
Di suatu siang yang panas, seorang pria duduk di salah satu bangku di kedai kopi. Dia menyesap cappucino dari cangkir putih sambil memandang jam dinding yang tergantung di salah satu sudut ruangan.
Kentara sekali jika pria itu tengah menunggu seseorang.
Dan benar saja, tak lama datang lah seorang pria paruh baya yang badan tegapnya terbungkus jaket kulit hitam. Pria paruh baya itu menundukan kepala sejenak sebelum akhirnya dia duduk di kursi.
"Ada apa Tuan Raynar ingin bertemu dengan saya?" tanya Pak Slamet pada Elang yang telah menunggunya selama sepuluh menit di kedai kopi.
Elang tak langsung menjawab. Dia justru mengeluarkan sebuah foto dari saku jaket. Lalu menyerahkan pada Pak Slamet.
Sekilas Pak Slamet mengerutkan kening tampak heran dan benaknya pun bertanya-tanya. Kenapa Elang memberikannya foto seorang wanita?
"Maaf, Tuan. Ini apa ya?"
"Pak Slamet, tolong cari tahu identitas wanita yang ada di foto ini! Pak Slamet bisa kan?" pinta Elang dengan satu jari menunjuk sekilas ke foto wanita yang sudah menendang benda pusaka milik Abian.
Foto itu diambil Abian sebelum wanita itu pergi dari minimarket. Beberapa saat berlalu dengan Pak Slamet yang terdiam memandang potret wanita berambut sebahu dan memakai jaket denim.
Lalu kepala Pak Slamet mengangguk pelan. Setelah puas memandang wajah cantik dari wanita belia itu, dia memasukan foto ke dalam saku jaket.
"Kalau masalah itu gampang, Tuan. Serahkan saja pada saya. Tapi… " Pak Slamet mendadak ragu untuk bertanya.
"Tapi apa, Pak?" Elang bertanya dengan mata menyipit menyelidik wajah Pak Slamet.
"Tapi kenapa Tuan tiba-tiba meminta saya untuk mencari tahu identitas wanita ini? Apa Tuan ada masalah?"
Elang menggelengkan kepala. "Nggak ada apa-apa. Ini hanya masalah teman saya."
Pak Slamet mengangguk kepala paham. Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak Slamet pamit untuk undur diri.
Dia harus pergi karena tidak bisa pergi dari pekerjaan terlalu lama. Namun, baru dua langkah Pak Slamet meninggalkan meja, Elang berseru memanggil.
Menjadikan Pak Slamet memutar tumit untuk menghadap kembali ke arah Elang. Dengan menampilkan wajah penuh senyum, Pak Slamet menundukan kepala.
Hati pria paruh baya itu sudah senang bukan main sebab dia menduga Elang akan memberikan upah atas tugas yang diberikan kali ini.
"Saya mah nggak perlu upah banyak-banyak, Tuan," ucap Pak Slamet bermaksud ingin terlihat rendah hati pada Elang.
Namun, raut yang ditampilkan Elang malah mengerut bingung.
__ADS_1
"Maksud Pak Slamet apa? Saya kan cuma mau tanya bagaimana kabar Daddy?"
Pak Slamet ber-oh pelan. Wajanya langsung tertunduk lesu. Dugaan akan mendapatkan upah ternyata salah besar.
"Kabar Tuan Bram baik, Tuan."
Elang mangut-mangut. Lalu dia melontarkan pertanyaan lagi, "Lebih baik mana, sewaktu aku di rumah atau sewaktu aku nggak ada di rumah?"
Pak Slamet menggaruk kepala sambil benaknya merangkai kata agar Elang tidak sakit hati.
Karena lama menunggu jawaban dari Pak Slamet, Elang pun menghela nafas dan dia dapat menyimpulkan sendiri bahwa ayahnya pasti masih marah dengannya.
"Sebenarnya Tuan, saat ini Tuan Bram… "
"Sudah lah, Pak Slamet. Saya sudah tahu kok," Elang memotong ucapan Pak Slamet dengan menampilkan senyuman getir.
"Tuan," Pak Slamet memanggil dengan nada ragu-ragu.
Elang mendongak memandang Pak Slamet. Lalu dia mengangkat alisnya menunggu Pak Slamet yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
Pak Slamet tersenyum malu, perlahan dia menyatukan jari telunjuk dan ibu jari memberi isyarat meminta bayaran dari tugas yang diberikan padanya.
Hal itu tentu saja membuat Elang bergidik ngeri, tak menyangka Pak Slamet memiliki sifat genit apalagi kepada sesama jenis.
"Pak, saya masih normal," kata Elang yang detik berikutnya langsung melarikan diri pergi dari kedai kopi.
Pak Slamet heran memandang perginya Elang dengan mulut melongo. Lalu dia menundukan penadangan memeriksa jarinya yang masih membentuk tanda hati.
"Tuan Raynar kok pergi ya? Padahal kan saya cuma mau minta duit."
*
*
*
Ayana yang sedang memakai lipstik mendadak terlonjak kaget kala mendengar suara gebrakan pintu. Bahkan polesan lipstik sampai melenceng, melintang ke area pipi.
Ayana mendengus kesal. Lalu memutar kepala dengan pancaran mata tajam ke arah pintu. Dimana di sana ada Elang yang terengah-engah dan kening basah oleh peluh.
__ADS_1
"Kenapa sih, Lang? Kamu itu seperti dikejar setan," ujar Ayana sambil menghapus coretan lipstik di pipi.
"Ini lebih parah dari setan, Ay."
Elang menutup pintu dan bergidik ngeri ketika teringat lagi bagaimana ekspresi Pak Slamet tersenyum dan memberikan tanda finger heart.
Elang berusaha menarik nafas panjang dan mengembuskanya lewat mulut untuk menstabilkan pikiran. Setelah tenang, dia membuka mulut hendak menceritakan pada Ayana akan pertemuannyan dengan Pak Slamet.
Akan tetapi Ayana segera bangkit berdiri dan menarik lengan Elang. Dia malas dengar cerita Elang karena saat ini yang ingin Ayana dengar adalah kondisi kesehatan janin di dalam perutnya.
Maka dari itu Ayana mengajak Elang ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya.
"Ayo ah. Nanti telat lho. Ini taksi online nya sudah nunggu di depan."
"Tapi, Ay, kamu harus denger dulu. Ternyata Pak Slamet, tangan kanan Daddy, itu suka makan terong."
Ayana tak menggubris ucapan Elang. Dia tetap menarik lengan Elang hingga menuruni tangga dan sampai di halaman depan, mereka langsung naik ke taksi online yang sudah di pesan.
Di dalam mobil, Ayana melirik dari pantulan kaca spion tengah dan mengamati wajah si sopir. Wajah Ayana mengernyit tampak berpikir keras.
Dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan sopir itu. Yang mana Ayana baru saja menyadari jika sopir taksi itu orang yang sama yang mengantar dan menjemput sewaktu Ayana terkahir kali memeriksa kandungannya.
"Lang, sopir taksi ini kok seperti nggak asing ya?" bisik Ayana di dekat daun telinga Elang agar si sopir tak mendengar.
Melihat sopir taksi melirik ke kaca spion, membuat Ayana langsung terdiam gugup. Tampaknya sopir itu mendengar perkataan Ayana.
Namun, Elang terlihat tidak mau ambil pusing. Dia membalas dengan balik berbisik di telinga Ayana.
"Perasaan kamu aja kali, Ay."
Ayana mengeratkan tangan menggenggam tangan Elang. Sesekali dia melirik ke arah sopir, yang memancarkan aura mencurigakan.
Meskipun begitu, tidak terjadi sesuatu hal yang aneh selama perjalanan. Hingga mereka sampai di depan gedung rumah sakit, Elang membayar ongkos taksi lalu menuntun Ayana untuk turun.
Ayana dan Elang berjalan bergandengan ke dalam gedung rumah sakit tanpa memikirkan lagi sopir taksi yang -menurut Ayana- aneh itu.
Padahal sebenarnya, sopir taksi yang telah mengantar mereka sedang duduk di dalam mobil. Kemudian perlahan melepas kumis palsu dan meraih ponsel untuk menghubungi tuannya.
"Halo, Tuan. Mereka pergi ke rumah sakit sekarang."
__ADS_1
"Bagus. Aku akan ke sana segera."