
Setelah mendapatkan penerimaan ungkapan perasaan dari Diana. Sepanjang perjalanan pulang, Damian tidak hentinya terus tersenyum di dalam mobil. Hatinya benar-benar menggebu-gebu untuk selalu mengingat bagaimana ia mendapatkan jawaban ya dari Diana dan bagaimana ciuman tadi yang masih muncul dalam ingatannya.
Sesampainya di rumah, Damian langsung memarkirkan mobilnya di basecamp yang terdapat banyak mobil mewah lainnya.
Seperti biasa, saat masuk rumah keadaannya selalu sepi dan belum ada tanda-tanda pelayan menghampiri untuk menyambut dan melayani Tuannya.
Hal itu tidak dipermasalahkan. Damian malah memanfaatkan keadaan di mana ia bebas mengemukakan ekspresi kebahagiaannya.
Kondisi Damian saat ini seperti orang gila yang kehilangan akal pikiran dan dunianya sendiri. Damian terus saja menari-nari ala Michael Jackson dengan tubuh kakunya yang padahal ia tidak pernah melakukan hal semacam itu di ruang utama. Tak lupa juga ia melakukan gerakan selebrasi pemain sepak bola terkenal Christiano Ronaldo yang membuatnya melakukan gerakan berputar di udara sebelum berseru "Siiiuuu!".
Tanpa sadar, Saat sudah selesai berselebrasi dan menghentakkan kakinya di lantai, Damian sudah dikejutkan oleh ketua pelayan Bu Isma dan ketiga pelayan muda lainnya yang sudah ada di depan Damian.
KYA!
Tak disangka Damian sangat-sangat terkejut sampai seluruh tubuhnya bergetar, suara teriak kejutnya menggema, dan ia sontak terjungkal hingga jatuh ke lantai.
"E..e..ehh... Tuan, Hati-hati!" Seru keempat pelayan yang melihat tuannya tersungkur ke lantai dan sungkan menolong karena pasti akan menyentuhnya karena perbuatan itu dianggap tidak sopan pada atasan.
Damian sangat malu jadinya. Itu terlihat dari wajahnya yang langsung berubah seketika menjadi tomat merah bahkan lebih pekat.
"Tu-tuan baik-baik saja, 'kan?" Tanya Bu Isma berjongkok ragu untuk mempertanyakan keadaan Tuannya.
Damian bangkit dan berusaha memadamkan api terbakar di wajahnya. Dia sudah berdiri dan berpura-pura merapikan jasnya. Lalu, berdeham...
Ekheem...
Damian kembali ke mode menjadi sifat pria cool-nya.
"Ka-kalian tidak perlu melayani ku. Kalian semua langsung tidur saja." Titah Damian jadi terbata-bata jadinya.
Damian langsung menyelonong pergi begitu saja dengan sikap santai dan dinginnya menuju arah kamarnya. Mereka tidak tahu betapa merah akibat malunya dia saat ini.
Para Pelayan tidak ada yang berani berucap. Namun, saat begitu tahu Tuannya sudah pergi maka mereka langsung mengumpat menertawakan Damian yang baru saja melakukan tingkah konyol dan aneh yang sangat langka.
"Tuan Damian ternyata bisa menari juga." Bisik pelayan muda 1 mengumpat.
"Pppfftt... Yang lebih parah ternyata dia bisa menggerakkan tubuhnya menjadi lentur dan menari-nari." Timpal pelayan 2 sama-sama berbisik.
"Ini sungguh pemandangan langka bisa melihat Michael Jackson yang sudah meninggal lama hidup kembali. Hahaha..." Imbuh pelayan 3 dengan tertawa kecil mereka bersama.
"Hush... Kembali ke kamar kalian. Tuan sudah meminta kalian untuk tidur saja, bukan. Anggap saja kejadian ini bonus untuk kalian semua." Ujar Bu Isma menasihati.
__ADS_1
Karena ia adalah yang tertua dan terlama sudah bekerja sehingga ada beberapa peraturan untuk semuanya tidak boleh sampai menertawakan atasannya dan ia sendiri harus memberi contoh. Meskipun sejujurnya Bu Isma sangat takjub atas tingkah konyol Damian tadi yang tidak pernah ia lihat selama bekerja di sana. Apa sebenarnya yang sudah membuat Tuan Damian seperti itu? Apa tadi sebenarnya dia mabuk karena kehilangan pikirannya yang sering bertindak di luar moral?!
...***...
Pagi hari matahari bersinar terik. Waktu sudah siap untuk membuat semua orang menjalani rutinitas.
Sama halnya dengan Diana seorang wanita yang sebentar lagi akan menikah dan kebahagiaan itu dapat dirasakan oleh Nek Ira yang tidak hentinya memuja.
Siang hari Diana mendapatkan sebuah kiriman dari bawahan Damian. Dan kiriman itu adalah beberapa kartu undangan pernikahan yang di desain sangat mewah. Ia dikirimkan dari Damian yang mengatur segala pernikahannya. Dan masalah kartu undangan pun sudah jadi dalam waktu sehari padahal jumlahnya pasti banyak. Tapi itu adalah sampel yang digunakan untuk diberikan lebih awal pada orang terdekat dan akan diperbanyak untuk disebarkan pada para tamu undangan lainnya secara meluas.
Diana mendapatkan 3 box yang isinya kartu undangan beserta elemen lainnya yang dapat diberikan pada Dokter Jeremy, Tarisa sebagai temannya, dan satu lagi untuk keluarganya yakni Pak Mahendra beserta istri dan anaknya yang lain. Tapi sepertinya Diana akan memberikan 2 undangan saja pada Dokter Jeremy dan Tarisa meskipun Damian masih mengakui dan sudah mencetak nama keluarga besar Diana di sana.
Dan siang-siang ia datang ke rumah sakit tempat Dokter Jeremy praktek. Ia datang di waktu yang tepat karena Dokter keluar dari ruangannya dan sudah melihat Diana datang.
"Diana, kau datang? Siapa yang sakit? Kau dan Nenek mu baik-baik saja, 'Kan?" Tanya Dokter Jeremy ketika melihat kedatangan Diana yang sedang berjalan menghampiri.
"Maaf aku menganggu diwaktu paman bekerja. Pasti banyak sekali pasien yang menunggu paman memeriksa. Aku akan bicara lain kali saja. Nanti aku akan datang kembali saat paman ada waktu luang." Ujar Diana. Ia tidak jadi mengungkap kedatangannya yang sudah dipastikan itu keperluannya karena tidak mungkin ia jauh-jauh datang ke rumah sakit dan saat sampai ia melihat Dokter Jeremy yang sangat sibuk.
"Eh, Kenapa pulang kembali? Kau baru saja datang dan sudah ingin kembali lagi tanpa mengatakan apapun sejauh ini? Toh 5 menit lagi adalah waktu istirahat dan kau datang di waktu yang tepat." Ujar Dokter Jeremy.
"Terima Kasih paman atas kebaikan hatimu sudah memberikan kesempatan. Aku sungguh tidak akan lama." Sungkan Diana.
"Tidak masalah bagi paman kita berbincang sebentar ataupun lama. Malah paman berharap kita bisa berbincang lebih lama lagi." Kata Dokter Jeremy.
"Paman, Aku ingin memberikan ini untuk Paman." Ujar Diana. Ia meraih satu barang dari tasnya dan mengeluarkan benda berukuran sedang.
"Apa ini?" Tanya Dokter Jeremy sembari mengambil barang pemberian Diana itu.
"Buka saja! Nanti paman akan mengetahuinya." Ujar Diana.
Dokter Jeremy pun membuka box tersebut yang digunakan sebagai Kartu undangan pernikahan dan memang di dalamnya terdapat sebuah undangan.
"Kartu undangan pernikahan??" Tegun Dokter Jeremy sangat terkejut, namun ia membaca lebih dalam isi dari Kartu tersebut.
"Diana, Paman sedang tidak bermimpi 'kan? Kau akan menikah??" Serunya sangat antusias dan masih tak percaya.
Diana mengangguk.
"Sesuai dari isi undangan tersebut." Jawab Diana tanpa membanggakan diri.
__ADS_1
"Tapi, Sebentar.. Sebentar." Dokter Jeremy kembali membuka box undangan tersebut karena ada hal yang ia tinggalkan. Sekilas ia sudah membaca siapa calon mempelai Diana, namun sekarang ia memastikannya lagi.
"Damian Immanuel Sander!" Sebut Dokter Jeremy satu persatu rangkaian nama itu. Ia sangat syok dan refleks melihat ke arah Diana seolah bertanya-tanya karena masih tak percaya petinggi sebuah perusahaan pertama itu akan menikahi Diana.
Lalu, berkata kembali
"Diana, Kau akan menikah dengan Tuan Damian? CEO dari Perusahaan Goc'ta Company yang hebat itu??" Tanya Dokter Jeremy penuh penekanan dengan wajah cerianya.
"Iya Paman. Kenapa?" Tanya Diana heran.
"Tentu saja siapa yang tidak kenal dengan Tuan Damian. Dia adalah anak yang berbakat diusia muda sudah membawa perusahaannya sendiri naik drastis saat pertama kali menjabat. Paman masih ingat saat itu usianya 19 tahun dan membuat geger. Keluarga Sander sendiri adalah orang yang terpandang. Kau sangat beruntung Diana." Pungkasnya sembari memegang kedua tangan Diana.
Tersirat raut wajah yang murung dibalik wajah cantik Diana setelah Dokter Jeremy menjelaskan keunggulan calon suaminya.
"Eh, Kenapa? Tadi kau baik-baik saja, tapi sekarang wajah putri Paman jadi murung."
"Paman, setelah mendengar pengakuan dari mu dan juga pengakuan banyak orang. Aku merasa tidak yakin akan hal ini. Paman tahu? Aku ini tidak pantas menjadi istri Tuan Damian apalagi menjadi bagian keluarga Sander." Ucap Diana
"Kau minder?! Percaya dirilah Diana bahwa kau ini wanita beruntung. Tuhan sendiri yang sudah memberikan kenikmatan ini padamu. Jika Tuan Damian sendiri tidak memiliki masalah, kenapa kau yang mempermasalahkannya. Dia sudah memilih mu dari sekian banyak wanita di dunia ini dan itu artinya kau sangat berharga baginya dan ada satu hal yang membuat dia nyaman sekaligus sifatmu yang dicari dia itu tidak ada di wanita lain. Paman sendiri mengakui akan hal itu. Jadi, apa yang membuatmu sekarang selalu kurang dan tidak berharga?" Tanya Dokter Jeremy memberikan dukungan moril.
"Pernikahan sudah di depan mata. Tidak ada waktu lagi untuk membuat orang lain kecewa." Kata Diana sekarang yakin akan keputusannya.
Dokter Jeremy tersenyum karena akhirnya Diana mengerti meskipun masih banyak keraguan yang merendahkan dirinya sendiri.
"Jadi Paman, Aku harap kau akan datang ke pernikahan ku nanti. Kau adalah tamu spesial ku dan orang yang akan selalu ku tunggu kehadirannya." Titah Diana.
"Tentu saja paman akan datang. Mana mungkin tidak menghadiri pernikahan putri sahabat paman ini. Ibumu Aruni, pasti sama senangnya di sana. Akhirnya akan ada pria yang menjagakan putrinya. Paman sendiri masih belum menyangka kau akan menikah." Ujar Dokter Jeremy dengan senyum terlihat giginya.
"Dan paman, Ada satu permintaan ku lagi padamu. Aku ingin paman selain datang menjadi tamu ku, paman juga yang akan menjadi wali nikah ku. Paman tidak keberatan, 'Kan?" Mohon Diana memelas.
"Diana, Hanya ayahmu yang pantas di sini. Dia adalah ayah kandungmu yang seharusnya mengemban tanggung jawab ini saat putrinya menikah." Ujar Dokter Jeremy masih belum memberikan jawaban.
"Sulit bagiku ingin menemui Ayah. Bukan aku tak ingin menemuinya dan aku sendiri mengerti jika sebenarnya ayah masih menyayangi ku hanya saja terhimpit oleh ibu tiri ku. Aku belum siap mendapatkan cacian dari mereka dan melihat ayah harus terpaksa memarahi ku. Dan jika aku bicara pun, Ayah pasti enggan untuk datang." Ujar Diana dengan terharu. Ia sendiri hampir mengeluarkan air matanya.
Dokter Jeremy pun ikut sedih. Dia mengerti perasaan Diana saat ini.
"Baiklah, selain datang menjadi tamu, paman juga akan menjadi wali nikah mu. Di sini paman hanya mengerti perasaan mu, bukan ingin menggantikan sosok ayah mu. Karena walau bagaimanapun dia adalah ayah mu, kau harus tetap mengakui itu sejahat apapun dia sampai menyakiti mu." Ucap Dokter Jeremy setuju.
Mata Diana yang sudah berkaca-kaca pun akhirnya lolos menelusuri pipinya. Ia sangat senang pada akhirnya Dokter Jeremy menyetujui permintaannya.
"Terima Kasih, Paman."
__ADS_1
Diana sontak langsung memeluk Dokter Jeremy yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Dan Dokter Jeremy membalas pelukannya yang sudah dianggap putri sendiri.
"Berbahagialah bersamanya, Diana. Kau pantas untuk mendapatkan segalanya!" Usap tangan Dokter Jeremy lembut pada pucuk rambutnya.