
(Bagaimana? Kau menyukai desain kartu undangan kita? Berbeda dengan biasanya ketika orang lain menggunakan selembar kertas, kita mengemasnya dengan box yang terdapat elemen lain di dalamnya. Kau juga sudah membukanya, bukan?) Pesan masuk Damian pada Diana.
(Iya. Itu sangat bagus! Tapi terlalu mewah dan seharusnya itu tidak perlu.)
Ting...
(Aku hanya melakukan apa yang membuatmu terkesan pada pernikahan mu sendiri.)
Begitulah seterusnya Diana dan Damian saling membalas pesan. Tapi kali ini, Diana tidak membalas pesan pesan Damian yang hanya sekilas membacanya, lalu memasukkan kembali handphone ke dalam tasnya.
Di ruangan kerjanya, Damian sangat menunggu balasan pesan masuk dari Diana hingga senyumannya mengalihkan dunia dan sibuk sendirian. Tapi cukup lama Damian menunggu, balasan itu tidak kunjung membuat ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk.
"Kenapa dia belum membalasnya juga. Tak ku sangka dia hanya membacanya saja." Ujar Damian terus melihat handphonenya itu.
Sekali lagi Damian mengetik pesan dan mengirimkannya pada Diana.
(Hey, Kenapa kau tidak membalas lagi pesan dari calon suami mu?)
Ting...
Handphone Diana berdering. Diana yang sedang berjalan menuju arah pulang kembali harus membuka tas dan mengambil handphonenya. Lagi-lagi ia hanya melihat pesan masuk dari Damian yang membuatnya jengkel.
(Apalagi yang perlu ku katakan? Aku pikir dia terlalu berdedikasi tinggi untuk membahagiakan calon istrinya. Apa aku bisa berkata bahwa dia sangat sombong??) Balas Diana
Damian membaca pesan masuk dari Diana sangat cepat begitu tahu pesan itu masuk. Dan dia membacanya sambil tersenyum-senyum.
(Dia siapa? Sepertinya orang itu sudah membuat mu jengkel. Lain kali aku akan memberinya pelajaran.) Balas Damian dengan memberi emot☺️
Dia tahu sebenarnya Diana sedang menyindirnya. Tapi Damian memberi sedikit bumbu godaan pada calon istrinya.
Sekali lagi Diana hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Hal itu semakin membuat Damian tertantang dan geram sampai tidak henti mengirimkan pesan yang belum ia inginkan untuk usai.
(Lagi-lagi kau tidak membalas pesan ku. Aku pikir ada orang yang lebih dingin dariku, ternyata calon istriku sendiri. Sepertinya aku terlalu berlebihan hari ini dan keluar dari zona nyaman ku. Maaf menganggu waktu mu, Sayang😘 Jaga dirimu baik-baik untuk pernikahan kita nanti.)
__ADS_1
"Haha... Apa ini? Aku tidak menyangka sudah mengirimkan emot ini padanya. Damian, kau benar-benar sudah gila." Cerca Damian pada dirinya sendiri dan geli sendiri.
Di sela kesibukannya ia sedang menjalin keromantisan dengan Diana, Asisten Joo datang setelah mengetuk pintu dan masuk tanpa menunggu Damian mempersilakannya.
Tentu saja hal itu membuat Damian terkejut dan memecahkan suasana akibat kedatangan Asisten Joo yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya. Padahal Asisten Joo sendiri sudah terlanjur melihat atasannya sedang tersenyum-senyum melihat ponsel meskipun Damian sudah kembali ke mode dingin dan cuek, raut wajah datar tanpa ekspresi itu.
"Ada apa??" Tanya Damian dingin.
"Hehe... Tidak perlu menyembunyikan sesuatu lagi, Tuan. Aku sudah terlanjur melihatnya. Selamat atas pernikahan mu sebentar lagi, walau bagaimanapun ini adalah keputusan mu dan aku berada di pihak mu. Aku ikut bahagia..." Ucap Asisten Joo hanya itu yang ia katakan.
"Lalu, apa yang ingin kau katakan lagi?"
"Agh, Sepertinya hanya itu saja. Lagipula pernikahan sedang dipersiapkan dan seharusnya anda tidak terlalu banyak bekerja takut mempengaruhi kesehatan mu yang memburuk nanti." Ujar Asisten Joo
"Hanya itu saja?? Cukup omong kosong!" Ketus Damian.
"Hehe... Kedatanganku memang untuk memberi selamat." Ujar Asisten Joo setelahnya segera pergi dengan berjalan jinjit sebelum mendapatkan amukan lebih banyak dari Damian.
Damian hanya menggelengkan kepalanya tidak mengerti dan memutar bola malas.
Pesan romantis itu sudah dibaca oleh Diana. Dan diakhir ia sangat terkejut dan tidak begitu menyangka es itu sedikit mencair dan Diana mengetahui sisi gelap dari sosok seorang Damian yang tidak ditampilkan pada orang lain.
"Tak ku sangka dia akan berlebihan seperti ini." Umpat Diana sambil tersenyum-senyum sendiri membawa perasaan.
...***...
Sore hari, Damian menyelesaikan tugas perusahaannya lebih awal dan datang ke rumah Nek Ira untuk mengajak untuk melakukan fitting gaun pengantin.
"Diana, lihat siapa yang datang!" Teriak Nek Ira yang memberitahukan kedatangan Damian pada Diana.
Diana pun keluar dari kamarnya dan melihat siapa yang telah datang.
Sesuai dengan rencana yang terjadwal sebelumnya, Damian kembali untuk menjemput Diana. Setelah meminta izin kepada Nek Ira, Damian lalu membawa calon istrinya ke sebuah butik tempat akan dilakukannya fitting gaun pengantin mereka.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, Diana lebih banyak diam dan melepaskan pandangannya ke luar jendela mobil mewah yang ditumpanginya itu. Damian pun mencoba membuka percakapan dengan kembali menggoda sang calon istri.
"Diana." Panggilnya.
"Iya..." Jawab singkat Diana bagusnya melirik ke arah Damian.
"Kenapa kau sejak tadi diam saja?" Tanya Damian sambil sekilas menatap ke arah Diana.
"Tidak ada. Aku hanya menunggu mu yang memulai pembicaraan saja." Jawab Diana singkat sambil tersenyum lalu kembali menunduk.
"Setelah kita menikah nanti kau ingin memiliki anak berapa?" Tanya Damian dengan santai, namun membuat dada Diana berdesir tak karuan.
"Tuan Damian, jangan dulu membahas topik yang itu." Jawab Diana malu.
"Memangnya kenapa? Tidak ada salahnya bukan aku bertanya begitu." Balas Damian senang rencananya menggoda Diana berhasil.
"E.. eemm... Bagaimana, ya. Jika mengenai anak, aku menyerahkan segalanya pada yang maha kuasa." Jawab Diana kemudian.
"Jika aku, ingin memiliki anak perempuan yang cantik dan mirip seperti ibunya nanti." Ujar Damian sambil terus memandang ke arah Diana.
"Bukankah biasanya seseorang menginginkan anak laki-laki sebagai anak pertama mereka bahkan agar kau sendiri bisa memiliki pewaris yang melanjutkan perusahaan mu." Sahut Diana menjawab pernyataan Damian, namun tak berani membalas pandangan pria tampan yang duduk di sebelahnya itu dan sedang menyetir.
"Ya tentu saja. Itu adalah mimpi sebagian orang termasuk diriku. Nanti dia bisa menjaga adik perempuannya. Sudah lama aku ingin segera menikah dan mendapatkan seorang anak. Tidak ada lagi mimpi yang ku inginkan selain itu. Kau tidak keberatan, 'kan? Aku takut kau memiliki komitmen berbeda setelah menikah, maka dari itu lebih baik kita membicarakannya lebih awal sebelum kita menikah."
"Tentu saja tidak keberatan. Itu sudah menjadi tanggung jawab ku untuk memberikan seorang pewaris pada keluarga mu, agar aku bisa diterima lebih baik dalam keluarga mu nanti. Tetapi, kapan kau akan membawaku ke rumah orang tua mu. Apa kau sudah memberitahu mereka??" Tanya Diana demikian.
Raut wajah Damian berubah kemerahan. Ia tertegun dan tidak tahu harus bagaimana menjawab seolah ada hal yang ia sembunyikan.
"Y-ya. Tentu saja. Mereka sangat senang sekali akhirnya aku bisa menikah setelah hidup lama menyendiri." Jawab Damian kurang meyakinkan.
"Apa mereka langsung setuju dan tidak mengatakan apapun lagi?" Tanya Diana menelisik ke raut wajah Damian yang menurutnya aneh.
"Tidak ada." Sekilas Damian melirik ke arah Diana yang ternyata menatapnya penuh tatapan interogasi, "Maksudku mereka sangat menyetujui hubungan ku dengan mu tanpa melihat latar belakang mu. Semua orang mengira mereka memang jahat, tapi kau jangan keliru bahwa sebenarnya mereka baik hanya saja orang lain sering salah paham." Ujar Damian memberikan jawaban lebih untuk menenangkan Diana.
__ADS_1
"Baiklah. Setidaknya aku cukup tenang setelah mendengar jawaban darimu." Kata Diana tak lagi menatap Damian.
Berbeda dengan Damian yang masih menatap Diana, dari keningnya keluar keringat dan tubuhnya jadi panas dingin. Entah mengapa, meskipun di dalam mobil AC dinyalakan.