Istriku, Guru Olahragaku

Istriku, Guru Olahragaku
85 Sakit Perut


__ADS_3

Beberapa bulan telah Elang lewati dengan rutinitas yang monoton. Dimana separuh dari kesehariannya adalah mengurusi bisnis dan sisanya mendengarkan omelan dari Ayana. 


Wajah kusut menjadi ekspresi yang paling sering ditampilkan saat menjalani pekerjaannya. Hanya saat mengelus perut Ayana saja, wajah Elang seketika berbinar bahagia. 


Dan moment mengusap perut Ayana yang sekarang semakin besar yang selalu ditunggu oleh Elang. Karena pada saat itu seakan semua beban yang berada di pundak Elang lenyap secara ajaib. 


Seperti sekarang ini, Elang sengaja mempercepat laju motornya. Dia menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya dan membelah jalanan sore itu. 


Tujuannya hanya ada satu, yaitu ingin buru-buru menemui Ayana dan menyapa sang buah hati yang diprediksi akan lahir bulan depan. 


Tak ada hiburan lain yang lebih menyenangkan selain mengajak bicara sang buah hati di dalam perut. Sebab dua sahabat Elang kini sudah berumah tangga dan memiliki kesibukannya masing-masing. 


Elang pun sampai di depan rumah Farel dan tepat saat itu juga dia melihat Hani yang keluar rumah dengan memakai daster bermotif bunga. Tampak wanita itu membawa buku tentang kehamilan lalu duduk di kursi teras. 


"Lang, kamu lihat Farel?" tanya Hani dengan wajah yang kurang suka. 


Elang menggelengkan kepala, sebab dia tidak tahu keberadaan Farel dan juga tidak mau tahu dia ada di mana. Pikiran Elang saat ini adalah menemui Ayana. 


Lantas dia pun segera melangkahkan kaki menaiki tangga menuju lantai dua rumah Farel. Degup jantungnya telah mendetakkan rasa tidak sabar yang membuncah. 


Bahkan Elang langsung menerobos pintu dan langsung berlari ke arah Ayana. Dipeluknya tubuh Ayana dari belakang yang terlihat sedang melakukan yoga dengan dipandu dengan tutorial dari internet. 


"Ck, Lang, lepasin! Aku lagi konsentrasi nih," ucap Ayana seraya melepaskan tangan Elang yang membelit tubuhnya. 


Kemudian Ayana menghela nafas, kembali memejamkan mata dengan posisi duduk bersila seperti layaknya orang yang sedang latihan yoga. 


Melihat itu, Elang memberengut dan memutarkan bola mata malas. 


"Suami pulang, bukannya disambut malah diomelin," gerutu Elang yang meski pelan masih bisa terdengar oleh Ayana. "Kalau gitu, cari istri lain aja deh."


Detik berikutnya, kedua kelopak mata Ayana yang semula tertutup tiba-tiba terbuka lebar, kepala berputar seperti burung hantu mengawasi mangsa di malam hari dan dia arahkan pandangan tajam pada sang suami.


"Apa kamu bilang? Mau cari istri lagi?" 


Elang gelagapan seketika dan buru-buru meralat ucapannya. "Enggak. Enggak kok. Maksudku kamu itu spesial nggak kaya istri yang lain."


"Ck, gombal."

__ADS_1


Ayana menarik nafas. Niatan untuk melanjutkan yoga mendadak hilang seketika dan dia pun memutuskan untuk berdiri lalu pergi ke kamar mandi. 


Sementara Elang berdecak lesu. Dia memijat pangkal hidungnya yang menjadi tanda bahwa dia saat ini sedang pusing tujuh keliling. 


Lalu dia meraih ponsel yang berdering di dalam saku. Ternyata Farel menelepon Elang yang langsung diangkatnya. 


"Lang, Hani ada di rumah nggak?"


"Ada," jawab Elang lesu. "Dia cariin kamu tuh."


"Nah itu masalahnya, Lang. Aku tuh males pulang ke rumah soalnya sejak hamil Hani tuh jadi gampang marah-marah. Kenapa ya Lang, istri kalau lagi hamil tuh sensitif banget?"


Elang tertawa sumbang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Farel. 


"Kamu tanya ke aku? Aku aja nggak tahu kenapa, Rel. Ayana juga gitu. Sejak hamil, mood dia jadi gampang berubah-rubah. Tadi aja dimarahin sama dia, hanya karena aku ganggu dia lagi yoga," jelas Elang memanyunkan bibir. 


"Kita bernasib sama Lang. Kira-kira Abian gitu juga ya? Katanya istrinya juga lagi hamil muda tuh."


Elang membuka mulut hendak berbicara namun, tepat saat itu juga dia mendengar Ayana berteriak dari dalam kamar mandi. Sehingga otomatis perhatian Elang langsung teralihkan. 


Dia mengabaikan telepon dari Farel dan meletakan ponsel begitu saja di karpet. Dia segera berlari menghampiri pintu kamar mandi yang tidak dikunci oleh Ayana. 


Ayana yang saat itu sedang berdiri di salah satu sudut kamar mandi terlihat ketakutan lalu menunjuk ke bawah di mana di sana ada seekor kecoa. 


"Itu, Lang. Ada kecoa."


Elang menarik nafas panjang untuk menetralkan perasaannya yang sempat panik. 


"Itu mah gampang Ay. Tinggal dibalik aja."


Elang membungkuk untuk dapat memungut kecoa dan membalikan badan kecoa itu. Lalu dia memalingkan pandangan ke arah Ayana yang masih nenampakan ekspresi takut. 


"Sepertinya bulan depan kita harus cari tempat tinggal baru," kata Elang yang kemudian menurunkan pandangan serta mengusap lembut perut Ayana. "Kita cari tempat tinggal yang lebih nyaman untuk anak kita."


Mendengar ucapan sang suami, mendadak Ayana menjadi terisak. Perasaan haru seketika menyelimuti dirinya dan kedua manik mata Ayana pun berkaca-kaca. 


Elang mengerutkan dahi heran. Lalu dia pun bertanya, "Kamu kenapa Ay? Kok malah nangis."

__ADS_1


Ayana tak langsung menjawab. Disandarkan kepalanya ke bahu Elang sambil terus terisak. 


"Aku merasa bersalah, Lang. Tadi aku marah sama kamu. Padahal setiap kali aku ada masalah kamu yang selalu nolongin aku. Kamu juga selalu memikirkan kebahagiaan aku dan anak kita."


"Astaga. Cuma itu kamu nangis?" Elang menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan. 


Sudah tidak mengherankan akan sikap Ayana yang mudah berubah-ubah selama kehamilannya. Elang berusaha untuk tetap sabar sambari mengusap rambut Ayana meski di dalam dirinya rasa penat sudah menumpuk. 


Semoga Ayana cepat-cepat melahirkan deh. Kalau begini terus aku bisa frustasi, kata Elang yang hanya diucapkan dalam hati. 


"Aw, Lang."


Ayana meringis dengan kedua tangan yang langsung memegang perut bagian bawah. Wajah Ayana mengernyit, tanda bahwa dia sedang menahan rasa sakit. 


Elang pun melepas pelukannya dan menurunkan pandangannya yang kini tertuju pada bagian perut yang dipegang Ayana. 


"Kenapa Ay?"


"Perut aku sakit."


Elang menganggukan kepala dengan gaya santai. "Oh, ya sudah aku keluar."


"Kok keluar sih?" protes Ayana. 


"Katanya kamu sakit perut, pasti mau BAB kan?"


Ayana kembali merintih kesakitan sebelum dia berkata, "Enggak Lang. Ini sakit perut yang bukan seperti biasanya. Sepertinya aku mau melahirkan deh."


"Apa?"


Elang tercengang bukan main. Belum ada satu menit yang lalu dia berharap supaya Ayana cepat melahirkan, dan harapannya itu langsung terkabulkan detik itu juga. 


Mulut Elang membuka lebar saking tercengangnya. Dia menepuk jidat dan menyandarkan punggung ke tembok. 


"Kamu nggak bercanda kan, Ay? Kan harusnya kamu lahiran bulan depan."


Ayana berdecak kesal. "Lang, masa aku bercanda sih? Ini tuh benar-benar sakit. Anak kamu sepertinya mau keluar, Lang."

__ADS_1


Elang bingung harus melakukan apa. Dia gelagapan sesaat sebelum akhirnya dia menggendong Ayana ke luar kamar. 


__ADS_2