Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
74.Terbawa Emosi


__ADS_3

Tiga orang pria sedang duduk mengitari meja kecil dengan sebuah laptop berada di atasnya. Salah satu pria menatap layar laptop dengan perasaan gundah gundala. 


Dari pancaran matanya tampak kekecewaan, kemerahan dan geram, tentu saja. Bagaimana dia tidak? Jika melihat laporan penjualan dari bisnis yang baru dirintis belum membuahkan hasil selama sebulan terakhir. 


Pria yang menatap laptop tak bisa lagi menahan amarah yang meluap dan kemudian… 


Brak. 


Elang menggebrak meja di hadapannya. Membuat Abian dan Farel tersentak kaget. Mereka berdua mengelus dada sambil menoleh pada sosok sahabatnya yang sedang mengacak rambut itu. 


Kemudian Elang kembali memukul meja, sambil menggeram kesal, "Kenapa? Kenapa belum ada satu pun produk kita yang terjual? Padahal bisnis ini adalah pembuktian kepada mertuaku kalau aku mampu memberikan nafkah untuk Ayana."


Abian dan Farel menghela nafas bersamaan. 


"Sabar, Lang. Namanya juga kita baru merintis."


"Betul kata Abian, Lang. Semua juga butuh proses," imbuh Farel tapi dengan nada bicara yang lesu. 


Mereka bertiga kini sedang berada di rumah Farel membahas bisnis mereka yang sudah dua minggu ini berjalan namun belum ada satu pun produk yang terjual. 


Elang terlihat begitu frustasi. Namun, Farel tampak jauh lebih frustasi dari Elang sebab hari ini adalah hari pertama dia pulang ke rumah sekaligus hari pertunangannya dengan Hani. 


Tak lama pintu kamar Farel terbuka menampilkan kepala Ayana yang menyembul dan berkata, "Acaranya sudah mau dimulai."


Abian dan Elang melempar pandangan ke arah Farel yang tertunduk lesu. Mereka berdua tahu bagaimana perasaan Farel sehingga kini giliran mereka yang memberi semangat pada sahabatnya. 


"Sudah deh, Rel. Terima saja keputusan orang tua kamu. Toh lagian, Hani juga cantik," Abian menyikut lengan Farel. 


"Betul, Rel. Aku juga awal nikahin Ayana karena kasihan tapi ujungnya malah aku yang pertama bucin ke dia."


Elang menoleh ke arah Ayana yang berjalan mendekat. Lalu tangan Elang langsung menyambar dan memeluk tubuh istrinya dengan begitu posesif. 


Farel menghela nafas dan terdiam seribu bahasa untuk beberapa saat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. 


"Kalian berdua nggak tahu perasaan aku sekarang," protes Farel mengepalkan tangan dan menggebrak meja. "Dan ini bisa terjadi juga gara-gara kalian tahu."


"Hei, Rel. Yang harusnya sedih diantara kita bertiga itu aku. Kenapa? Karena kalian berdua sudah sold out. Sementara aku? Jodoh aja belum kelihatan," ucap Abian. 

__ADS_1


"Sudah deh, Bi. Kita gusur saja si Farel munafik ini."


Bola mata Farel membelalak tak terima disebut sebagai orang munafik. Tampak rahang Farel mengetat karena menahan marah. 


"Siapa bilang aku munafik? Aku bukan orang munafik."


"Ya kalau begitu buktikan dong. Kalau perlu nikahin Hani sekalian," ucap Ayana yang ikut menyulut api amarah di dalam diri Farel. "Kaya aku sama Elang, dong. Langsung nikah tanpa ba bi bu be bo."


"Hu'uh. Jangan pengen enaknya doang, Rel!" 


"Lang, aku sama Hani nggak pernah melakukan hal seperti itu," bantah Farel. 


"Kamu pengecut, Rel. Ngaku aja deh. Kita sudah lihat buktinya kok. Dengan mata kepala kita sendiri malah."


Mendadak Farel menggebrak meja sambil berdiri tegak. Dia menatap Ayana, Elang dan Abian secara bergantian dengan sorot mata yang tajam. 


Wajah yang ditampilkan Farel mengungkapkan bawa dia sekarang sedang sangat marah. Terlebih Abian dan Elang terus saja mengejek Farel, menjadikan pria itu kepanasan. 


Farel tak bisa tinggal diam dirinya dikatai oleh teman baiknya.


"Yeaaahhh!"


"Nah gitu dong. Itu baru temen kita."


Ayana, Abian dan Elang bersorak gembira. Farel meraih alat bantu jalan lalu keluar dari kamar menuju ruang tengah di mana di sana sudah di dekor dengan bunga-bunga spesial untuk acara pertunangan Farel dan Hani. 


Ruang tengah rumah Farel yang lumayan lega tapi kini penuh oleh para tamu yang terdiri dari kerabat dekat saja. 


Atensi mereka langsung tertuju pada Farel yang tiba-tiba melangkah dengan tertatih karena dia masih menggunakan alat bantu jalan. Farel berhenti di tengah ruangan, atau tepatnya di samping Hani. 


Dua orang tua Farel terheran akan sikap Farel yang memancarkan aura yang berbeda dari biasanya. Mereka khawatir Farel akan melakukan tindakan yang memalukan nama baik keluarga. 


Sehingga ibu Farel maju berniat melangkah mendekati Farel. Namun, secepat kilat, lengan ibu Farel dicegat oleh Ayana. 


Farel mengedarkan pandangan ke sekeliling sebelum dia berkata dengan mantap, "Hari ini aku ingin merubah acara pertunangan menjadi acara pernikahan aku dengan Hani."


Ayah Farel menghembuskan nafas lega sekaligus merekahkan senyum lebar di bibir. Lalu dia merangkul sang anak dan menepuk bahunya. 

__ADS_1


"Bagus, Rel. Itu baru anak Papa. Sebagai laki-laki kamu memang harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."


Hani berjingkrak riang di samping Farel. Dengan dandanan natural tapi tetep terlihat cantik, Hani melebarkan senyumnya menoleh pada pria yang dia cintai selama ini. 


Hani langsung menggelayut manja di lengan Farel dan berkata, "Rel, akhirnya aku jadi istrimu juga. Kalau begitu nanti malam kita bisa tidur berdua dong."


"Istri? Tidur berdua?" Farel terhenyak seakan telah menyadari sesuatu hal. Kemudian dia buru-buru berkata, "Eh, Papa, aku tarik lagi ucapanku. Aku nggak mau tidur bareng sama Hani."


"Nggak bisa gitu dong, Rel. Sebagai laki-laki kamu nggak boleh plin plan. Sekali ada niat menikah, maka menikahlah segera," ucap ayah Farel tegas. 


"Tapi tadi itu aku cuma sedang kebawa emosi, Pa," Farel menoleh pada Elang dan Abian, mengetatkan rahang sambil menggeram marah. "Ini semua gara-gara kalian."


*


*


*


Rasa penat menyergap tubuh Abian setelah menghadiri acara pernikahan Farel yang serba dadakan. Senyum terukir di bibir Abian sambil fokus menyetir mobil. 


Sebagai teman, Abian tentu saja merasa ikut bahagia melihat Farel menikah meski pernikahan mereka baru sekedar akad dan masih mempersiapkan pesta resepsi. 


Merasa tenggorokannya sangat kering, Abian membelokkan mobilnya ke depan minimarket, berniat membeli minuman dingin. 


Ketika dia berdiri di depan show case yang menampilkan jejeran minuman dari beberapa merk, Abian tak sengaja menjatuhkan dompet miliknya sendiri. 


Lantas Abian berjongkok untuk memungut dompet. Tepat saat itu juga Abian melihat sebuah kaki jenjang berdiri di depannya. 


Abian pun mendongak dan pemandangan paha putih mulus tak bisa terelakan dari penglihatannya. Membuat Abian susah untuk menelan saliva bersamaan dengan jiwa laki-lakinya yang mendadak menegang. 


"Ngapain kamu lihat-lihat?" tanya seorang wanita bernada garang. 


Tubuh Abian tersentak seperti tersengat listrik, saat melihat wanita yang berdiri di depannya adalah wanita yang hampir saja menendang juniornya satu bulan yang lalu. 


Manik mata wanita itu pun membola tampak seperti mengenali Abian. 


"Hai, kamu kan cowok yang waktu itu mau culik adik aku kan?"

__ADS_1


__ADS_2