Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
83. Nikah Sama Aku


__ADS_3

Elang, Abian, dan Farel menunggu di dalam mobil yang sengaja terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Berbekal dari informasi yang diberikan Pak Slamet, mereka mengetahui sekolah Tisa, adik Brisia. 


Elang yang kali ini duduk di kursi pengemudi mengawasi gerbang sekolah dan sesekali melirik jam tangan. Dia berdecak kesal karena saat ini jam sudah menunjukan pulang sekolah, akan tetapi Elang sama sekali belum melihat Tisa keluar dari gerbang. 


Sementara itu, Abian dan Farel juga mulai jengah menunggu di dalam mobil. Mereka bahkan sudah dikuasai oleh rasa kantuk yang tak tertahankan. 


Lalu, tiba-tiba Elang menegakkan punggungnya serta membulatkan mata ketika melihat sesosok anak kecil dengan rambut dikuncir dua dan menggenggam permen lolipop sedang berjalan diantara teman-teman sebayanya. 


"Woi, bangun, bangun!" seru Elang sambil menampar muka Abian dan Farel. "Itu dia incaran kita."


Abian mengusap wajahnya dengan kasar agar rasa kantuk hilang. Lalu menoleh ke arah yang ditunjuk Elang. 


Benar saja. Abian melihat Tisa yang kini berdiri di tepi jalan seolah sedang menunggu seseorang. Abian menduga pasti Tisa ini sedang menunggu jemputan sang kakak. 


"Oke, Lang. Sekarang kita culik si Tisa itu," kata Farel yang duduk di kursi belakang dan siap untuk turun dari mobil. 


"Wait, Rel! Kita nggak akan culik Tisa tapi cuma pura-pura culik dia," jelas Elang menahan tangan Farel yang hendak membuka pintu. 


Seketika Farel mengerutkan dahi bingung dan dia pun menatap Elang dengan penuh keseriusan. 


"Kok cuma pura-pura culik, Lang? Gimana ceritanya itu?"


"Tisa ini anaknya pinter. Waktu Abian berniat menolong aja, tuh anak sudah waspada dan mengira Abian penculik. Apalagi kalau kita benar-benar mau niat culik dia."


Farel menganggukan kepala paham dengan penjelasan Elang. 


"Bener apa yang dikatakan Elang, Rel. Kalian harus hati-hati karena Tisa dan Kakaknya sama sama bahaya," imbuh Abian menepuk bahu Farel. "Dan jangan lupa selamatkan junior kalian!"


"Yang bakal ngadepin Brisia kan kamu, Bi. Harusnya kamu yang selamatkan juniormu sendiri," balas Farel. 


"Kalau itu tenang aja. Aku sudah pakai kain segitiga produk dari bisnis kita. Celana pria dengan pelindung yang terbuat dari baja, sehingga dapat melindungi junior dari serangan apapun hahaha…"


"Hush, sudah. Bukan waktunya promosi," sela Elang yang langsung turun dari mobil meninggalkan Abian seorang diri karena Farel ikut menemani Elang. 


Elang berjalan menghampiri Tisa yang diikuti juga oleh Farel. Lalu Elang pun menyapa Tisa yang sedang memakan permen lolipopnya. 


"Hai, Tisa, masih inget sama kakak nggak?" sapa Elang sok ramah. 


Tisa yang berdiri sendirian menoleh dan mengerutkan kening tampak sedang meneliti wajah Elang. Tak lama Tisa mengangkat alisnya dan tersenyum. 


"Inget," jawab Tisa singkat dan membuat Elang maupun Farel tersenyum. "Temen Om yang nabrak aku waktu itu kan?"

__ADS_1


Elang menganggukkan kepala. "Kamu lagi nunggu kakak kamu ya?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Mending kita nunggu jemputan kakak kamu sambil beli es krim mau nggak?" kali ini Farel yang berbicara supaya bisa lebih dekat dengan Tisa. 


Tampak Tisa menampilkan wajah yang bimbang. Bayangan es krim lezat sudah tergambar jelas di benaknya. Akan tetapi, Tisa selalu inget pesan dari Brisia yang selalu mewanti-wanti pada orang asing. 


Lantas Tisa pun menggelengkan kepala dengan tegas. Lalu berkata, "Nggak deh, Om. Makasih."


Elang mencondongkan tubuh untuk berbisik di depan telinga Farel. 


"Aku bilang juga apa kan, dia ini bocahnya pinter. Dia pasti mengira kita mau jahatin dia."


Mendengar bisikan Elang, membuat Farel menarik nafas panjang. Dia mencoba untuk tetap sabar dan mencari cara lain untuk membujuk Tisa. 


Kemudian, Farel membungkukan badan untuk mensejajarkan pandangan dengan Tisa. "Tisa, kenapa nggak mau ditraktir es krim sama Kakak? Tisa takut ya, Kakak mau jahatin Tisa?"


Farel menatap manik mata Tisa dengan sorot hangat untuk menyakinkan bahwa dia adalah orang baik. 


Dan terbukti dengan Tisa yang diam dengan wajah yang mulai melunak. Tidak setegang saat pertama kali melihat wajah Farel. 


"Tisa, jangan takut! Kakak ini teman baik Kak Brisia."


"Kok Om sih panggilnya," kata Farel memprotes dengan suara lembut. "Panggil aja Kak Farel dan Kak Elang. Oke?"


Tisa mengangguk sebagai jawaban. Bocah kecil itu manut saja pada perkataan Farel. 


Melihat Tisa yang tampak sudah menjinak, lalu Elang dan Farel melancarkan aksi selanjutnya yaitu membawa Tisa ke suatu tempat. 


"Eh, Tisa, kita jajan batagor yang di sana yuk," ajak Elang menunjuk gerobak batagor yang ada di seberang jalan. 


"Tapi traktir ya, Om."


"Iya, tenang aja. Tapi… " Elang menunjuk jari telunjuk sebagai tanda peringatan pada Tisa. "Jangan panggil Om, dong! Kak Elang ini masih muda tahu."


Dari dalam mobil, Abian melihat Tisa diajak pergi bersama Elang dan Farel. Membuat Abian menggosok tangannya dengan tidak sabar karena sekarang giliran dia yang beraksi. 


Kira-kira tujuh menit setelah Tisa pergi, Abian melihat Brisia datang ke sekolah. Terlihat jelas di mata Abian jika raut yang ditunjukan Brisia adalah khawatir. 


Wanita itu tampak mengedarkan pandangan dengan sangat cemas mencari keberadaan Tisa. Apalagi suasana sekolah sudah mulai sepi dan teman-teman Tisa banyak yang sudah pulang. 

__ADS_1


Abian menyeringai sebelum akhirnya dia turun dan menghampiri Brisia. 


"Hai," sapa Abian dengan gaya sombong dan sok cool. "Kita ketemu lagi ya?"


Brisia mencoba untuk mengabaikan keberadaan Abian karena saat ini keberadaan Tisa lah yang paling penting. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan bertanya pada anak laki-laki yang sepertinya kakak kelas Tisa. 


Brisia menghela nafas ketika anak laki-laki itu tidak mengetahui Tisa berada. Lalu Abian pun bersuara. 


"Kamu cari adik kamu?" tanya Abian santai. "Tadi aku lihat sih dia dibawa sama dua orang pria."


Secepat kilat Brisia mengalihkan pandangan pada Abian dengan mata menyipit dan tangan yang mengepal. 


"Yang bener kamu," kata Brisia galak sambil berkacak pinggang. 


Meski agak takut dengan gaya Brisia yang galak namun, Abian tetap mencoba untuk mempertahankan gaya cool nya. 


Abian mengangkat bahunya. "Terserah kamu mau percaya atau nggak. Yang penting aku sudah ngomong dengan jujur."


Brisia semakin geram dengan Abian yang tahu Tisa diculik tapi malah tidak melakukan apapun. Dia mendengus sambil mengetatkan rahang. 


"Kalau kamu tahu Tisa dibawa sama orang, terus kenapa kamu diem aja, hah? Kenapa kamu nggak nolongin Tisa?"


"Aku tadinya mau nolong sih tapi… aku inget kamu pernah bikin juniorku sakit. Jadi aku milih diem aja."


Brisia menggeram marah sampai dia menjejakan kaki saking kesal dengan Abian. 


"Tapi ini masalahnya Tisa dibawa sama orang. Kamu tega banget sih? Dia tuh nggak ada sangkut pautnya sama aku yang sudah nendang benda pusaka kamu. Ngerti nggak?" teriak Brisia marah-marah. 


Abian menaikan alisnya dan tersenyum tipis melihat Brisia yang terlihat percaya jika Tisa diculik. 


"Tenang aja. Aku hafal kok ciri-ciri fisik dua pria yang bawa adik kamu dan aku bisa menemukan Tisa hanya dalam hitungan jam," kata Abian dengan penuh percaya diri. 


Namun, tidak semudah itu Brisia percaya pada Abian. Dia menyipitkan mata, merasa curiga. Ada hal aneh yang Brisia rasakan dari aura yang dipancarkan oleh Abian. 


"Kamu yakin, bisa menemukan adik aku dalam hitungan jam?" Brisia bertanya tak percaya. 


"Jangankan hitungan jam, hitungan menit pun bisa," Abian tersenyum puas dan jari telunjuknya mengacung membentuk tanda angka satu. "Asalkan kamu mau melakukan satu hal."


"Apa?"


Abian mendekati Brisia yang menelan salivanya karena gugup memandang wajah Abian. 

__ADS_1


Jika dilihat dari dekat, Abian memang memiliki wajah tampan. Begitulah penilaian Brisia. 


Di depan telinga Brisia, bibir Abian membisikkan sebuah kalimat yang membuat bulu kuduk Brisia meremang, "Nikah sama aku."


__ADS_2