Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 28 : Wangi Parfum Yang Sama


__ADS_3

Sore hari...


Di sisi lain, Damian berada di mobil, duduk di jok belakang dan dia sedang melamun diantarkan oleh Asisten Joo mengendarai mobilnya menuju hotel miliknya, ia tidak ingin pulang ke rumah. Duduk menyandarkan diri ke jok belakang, menopangkan sikut di jendela mobil dan menggigit dua jari, menatap jalan dengan tatapan kosong.


Asisten Joo yang sesekali selalu melihat Damian dari kaca spion depan sangat khawatir dengan keadaan atasannya dan memberanikan diri untuk bertanya memecah keheningan perjalanan mobil itu.


"Tuan, Apa Tuan Sakit? Tuan terlihat lelah hari ini. Jika perlu akan saya antarkan ke rumah sakit." Ujar Asisten Joo bertanya


Telinga Damian masih bisa menangkap sumber suara yang muncul. Sehingga saat Asisten Joo bertanya, ia tersadar dari lamunannya dan menjawab dengan tidak bergairah.


"Tidak. Antarkan saja aku pulang!" Titah Damian dingin dan kembali melamun


"Apakah Tuan sedang memiliki banyak masalah? Dari tadi Tuan hanya berdiam diri sampai membuat Saya khawatir mengenai keadaan anda saat ini."


"Hmm..." Jawab Damian hanya mengerang sambil terlihat memijat keningnya


Asisten Joo sampai kebingungan harus bertanya apalagi. Ia berpikir Damian memang tidak ingin diganggu. Ia sendiri bahkan ingin terus mengajak Damian berbincang namun takut akan salah berucap. Di sisi lain, Asisten Joo ingin agar Damian tidak terlarut dalam lamunannya.


"Oh iya Tuan, Saya lupa memberitahukan Anda. Sejak kemarin Tuan Muda Marvin sudah berada di Indonesia. Beliau sudah pulang dari Amerika."


"Apa peduliku?! Apakah ketika dia pulang aku harus memberikan karangan bunga untuknya? Atau aku harus membayar tiket kepulangannya? Joo, fokus saja menyetir dengan cepat. Biarkan aku beristirahat untuk tidak melayani pembicaraan mu." Cerca Damian kesal


Bulu kuduk Asisten Joo langsung berdiri merinding mendengar respon Damian yang marah padanya.


"Agh... Baik Tuan. Maafkan Saya..." Asisten Joo memutuskan untuk terlarut dalam keheningan saja. Sejujurnya ia sangat trauma apabila harus mencairkan suasana dengan Tuannya.


Sesaat setelah ia sampai, pegawai hotel yang bertugas di resepsionis menyambut pemilik hotel itu, membuat Damian hanya fokus saja berjalan dengan gagah dan langkahnya besar tergesa-gesa tanpa ingin melirik ke arah manapun.


Asisten Joo sendiri sampai tertatih-tatih untuk menyeimbangi dan mengejar langkah Tuannya.


Sesampainya di kamarnya, Damian langsung tertuju pada lemari pakaian miliknya dan mengobrak-abrik isi di dalamnya mencari sesuatu.

__ADS_1


Asisten Joo menyaksikan hal itu di depan matanya langsung. Ia sangat kebingungan apa yang sedang dilakukan Tuannya. Baru saja datang dia sudah memberantakkan isi lemari.


Damian akhirnya menemukan apa yang dia cari tersimpan di lemari dengan tersembunyi.


Sebuah amplop berwarna coklat yang sedang ia pegang ditangannya.


Asisten Joo menyaksikan Damian membuang amplop itu ke tempat sampah tanpa membuka isinya terlebih dahulu bahkan merobek-robeknya menjadi robekan kecil. Mungkin itu hanyalah sejenis surat cinta yang pada akhirnya wanita itu meminta Damian untuk meninggalkannya dengan alasan ingin mengejar karier.


Damian langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya, tapi entah kenapa ia tiba-tiba sosok wanita yang baru saja kemarin ditemuinya secara diam-diam melihat bagaimana dia seperti kesusahan saat menyebrang, Siapa lagi jika tidak bukan Diana!


Damian seketika menarik wajahnya yang terbenam di atas kasur dengan wajah heran, ia mencium kasurnya di beberapa bagian memastikan jika spreinya sudah di ganti.


"Aneh, padahal spreinya sudah di ganti. Kenapa aku merasa penciuman ku menghirup aroma tubuh wanita itu? Apakah hanya penciuman ku saja yang salah, atau mungkin pegawai mengganti deterjen saat mencucinya? Sepertinya hidung ku sudah bermasalah." Marvin kembali membenamkan kepalanya kali ini dengan mata tertutup, tapi entah kenapa tiba-tiba di kepalanya terputar memory di mana wajah cantik dan polos Diana mengganggu pikirannya.


"Joo, Panggilkan resepsionis kemari!" Titah Damian bangkit seketika dari tidurannya


"Baik Tuan. Akan Saya Panggilkan." Pamit Asisten Joo setelahnya. Setelah awalnya ia terhenyak saat Damian menyuruhnya secara tiba-tiba.


Kedatangan Resepsionis itu langsung diserang oleh sebuah interogasi dari Damian.


"Apa kau tidak merasa keanehan saat bekerja di sini?" Awalnya Damian bertanya


"Maaf, Keanehan apa ya Tuan?" Bingung resepsionis wanita itu


"Aroma sprei ranjang ku berbeda dari biasanya. Apakah kalian mengganti tempat laundry atau mengganti deterjen saat mencucinya?"


"Izin menjawab Tuan... Ini kesalahan kami karena pegawai yang seharusnya membersihkan kamar Tuan sudah dua hari ini tidak masuk bekerja karena sakit. Kami pikir Tuan tidak akan datang ke hotel, jadi kamar Tuan belum dibersihkan apapun. Hanya saja, kemarin Tuan Marvin datang dan menempati kamar Tuan untuk tidur seharian di kamar anda. Tolong maafkan kami..." Menunduk Resepsionis itu bersiap menerima konsekuensi yang akan ia hadapi jika Damian marah


"Marvin tidur di kamar ku??" Pekik Damian terlihat sudah kesal


"I-iya Tuan..." Jawab gugup resepsionis

__ADS_1


"Dan kau membiarkan dia masuk ke kamar ku. Kau tahu sendiri ini adalah kamar khusus milikku, tidak ada siapapun yang boleh menempatinya, dan kau malah memberikan akses anak itu untuk tidur di kamar ku." Gertak Damian marah


"Ma-maaf Tuan... Tuan Marvin merebut akses masuk kamar Tuan secara paksa. Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi..."


"Tck, Kalian tidak bisa diandalkan." Bentak Damian


"Lalu, dengan siapa dia datang dan tidur di kamar ku?" Tanya Damian kali ini


"Awalnya Tuan Marvin datang sendirian setelah kembali dari Amerika. Namun, saat malam beliau membawa seorang wanita cantik dan pakaian seksi bersamanya masuk ke kamar ini." Penjelasan Resepsionis


Pernyataan resepsionis semakin membuat Damian meremang. Ia langsung merusak sprei yang terpasang di ranjang king size nya dan melempar ke sembarang tempat dengan sangat kesal dan kasar.


"Kedatangannya bersama wanita jal*ngnya pasti sudah mengotori ranjang milik ku. Buang saja sprei itu dan jika perlu kau bakar langsung dan jangan pernah kau mencoba untuk mencucinya lagi. Pantas saja aku mencium aroma parfum wanita di sprei ku. Rupanya anak itu biang kerok yang semena-mena datang ke hotel ku." Geram Damian mengepalkan jemari tangannya


"Maafkan Saya Tuan... Saya benar-benar tidak bisa melarang Tuan Marvin untuk masuk ke kamar anda." Merasa bersalah resepsionis


"Dia pasti sengaja melakukan hal ini hanya karena ingin membuat ku marah. Aku sudah tahu bagaimana tabiatnya sejak dari dulu. Dia merasa tersaingi oleh ku yang sudah memiliki hotel pribadi. Tidak ayah dan anaknya, mereka menganggap hotel ku ini adalah hasil dari kerja keras mereka. Cuiihh... menjijikkan!" Hina Damian sangat meludah


"Tenangkan diri anda Tuan... Jika tidak, tekanan darah anda akan naik tinggi." Perihatin Asisten Joo


Damian tidak peduli dengan perkataan Asisten Joo.


"Kau sudah bisa pergi sekarang. Bawa sprei ini dan buang ke tempat sampah." Titah Damian


Resepsionis mengambil sprei yang sempat Damian lempar akibat kemarahannya. Dia menuruti perintah Damian untuk segera membuang sprei itu dan pergi dari sana.


Di sini terbongkar, ternyata Marvin telah menginap satu malam secara gratis di hotel milik kakaknya. Memperlakukan hotel itu layaknya milik dia pribadi.


Masalah dan akar masalahnya sudah diketahui Damian sekarang. Ia sangat murka pada Marvin yang tidak tahu dirinya menurutnya.


Namun, ia masih kebingungan dengan aroma parfum yang mengingatkannya pada Diana. Parfum itu wanginya sama persis seperti merasakan aroma tubuh Diana saat Damian berada didekatnya.

__ADS_1


Mungkinkah parfum itu adalah parfum yang murah dan bukan parfum mahal yang wanginya hanya dimiliki satu orang saja di dunia ini setiap orangnya sehingga wangi parfum Diana bisa dimiliki oleh wanita siapa saja karena parfumnya di jual pasaran? Entahlah... Damian berharap memang seperti itu.


__ADS_2