menjadi model."
"Hah? Model?"
Kali ini dahi Diva mengerut bingung. Lantas dia pun mendongak menatap wajah majikannya.
Tampak raut wajah Bram yang serius dan sepertinya pria itu memang tidak berbohong.
"Ya, model untuk brand pakaian olahraga yang sebentar lagi akan dikeluarkan perusahaan saya. Tadinya Raynar ingin memilih Ayana, tapi saya kurang setuju karena dia kan sedang hamil. Jadi saya mau pilih kamu, tapi kamu tidak mau."
Setelah menjelaskan panjang lebar, Bram kembali meneguk tehnya. Sedangkan Diva mendengarkan sambil melongo tak percaya.
Rasa lega tentu ada, tetapi rasa yang paling mendominasi adalah rasa malu yang tak terhingga. Dia sudah salah menduga dan terlalu percaya diri mengira akan dijadikan istri.
"Siapa juga yang mau mengincar anda, Tuan. Saya itu mengincar anak Tuan," gerutu Diva memandang punggung Bram yang beranjak pergi sambil membawa tehnya.
Kemudian Diva masuk ke dalam kamar, setelah menutup pintu dia menjejakan kaki karena kesal, dan terus merutuki kebodohannya sendiri.
Puas melampiaskan semua rasa kesal, Diva menghela nafas panjang. Dia beranjak membuka lemari dan mengeluarkan koper dari dalam.
"Lebih baik aku berhenti bekerja di rumah ini. Aku sudah nggak ada muka, baik di depan muka Elang maupun Tuan Bram," geram Diva seraya menjejalkan pakaian ke dalam koper. "Ini semua gara-gara Ayana. Andai saja dia nggak masuk ke dalam kehidupan Elang."
Malam itu Diva habiskan dengan berbenah pakaian dan juga peralatan pribadinya. Menjelang pagi tekad untuk berhenti bekerja sudah bulat.
Meski bekerja di rumah Bram terbilang cukup besar tapi Diva sudah tidak nyaman bekerja.
Diva menggeret koper menuju pintu depan. Dia sudah bicara dengan Bu Sari kalau dia akan berhenti bekerja mulai hari ini.
Diva tidak mengatakan secara jujur bahwa alasan dia berhenti bekerja karena patah hati dengan Elang dan juga malu kepala Bram. Dia beralasan sang ibu tiri sakit parah.
Tepat ketika Diva melintasi ruang tengah, saat itu juga Ayana turun dari tangga. Ayana terheran melihat Diva yang menggeret koper sambil menampilkan wajah mendung.
__ADS_1
"Diva, kamu mau kemana?"
Diva berdecak dan memalingkan muka. Tak ingin bertatapan langsung dengan Ayana.
"Aku berhenti bekerja. Kamu puas, hah? Kamu senang kan kalau aku angkat kaki dari rumah ini?" cibir Diva.
Ayana menghela nafas sambil menepuk bahu Diva. "Kok kamu kalau ngomong suka bener sih, Div?"
"Tuh kan? Kamu seneng aku menderita."
Ayana terkekeh. "Bukan begitu. Aku kan cuma minta kamu bilang jujur ke Elang. Bukan berarti aku minta kamu berhenti kerja."
Kini giliran Diva yang menghela nafas. Dia kembali tertunduk.
"Setelah aku pikir-pikir, sampai kapan pun aku nggak akan bisa dapetin cinta dari Elang. Jadi aku mau pindah kerja saja, supaya aku cepat bisa move on."
Seketika itu, Ayana langsung memeluk Diva. Meskipun pada awalnya dia kurang menyukai Diva, akan tetapi dia kasihan juga pada wanita itu.
Dua wanita itu saling memeluk tanpa berbicara apapun. Namun begitu, Diva bisa memahami dari pelukan itu Ayana sedang mencoba menguatkannya.
Setelah itu Ayana mengantar Diva sampai ke gerbang depan. Lalu dia pun melanjutkan aktivitas pagi seperti biasa.
Sama halnya dengan penghuni rumah yang lain. Mereka bangun dari mimpi indah mereka untuk melakukan pekerjaan masing-masing.
Baik Bram dan Elang tampak biasa saja saat tahu Diva berhenti bekerja. Seakan hal itu bukan urusan yang perlu dipikirkan terlalu larut.
Dan pagi itu, Ayana dan Elang berangkat sekolah. Namun, mereka sengaja berangkat secara terpisah.
Elang berangkat menaiki motornya dan Ayana diantar sopir menggunakan salah satu mobil pribadi Elang.
Menaiki sepeda motornya, Elang dapat sangat mudah menembus kemacetan pagi hari. Sehingga dia sampai ke sekolag lebih dulu dari Ayana.
Begitu memarkirkan motor, Elang langsung disambut dua sahabat yang berlari menghampirinya.
"Lang, gawat!" kata Abian dengan nafas tersengal.
"Apa yang gawat?"
"K-kamu, Lang. K-kamu s-sama B-bu Aya" ucap Farel tergagap saking paniknya.
Elang semakin bingung menatap Abian dan Farel secara bergantian.
"Aku sama Aya kenapa? Ada apa sih ini?"
__ADS_1
Abian dan Farel menarik nafas untuk bisa menenangkan diri. Kemudian secara bersamaan mereka berkata, "Kamu dan Bu Aya jadi bahan gosip di sekolah."
"Apa? Kok bisa?"