Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
64. Mencari Pekerjaan


__ADS_3

Benda penunjuk waktu yang menggantung di dinding menunjukan pukul empat pagi. Di saat seisi rumah enggan untuk keluar dari selimut, Farel sudah berada di dapur membuat adonan pisang goreng.


Beberapa potong pisang yang sudah dilumuri tepung berenang bebas di kolam minyak panas. Sambil menunggu pisang gorengnya matang, Farel menyeduh dua cangkir teh manis hangat.


Tak lama, sepiring pisang goreng dan teh hangat sudah tersaji di depan mata Farel. Senyum mengembang lebar di bibir Farel yang tipis.


Dengan bersiul riang, Farel membawa nampan berisi pisang goreng dan teh menuju lantai dua rumahnya.


Di lantai dua, sengaja dibuat beberapa kamar dan Farel mengetuk salah satu pintu yang terdapat di paling ujung.


Cukup lama Farel menunggu, bahkan dia sampai harus mengetuk berkali-kali barulah si pemilik kamar membukakan pintu.


Kepala Elang menyembul dari dalam kamar. Dapat Farel lihat wajah sembab dan rambut yang berantakan, ciri khas orang baru bangun tidur.


Lalu pandangan Farel turun ke bawah di mana dia menyadari Elang hanya bertelanjang dada dan memakai celana pendek.


"Ada apa, Rel?" tanya Elang sambil mengucek sebelah matanya.


Farel menyodorkan nampan yang dia bawa. "Nih, buat kamu sama Bu Aya. Kemarin malam aku perhatikan kalian nggak keluar kamar buat makan malam, jadi aku sengaja buat pisang goreng."


Kedua bola mata Elang langsung berbinar menatap pisang goreng dan teh hangat yang ada di hadapannya. Apalagi makanan dan minuman itu masih mengepulkan uap panas tipis yang menggugah selera.


"Thanks ya, Rel," kata Elang menerima nampan dari tangan Farel. "Baru kali ini ada pemilik kontrakan yang mau kasih harga murah plus disediain makanan lagi."


"Santai aja kali. Kamu juga kan sering traktir aku. Oh ya, hari ini kamu mau ke sekolah nggak? Katanya hasil nilai ujian bakal keluar hari ini."


Elang menggelengkan kepala dengan mantap. "Enggak, Rel. Hari ini aku mau cari pekerjaan."


Farel menautkan alis tampak tidak percaya dengan indra pendengarannya. 


"Kerja? Kerja di mana?"


"Di mana saja. Yang penting halal. Aku mau jadi suami yang mampu menafkahi Ayana dengan usahaku sendiri. Bukan dari uangnya Daddy."


"Wiihh," Farel berdecak kagum menatap Elang. "Sejak kamu nikah sama Bu Aya, otak kamu jadi lebih waras, Lang."


Elang tersentak mendengar perkataan Farel. "Berarti dari dulu aku gila, gitu?"


Farel terkekeh sambil mengusap tengkuknya. "Bukan begitu. Siapa bilang kamu gila? Kamu itu cuma kurang waras."


Elang memberengut. "Itu sama aja. Sudah ah. Aku mau lanjut olahraga pagi dulu sama Ayana."


"Eits, tunggu?" Dengan cepat, Farel menahan daun pintu yang hendak ditutup oleh Elang. "Aku ikutan dong."

__ADS_1


Mendadak raut wajah Elang berubah horor. Bahkan bulu kuduk Farel langsung meremang seketika itu.


Meskipun begitu, Farel masih belum tahu apa yang membuat Elang menatap tajam padanya. Dia menelan saliva dan dengan setengah ketakutan bertanya pada sahabatnya.


"Kenapa, Lang? Nggak salah kan kalau aku mau ikut olahraga bareng kalian?"


Manik mata Elang membelalak seperti mau copot dari tempatnya. 


Dengan singkat, padat dan jelas dia menjawab, "Enggak boleh!"


Kembali tangan Elang bergerak hendak menutup pintu. Namun, lagi-lagi Farel menahannya.


"Tapi, Lang. Kan lebih seru kalau olahraga bertiga."


Elang menghela nafas. Dia mengerahkan segenap kesabarannya dan berkata, "Olahraga yang satu ini harus berpasang-pasangan. Jadi lebih baik kamu cari partner dulu."


Brak. 


Elang segera menutup pintu dengan sedikit bantingan. Menciptakan suara yang mengagetkan bagi siapapun yang mendengarnya. 


Termasuk Ayana. Wanita itu langsung terbangun karena kaget dan refleks dia menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat ke sekitar. 


Pandangan Ayana bertemu dengan Elang yang meletakan nampan di lantai dekat kasur. Lalu dia merebahkan diri di samping Ayana serta memeluk tubuh yang terbaring tanpa mengenakan pakaian.


"Bukan apa-apa. Nggak usah dipikirin," kata Elang dengan tangan yang bergerilya di bawah selimut. 


Ayana sudah tidak dapat memejamkan matanya lagi untuk melanjutkan tidur. Bagaimana dia bisa tidur kalau Elang memainkan dua aset miliknya yang membuat gairahnya bangkit. 


Bibir Ayana mengulum senyum. Dengan mata yang masih sembab, Ayana menatap Elang. 


Tangan Ayana meremas rambut Elang yang memang sudah berantakan ketika pria itu menjatuhkan kepalanya di salah satu bukit kembar. 


"Lang, hari ini kamu jadi mau cari kerja?" Ayana bertanya sambil menahan sensasi nikmat yang diciptakan oleh Elang. 


"Jadi, dong."


"Aku ikut ya? Aku juga mau melamar kerja di sekolah lain. Siapa tahu ada yang lagi butuh guru olahraga."


Elang menghentikan kegiatannya menyesap salah satu puncak bukit kembar. Dia mendongak untuk dapat menatap lekat wajah Ayana. Lalu dia labuhkan kecupan sekilas di bibir. 


"Nggak usah. Kamu cukup jadi guru olahragaku saat di ranjang saja. Mengerti?"


"Tapi, Lang. Aku… "

__ADS_1


Perkataan Ayana tidak bisa diteruskan karena Elang membungkam menggunakan bibirnya. Mereka berciuman saling beradu lidah di rongga mulut. 


Kamar sempit itu sekarang menjadi berisik oleh suara kecapan dari dua bibir yang beradu. Mereka sampai lupa kalau tetangga kosan bisa saja mendengar suara mereka. 


Dan ciuman panas itu berhenti ketika keduanya kehabisan nafas. Mereka saling tatap dengan badan Elang yang berada di atas Ayana. 


"Tapi aku mau kerja, Lang," ucap Ayana berlagak manja sambil memainkan jemarinya di dada Elang. 


Elang tidak langsung menjawab. Dia menghela nafas dan tangannya bergerak mengusap perut Ayana. 


"Setidaknya sampai kamu melahirkan anakku," Elang berkata seraya memandang wajah Ayana tapi tanganya sibuk membelai bagian perut. "Kita fokus dulu membuat anak yang banyak, baru setelah itu aku mengizinkan kamu mengajar lagi. "


Wajah Ayana seketika dihujani oleh ciuman dari Elang yang menjadi awal pemanasan mereka berolahraga di atas kasur. 


Baru setelah pukul tujuh pagi, Elang dan Ayana keluar mencari pekerjaan yang cocok untuk Elang. Mereka mendatangi kantor demi kantor dan bahkan Elang juga mendatangi restoran atau cafe yang siapa tahu membutuhkan karyawan. 


Namun, dari banyaknya tempat yang didatangi Elang, tak satupun yang mau menerimanya. 


"Maaf, di sini tidak menerima lowongan pekerjaan," ucap seorang manajer cafe yang datangi Elang. 


"Tapi di luar sana tertulis kalian sedang membutuhkan karyawan," Elang bersikeras sambil menunjuk kertas pengumuman di depan cafe. 


Manajer itu menghela nafas. "Maaf. Kami lupa melepaskan brosur itu."


"Lang, sudah deh. Kita pergi aja yuk," bisik Ayana menarik lengan Elang. 


Dengan kepala tertunduk, Elang menurut pasrah ketika Ayana menggandeng tangannya untuk berjalan keluar. 


Namun, tiba-tiba Elang berhenti. Dia tersentak seperti teringat sesuatu. 


"Ay, tunggu! Kamu tunggu di sini dulu. Aku mau masuk ke dalam."


"Mau apa lagi?"


Elang tak menyahut ucapan Ayana. Dia langsung masuk kembali ke dalam cafe. Manik mata Elang mengedar ke sekeliling mencari keberadaan sang manajer. 


Kemudian dia berjalan mengendap bak seseorang yang hendak mencuri pakaian dalam. 


Elang mencoba mendekati manajer cafe yang sedang menerima telepon dari seseorang. Dia menajamkan telinga untuk bisa mencuri dengar. 


"Ya, Tuan Bram. Saya sudah menolak dia bekerja di cafe saya."


Elang membulatkan mata dan bergumam. "Oh, jadi Daddy yang ada di balik semua ini."

__ADS_1


__ADS_2