
Di rumah megah, terdengar dentingan suara piano yang tercipta dari jemari seorang pria lanjut usia. Pria itu memainkan piano tanpa ekspresi di wajah.
Mendadak dia menghentikan pergerakan jari karena selera bermusiknya hilang. Dia menghela nafas sambil memandang keluar jendela.
Kemudian dia termenung, meratapi kepergian anak dan menantunya dari rumah.
"Rumah terasa sepi setalah Raynar pergi."
Pria tua itu menghela nafas kembali. Tiba-tiba saja dia menjadi sangat merindukan anak semata wayangnya itu.
Ya, setelah sebulan lebih lamanya, Bram merasa kesepian berada sendiri di rumah. Tak ada suara sang anak yang memanggil Daddy atau tidak ada lagi tingkah jahil dari menantu perempuannya.
Memang pada saat itu, Bram sangat marah pada anak dan menantunya tapi kali ini kerinduan lah yang menyergap dirinya.
Dia sangat ingin bertemu Elang dan juga Ayana tapi dia terlalu gengsi untuk menemui mereka.
Tepat ketika Bram tengah melamun, ponselyang berada di atas meja berdering, menandakanada satu panggilan masuk. Bram buru-buru mengangkat telepon itu begitu dia melihat si penelepon adalah anak buahnya.
Bibir Bram merekah membentuk senyuman kala si anak buah melaporkan jika Elang dan Ayana pergi ke rumah sakit.
"Bagus. Aku akan ke sana sekarang."
Tut.
Bram langsung mematikan sambungan telepon dan menyuruh sopir pribadinya mengantar ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Bram tidak sabar ingin memberikan satu kejutan untuk Ayana dan Elang.
"Sudah lama aku tidak tertawa," gumam Bram saat membayangkan ide di benaknya.
*
*
*
"Bagaimana, Dok? Kandungan istri saya baik-baik saja kan?"
Elang bertanya pada dokter wanita yang baru saja duduk di kursinya setelah selesai memeriksa kandungan Ayana.
Sejenak si dokter wanita itu menatap Elang dan Ayana secara bergantian lalu tersenyum ramah.
"Janin yang ada di dalam kandungan Bu Ayana baik-baik saja, Pak. Yang terpenting Bu Ayanan harus jaga kondisi kesehatan, minum susu hamil, dan juga vitamin yang akan saya resepkan."
Ayana menghembuskan nafas lega begitu mendengar penjelasan dokter. Refkles dia pun mengusap perutnya dengan lembut.
Namun, berbeda dengan Elang yang tampak mengkhawatirkan sesuatu.
"Dok, apakah ada kemungkinan anak kami nanti tuli?"
Mendengar pernyataan yang dilontarkan Elang, membuat sang dokter mengernyitkan wajah heran. Begitu pula dengan Ayana yang langsung melempar pandangan tajam ke arah Elang.
__ADS_1
Ayana menyikut Elang yang duduk di sampingnya dengan ekspresi wajah yang kurang senang.
"Lang, kok kamu ngomong gitu sih? Anak kita pasti lahir tanpa cacat sedikitpun," Ayana menoleh pada dokter meminta dukungan. "Benar kan, Dok?"
Sang dokter tersenyum sekilas sebelum menyahut. "Ya, Bu. Asalkan Bu Ayana menjaga kandungan Ibu dengan baik serta mengatur asupan makanan, dan rutin memeriksa ke dokter maka akan meminimalisir kemungkinan bayi lahir cacat, termasuk gangguan pendengaran."
"Tuh, dengerin," sungut Ayana kembali menyenggol lengan Elang. "Dan kamu juga jangan berpikiran negatif, Lang. Kita harus positif thinking anak kita lahir sehat."
"Begini lho, Ay. Waktu kamu minta rujak malem-malem, si pedagang rujaknya itu nyumpahin anak kita bakal tuli. Ya, aku jadi khawatir dong."
"Ck, ya ampun, Lang. Kamu percaya aja sama hal yang begituan? Sudah deh. Jangan dipikirin! Aku pasti akan berusaha semampu aku menjaga anak kita ini. Sekalipun anak kita nanti memiliki kekurangan, aku akan tetap menyayangi dia sebagaimana seorang ibu menyayangi anak kandungnya."
Elang terkesima mendengar penjelasan panjang lebar dari mulut Ayana. Ingin rasanya Elang mencium bibir Ayana yang merah menggoda itu.
"Ternyata aku nggak salah pilih kamu sebagai ibu untuk anakku, Ay," ucap Elang sambil memiringkan badannya hendak melabuhkan kecupan di bibir Ayana.
Dan satu sentimeter sebelum kecupan itu mendarat, tiba-tiba…
Ehem…
Baik Elang maupun Ayana tersentak kaget oleh suara degeman sang dokter. Serempak mereka menoleh menatap dokter dengan pipi bersemu merah akibat rasa malu yang melanda.
"Apa ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya sang dokter sebagai kode agar pasangan suami istri di depannya cepat-cepat meninggalkan ruangan.
*
*
*
Membuat Ayana semakin merapatkan diri ke tubuh Elang, tangannya menggelayut manja dan satu tangan yang lain menyentuh bibir Elang.
"Senyum dong, Lang," kata Ayana sambil menarik ujung bibir Elang. "Kamu seperti lagi stres gitu."
Elang berdecak dan memijat pangkal hidungnya.
"Aku terus aja kepikiran, Ay. Takut kalau anak kita nanti benar-benar tuli."
"Elang," panggil Ayana dengan suara lemah, lembut, menggoda. "Sudah aku katakan berapa kali. Jangan terlalu dipikirkan!"
"Tapi aku tetap aja cemas dan kasihan sama anak kita nanti, Ay."
Ayana mengecup pipi Elang sekilas, lalu menampilkan senyum yang membuatnya semakin terlihat manis.
"Kita berdoa saja ya, Lang. Supaya anak kita lahir dengan selamat dan sehat."
Elang memaksakan diri untuk menarik ujung bibirnya membentuk senyuman. Meski rasa cemas masih bergentayangan di dalam dirinya, akan tetapi Elang berusaha untuk tersenyum dan mengikuti saran dari Ayana.
Tepat saat itu juga, sebuah brankar yang di atasnya terbaring sosok pria berselimut kain putih didorong oleh dua orang petugas rumah sakit.
Salah satu petugas rumah sakit berbicara pada rekannya.
__ADS_1
"Kasihan benar ya? Tuan Bram harus meninggal dengan cara tragis seperti ini."
Rekan petugas rumah sakit itu mengangguk menyetujui.
"Iya, parahnya lagi, keluarganya nggak tahu di mana."
Deg.
Detik itu jantung Elang terasa berhenti mendengar pembicaraan singkat dari dua petugas rumah sakit yang sedang mendorong brankar menuju ruang mayat.
Bola mata Elang terus menatap arah perginya brankar itu dengan sorot nanar dan berkaca-kaca.
Sama halnya dengan Ayana yang tak kalah terkejut. Dia langsung melingkarkan lengan di bahu Elang dan mengelusnya untuk sedikit memberikan kekuatan.
"Ay, nggak mungkin tadi itu Daddy kan?"
Ayana menggelengkan kepala. "Aku nggak tahu, Lang. Lebih baik kita tanyakan langsung ke petugas rumah sakit."
Elang mengangguk setuju. Segera mereka melangkahkan kaki menyusul dua petugas rumah sakit yang masuk ke dalam ruang mayat.
Dan Elang pun bertanya untuk memastikan bahwa mayat yang dibawa petugas rumah sakit adalah benar ayahnya.
"Ya, beliau Tuan Bram Rasyid yang baru saja mengalami kecelakaan mobil," jawab petugas rumah sakit yang menunjuk Elang dan Ayana secara bergantian. "Maaf, kalau boleh tahu, apa kalian kenal dengan beliau?"
"Saya anaknya, Pak," Elang terisak dan langsung memeluk tubuh di atas brankar.
"Dad, maafkan aku. Aku belum bisa membanggakan Daddy tapi Daddy pergi meninggalkan aku. Padahal Daddy sebebtar lagi akan memiliki cucu, Dad. Kenapa Daddy pergi?"
Ayana menatap pilu pada tubuh Bram yang tertutup selimut putih. Seketika manik matanya memerah dan satu bulir air mata pun tak terelakan jatuh ke pipi.
"Maafkan aku juga, Dad," kata Ayana ikut terisak.
Ayana dan Elang menangis sejadi-jadinya dan terus mengucapkan kata maaf serta penyesalan.
Namun, mendadak tangisan Elang berhenti ketika dia menyadari tubuh Bram yang sedikit lebih gemuk.
Elang pun meraba tubuh di atas brankar dengan dahi mengerut heran. Kemudian, Elang berbisik pada Ayana.
"Ay, kok badan Daddy jadi melar ya?"
Ayana pun berhenti menangis dan menatap Elang penuh keseriusan.
"Coba kamu buka kainnya, Lang."
Elang melempar pandangan ke bagian kepala yang masih tertutup kain. Lalu dengan perlahan, tangan Elang bergerak membuka kain putih yang menutupi wajah si mayat.
Elang tak bisa berkata-kata ketika yang dia lihat ternyata bukan wajah Bram Rasyid, ayahnya sendiri. Melainkan pria gendut yang telah terbujur kaku dan pucat.
"Ay, kita salah orang," bisik Elang pada Ayana.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah ruangan dengan banyak layar yang menampilkan rekaman cctv rumah sakit, Bram tergelak sampai memukul meja.
__ADS_1
Beberapa staf rumah sakit dan juga anak buah Bram saling melirik satu sama lain. Sebab belum pernah mereka melihat Tuan Bram tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Kalian lihat? Mereka kena prank ha ha ha. "