Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 44 : Menemuinya


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Setiba di ruangan kerjanya, Marvin langsung disodorkan beberapa file-file yang harus ditandatanganinya.


"Tuan, nanti pukul 11 siang, Tuan Edward dari Perusahaan Moontaeil akan datang untuk menemui Anda, apa Anda ingin menemuinya?" Tanya seorang staf yang bernama Salma, menjelaskan schedule-nya hari ini menggantikan sementara Diana sebagai sekretaris utama


Seorang wanita dengan paras yang cantik, berusia 25 tahun. Wanita ini sudah bekerja selama 3 tahun di perusahaan Marvin sejak masih dipimpin Tuan Brata dan selama itu juga, Salma menyimpan rasa cintanya pada anak bungsu keluarga sander. Walau selalu diabaikan oleh pria berkarisma itu saat ia resmi menjabat, namun itu tak membuat Salma mundur, untuk terus berusaha merebut hati seorang Marvin Sander. Wanita yang banyak menyimpan misteri dalam kepribadiannya.


"Jadi bagaimana, Tuan?" Tanya Salma kembali, dengan senyum di wajahnya.


"Baik, katakan padanya pukul 10 saja, Aku tunggu." Jawab Marvin dingin, yang menunjukkan ekspresi tak biasanya pada seorang wanita


"Baik, Tuan. Nanti akan saya sampaikan pada Tuan Edward. Oh ya Tuan, jika boleh saya bicara, apa sebaiknya tidak saya saja yang menggantikan posisi Diana sebagai sekretaris pribadi Tuan di perusahaan ini. Lagipula saya sudah bekerja cukup lama di perusahaan ini sejak Tuan Brata memimpin dan saya tidak akan mengecewakan, Tuan." Ucap Salma memberanikan diri untuk mengatakan apa yang selama ini terus dipendamnya.


Marvin menatap wajah Salma dengan kening yang sudah tercetak sebuah kerutan dalam. la sejenak berpikir sebelum akhirnya memberi sebuah jawaban yang sangat mengecewakan untuk Salma dengar.


"Maaf Salma, tapi sepertinya saya sudah memiliki keputusan yang baik untuk memutuskan Diana menjadi sekretaris ku. Saya harap kau bisa menerima keputusan ini. Oh ya, mengenai gajimu, kau tenang saja akan saya naikkan menjadi 2 kali lipat dari sebelumnya, sebagai apresiasi atas dedikasimu selama ini."


Salma tak begitu senang dengan jawaban yang terlontar dari mulut Marvin. Sebenarnya yang ia inginkan adalah menjadi sekretaris pribadi Marvin, agar dirinya bisa semakin dekat dan selalu menemani Marvin saat kunjungan atau meeting dengan perusahaan lain.


"Terima kasih, Tuan. Jika itu keputusannya. Saya pamit dulu untuk kembali bekerja." Ucap Salma menampilkan senyum tipis di wajahnya, yang terkesan sangat dipaksakan.


"Ya, silakan..." Jawab Marvin dengan tak melihat wajah stafnya itu. Ia memang tak terlalu peka dengan kekecewaan yang sebenarnya jelas terlihat di wajah stafnya itu. Marvin kini kembali melanjutkan pekerjaannya dengan mulai membaca beberapa file untuk dipelajari, sebelum ia menandatanganinya.

__ADS_1


Kali ini Marvin menunjukkan sikap yang tidak biasa, ia terlihat lebih dingin dan tenang, cara bicaranya pun seperti orang dewasa umumnya. Berbeda dengan Marvin yang di kenal selalu menggoda wanita siapapun yang ada di depannya dan bersikap manja untuk menarik lawan jenis.


Salma pun keluar dari pintu ruangan dengan raut wajah penuh kekecewaan. Wanita cantik itu bukan hanya kecewa. Namun, ia juga sangat kesal atas penolakan yang dikatakan oleh Marvin padanya.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu usahaku untuk mendapatkan cinta Tuan Marvin. Terlebih selama 3 tahun ini, aku sudah berpura-pura bekerja di perusahaan ini hanya untuk dapat dekat dengan keluarga sander. Apalagi saat ini dia sudah bekerja menggantikan ayahnya, sudah tidak ada lagi yang menggangguku untuk mendekati Tuan Marvin. Apa bagusnya dia dibandingkan dengan ku, bahkan aku lebih baik dari dia anak baru itu." Batin Salma dengan seringai penuh rencana dan kekesalan


"Tuan, Tolong jangan menerobos masuk! Tuan Marvin sedang tidak bisa diganggu." Ujar petugas keamanan yang berlalu lalang di depan Salma untuk mengejar seseorang yang tengah menuju ruangan Marvin


"Siapa yang petugas kejar. Sayangnya aku tidak sempat melihat wajahnya. Mungkin hanya klien Tuan Marvin saja." Batin Salma melihat kerusuhan itu


Brakk...


Pintu yang dibuka tidak ramah menghasilkan suara dobrakan yang mengganggu konsentrasi pekerjaan Marvin di dalamnya.


Pria itu adalah Damian...


Entah ingin apa yang dilakukan Damian datang ke perusahaan Marvin setelah ia berjanji pada diri dan dunia bahwa tidak akan pernah menginjakkan 1 cm pun bagian kakinya di Perusahaan Sander Group yang menjadi milik Marvin sekarang.


"Maaf Tuan, Saya sudah melarang Tuan Damian untuk masuk. Tapi Tuan Damian bersikeras ingin menemui anda tanpa jadwal." Ujar petugas keamanan yang mengetahui jika mereka bersaudara tiri


Marvin beranjak dari tempat duduknya dan menyeringai sambil menghampiri Damian.


"Kenapa kau perlu membuatkan jadwal mengenai pertemuan ku dengan kakak ku sendiri, oh maaf, maksudku dengan Tuan Damian sebagai CEO no satu di negara ini yang hebat. Lain kali dia bisa datang sesuka hatinya. Sekarang kau bisa pergi..." Ucap Marvin pada petugas keamanan

__ADS_1


"Baik Tuan..." Balas petugas setelahnya berpamitan pergi


Di ruangan itu tinggal terdiri dari Marvin dan Damian seorang adik kakak tiri yang sedang bersitegang.


"Hey, Angin apa yang sudah membawamu datang kemari. Kenapa tidak memberitahu ku dulu sebelumnya, mungkin aku akan memasang karpet merah untuk menyambut kedatangan mu." Ejek Marvin


"Aku ingin bertemu dengan sekretaris mu." Ujar Damian dingin. Ia tidak mempedulikan ejekan yang dilayangkan Marvin padanya.


"Oh ya, Kau juga memiliki sekretaris sendiri, bukan? Untuk apa bertemu dengan sekretaris ku jauh-jauh ke perusahaan ku? Ya, aku mengerti sekarang karena kecantikan sekretaris mu itu tidak ada apa-apanya dengan Diana. Kau tahu, sekretaris ku itu sangat lihai mencuri hati atasannya dengan kinerjanya. Kau sudah bertemu dengannya kemarin, 'kan."


"Semua sekretaris pasti akan melakukan tugasnya sebaik mungkin. Aku tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi dengan mu. Sekarang juga katakan di mana dia?" Paksa Damian


"Oh Ya Ampun, aku hampir lupa harus menyebutmu bagaimana. Aku harus memanggilmu kakak atau Tuan, ya?"


"Omong kosong. Cepat katakan di mana dia?!" Ujar Damian semakin geram


"Keperluan apa kau menemui sekretaris ku. Bukankah investaris kemarin sudah selesai dan seharusnya kau tidak menganggu sekretaris ku lagi." Kecam Marvin


"Aku datang untuk menyelesaikan masalah kemarin. Kau pikir kau lebih dulu mengenalnya dari ku, kau salah, Aku sudah mengenal sekretaris mu itu lebih dulu." Ucap Damian menyombongkan diri


Marvin pun merasa tersaingi. Lebih lagi ia tidak mengetahui bagaimana jalin perkenalan mereka.


"Di mana lagi selain di ruangannya. Kau pikir aku menyembunyikannya di kolong meja?" Ketus Marvin dan menciut dihadapan Damian saat ini

__ADS_1


"Dia lebih dulu mengenal Diana dibanding aku?! Dia datang untuk menyelesaikan masalah apa?" Batin Marvin bertanya-tanya


__ADS_2