
Entah berapa lama Elang pingsan, satu hal yang jelas, dia terbangun karena ada seseorang yang menyiram air tepat ke mukanya.
Elang gelagapan bangun sambil menyeka mukanya yang basah. Lalu dia mengerjapkan mata dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Elang sadar bahwa saat ini dia sedang terbaring di atas sebuah brankar rumah sakit. Kemudian Elang pun memutar kepalanya ke arah seseorang yang tadi telah menyiram wajahnya dengan air.
Dan betapa terkejutnya Elang saat melihat orang tersebut adalah Bram, ayahnya sendiri.
"Daddy?"
"Ayah macam apa kamu ini, hah? Kamu membiarkan istrimu melahirkan di dalam mobil," kata Bram dengan nada bicara yang dingin dan pandangan mata yang tajam.
Secercah rasa bahagia merekah di hati Elang kala mendengar perkataan sang ayah. Meski Bram berbicara dengan ekspresi marah, namun bagi Elang yang mendengarnya seperti ada ungkapan perhatian Bram pada Ayana.
Elang pun melengkungkan senyuman. Dengan cepat, dia turun dari brankar dan memeluk tubuh sang ayah.
Air mata pun kembali jatuh dari pelupuk mata Elang dan mulutnya pun tak henti-hentinya memanggil nama daddy.
Namun, respon Bram hanya biasa saja. Bahkan dia dengan tegas melepas lengan Elang yang melingkar di perutnya.
"Daddy tidak akan mengampunimu kalau terjadi apa-apa pada cucu Daddy."
Mendengar kata cucu, Elang membulatkan mata. Dia baru tersadar jika sampai detik ini dia belum mengetahui kondisi anak dan istrinya.
"Dad, di mana Ayana?" tanya Elang yang memandang intens Bram. "Dan bagaimana Daddy bisa ada di sini?"
"Tentu saja. Apa kamu tidak menyadari jika selama ini Daddy selalu mengawasi kamu dan juga Ayana."
Senyum merekah di bibir Elang dan seketika dia memeluk kembali ayahnya. Selama ini dia mengira Bram masih menyimpan rasa marah. Namun, sekarang Elang tahu jika ayahnya selalu mengawasinya tanpa dia sadari.
Rasa bersalah semakin menumpuk di hati Elang. Betapa dia dulu sangat menyesali perbuatannya.
Elang pun mendongak menatap wajah Bram dengan mata yang merah.
"Dad, maafkan aku! Aku…"
Ucapan Elang terpotong kala melihat bibir Bram terlukis sebuah senyuman tipis. Lalu Bram mengangguk. Sebuah tanda bahwa dia telah memaafkan kesalahan sang anak.
"Tapi, ingat! Kamu tetap akan mendapatkan hukuman jika terjadi sesuatu pada anakmu."
__ADS_1
Elang mengangguk cepat. "Baik, Dad. Aku siap menerima hukuman apapun. Aku pun tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi hal yang buruk menimpa Ayana dan anakku."
"Sekarang, ayo kita ke ruangan Ayana."
Elang berjalan di belakang Bram. Mengekor dengan kepala tertunduk. Sampai detik ini bahkan dia belum tahu apakah anaknya berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.
Dan satu hal lagi yang baru Elang sadari. Yaitu, tidak adanya Farel dan Hani.
Elang pun menengok ke kanan dan kiri, mencari keberadaan temannya itu. Namun sepanjang berjalan, dia tidak melihat siapapun kecuali perawat dan petugas rumah sakit yang berseliweran di lorong.
"Dad, apa Daddy tahu kemana perginya Farel dan Hani?"
Bram yang berjalan di depan Elang hanya menengok sekilas ke belakang, lalu berkata, "Daddy menyuruh temanmu itu untuk pulang begitu sampai ke rumah sakit."
Elang hanya ber-oh kecil. Setidaknya dia tahu kemana perginya Farel dan kini pikiran tentang kondisi Ayana kembali menguasai benak Elang.
Sampai Elang dan Bram berada di depan pintu, bersamaan pula pintu itu terbuka menampakan seorang dokter wanita yang baru saja keluar dari ruangan.
"Dokter, bagaimana kondisi cucu dan menantu saya?" tanya Bram dengan tidak sabar pada sang dokter.
"Kondisi Nyonya Ayana dan bayinya baik-baik saja, Tuan."
Maka tanpa berbasa-basi, Elang pun berlari menerobos pintu ruangan dan masuk begitu saja. Pandangan Elang langsung tertuju pada Ayana yang terbaring di atas brankar dan sudah memakai pakaian pasien.
Elang berlari ke samping brankar agar dapat merengkuh tubuh Ayana yang mengulas senyum bahagia.
Tak lupa Elang mencium kening Ayana sebagai bentuk rasa cinta dan syukur yang amat dalam.
"Aku seneng banget kamu baik-baik aja, Ay. Aku khawatir banget saat kamu melahirkan anak kita."
Ayana tersenyum dan menepuk punggung Elang untuk menenangkan suaminya. "Iya, aku juga tahu kamu khawatir. Sampai-sampai kamu pingsan kan? Padahal aku yang melahirkan."
Elang langsung memanyunkan bibirnya ketika mendengar ucapan Ayana yang tersirat sebuah sindiran.
Ada rasa malu dalam diri Elang tapi atensi Elang tiba-tiba teralihkan saat mendengar suara tangisan bayi. Lantas Elang memutar badannya pada sebuah boks bayi tak jauh dari tempat tidur Ayana.
Bola mata Elang berbinar bahagia memandang tubuh manusia kecil yang berselimut dan terbaring di dalam boks.
"Anakku? Kamu benar-benar anakku?" tanya Elang pada bayi yang kini sedang menggeliat.
__ADS_1
Tawa bahagia pun pecah dari bibir Elang. Bahkan kedua mata Elang terasa panas dan juga berair saking terharunya melihat sang anak.
Dan pemandangan itu tak luput dari penglihatan Ayana dari tas tempat tidurnya. Ayana pun menyunggingkan senyum memandang Elang yang tampak bahagia.
"Kamu cantik sekali, Nak. Persis seperti ibumu," celoteh Elang sambil takut-takut untuk menyentuh pipi anaknya.
Detik berikutnya, senyum di bibir Ayana luntur seketika dan dia pun berbicara, "Lang, anak kita itu laki-laki. Masa kamu bilang cantik sih?"
"Hah? Masa sih laki-laki? Orang dia cantik."
Elang menoleh ke arah pintu untuk meminta pendapat dari Bram. Akan tetapi Bram masih berbincang dengan dokter yang menangani Ayana di depan pintu sana.
Sehingga Elang kembali mengalihkan pandangan ke dalam boks. Karena penasaran, Elang membuka bedong untuk melihat jenis kelamin sang anak.
"Oh iya, laki-laki. Tapi kok kamu cantik banget ya?" Elang tertawa berbicara pada sang anak yang tentu saja belum bisa menjawab. "Ayah sampai mengira kalau kamu perempuan, Nak."
"Lang, kamu mau kasih nama anak kita siapa?"
Elang mengerutkan dahi tampak sedang berpikir. Karena tak kunjung mendapatkan ide, Elang membuka ponselnya untuk melakukan panggilan video dengan kedua sahabatnya, Abian dan Farel.
Begitu sambungan telepon terhubung, Elang langsung mengutarakan kebingungannya dalam mencari nama untuk sang anak.
"Tolong carikan nama yang ada unsur hewannya, guys!"
"Kenapa harus ada unsur hewannya, Lang? Kamu mau kasih nama anak atau mau bikin kebun binatang?" ucap Abian yang sama-sama bingung.
Elang berdecak. "Kan namaku Elang. Sedangkan Ayana sering disapa Bu Aya. Jadi aku pengin, anakku ada unsur hewannya."
"Ooh, begitu. Hmm apa ya?" gumam Farel berpikir.
"Bagaimana kalau… Monyet-talia," celetuk Abian.
"Ck, anakku cowok," geram Elang.
"Kalau… Aligator?" Usul Farel. "Nanti kita bisa panggil dengan sapaan Ali."
Elang melirik ke arah Ayana yang menggeleng tanda tak setuju.
"Nggak," jawab Elang tegas. "Cari yang bagus dong."
__ADS_1
Nah, guys, ada saran nggak nama buat anaknya Elang dan Bu Aya. tulis di kolom komentar ya? 😃