
Seperti biasa Damian keluar dari perusahaannya menuju basecamp tempat mobil mewahnya diparkirkan untuk mengendarai mobil sport kesayangannya menuju restaurant tempat Asisten Joo untuk menyempatkan dirinya sarapan.
Tubuh gagahnya ia bungkus dengan baju polos hitam yang ia masukkan ke dalam celananya berwarna hitam pula yang di lengkapi oleh ikat pinggang, baju hitam polosnya ia tutupi dengan kemeja coklat yang sengaja tidak ia kancing kan untuk melengkapi style casualnya dan dasi hitam yang melekat berwarna hitam, dan long coat sekaligus sepatu hitamnya pula.
Bagaikan selebgram ia keluar dari mobilnya dan berjalan dengan gagah dengan tempo langkah cepat dan panjang seolah sedang berjalan di catwalk, dan seperti biasa kedatangan Damian selalu menarik perhatian sekitarnya, dan bukan Damian namanya jika ia tidak tahan terhadap godaan wanita-wanita yang terus menatapnya dengan mulut menganga tersebut. Damian selalu cuek dengan wajah dinginnya.
Sesampainya di restaurant, ia menuju meja di mana Asisten Joo sudah memesannya dan memberitahukannya lewat chat.
"Selamat datang, Tuan." Seperti biasa Asisten Joo selalu melakukan penyambutan yang hormat pada atasannya
Tanpa menatap Asisten Joo, Damian langsung duduk begitu saja dengan mejanya yang sudah penuh dengan makanan.
Asisten Joo pun langsung ikut duduk berhadapan langsung dengan Damian. Damian begitu terlihat menelisik menatap semua makanan yang tersaji sangat menggiurkan.
"Silakan di makan, Tuan. Saya sudah memesannya, Jadi anda tidak perlu menunggu lama." Ucap Asisten Joo
Tanpa berbasa-basi lagi, Damian langsung mengambil salah satu piring yang sudah tersaji beserta makanannya. Dan dia begitu terlihat sangat lahap menyantap makan sarapannya pagi ini walaupun sudah terlewat dari jam sarapan.
Damian bahkan sepertinya lupa akan kewibawaan yang selalu menjunjung tinggi keeleganan nya sebagai pria berkelas yang makan saja bertatakrama. Saat ini ia sedang sangat lapar bahkan seperti orang kelaparan yang tidak makan selama 1 bulan dan baru menyantap makanan lezat lagi setelah sekian lamanya. Itu terlihat dari cara makan Damian yang terburu-buru sampai membuat Asisten Joo yang melihatnya menahan tawa dibalik tangannya yang menutup mulut.
...***...
"Ayo makan, kau pasti belum makan 'kan." Diana tak menepis tangan Marvin yang menyodorkan sebuah piring berisi makanan enak
Ia tidak munafik karena perutnya memang sudah sangat lapar, kemarin ia hanya makan satu kali di malam hari dan itupun ia hanya makan makanan rumah sakit, perutnya sangat keroncongan ingin di isi, tapi apalah daya Diana harus menghemat uangnya, terlebih lagi kini ia tidak memiliki pekerjaan apapun yang mampu membayarnya karena uang itu sudah menjadi jaminan ia seumur hidup bahkan tidak berpikir bagaimana ke depannya bahwa ia tetap membutuhkan uang untuk bertopang hidup makan sehari-harinya.
Sebelum pergi ke rumah sakit, Marvin membelokkan mobilnya mengajak Diana makan di sebuah restaurant yang tidak jauh jaraknya dari rumah sakit.
Diana mulai memakan makanan yang dipesan Marvin dengan malu-malu.
__ADS_1
Marvin menatap Diana dengan tatapan lembut, tatapan yang ia perlihatkan di depan Diana tidak tertebak, tatapan hangat dengan senyuman lembut yang dirasakan Diana bahwa Marvin sedang mengawasinya. Memang benar, bukannya mulai menyantap makanannya, Marvin malah memandangi Diana yang sedang makan dengan tatapan yang tak pernah melengos dan bibirnya yang terukir senyuman sejak dari tadi.
"Tu-tuan, Kenapa tidak mulai makan?" Tanya Diana bergetar karena merasa kurang nyaman oleh Marvin yang memandanginya
"Dengan memandangi mu aku rasa sudah kenyang." Bukan Marvin namanya jika ia selalu menggoda wanita
Diana menyimpan sendok yang sempat ia pegang untuk menyuapkan makanan. Ia semakin merasa tidak nyaman setelah mendengar perkataan dari Marvin.
"Haha... Lanjutkan lanjutkan... Sepertinya kau merasa kurang nyaman dengan perkataan ku, ya." Ucap Marvin terkekeh. Dia tak lagi menatap Diana begitu lekat dan meraih sendoknya untuk menyantap makanan.
Dengan ragu-ragu setelah memastikan bahwa memang Marvin tak memandanginya lagi, Diana mulai melanjutkan makannya. Sayang apabila makanan itu tidak habis dan mubazir. Jika bukan karena merasa lapar, maka dari tadi Diana akan memutuskan untuk pergi membiarkan Marvin makan sendirian.
Dalam waktu beberapa menit ke depan setelah makan pagi mereka selesai, seorang pelayan wanita datang ke meja tempat Diana dan Marvin berapa. Ia memberikan sebuah bill tagihan menu makanan yang mereka makan di restaurant sana.
Dengan uang yang lebih Marvin membayar tagihan itu sebagai bentuk tip untuk pelayan.
"Apa ada tambahan lain yang ingin anda pesan lagi, Tuan?" Tanya pelayan senang
Diana hanya bisa terbelalak. Ia tidak habis pikir sepagi ini Marvin ingin mengkonsumsi wine. Ia harap restoran ini tidak menyediakan alkohol agar Diana bisa segera pergi ke rumah sakit.
"Agh... Jika Tuan masih ingin menghabiskan waktu di sini, Silakan saja. Tapi Saya harus segera pergi ke rumah sakit. Terima Kasih atas traktir makanannya." Ujar Diana yang sudah berdiri untuk beranjak pergi
"Kebetulan sayang sekali, Tuan. Restoran kami tidak menyediakan minuman seperti itu." Timpal sang pelayan
Diana menghembuskan napas lega. Jika alkohol itu ada, pasti sekuat apapun Diana ingin pergi, Marvin akan menahannya dan terjadi perdebatan. Diana sudah menyangka seperti itu.
"Sayang sekali padahal aku sangat menginginkannya... Tapi sepertinya kekasih ku sudah tidak sabar untuk pergi dari sini. Sayang, kenapa terburu-buru? aku pasti akan mengantar mu, ya. Tapi untunglah di restoran ini tidak menyediakannya, jika tidak kau akan merengek padaku." Ujar Marvin mengada sambil berjalan mendekati Diana dan setelah dekat ia merangkul Diana layaknya sepasang kekasih yang romantis dihadapan pelayan yang hanya bisa tersenyum-senyum menganggap bahwa mereka benar sepasang kekasih
Dari awal, Diana sudah membulatkan matanya sempurna. Kekasih? Entah apa yang dimaksud Marvin mengatakannya seperti itu dihadapan pelayan restoran. Bahkan Marvin pun menyebutnya dengan, Sayang? Deg! betapa tidak semakin berdegup kencang jantungnya bukan karena senang, melainkan sangat malu dan aneh.
__ADS_1
"Bercanda mu tidak lucu Tuan Marvin. Atas dasar apa anda berbicara seperti itu padaku. Orang lain akan berpikir jika aku benar memiliki hubungan dengan mu padahal tidak. Entah kau ingin menggoda ku, atau memang sifat mu keterlaluan mengklaim yang bukan-bukan." Gumam Diana berdebat dan tak kuasa masih tak nyaman tangan kanan itu masih merangkul bahunya.
"Baiklah, Ayo kita segera pergi dari sini. Kau terlihat seperti ingin memakan ku." Pungkas Marvin sambil terkekeh dan melihat wajah Diana dengan genit sambil mengedipkan satu matanya dan itu semakin merasa Diana tidak nyaman akan sikapnya
Marvin dan Diana pun akhirnya bisa keluar dari sana dan mengakhiri drama itu.
"Pasangan yang sangat romantis sekali. Wanita itu sangat beruntung diperlakukan manis oleh pasangannya. Aku juga ingin memiliki kekasih seperti itu. Kapan ya?" Bicara sang pelayan terkagum-kagum. Dan benar menganggap Marvin dan Diana adalah sepasang kekasih.
Sudut pandang Damian...
Seseorang sedang mengangkat teleponnya. Mengatakan bahwa ia harus segera kembali ke perusahaan.
"Aku harus segera kembali ke perusahaan. Setelah urusan mu selesai juga di sini, segeralah untuk bekerja. Atau tidak aku akan memotong gaji mu." Ancam Damian yang mendapatkan telepon itu di sela makannya yang tak tenang dihantui pekerjaan
"Tuan yakin? Apakah Tuan sudah kenyang?" Tanya Asisten Joo
"Kau tidak melihat bagaimana aku makan tadi. Berapa banyak piring lagi yang harus aku makan? Apakah sampai perut roti sobek ku berubah menjadi buncit agar kau percaya aku sudah kenyang." Kesal Damian menyerang pertanyaan Asistennya
Asisten Joo tidak gentar untuk takut pada kekesalan atasannya.
"Baik Tuan. Saya melihatnya, tapi sepertinya semua orang di sini bahkan melihat bagaimana anda makan. Jika anda tahu semua orang hampir menertawakan anda." Jawab Asisten Joo sambil tertawa dengan tercekat-cekat
Damian langsung tertegun. Ia bertanya-tanya memangnya apa yang terjadi? Apakah karena makannya yang rakus tadi. Bukankah itu tidak salah karena ia sangat lapar? Hancurlah image nya!
Tanpa mengambil pusing lagi Damian segera beranjak dari duduk dan berbalik badan. Namun saat berbalik, sorot matanya tidak sengaja melihat dua sosok yang tidak jauh dari mejanya berada. Ia melihat orang yang seolah ia kenali bahkan selalu bertemu. Apakah kliennya? sepertinya bukan.
Dua orang yang membuat Damian berhenti sejenak menelisik mereka sedang berbalik dan hendak berjalan menuju pintu keluar. Hal itu membuat Damian tidak dapat melihat wajahnya untuk mengenali mereka. Tapi ia berpikir itu adalah Marvin adik tirinya bersama seorang wanita yang tidak Damian kenal sebenarnya, tapi entah kenapa hanya melihat dari belakang Damian menganggap itu adalah Diana!
Pikiran buruk itu segera Damian tepis. Tidak mungkin Diana mengenali Marvin dan memiliki hubungan pertemanan. Damian segera mengganti pikiran itu adalah wanita mainan Marvin yang selalu mengekor di belakang.
__ADS_1
Rupanya Marvin bersama Diana berada di restoran yang sama sedari tadi untuk makan pagi mereka ditengah-tengah adanya Damian dan Asisten Joo di sana. Tapi untunglah tidak ada siapapun yang mengenali mereka berdua. Baik itu Damian ataupun Marvin yang menyadari...