
"Kamu belum tahu? Memang kamu nggak lihat di grup WA kelas?" tanya Abian yang langsung dijawab oleh Elang dengan gelengan kepala.
"Semalam aku capek banget. Jadi sampai sekarang aku belum buka hp."
"Kamu buka gih. Satu sekolah gosipin kamu karena mereka dapet foto kamu sama Bu Aya lagi mesra-mesraan," jelas Farel sambil menyenggol lengan Elang agar membuka ponselnya.
Elang pun membuka resleting tas, merogoh untuk mengambil benda pipih dengan logo apel tergigit sebelah. Begitu benda itu dihidupkan, langsung berderat masuk beberapa pesan.
Diantaranya pesan dari grup kelas yang ramai membicarakan foto Ayana mencium Elang. Pesan yang lain berasal dari teman-teman yang berbeda kelas dengan Elang.
Mereka ada yang menanyakan kebenaran dari gosip yang beredar dan sebagian ada juga yang langsung mengecap jelek Elang.
Lang, murid nggak ada akhlak banget sih kamu. Sekolah itu bukan tempat pacaran!
Elang, jawab jujur! Emang bener kamu itu simpenannya Bu Aya?
Elang tidak membaca semua pesan. Apalagi membalasnya. Tak satu pun yang dibalas oleh Elang. Dia lebih memilih memasukan ponsel ke dalam tasnya.
"Kira-kira siapa orang yang ngambil dan nyebarin foto itu?" tanya Elang pada Abian dan Farel dengan suara dingin dan syarat akan kemarahan.
Abian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Nggak tahu, Lang. Yang jelas bukan kita berdua."
"Kalau dilihat dari berita yang tersebar sih, sepertinya ada orang yang sengaja pengin jatuhin kamu sama Bu Aya, Lang," kata Farel sambil mengetuk-ketukan jari telunjuk ke dagu. Tampak dia sedang berpikir keras.
"Iya, tapi siapa coba?" tanya Abian menyikut Farel.
"Ada orang yang musuhin kamu nggak, Lang? Atau ada seseorang yang pernah kamu buat sakit hati, mungkin?" Farel mengangkat bahu memandang Elang yang sedang berpikir. "Bisa saja orang itu pengin jatuhin kamu dengan cara menyebarkan rahasia hubungan kamu sama Bu Aya."
"Pasti ini kerjaannya Diva," geram Elang saat teringat tadi malam dia telah membuat wanita itu patah hati.
Kedua tangan Elang mengepal kuat. Dia yakin Diva lah pelaku yang telah membocorkan rahasianya.
Selama ini hanya Abian, Diva, Farel, serta Pak Trisno yang tahu akan pernikahan Ayana dengan Elang. Tidak mungkin pelakunya Pak Trisno, sebab sang kepala sekolah itu tidak akan membuat berita heboh yang tentu saja akan menjatuhkan nama baik anak dari Tuan Bram.
Sedangkan Abian dan Farel juga tidak mungkin melakukan hal itu. Elang percaya dua sahabatnya itu tidak akan menusuknya dari belakang.
__ADS_1
Jadi, satu-satunya orang yang Elang yakini telah menbocorkan rahasianya pastilah Diva. Apalagi semalam Diva terlihat sangat sakit hati mendengar penolakan cinta dari Elang.
"Ya, siapa lagi kalau bukan Diva."
"Diva?" Abian dan Farel bertanya dengan kompak. "Siapa Diva, Lang?"
"Pelayan rumah," Elang mengela nafas. "Maksudku, mantan pelayan rumah."
Elang mengambil lagi ponselnya untuk menelepon Diva. Untung saja nomor telepon wanita itu belum Elang hapus, sehingga dia masih bisa menghubungi mantan temannya itu.
"Hallo, Div. Kamu kalau sakit hati sama aku, caranya nggak kaya gini, Div?" kata Epang begitu sambungan telepon terhubung.
Menjadikan Diva yang baru saja mengangkat telepin menjadi bingung.
"Maksud kamu apa sih, Lang? Aku nggak ngerti."
"Nggak usah pura deh, Div. Aku tahu kamu kan yang bocorin rahasia pernikahan aku sama Ayana, pakai nyebar foto kita berdua lagi."
Di seberang sana, Diva sangat tercengang akan tuduhan yang diberikan Elang padanya. Bagaimana bisa Elang menuduhnya tanpa ada bukti jelas.
"Elang, aku nggak bocorin rahasia kamu dan mana mungkin aku ada niatan nyebar foto kamu sama Ayana."
Elang berdecak kesal sebab Diva tak mau mengakui kesalahannya. "Nggak usah banyak alasan, Div. Kamu saja punya niat buat ngaku-ngaku hamil anak aku. Jadi bisa saja kan kamu juga punya rencana lain buat jatuhin aku sama Ayana."
"Elang, sekali lagi aku tegaskan…
Tut… tut… tut…
Diva menoleh cepat pada layar ponsel yang mana menampilkan sabungan telepon yang diputuskan secara sepihak oleh Elang.
"Sial."
Di waktu yang sama tapi tempat berbeda. Tepatnya di dalam sebuah mobil mewah, Ayana menyalakan ponsel untuk membunuh rasa jenuh akibat terlalu lama terjebak macet.
Semalam dia sibuk merekap nilai para murid karena sebentar lagi akhir semester. Sehingga dia sama sekali tidak membuka ponsel sampai detik ini.
__ADS_1
Dan sekalinya menyalakan ponsel, Ayana dikejutkan dengan banyaknya pesan yang bergulir masuk. Ayana menautkan alis terheran. Sebab belum pernah dia mendapatkan pesan sebanyak itu.
Ayana membuka pesan dari yang paling bawah. Yaitu pesan dari Bu Dewi, si guru matematika.
Bu Aya, ini maksudnya apa? Bu Aya kan punya suami kok mesra-mesraan sama Elang? Duh, Bu Aya please deh. Jangan bikin malu sekolah kita.
Ayana sangat tercengang ketika membaca pesan tersebut dan bola mata Ayana pun langsung membulat sempurna begitu melihat foto yang juga dikirimkan oleh Dewi.
"Kok Bu Dewi bisa dapet foto aku sama Elang?" gumam Ayana memperhatikan foto kiriman dari Dewi. "Siapa yang ambil foto ini ya?"
Ketika Ayana tengah berpikir, ponselnya seketika bergetar membuat Ayana tersentak kaget dan langsung menundukkan kepala, melihat satu panggilan masuk dari Asih.
Segera Ayana mengangkat telepon dari sang mama. Karena biasanya jika Asih telepon mendadak, itu tandanya ada hal genting.
"Aya, kamu baik-baik saja kan?"
"Iya, ma. Aku baik. Ada, Ma? Kok Mama kaya cemas gitu?"
"Gimana Mama nggak cemas, Aya. Tetangga di sini pada ngomongin kamu. Mereka semua nggak tahu dari mana dapet foto kamu sama Elang."
Ayana berdecak sambil memijat pangkal hidungnya. Pertanda bahwa dia sedang sangat stres.
Namun, Ayana menarik nafas dalam. Berusaha untuk tetap tenang, sekalipun dia tahu banyak orang yang akan menjelek-jelekannya.
"Sudah, Ma. Jangan dipikirkan! Nanti juga mereka bakal berhenti gosipin aku kok."
"Ya tapi, Aya. Ibu mana sih yang nggak sedih saat anaknya dinyinyir sama tetangga. Kayanya berita ini bakal nyebar ke sekolah deh, Ay."
"Pokoknya Mama tenang aja. Nanti aku kabarin Mama lagi ya? Ini aku sudah mau sampai di sekolah Ma."
"Ya, sudah. Kamu yang sabar ya, Aya. Mama yakin pasti ini ada orang yang sengaja pengin jelek-jelekin kamu sama Elang.
Ayana tersenyum getir mendengar Asih menggeram kesal. "Iya, Ma. Nanti Aya bakal coba cari tahu siapa orangnya."
Setelah menutup telepon, Ayana turun dari mobil. Dia menarik nafas panjang, menyiapkan diri untuk tetap tenang, meski dia tahu akan banyak pasang mata yang memandangnya dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Baru saja Ayana menutup pintu mobil, Ayana melihat Elang yang berlari ke arahnya.