Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 42 : First Kiss


__ADS_3

"Ini tidak mungkin. Jangan katakan kau adalah wanita yang sudah..." Ucapan Damian terhenti karena ia tidak sanggup mengucapkan apa yang ada dalam benaknya


Yakni, Diana menjadi wanita pem*uas Marvin...


"Apa saja yang kau lakukan bersama pria itu di hotel ku saat itu?" Tanya Damian mendekat dengan amarah dan mata memerah membuat Diana ketakutan


"Maksud anda apa, Tuan. Saya tidak mengerti, Hotel apa yang anda tanyakan?"


"Jangan berbohong padaku. Aku tahu wanita semacam dirimu..." Hardik Damian


"Saya benar-benar dibuat tidak mengerti oleh perkataan anda. Dari yang biasa saja sampai anda membentak saya seperti ini."


"YAA!! Karena aku menemukan kalung itu di kamar hotel milik ku. Apalagi yang kau lakukan bersama pria itu di dalam kamar hotel selain menjadi pem*uas adik tiri ku!!"


Cettaaarrr...


"Dan kau tahu, apa yang aku temukan di sprei suci ku? Aku melihat bercak merah dan itu pasti berasal dari permainan mu dengan pria itu!" Hardik Damian lagi


Cettaaarr...


Untuk kedua kalinya Diana bak tersambar petir yang sama. Tubuhnya diguncang dengan pernyataan yang begitu menyakitkan baginya. Sekeji itu kah ia sampai ada pria yang memfitnahnya sebagai wanita pem*uas padahal hal itu tidak terjadi.

__ADS_1


Damian tanpa ragu menarik tengkuk Diana lebih dekat dengannya, secara sarkas ia renggut bibir itu mencium tepat pada bibir Diana yang tipis merah merekah. Pria berkarisma itu mulai menciumi dengan nafsunya yang semakin memburu akibat api cemburu. Ciuman yang berlangsung hanya sepihak saja, karena Diana hanya membelalakkan matanya lebar sembari memberontak agar Damian menyingkir darinya.


Tentu saja Damian marah pada Diana karena ia sangka wanita yang membuatnya terkagum itu telah ternodai dan menyerahkan tubuhnya pada Marvin adik tirinya.


Sebaliknya Diana pun tentu saja marah karena Damian mengalami kesalahpahaman di sini. Diana paham apa yang di maksud Damian padanya mengenai Marvin dan di bawanya ia ke sebuah hotel saat pelelangan itu selesai. Diana ingin menjelaskan pada Damian bahwa tidak terjadi sesuatu pada dirinya dengan Marvin mengenai apa yang disangka Damian saat ini karena itu salah. Namun, semuanya sudah terlambat, ciuman pertama Diana telah direnggut oleh Damian.


Damian menjadi kesal dan memaksa mencium Dania, tapi Diana berusaha melepaskan diri dan menamparnya.


Setelah Damian terhenti dan saling menatap dengan mata memerah dari keduanya, hal itu tidak membuat Damian sadar dan terus mengulang hal yang sama mencoba mencium Diana 3 kali dan Diana menampar Damian 3 kali.


Diana begitu sangat marah pada pria yang tidak ia kenal begitu dekat terus melakukan perbuatan yang tidak masuk di akalnya. Ia terus memukul-mukul dada bidang Damian.


Pada akhirnya Damian berhasil menangkap tangan Diana dan menjatuhkannya ke sofa yang tidak jauh ada di ruangan itu.


"Ini bukan yang dilakukan adik ku padamu. Sama persis seperti yang kita lakukan tadi, Perbedaanya kau sendiri yang menyerahkan tubuh mu padanya langsung. Jika kau menyukai sentuhannya, kenapa kau memberontak saat aku yang menyentuh mu." Cerca Damian berbicara dekat telinga Diana


PLAAAKK...


Tamparan keras terdengar di seisi ruangan itu. Kepala Damian terpaksa untuk melirik ke arah kanan. Akibat amarahnya yang sudah tidak bisa ia tampung lagi sejak dari tadi tanpa mendengarkan penjelasan apapun darinya dulu dan langsung mengambil keputusan sepihak, tangan Diana sudah membuat pipi wajah tampan itu memerah pekat.


Damian menjadi tak bergeming setelah mendapatkan tamparan ke 4 kalinya yang lebih parah.

__ADS_1


Sorot mata Diana menajam dan memerah. Seluruh tubuhnya bergetar ingin sekali meluapkan kekesalan pada pria yang kurang ajar baginya lebih dari tamparan yang ia berikan tadi.


Didoronglah tubuh pria kekar yang sedang menindihnya itu hingga tersungkur. Diana bangkit dan membenahi kemeja yang tiga kancingnya terbuka.


"Kau, adalah pria yang kehilangan akal!!" Hardik Diana penuh penekanan sambil menunjuk-nunjuk Damian tidak ramah


"Baru saja aku bertemu dan mengenalimu tidak begitu dekat. Aku pikir kau adalah pria baik yang pernah aku temui di dunia ini satu-satunya, dan aku menyadari kesalahan jika aku bersalah telah menganggap mu sebagai pencuri saat kejadian pencurian mobil itu, dan baru saja aku dibuat senang dan yakin bahwa kau memang sangat baik karena sudah menemukan kalung ku. Tapi rupanya kau sama saja seperti pria pada umumnya!" Cerca Diana lagi


"Sebelum melakukan keputusan secara sepihak, apakah tidak muncul dalam benak mu untuk mendengarkan penjelasan seseorang. Tapi tidak, kau langsung begitu saja menjalankan aksi mu ketika ada wanita yang kau anggap Pela*cur ini." Imbuh Diana terus marah


"Aku, dengan adik mu itu, tidak melakukan apapun yang merugikan diriku sendiri di hotel mu itu. Aku rela mengikuti pelelangan keperawa*nan untuk membayar biaya operasi nenek ku tanpa memikirkan siapa yang akan membeli ku, untunglah adikmu yang berhasil mendapatkan ku dan dia sangat baik. Aku memberikannya perjanjian baru bukan dengan tubuhku yang seharusnya dia nikmati, melainkan dengan waktu yang aku dedikasikan untuk bekerja bersamanya seumur hidupku tanpa gaji!" Jelas Diana


Cettaaarr...


"Hanya karena terikat perjanjian dengan adik mu, aku harus menyerahkan diriku padanya. Dan sekarang kau rakus merenggut ciuman pertama ku." Imbuh Diana. Tangisnya Diana pecah.


"Lalu, Bagaimana dengan noda merah yang aku temukan di sprei?" Keras kepala Damian kuat pada pendapatnya


"Kau mengenali adik mu sendiri, bukan. Bahkan aku mengetahui kelakuannya. Jika kau sangat mengenali adik mu itu, mungkin kau akan berpikir itu berasal dari wanita lain yang selalu ia bawa setiap malamnya. Apa kau masih tak percaya padaku?" Ujar Diana dengan mata yang berkaca-kaca


Damian hanya terdiam. Dan hal itu semakin membuat Diana kesal.

__ADS_1


"Setelah kejadian hari ini aku mendapatkan dua kebenaran. Pertama, aku mengetahui jika ternyata Tuan Marvin adalah adik tirimu. Kedua, hal yang menyakitkan bahwa semua pria sama!" Ketus Diana meneteskan air matanya


__ADS_2