
Selepas selesai mandi dan memakai pakaian kaos berwarna putih dengan celana panjang warna hitam dan rambutnya yang masih basah Damian segera menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.
Damian berhasil masuk ke dalam kamarnya itu dengan lampu yang sudah menyala dan kembali mengunci pintu. Ia pun langsung dihadapkan dengan Diana yang sudah ada dihadapannya. Sepertinya ia telah berusaha membuka pintu untuk keluar dan menyambut kepulangan suaminya tadi tapi sayangnya pintu kamar mendadak terkunci dan tidak bisa dibuka.
"Tuan, maksudku Damian, Kau sudah pulang, ya. Kau juga sudah mandi. Maaf sekali kau tidak bisa masuk ke kamar sehingga mandi di kamar lain karena tadi kamarnya terkunci dan aku tidak menemukan kuncinya." Ucap Diana menjelaskan.
Damian tidak membalas pernyataan Diana. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri dan tatapannya yang mengarah penuh tanda tanya sampai mengerutkan dahinya.
Ada hal yang aneh tidak berjalan seperti rencana dan ekspektasi yang ia bayangkan. Damian pikir seharusnya saat ia masuk, keadaan kamar gelap dan lampunya dimatikan, ia juga seharusnya melihat Diana tengah memakai baju lingerie yang seksi itu. Ia masih tertegun dan menatap Diana dari bawah hingga atas seolah tak percaya jika ia tengah memakai baju DRESS yang tertanggal di badannya!
"Diana, Apa kau tidak memakai pakaian yang ku titipkan pada Bu Isma tadi? Bingkisan itu sudah sampai ke tangan mu, kan?" Pekik Damian bertanya.
Damian mempertanyakan keberadaan di mana Lingerie itu!?
"Iya sudah. Dan aku memang sudah memakainya." Jawab Diana membuat Damian bingung, sudah jelas ia memakai dress sehari-hari dan tidak ada tanda-tanda atau celah sedikitpun yang memperlihatkan pakaian yang dibeli sore tadi sudah ia pakai.
"Sudah bagaimana? Aku saja melihat dengan mata telanjang ku kau memakai pakaian biasa. Di mana pakaian yang ku berikan!?"
"Aku berkata benar memang sudah mengenakkan pakaian yang kau berikan itu. Kau sendiri aneh kenapa begitu berani membeli pakaian wanita itu untukku. Pasti di mall tadi kau dijadikan tontonan." Masam Diana ada rasa perasaan aneh yang menariknya cemburu jika suaminya kini selalu menjadi pusat perhatian.
"Bukan aku yang membelinya, tapi Asisten Joo. Ia memperlihatkan beberapa gambar padaku dan aku pilih." Balas Damian.
"Ya sama saja kau yang membelinya." Cerca Diana.
"Jadi, di mana pakaiannya sekarang?" Tanya Damian bersikeras memastikan Lingerie itu.
"Berapa kali aku harus menjawab. Aku sudah memakainya dan kenapa kau begitu ingin tahu. Itu hanya bra dan ****** *****, bukan. Kau membelikan pakaian dalam baru untuk ku dan tentu saja aku memakainya di dalam." Pungkas Diana dengan kesal menjawab perdebatan itu dengan nada sedang terdengar sedikit marah.
Damian terkejut. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah kekonyolan istrinya itu. Darimana datang hukumnya Lingerie di pakai dengan tambahan dress lagi. Apakah mungkin sekarang bumi pun berbentuk kubus?
"Jadi, kau tidak tahu pakaian itu dan kau memakainya di dalam?!" Pekik Damian penuh penekanan.
"Iya. Bukankah memang hukum alamnya begitu. Mana mungkin aku telanjang badan hanya menggunakan dua kain itu. Tapi memang ada satu kain sepertinya untuk penutup tapi tipis dan seksi, aku tidak bisa berpikir itu adalah baju." Jawab Diana dengan wajah polosnya.
"Kau benar-benar tidak mengetahui pakaian itu, Diana?" Tanya Damian lagi dengan ekspresi wajah yang sedikit menahan tawa.
__ADS_1
"Benar-benar tidak mengerti yang kau maksud." Jawab Diana demikian.
"Itu adalah Lingerie! Seorang wanita yang sudah menikah dan menjadi istri orang biasanya selalu memakai pakaian itu untuk ditunjukkan pada suaminya." Ungkap Damian menjelaskan.
"Apaa?? Lingerie? Apa itu nama brand pakaiannya?" Ucap Diana lagi semakin membuat jengkel.
"Buukaan!!..." Bentak Damian yang cukup kesal sendiri menghadapi kepolosan istrinya, namun ia berusaha untuk bersabar setelah sedikit frustasi mengusap wajahnya kasar sembari berkacak pinggang.
Lalu, kembali berkata dengan lemah lembut...
"Begini..." Damian sedikit ingin menjelaskan tapi tidak jadi karena mempertahankan sesuatu. "Tidak, lupakan!" Ujarnya lagi.
Damian berjalan semakin dekat menghampiri istrinya. Dan Diana terlihat berjalan mundur dengan debaran jantung yang menggebu-gebu melihat Damian yang berjalan mendekat dengan tatapan seolah ingin memangsanya itu. Jarak mereka sangat dekat dan Damian mendekatkan wajahnya. Diana membeku, ia pikir Damian akan mencium bibirnya maka dari itu Diana menutup mata. Tapi ternyata hanya terdengar suara di dekat Diana karena Damian sedang berbisik di telinganya mengatakan sesuatu dan sontak tercekat langsung membuka mata.
"Kau memakainya di dalam, bukan. Maka tunjukkan padaku..." Menggoda Damian dengan berbisik.
PLAAAKK...
Suara ringisan terdengar setelahnya. Diana refleks menampar Damian cukup besar dan terdengar renyah itu.
"Ma...maaf, Aku tidak sengaja refleks menamparmu saat kau memintaku untuk menunjukkannya. Tunjukkan bagaimana? Itu artinya aku harus melepas baju dan memperlihatkan pakaian dalam ku dihadapan mu, begitu?" Ucap Diana bergetar dan merasa sangat bersalah, ia mencoba mendekati suaminya yang sedang meringis itu.
Damian belum bisa menghilangkan sakit di pipinya itu atas tamparan keras yang diberikan Diana. Ia cukup terkejut merasakan tamparan dari istrinya itu ternyata kasar sekali.
Di sisi lain...
Bu Isma, Emma dan beberapa pelayan junior lain sedang tertawa-tawa kecil kesenangan berada di luar kamar Tuannya. Entah apa yang mereka lakukan dengan mendekatkan telinga mereka di pintu kamar Damian berdempetan dan berebutan tempat mendengar suara dari dalam.
"Kya! Pertempuran Tuan sepertinya sudah di mulai. Ringisannya terdengar keras sekali sampai keluar." Provokasi Emma yang kegirangan.
"Ini lebih menarik dibandingkan film nya!" Timpal pelayan di samping Emma.
"Ini adalah dosa. Seharusnya kita tidak melakukan ini. Jika Tuan Damian sampai melihat di cctv saat kejadian malam ini, dia pasti bersedia memenggal kepala kita." Ucap pelayan dua.
"Memangnya ini zaman kerajaan siapapun yang berbuat kesalahan kepalanya harus dipenggal." Sela pelayan junior satu.
__ADS_1
"Apakah telingaku masih pantas mendengar suara ini di masa tuaku?" Ucap Bu Isma sebagai yang lebih tua dan mendukung gerakan kelompok penguping ini.
"Ayo bergiliran, aku juga ingin mendengarnya." Ucap pelayan junior lain yang berdesakan ingin sekali menguping dan tidak ada yang mengalah hingga terjadi keributan dorong mendorong di luar.
Kembali di dalam kamar Damian...
Perdebatan mereka belum usai yang dikira sedang melakukan hubungan suami istri telah membuat kesalahpahaman.
"Iya. Karena kau memakainya di dalam, Kan. Maka biarkan aku melihatnya..." Bicara Damian yang keras kepala dan dia kekeh tidak ingin melakukannya.
"Tidak. Mana mungkin aku melakukan hal itu dihadapan mu." Jawab Diana lagi terus berdebat.
"Memangnya apa masalahnya? Aku suami mu yang sah dan sudah bebas ingin melakukan apapun sekalipun melihat aurat istriku sendiri." Gertak Damian bukan marah.
"Kau mesum! Dan itu dosa." Umpat Diana. Ia kehilangan kata-kata untuk mempertahankan mosinya.
Damian menarik napas dalam-dalam untuk mengembalikan kesabarannya dan berusaha bersikap tenang mungkin agar tidak terpancing emosi.
"Jika kau mengetahui sebuah dosa. Apakah dengan melanggar suami mu itu bukan bagian dari dosa? Apakah salah sekarang kita berhak melakukan apapun sebagai suami istri?"
"Katakan saja sebenernya apa niat mu?!" Ujar Diana.
"Diana, Aku tahu kemarin kita baru saja menikah dan ini adalah hari pertama mu sebagai istriku. Tak banyak pria di usianya yang ingin menginjak kepala tiga sudah memikirkan seorang anak. Aku juga sudah menginginkan seorang anak sejak lama, dan impianku itu hanya bisa terwujud dari pasangan ku sendiri. Itu hanya kau sebagai istriku, apa perlu aku memintanya dari wanita lain? Tidak mungkin, kan. Dari siapa lagi jika bukan darimu." Ungkap Damian memperjelas.
"Aku belum terpikirkan ke arah sana." Jawab Diana menunduk dan mulai mengerti jika Damian menuntut seorang anak.
"Apa karena di hatimu belum tumbuh rasa cinta padaku? Kau masih dalam keterpaksaan menikah denganku? Aku pikir dengan memiliki seorang anak itu akan membuat hubungan kita semakin lebih dekat, karena anak adalah buah hasil dari cinta kita."
"Maafkan aku... Tapi aku belum siap melakukannya denganmu sekarang." Jawab Diana menolak untuk berhubungan.
"Jika bukan denganku, apakah kau akan melakukannya bersama pria lain tanpa penolakan?" Lontar Damian cukup menyayat hati. Pantaskah ia mengatakan hal itu atas kekecewaannya?
Damian pun berjalan mundur menjauh dari Diana dengan wajah kekecewaan.
"Baiklah, aku mengerti kau memang belum siap dan aku perlu banyak meyakinkan mu lagi agar kau bisa mencintai ku. Istirahatlah! Maaf atas perkataan ku tadi." Kata Damian terdengar bergetar dan setelahnya ia pergi begitu saja ke arah pintu yang dikunci dan membukanya.
__ADS_1