Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 20 : Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

Pagi hari Pukul 08.00 Wib.


Diana yang berjaga malam di rumah sakit terbangun dan melihat Neneknya belum sadarkan diri. Diana diingatkan dengan biaya yang harus ia tanggung untuk kesembuhan Neneknya.


Setelah mencuci muka. Diana memutuskan untuk mendatangi ruangan dokter yang kebetulan sudah datang.


Tok... Tok... Tok...


"Iya. Silakan masuk..." Titah Dokter dari dalam


Diana membuka pintunya dan masuk.


"Oh Diana. Silakan duduk... Apa yang ingin kau sampaikan pada Saya?" Tanya Dokter


"Dokter, apa rumah sakit tidak bisa memberiku sedikit keringanan?" Tanya Diana mengungkapkan keperluannya


Dokter menghela napasnya lagi.


"Maaf Diana, kali ini saya tidak bisa membantu mu, maafkan Saya. Saya tidak memiliki wewenang apapun untuk menentang peraturan rumah sakit."


Diana mengerti. Dokter sudah banyak membantunya, bahkan ia beberapa kali terkena teguran. Jika ia membantu Diana lagi maka kemungkinan saja pekerjaannya yang akan di pertaruhkan.


Diana menatap Dokter dengan senyum pedih. Dokter menyadarinya tapi ia tak bisa melakukan apa-apa untuk gadis itu.


"Baiklah Dokter, tidak apa-apa. Saya pasti bisa mendapatkan uang itu, Saya titip Nenek. Saya akan segera kembali setelah mendapatkan uangnya." Diana berdiri dari kursinya berniat untuk pergi


"Runding kan saja masalah ini dengan Ayah mu. Dia pasti memiliki uang sebesar itu untuk membiayai pengobatan Nenek mu. Ayah mu pasti akan membantunya." Saran Dokter


Diana terhenti. Benarkah? Ayah yang sudah buta dengan harta akan membantu membayar pengobatan Neneknya? Diana rasa itu hanya khayalan.


"Jangan khawatir, Dokter. Saya akan segera membawa uang itu." Kata Diana mengangguk mengerti, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa kekecewaan dan kesedihannya.


Diana duduk di salah satu kursi yang ada di lobi rumah sakit, ia membuka dompetnya, menumpahkan isinya yang tak seberapa ke atas tangannya.


Hanya ada 3 lembar 100 ribu dan beberapa uang koin sehingga jika di total semuanya ada 305.000 Rupiah. Diana memegang perutnya yang terasa longgar, ia belum makan sejak kemarin.


Diana menghela napasnya kasar, ia menunduk dengan tangan menopang kepalanya yang serasa ingin pecah. Pada siapa ia harus meminjam uang? Tak mungkin ia meminjam uang pada Ayahnya, ia yakin ibu tirinya yang galak tidak akan melarang Ayahnya untuk memberikan uang padanya. Diana pasti akan dihina habis-habisan.


Diana memijit keningnya yang terasa berat, tiba-tiba Diana menegakkan kepalanya saat ia mengingat satu nama seseorang.


la menekan beberapa huruf menampilkan sebuah nama yang sudah sangat lama Diana hubungi.


"Apa nomornya masih aktif? Masalahnya dia teman baikku saat di SMA. Dan waktu sudah berjalan sangat lama tidak mempertemukan kami berdua." Ujar Diana menimbang


Diana meramalkan berjuta-juta mantra berharap nomor wanita itu masih aktif, sampai akhirnya ia mendengar nada sambung membuat ia sedikit bernapas lega.


Dalam telepon~


"Diana?" Tanya wanita di dalam telepon sana dengan nada bertanya yang artinya masih menyimpan nomor Diana.


"Iya Tarisa. Ini aku Diana..."


Tarisa adalah nama teman Diana saat SMA.

__ADS_1


"Ya ampun sudah lama kau tidak menghubungi ku. Kemana saja kau? Bagaimana kabarmu?"


Diana tersenyum tipis, wanita itu masih tetap sama sebaik itu padanya.


"Maaf Tarisa, Aku sangat sibuk. Kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"


Terdengar wanita di dalam telepon sana mengucapkan syukur.


"Aku juga baik Diana. Ada apa kau menghubungi ku? Tidak biasanya."


Wajah Diana sedikit berubah saat wanita itu menanyakan niatnya. Diana menceritakan semua yang ia alami, tentang Neneknya yang masuk rumah sakit. Dan ia yang membutuhkan uang untuk operasi Neneknya.


"Jadi berapa uang yang kau butuhkan?" Tanya Tarisa dalam telepon


Diana sedikit berpikir.


"Aku ingin meminjam sebesar 500 juta untuk jaminannya saja dahulu sampai pihak rumah sakit mendapatkan pendonor yang cocok untuk Nenek." Jawab Diana ragu-ragu


"Maaf Diana, Jika sebanyak itu aku tidak bisa meminjamkan mu, bukan karena aku tidak ingin tapi memang aku juga tidak memiliki uang sebanyak itu. Tapi sepertinya aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan yang membuat mu bisa mendapatkan uang sebanyak itu atau bahkan lebih dalam sehari."


Tubuh Diana yang tadinya merosot langsung menegak, matanya berbinar, ia mempunyai sedikit harapan.


"Benarkah Tarisa? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Diana


"Datanglah ke apartemen ku pukul 10 siang. Aku akan mengirimkan lokasinya nanti. Aku tunggu di lobi, dan akan menjelaskan pekerjaannya padamu."


"Baiklah. Aku akan datang..." Jawab Diana


Tarisa sendiri sudah mengirimkan lokasi apartemennya melalui pesan. Diana pikir diperjalanan saja sudah membutuhkan waktu yang sangat lama, maka dari itu ia bergegas menuju apartemen Tarisa saat itu juga.


Tring...


Diana membaca pesan masuk dari Tarisa di sela perjalanannya.


'Tidak perlu memakai pakaian formal Diana, pakailah baju santai saja, pesanlah taksi, aku yang akan membayar biayanya nanti.'


Diana tersenyum senang, ia bersyukur memiliki teman sepengertian Tarisa.


Tak berselang lama, Diana keluar dari taksi yang ia tumpangi. Di sana Tarisa sudah menunggunya di depan gedung apartemen di mana mereka berjanjian.


"Apa kabar Diana, kau semakin cantik." Sambut Tarisa memeluk erat temannya yang sudah lama tidak bertemu


Diana tersenyum tipis menanggapi perkataan Tarisa.


Baru awal kembali bertemu setelah sekian lama membuat Diana menatap Tarisa pangling. Gadis itu semakin seksi walaupun hanya terbalut t-shirt crop top dengan hot pants. Tapi Diana bahkan semua orang bisa melihat seperti apa bentuk tubuh di balik balutan kain itu, Diana tahu jika Tarisa memang sudah berpenampilan seksi sedari dulu bahkan ia salah satu primadona di sekolahnya dulu karena ia memiliki wajah yang cantik serta proporsi tubuh yang ideal.


"Ayo!" Tarisa memberi aba-aba Diana untuk mengikutinya memasuki gedung itu


Tarisa berjalan mendahului Diana, ia berjalan tanpa ragu melewati lorong perlorong setiap gedung apartemen.


Sedangkan Diana menatap sekelilingnya, seolah menerka tempat apa ini.


"Apa ini benar-benar apartemen??" Gumam Diana menerka

__ADS_1


Mereka memasuki lift lalu menuju ke lantai 5. Mereka berjalan beberapa langkah sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih bersih. Tarisa membuka knop pintu lalu memasukinya, ia memerintahkan Diana untuk masuk juga karena Diana terlihat ragu dan hanya berdiam di depan pintu.


"Duduklah!" Titah Tarisa


Diana duduk dan menatap sekelilingnya. Entah tempat apa ini? Apa ini hotel atau apartemen dan ruangan ini adalah kamar Tarisa? Tempat Tarisa tinggal?


Kini mereka berada di sebuah ruangan yang malah seperti penthouse karena ada sebuah ranjang dengan king size, sebuah lemari, beberapa sofa serta meja dan sepertinya juga ada dapurnya.


"Kenapa kau meminjam uang sebanyak itu. Bukankah Ayah mu sangat kaya. Dia pasti bisa membayar biaya rumah sakit Nenek mu." Bicara Tarisa


"Aku tidak ingin melibatkan dia lagi dalam hidup ku..." Jawab Diana tidak suka


"Hmm... Baiklah. Aku tidak ingin ikut campur mengenai masalah dirimu dengan Ayah mu." Kata Tarisa


Lalu, berkata lagi


"Mungkin kau bingung saat ini sedang di mana, iyakan Diana?"


Diana mengangguk tapi Tarisa tidak bisa melihatnya karena ia sedang berdiri memunggungi Diana sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


"Ini adalah ruanganku, tempatku tinggal, dan gedung ini adalah tempatku bekerja."


Diana mengangguk mengerti, tapi ia masih tidak paham apa sebenernya pekerjaan temannya ini, ia kira ini adalah hotel karena ia melihat ada banyak ruangan berpintu putih sama seperti kamar Tarisa yang ia asumsikan itupun juga kamar. Diana pun teringat saat ia sampai di apartemen yang Tarisa bicarakan, begitu tampak sepi dan jauh dari tempat keramaian.


Beberapa saat Tarisa menghampiri Diana dengan membawa dua kaleng cola, ia memberikan satu untuk Diana dan satu untuknya sendiri.


"Minumlah dulu Diana."


Diana mengangguk lalu meneguk beberapa teguk cola miliknya.


"Baiklah aku lanjutkan, Jadi hotel ini memiliki sebuah bar di lantai bawah tanah, bar itu buka jika malam, dan ya... seperti yang kau tahu jika hampir di semua bar pasti ada wanita pelacur yang menjual diri mereka demi mendapatkan uang."


Diana menatap Tarisa masih dengan pandangan bingung. Tarisa yang paham kemudian ia tertawa membuat Diana semakin bingung.


"Intinya aku kerja di bar itu sebagai salah satu wanita pelacur yang aku sebut tadi."


Diana sedikit melongo karena ia terkejut, ia tak menyangka jika Tarisa bekerja seperti itu. Bukannya tersinggung atau apa, Tarisa malah tertawa melihat respon Diana yang menurutnya lucu.


"Kau pasti heran, benarkan?" Tanya Tarisa


Diana mengangguk sebagai jawaban. Tarisa tak salah karena Diana memang heran.


"Seperti yang kau tahu, aku memang sudah sering menggonta-ganti pasangan sejak kita masih sekolah kan?"


Diana selalu mengangguk sebagai jawaban. Mendengar penuturan Tarisa membuatnya bernostalgia ke masa SMA nya. Tarisa memang terkenal pemain dari dulu, hampir satu sekolah atau memang satu kelas yang terdiri dari beberapa laki-laki pernah menjadi pacarnya. Tidak ada dari mereka yang bisa berpacaran dengan Tarisa melebihi 3 minggu.


"Karena itu aku di sini, aku akan menceritakannya padamu lain waktu, karena saat ini bukan waktunya menceritakan tentang aku, aku akan menjelaskan pekerjaan yang aku tawarkan."


Lalu, Berkata lagi


"Jadi bar itu setiap tahunnya mengadakan lelang, di mana biasanya yang di lelang adalah gadis perawan. Apa kau masih perawan?" Tanya Tarisa terlalu vulgar


Diana mengejapkan matanya beberapa kali, pertanyaan macam apa itu?!

__ADS_1


__ADS_2