Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
53. Rencana Ayana


__ADS_3

Bram menatap lekat untuk melihat keseriusan yang tersirat di wajah Elang. Ditatapnya dua bola mata menggenang dan siap menumpahkan air mata. 


Tersirat banyak kepedihan serta beban di dalam pancaran mata sang anak, membuat Bram tersadar akan apa yang telah dia perbuat selama ini.


Bram pun menunduk seraya menghela nafas. Sedangkan Elang bersimpuh di depan kaki sang ayah. Dengan kepala mendongak, dia memohon pada Bram.


"Dad, selama ini aku terbebani menjadi penerus perusahaan. Aku nggak sehebat Daddy dan selama ini orang yang bisa membuat aku nyaman adalah Ayana. Jadi, aku mohon, Dad, terima dan sayangi Ayana seperti Daddy menyayangi aku!"


Elang menunduk setelah mengucapkan permohonan itu. Dia tidak tahu jika tangan Bram terulur ingin mengusap puncak kepalanya.


Sebelum tangan Bram benar-benar menyentuh rambut Elang, tiba-tiba entah apa yang ada di pikiran Bram, dia menarik lagi tangannya dan memalingkan wajah ke arah lain.


"Maafkan Daddy, Raynar. Daddy telah bersalah, terlalu berambius menjadikanmu penerus Daddy. Tapi kamu pun harus memaklumi bahwa Daddy melakukan ini karena Daddy tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali kamu."


Bram menghembuskan nafas berat. Satu hal lagi yang baru dia sadari yaitu, alasan dia tidak menyenangi Ayana karena sebebarnya dia tidak mau perhatian sang anak akan beralih pada menantunya.


"Aku tahu Dad. Aku pun menyayangi Daddy tapi aku nggak suka kalau Daddy terlalu mengatur hidupku. Bahkan sampai hal-hal kecil dan sepele."


Bram termenung, masih memalingkan wajah dari tatapan Elang, dan dengan kedua tangan yang terlipat di belakang punggung. 


Sampai beberapa saat berlalu pun Bram masih terdiam, tak mengucapkan satu patah kata. Merasa tidak ada yang bisa dilakukan, Elang bangkit berdiri. Dia menyeka ujung matanya lalu perlahan melangkah pergi.


"Aku mau ke kamar, Dad. Daddy nggak mengusir Ayana kan?"


Tanpa menatap Elang, Bram menjawab, "Tentu saja tidak. Mana mungkin Daddy mengusir Ayana yang sedang mengandung cucu Daddy."


Elang tersenyum tipis. Kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju kamar pribadinya bersama Ayana di lantai dua.


Begitu membuka pintu kamar, Elang tidak melihat sosok Ayana. Namun, terdengar suara keran air menyala dari arah kamar mandi. 


Sehingga Elang menyimpulkan istrinya itu pasti sedang berada di kamar mandi. Sembari menunggu Ayana, Elang pun melepas seragam sekolahnya dan berganti dengan baju rumahan lalu merebahkan diri di ranjang.


Tepat saat itu, ponsel Elang berdering. Dia langsung mengangkat telepon dari Farel, berharap sahabatnya itu mendapat informasi penting.


"Deri sudah kita eksekusi, Lang. Dia bilang, dia cuma mengambil foto kamu sama Ayana dan dikirim ke orang yang bernama Samsul. Dia ngaku bukan orang yang menyebar fitnah," kata Farel dari seberang sana.


Sepertinya ponsel berpindah tangan, karena suara telepon mendadak berubah menjadi suara Abian.


"Lang, katakan siapa itu Samsul. Biar kita hajat rame-rame," geram Abian.


"Aku berterima kasih banyak kalian sudah mau bantu aku, tapi ini kan masalah pribadi aku sama Ayana, jadi biar kami saja yang mengurusnya."


"Ya, udah deh. Tapi, Lang. Kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan minta sama kita berdua. Oke?"


"Siap." 


Elang melirik melihat Ayana yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan dahi mengerut bingung. Lantas Elang pun menyudahi sambungan telepon bersama dua sahabatnya.


Setelah itu dia melempar seyum pada Ayana. Dilingkarnya tangan ke pinggang Ayana, supaya wanita itu semakin jatuh ke dalam depakannya.


"Lang, kok kamu bolos sekolah?"

__ADS_1


"Aku pengin bolos satu hari ini saja. Aku mau tenangin diri dulu karena satu sekolah ngomongin aku."


Ayana menganggukan kepala perlahan. Paham akan perasaan Elang saat ini, dia pun membalas pelukan sang suami.


"Ay, aku sudah tahu siapa yang sudah menyebar foto kita."


"Oh ya, siapa?"


"Samsul."


Ayana mengurai pelukan untuk bisa memandang wajah Elang. Dia menelisik raut muka yang sama sekali tak ada sedikitpun tanda-tanda kebohongan.


Lalu Ayana menggelengkan kepala tak percaya dengan mulut yang sedikit melongo. Dia berdecak serta memijat pelipisnya sejenak.


"Aku nggak habis pikir dengan Samsul. Dia itu maunya apa sih?"


"Dia ingin mempermalukan kamu, Ay. Karena kamu telah menolak menikah dengannya," jelas Elang santai.


Ayana menggeram kesal. Awalnya, dia tidak menyalahkan siapapun atas tersebarnya foto mesranya bersama Elang. 


Ayana mengira itu murni kesalahan dirinya yang selalu berciuman di sembarang tempat dan ada salah satu orang yang tak sengaja melihat. Namun, rupanya foto itu sengaja disebar oleh orang suruhan Samsul.


Hanya karena Samsul pernah sakit hati dan dendam, dia menjatuhkan Ayana dengan cara membongkar rahasia pernikahan Ayana dengan Elang.


"Sekarang, bagaimana? Kamu ingin melakukan apa pada Samsul?"


"Aku mau membuat perhitungan sama Samsul," jawab Ayana tegas dan mantap.


Ayana menggelangkan kepala. Lalu dia mulai berjalan mindar-mandir di depan Elang. Tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Nggak, Lang. Aku nggak mau ada baku hantam. Aku mau kita membalas perbuatan Samsul dengan otak, bukan otot."


Kening Elang mengerut bingung. Mencari cara untuk membalas Samsul tanpa ada baku hantam sesuai pernintaan Ayana.


"Terus, bagaimana dong?"


 


Ayana menjentikan jari sebab di kepalanya tercetus sebuah ide brilian. Dia memiringkan badan untuk berbisik di telinga Elang.


Tampak bola mata Elang yang melebar saat mendengarkan rencana Ayana dan juga bibirnya pun perlahan merekahkan senyuman.


Elang menganggukan kepala tanda setuju. Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati.


Sehingga Elang pun bertanya, "Tapi siapa yang nanti akan menjalankan misi penting ini? Kalau kamu sendiri, aku nggak setuju."


Ayana tersenyum penuh arti pada Elang. "Tenang. Bukan aku kok. Tapi mantan pelayan kita."


"Mantan pelayan?" dahi Elang kembali mengerut bingung. "Maksud kamu Diva?"


Sambil tersenyum lebar, Ayana mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


*


*


*


Tiga hati kemudian.


Di salah satu cafe terkenal di pusat kota, Ayana duduk di antara meja-meja yang berjejer rapi. Sejak lima menit yang lalu, pekerjaan Ayana hanya melihat ponsel dan mengedarkan pandangan ke sekeliking.


Jelas sekali jika Ayana sedang menunggu seseorang. Tak lama, seorang wanita muda yang terlihat lugu nan polos datang menghampiri.


Wanita itu memakai dres selutut berwarna biru muda dan bermotif bunga-bunga, menunduk saat hendak menyapa Ayana.


"Mbak Ayana ya?"


"Iya. Titin kan?" Ayana balik bertanya.


"Iya, Mbak," jawab Titin tersenyum ramah.


Ayana mempersilahkan Titin duduk di kursi sebelahnya. Sementara Titin hanya menurut saja sambil di dalam hati ada apa gerangan yang membuat wanita cantik bernama Ayana ingin bertemu dengannya.


Detik berikutnya, Ayana kembali mengedarkan pandangan menyapu penjuru Cafe. Ketika pandangannya bertemu dengan Titin, Ayana tersenyum.


"Sebentar ya, Tin. Aku nunggu satu orang lagi. Setelah itu aku bakal jelaskan kenapa aku meminta kamu datang kemari. Nggak apa-apa, kan?"


Titin mengangguk. "Iya, Mbak. Nggak masalah kok. Saya juga sedang santai."


"Oh ya, sambil nunggu teman aku, kamu mau pesan apa?"


Ketika Titin sedang menunduk membaca buku menu, seorang wanita muda datang menghampiri. 


Hampir sama seperti Titin, wanita muda bernama Susi juga tampak baru pertama kali bertemu dengan Ayana. Membuat Titin semakin bingung akan maksud Ayana yang memintanya datang ke Cafe itu.


"Titin, kenalkan ini Susi. Dan Susi, ini Titin," kata Ayana memperkenalkan dua wanita di hadapannya.


Kedua wanita itu pun saling menjabat tangan sebagai tanda awal perkenalan.


"Titin."


"Susi."


Ayana tersenyum memandang Titin dan Susi secara bergantian. "Kalian berdua ini istrinya Samsul kan?"


"Hah? Apa? Kita berdua?" tanya Susi sambil menunjuk dirinya dan Titin dengan mata membelalak.


Sama halnya dengan Susi, Titin juga tak kalah terkejut. "Nggak mungkin Mas Samsul punya dua istri."


Ayana berdecak. "Jadi kalian nggak tahu kalau Samsul itu sebenarnya punya tiga istri."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2