Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
55. Ini Saya


__ADS_3

"Susi? Titin? Kok kalian ada di sini?" Samsul bertanya dengan nada tercengang juga wajah yang pias. 


Bola matanya pun membelalak, seperti mau lepas dari tempatnya. Dia langsung berdiri menatap ke dua istrinya yang siap menyerang.


Sementara itu, Diva langsung kabur daripada dia juga kena amukan dua istri Samsul. Diva menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan cafe, lalu masuk ke dalam taksi dengan perasaan lega dan tinggal menunggu bayaran dari Ayana.


Diva melirik sekilas nasib malang yang menimpa Samsul. Pria itu mengangkat ke dua tangan sambil mundur perlahan saat dua istrinya menatap tajam dengan sorot mata menghunus.


"Maasss Saaammssulll!" 


Susi dan Titin meraung histeris hingga menggema ke penjuru cafe. Bahkan para pengunjung harus menutup kedua telinga mereka akibat kencangnya teriakan dua wanita yang sedang marah itu.


Detik berikutnya, Susi dan Titin serempak memukul Samsul secara bertubi-tubi. 


"Mas, kamu jahat! Selama ini ternyata kamu punya istri lain. Kamu tega sama aku, Mas," ucap Titin sambil memukul kepala Samsul dengan tas selempang yang dibawanya.


Susi pun tak mau kalah. Dia melepas sepatu heels, yang kemudian dia gunakan untuk memukul Samsul.


"Nih, rasakan, Mas! Berani kamu bohongin aku, hah! Dasar laki-laki buaya darat!"


"Ampun, Sus. Ampun, Tin. Mas bisa jelasin," ucap Samsul menatap bergantian pada Susi dan Titin.


 


"Nggak perlu. Kita juga sudah tahu Mas Samsul itu laki-laki macam apa?"


Keributan antara Samsul, Titin dan Susi mengundang perhatian banyak orang di cafe itu. Tidak sedikit dari mereka yang mengabadikan momen langka dengan cara merekam dan membagikannya ke sosial media.


Hanya dalam hitungan detik, video Samsul yang kepergok sedang menggoda wanita dan ternyata memiliki banyak istri pun tersebar luas serta menjadi trending topik di jagat maya.


Sebagian pengunjung cafe menyoraki Samsul, ada juga yang meneriakinya dengan panggilan buaya darat. 


Sedangkan Samsul sendiri hanya bisa mengiris malu ketika kedua telinganya dijewer oleh dua istrinya. Susi di sebelah kanan dan Titin di sebelah kiri.


"Ampun, Sus, Tin. Telinga Mas sakit."


"Mas, mulai hari ini pokoknya aku minta cerai!" pekik Susi semakin mengeraskan tarikan pada daun telinga Samsul.


Samsul pun menjerit kesakitan. "Aw, aduh. Nanti aku tidur sama siapa kalau kalian minta cerai."


"Masa bodo," geram Susi yang detik berikutnya memutar tumit dan pergi menunggalkan cafe.


Lantas, Samsul melempar pandangan ke arah Titin yang belum pergi. Seketika dia memasang wajah memelas pada Titin. 

__ADS_1


Samsul tahu Titin adalah gadis polos. Jadi dia ingin memanfaatkan kepolosan Titin untuk mendapatkan maaf dari wanita itu.


"Tin, kamu nggak akan minta cerai kan? Mas janji nggak akan selingkuh lagi kalau kamu nggak minta cerai," Samsul berkata dengan nada memelas serta pancaran mata yang teduh. "Kasihani Mas, Tin. Semua istri Mas sudah pergi. Aku hanya punya kamu seorang, Tin."


Biasanya Titin akan luluh jika Samsul memelas padanya. Maka dari itu Samsul sangat yakin Titin tidak akan meminta cerai.


Samsul sudah menyunggingkan senyum tipis kala melihat Titin yang diam seribu bahasa. Namun, jauh dari harapan Samsul, kali ini Titin menggelengkan kepala mantap, membuat senyum Samsul hilang bak ditelan bumi.


"Maaf, Mas. Mas Samsul sudah berbohong sama aku," ucap Titin terisak. "Aku sudah nggak percaya lagi sama Mas Samsul. Jadi, aku pun akan meminta ceria, Mas."


Bulir air mata mengalir di pipi Titin. Wanita itu terisak tak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Kemudian dia pun berlari melesat keluar cafe.


Samsul berteriak memanggil seraya mengejat Titin. Dia tidak mau istri ketiganya juga meminta cerai, setelah Samsul berpisah dengan Lilis dan juga Susi.


Di pelataran cafe, Samsul berhasil menangkap lengan Titin dan mencengkramnya kuat-kuat. Akan tetapi, Titin menghempaskan tangan lalu mendorong dada Samsul hingga membuatnya mundur beberapa langkah.


"Titin, Mas minta maaf."


Ucapan Samsul tidak dihiraukan oleh Titin. Sambil terus terisak, Titin menghentikan taksi dan langsung masuk ke dalamnya.


Tak mau menyerah, Samsul mengetuk kaca mobil seraya terus memanggil nama Titin. 


Sayangnya, taksi itu mulai melaju. Samsul mengetuk kaca mobil sampai dia tak mampu untuk mengejar. Kini Samsul sendirian di pinggir jalan, menggeram serta menendang batu kerikil sebagai pelampiasan amarahnya.


Tepat ketika itu, Samsul mendengar suara tepuk tangan. Menjadikan Samsul memutar badan untuk melihat wanita yang berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum puas.


"Ayana," geram Samsul mengepalkan kedua tangan. "Jadi kamu dalang di balik ini semua, hah."


Ayana menyeringai dengan kedua tangan terlupat di depan dada. "Kenapa? Terkejut?"


Tidak jauh dari mereka, Elang keluar dari sebuah mobil hitam, berjalan mendekat, lalu melingkarkan tangan di pinggang Ayana dengan sangat posesif.


Samsul menatap sepasang suami istri yang saling berhimpit mesra di depannya. Lalu dia pun mendengus kesal.


"Ada apa ini?" tanya Elang pura-pura tidak tahu. Padahal sejak tadi dia mengawasi dari dalam mobil apa yang telah terjadi pada Samsul.


"Ini, Sayang. Samsul kepergok sama dua istrinya," kata Ayana menunjuk Samsul.


Elang melempar pandangan ke arah yang ditunjuk Ayana. Dia melepas kacamata hitam sejak tadi yang bertengker di hidungnya untuk bisa dengan lebih jelas memandang Samsul.


"Oh, hai, Samsul. Kenapa setiap kali kita bertemu, kamu selalu ribut dengan istrimu?" Elang bertanya dengan maksud mengejek.


Sementara itu, Samsul menggeram kesal. Kepalan tangannya semakin kuat dan juga nafasnya memburu cepat.

__ADS_1


"Ini semua karena kamu, Aya," kata Samsul memandang sinis pada Ayana. "Kamu pikir sudah berhasil membuat aku menderita? Aku ini kaya raya, Aya. Sekalipun aku cerai dengan istri-istriku, masih banyak wanita di luaran sana yang mau mengantri untuk aku nikahi. Tidak sepertimu, menikah dengan bocah ingusan yang pasti nggak becus bekerja."


Ayana menghela nafas jengah sambil memutar bola matanya malas. 


"Tapi bukan kah kamu sudah pisah dengan Lilis, istri perta sekaligus tambang emasmu? Jadi aku pastikan sekarang ini kamu nggak punya apa-apa lagi."


Tawa Samsul seketika menggelegar di pinggir jalan. Suara tawa yang terdengar jelas mengejek ucapan Ayana.


"Memang aku pisah dengan Lilis, tapi asal kamu tahu, Aya. Aku sedang menjalin kerjasama dengan seorang anak konglomerat. Dia mau menginvestasikan uangnya ke bisnis yang sedang aku jalankan. Jadi aku bakal kaya raya seperti dulu lagi."


Samsul membusungkan dada. Dengan gaya sombongnya, dia kembali tertawa sampai terbatuk-batuk.


Sedangkan Ayana dan Elang hanya saling lirik dan tersenyum tipis. Lalu mereka berdua menatap lagi Samsul.


"Oh ya, siapa orang bodoh yang mau kerjasama denganmu itu?" tanya Elang pada Samsul.


"Kalian pasti nggak bakal percaya kalau Tuan Raynar Rasyid, anak seorang pengusaha kaya raya, mau menginvestasikan uangnya kepadaku."


Samsul memandang rendah Ayana dan Elang. Dia merasa lebih keren daripada sepasang suami istri di hadapannya. 


"Kita memang nggak percaya. Mana buktinya? Bisa saja kamu itu hanya membual," kata Ayana bersikap setenang mungkin.


"Kalian nggak percaya? Hai, dengar ya! Hari ini seharusnya aku dan Tuan Raynar itu ketemuan di cafe ini."


"Ya, terus, mana Tuan Raynar?" Elang bertanya.


"Sebentar."


Samsul mengambil ponsel di dalam saku celananya, menelepon nomor di ponselnya yang dia beri nama 'tambang emas kedua'. Lalu dia pun menempelkan benda pipih itu ke daun telinga. 


Sambil menunggu telepon diangkat, Samsul mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan Tuan Raynar. 


Sesuai janji, seharusnya Tuan Raynar sudah datang ke cafe sejak tadi. Namun, sampai sekarang Samsul belum melihat orang yang menghampirinya mengatasnamakan Tuan Raynar. 


Di saat itu pula, ponsel Elang berdering. Dia tertawa kecil saat melihat nama si penelepon adalah Samsul.


"Halo, Tuan Raynar. Saya sudah ada di cafe. Tapi kok saya belum lihat Tuan Raynar. Apa Tuan masih di jalan?" ucap Samsul sambil sibuk menelisik pandangan ke sekeliking dengan posisi membelakangi Elang.


"Saya ada di belakangmu, Samsul."


Segera Samsul memutar tumit untuk melihat sosok Tuan Raynar. Namun, bola mata Samsul membulat seketika saat yang dia lihat adalah Elang dengan tangan yang sedang menerima telepon.


Elang dan Ayana tersenyum penuh arti dan melambaikan tangan ke arah Samsul.

__ADS_1


"Hai, Samsul. Ini saya, Tuan Raynar."


"Apa?"


__ADS_2