Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 49 : Kekhawatiran


__ADS_3

"Berikut tabel pilihan dalam menentukan properti untuk menambahkan aset dalam investasi."


"Mulai dari tahun 2018 sampai 2022, ada vendor, pengguna, konsultan dan pembeli, pendapatan kotor dan pendapatan perusahaan. Dan pendapatan perusahaan kita mengalami peningkatan yang sangat besar..."


Damian bersama Asisten Joo sedang melakukan sebuah rapat kecil bersama kliennya di sebuah restaurant.


Perhatian Damian pada saat ini terlihat gundah dan gelisah. Ia seperti memiliki banyak beban pikiran sampai tidak mendengarkan penjelasan pertemuannya dengan klien mengenai kerja sama mereka.


Sepanjang perjalanan rapat, Damian hanya melamun dan memainkan handphonenya. Dia kehilangan kefokusannya untuk berkonsentrasi dan lebih memilih memikirkan hal yang lain.


"Apa tidak ada berkas lain yang harus aku tanda tangani? Sekarang jadwal ku semakin padat. Pagi hari harus datang, dilanjutkan agenda rapat, pengerjaan lain yang menumpuk, dan sesaat menghadiri meeting dengan klien." Kata Damian, disela pembicaraan serius dan terdengar perkataan Damian sepertinya dia sedang melindur


Hal itu membuat Asisten Joo bersama kliennya kebingungan.


"Ada apa memangnya, Presdir? Bahkan, saat ini agenda kita sedang melakukan rapat."


Damian langsung tersadar Daan menatap bola mata mereka satu persatu yang sedang kebingungan itu.


"Agh.. Maaf, silakan lanjutkan!" Titah Damian sambil mengusap wajahnya kasar


"Apakah sedari tadi anda tidak memperhatikan kami?" Tanya Asisten Joo yang bertanya


"Saya pikir anda diam, karena anda sedang memperhatikan dengan fokus." Timpal Kliennya


Damian memejamkan mata karena ia sadar ini adalah kesalahannya.

__ADS_1


"Ini memang kesalahan besar, Saya mohon maaf dalam masalah ini. Kalian lanjutkan saja berdiskusi, Saya pastikan untuk mendengarkannya saat ini, dan presentasi yang tidak saya dengar tadi, nanti saya akan mencoba membacanya kembali." Kata Damian


"Baiklah. Mari lanjutkan Asisten Joo." Titah Kliennya


Diskusi rapat tersebut kembali dilanjutkan kembali. Kali ini, Damian mencoba membuka mata dan pikirannya untuk mendengarkan rapat ini hingga selesai.


"Ada apa dengan perasaanku ini? Kenapa semakin tak karuan dan gelisah seperti ini. Dan pikiran ku mengapa terus memikirkan Diana. Apakah Diana baik-baik saja saat ini, atau mungkin terjadi sesuatu padanya??" Gumam Damian yang terus berputar di otaknya kegelisahan mengenai Diana


Lagi dan lagi Damian membiarkan rapatnya, meskipun begitu kliennya dengan Asisten Joo masih berdiskusi lebih lanjut. Sedangkan dia sebagai atasan yang terhormat tidak menghargai pembicaraan orang lain mengenai rapat yang sedang berlangsung padahal itu sangat penting bagi mereka.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Sampai kapan aku akan seperti ini dan membengkalaikan pekerjaan ku. Otak ku terus saja berputar namanya dan tidak akan membuat ku konsentrasi. Aku merasakan Diana sedang dalam bahaya, untuk memastikan itu benar atau tidak, aku harus pergi sekarang juga."


"Perasaan ku tidak akan tenang sebelum memastikan Diana baik-baik saja." Kata Damian ia beranjak dari tempat duduknya


Damian bergegas pergi meninggalkan rapat tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Maaf Tuan, sepertinya Presdir Damian sedang memiliki kepentingan lain di luar sana. Mari lanjutkan saja, Saya yang akan mewakilkan Presdir dan akan saya sampaikan pada beliau nantinya." Bujuk Asisten Joo


"Ini sudah keterlaluan. Harga diriku dijatuhkan oleh Tuan Damian yang sepanjang diskusi tidak memperhatikan pembicaraan. Jika dia memiliki keperluan lain yang lebih penting dari ini, kenapa tidak mengubah jadwalnya dari awal." Umpat Klien


"Saya meminta maaf atas nama beliau, Tuan." Balas Asisten Joo sambil membungkukkan setengah badannya


Untungnya klien itu sangat baik hati walaupun sempat mengumpat dan melanjutkan rapat yang berjalan tidak lancar.


...***...

__ADS_1


Damian mengendarai mobilnya tak karuan. Banyak mobil dihadapannya ia dengan sekali pijakan gas menyalip kendaraan lain dengan kecepatan di luar batasnya.


Rencananya dia akan pergi menuju perusahaan Marvin di mana berada Diana bekerja untuk membuktikan jika Diana baik-baik saja saat ini. Kegelisahannya bermunculan tiba-tiba saat menyadari jika Marvin bukanlah pria yang baik-baik, Damian takut dia melakukan sesuatu pada Diana bahkan membuatnya berpikir aneh.


Baru kali ini Damian merasakan kegundahan yang membuat dirinya sendiri kebingungan akan pikirannya yang memusat pada Diana.


Sesampainya di perusahaan Marvin, Damian langsung berlari menuju ruangan Diana tapi di sana kosong tak ditemukan siapapun di sana. Hanya ada sebuah tas ransel yang dipastikan itu adalah milik Diana tapi di mana orangnya?


"Diana... Diana!" Teriakan Damian terdengar nyaring di ruangan Diana yang sudah sepi karena para karyawan sudah pulang di sore hari


Damian mencari ke setiap ruangan yang ada.


Sesampainya di ruang penerimaan tamu, ia juga tak menemukan siapa-siapa, Damian sempat berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya sembari menopang lututnya yang lemas, sepertinya ototnya sudah menegang di usia 28 tahun sehingga membuatnya selemah ini.


"Apa mungkin mereka pergi keluar?" Dengan kepala yang berkecamuk Damian berjalan kembali menuju lift yang tadi ia gunakan namun sebelum ia masuk dari arah kanan lift tersebut ada salah satu ruangan dengan lampu yang masih menyala membuatnya curiga, yakni ruangan kerja Marvin.


Damian memasuki ruangan itu yang ternyata pintunya tidak tertutup, ia mengedarkan pandangannya mencoba mencari siapa penghuni di sini tapi ternyata hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda penghuni meskipun pintu ruangan Marvin terbuka.


la berjalan mendekat masuk dan betapa terkejutnya ia saat melihat jika kursi dari meja itu terjatuh ke bawah, dan saat ia berjongkok ia menemukan sebuah kain yang sudah diberi zat cair yang ia asumsikan sebagai obat bius, dan yang semakin membuatnya terkejut adalah, ia menemukan sebuah dokumen dan barang-barang lainnya yang berantakan. Apakah sempat terjadi perampokan di ruangan itu? Pikir Damian.


Damian kembali berlari dengan wajah khawatir menuju lift sembari berteriak memanggil nama Diana karena di ruangan kerja Marvin tak terdapat siapapun bahkan ia melupakan satu ruangan yang ada di dalamnya, ia membuka semua ruangan di lantai 35 yang tertutup untuk memastikan jika Diana ada di ruangan lain atau tidak tapi tak sekalipun ia melihat sosok gadis itu, ia memaksa otaknya untuk berputar lebih cepat di saat genting seperti ini.


"Arrggh... Jangan, Kumohon lepaskan..." Terdengar suara teriakan seseorang dari ruangan yang baru saja Damian masuki yang tak lain berasal dari ruangan Marvin


Tapi kenapa bisa? Bukankah dia baru saja masuk ke ruangan itu dan tidak terdapat siapapun di sana.

__ADS_1


Damian menambah laju kakinya mengikuti sumber suara itu, sampai akhirnya ia mendengar suara pria yang menyahuti perkataan gadis tadi yang tidak lain adalah suara Diana, gadis yang sedang ia cari dan khawatirkan dengan suara dingin serta tajam.


Bersambung✍️


__ADS_2