
Tiba-tiba lutut Elang terasa lemas dan membuat dia bersimpuh di hadapan Bram. Dia mendongak melihat wajah Bram yang penuh dengan gurat kemarahan.
Lalu kembali Elang menundukan kepala. Dia merasa menyesal pada dirinya sendiri.
Bukan karena takut tidak bisa lagi menikmati kekayaan sang ayah, melainkan karena Elang sadar selama ini Bram tidak pernah mengusirnya sekalipun dia bertingkah yang aneh-aneh.
Meski sikap Bram terkesan seperti diktator, akan tetapi sang ayah sangat memanjakan Elang sejak kecil. Dengan harta yang dimiliki, Bram selalu mengabulkan apa saja yang menjadi keinginan Elang.
Namun, kali ini Elang mendapati Bram mengusirnya dari rumah. Pertanda bahwa pria itu telah sangat kecewa padanya.
"Aku tahu aku sudah keterlaluan," kata Elang dengan suara parau. "Nggak masalah kalau Daddy ingin mengusirku dari rumah, asalkan aku minta satu hal pada Daddy. Tolong maafkan aku, Dad."
"Aku juga minta maaf, Dad," ucap Ayana yang juga ikut bersimpuh di samping Elang.
Tak ada respon dari Bram. Dia hanya memandang Ayana dan Elang lalu pergi begitu saja.
Elang tahu, jika Bram sudah diam seribu bahasa, itu artinya Bram sedang sangat marah. Belum pernah dia melihat Bram semarah itu padanya.
Lantas Elang pun berdiri sambil meraih tangan Ayana. "Ayo, Ay. Kita pergi."
"Tapi kita mau kemana, Lang?"
"Ke rumah kita yang dulu."
Ayana mengangguk menyetujui. Dia mengambil kopernya dan melangkah bersama Elang menuju halaman depan.
Untung saja mereka masih memiliki cukup uang untuk memesan taksi. Dalam kurun waktu lima belas menit, mereka telah sampai di rumah Elang yang kecil dan sederhana.
Mereka menapakan kaki di halaman yang penuh oleh daun kering. Namun, senyum yang berkembang di bibir mereka mendadak berubah layu saat melihat papan bertuliskan 'rumah ini disita'.
"Lang, kok rumahnya disita?" tanya Ayana terheran.
Elang menghela nafas berat. Sudah dapat ditebak, pelakunya pastilah Bram.
Dengan kepala tertunduk, Elang tersadar bahwa kali ini Bram benar-benar menghukumnya.
"Kita cari kontrakan baru saja yuk," ucap Elang saat memutar badannya.
"Tapi uang kita nggak banyak, Lang. Dan juga kita mau cari ke mana?"
"Kita cari saja, pasti ketemu tempat tinggal yang pas," Elang menyodorkan tangannya mengambil koper di tangan Ayana.
__ADS_1
Tak mau Ayana kelelahan, Elang melangkah di tepi jalan sambil menyeret dua buah koper. Mereka berjalan di bawah teriknya matahari dengan langkah terseok-seok.
"Sekarang aku mengerti kenapa Daddy menghukum kita push up seratus kali," kata Ayana sambil menghempaskan diri duduk di bangku yang ada di trotoar jalan. "Supaya kita kehabisan tenaga saat mencari tempat tinggal baru."
Elang ikut duduk di samping Ayana. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, pertanda bahwa dia sangat frustasi.
"Aku nggak akan nyangka kalau daddy bakal semarah ini," Elang menghembuskan nafas berat. "Tapi salah kita juga. Kita benar-benar keterlaluan, nggak tahu diri, anak durhaka. Masih syukur kita nggak dikutuk jadi batu."
Melihat Elang yang sangat frustasi, tangan Ayana bergerak mengusap punggung suaminya dan mencoba tersenyum meski dia juga merasa bersalah.
"Sabar ya, Lang. Aku pun merasa bersalah sama Daddy."
Ayana menarik nafas panjang, berusaha untuk mencari jalan keluar dari permasalahan mereka.
"Elang, sebaiknya kita tinggal di rumah orang tua aku, bagaimana?"
Elang diam tak menjawab. Dia tengah menimbang keputusan menumpang tinggal di rumah orang tua Ayana.
Ingin rasanya Elang menggelengkan kepala tidak setuju dengan usulan Ayana. Dia malu jika harus datang ke rumah mertua dan berniat menumpang. Apalagi mereka tidak membawa apapun selain koper yang berisi pakaian.
"Untuk sementara waktu saja kok, Lang. Selagi kita mencari tempat tinggal baru dan juga pekerjaan," bujuk Ayana ketika melihat keraguan di wajah Elang.
Ayana menghela nafas. "Benar juga ya?"
Membayangkan kedua orang tuanya, Ayana menjadi teringat akan pesta ulang tahun yang sudah disiapkan oleh Bram. Rencananya Ayana ingin mengundang orang tuanya dan mengatakan siapa Elang sebenarnya.
Namun, rencana itu gagal hanya karena kesalahan mereka sendiri.
"Padahal Daddy itu mau kasih kamu pesta kejutan untuk ulang tahunmu nanti lho," tutur Ayana dengan wajah penuh sesal.
Elang melirik Ayana sekilas. Raut muka Elang pun semakin menyesal. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat karena marah pada dirinya sendiri.
Tepat ketika mereka duduk termenung, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka. Si pengemudi mobil itu menyalakan klakson yang membuat Ayana dan Elang terperanjat kaget.
Lalu kaca jendela turun menampakan wajah Farel yang menyembul dari dalam mobil.
"Bu Aya, Elang, ngapain kalian di pinggir jalan?"
"Farel?" Ayana dan Elang tersentak.
Namun, ada seberkas senyuman di wajah Ayana dan Elang. Mereka pun bisa bernafas lega bisa bertemu dengan Farel.
__ADS_1
"Kita lagi nyari tempat tinggal baru, Rel. Kamu tahu nggak, kontrakan yang murah di mana?" tanya Elang yang bangkit berdiri dan menghampiri Farel.
"Oh, kalau urusan tempat tinggal sih kalian nggak perlu cari. Tinggal aja di rumahku," ucap Farel tersenyum.
Sejenak Elang ragu. Dia melempar pandangan pada Ayana untuk meminta persetujuan.
Elang melihat Ayana yang menggelengkan kepala tanda bahwa Ayana kurang setuju jika harus menumpang tinggal di rumah Farel.
"Hmm, nggak usah deh, Rel. Kita nggak enak," ucap Ayana.
"Kalian tenang saja. Lantai dua di rumahku memang dijadikan tempat kos-kosan. Tapi khusus untuk kalian, aku bakal bantu ngomong ke Papa supaya kalian bayar setengah dari harga sewa. Bagaimana?"
Elang dan Ayana saling berpandangan, bibir mereka sama-sama merekahkan senyum lebar dan kemudian kembali menatap Farel.
"Kita mau," kata Ayana dan Elang kompak.
*
*
*
Elang langsung merebahkan tubuhnya di kasur busa yang tergeletak diatas kasur. Tidak ada ranjang di kamar berukuran empat kali lima meter itu. Hanya ada satu kasur busa yang muat untuk satu orang dewasa dan satu lemari kecil.
Tak tahan menahan lelah, Ayana pun ikut berbaring di atas kasur. Dikarenakan kasur itu hanya muat untuk satu orang dewasa, membuat Ayana dan Elang berbaring dengan saling memeluk.
Tangan Elang menyibak rambut yang menghalangi pandangan mata Ayana. Ditatapnya dengan lekat wajah sang istri yang kelelahan membuat hati Elang bergetar.
Mendadak rasa bersalah pada sang ayah menyergap masuk ke dalam hati Elang. Dia termenung dengan tangan yang terus bergerak mengelus rambut Ayana.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Ayana yang setengah mengantuk tapi masih bisa melihat jelas raut wajah Elang.
"Sekarang aku sadar, aku harus berubah untuk lebih dewasa mulai detik ini juga."
Ayana menghela nafas. "Bagus deh kalau kamu sadar. Dan perlu diingat, orang dewasa itu sudah nggak boleh nyusu lagi. Oke?"
Bola mata Elang mendelik seketika. Lalu dia pun melempar pandangan penuh protes pada Ayana.
"Jadi dewasanya besok lagi aja deh."
Elang menyingkap baju Ayana, menjatuhkan kepala pada salah satu puncak bukit kembar dan menyesapnya seperti bayi kehausan.
__ADS_1