Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 68 : Menahan


__ADS_3

Malam terus berlalu hingga tak terasa acara resepsi pernikahan selesai sudah. Setelah acara itu selesai Damian meminta izin pamit kepada Pak Mahendra yang resmi menjadi ayah mertuanya, Nek Ira dan Dokter Jeremy untuk membawa Diana ke rumahnya.


Meskipun masih terasa lelah, namun dengan penuh semangat Damian memasuki kamarnya yang dihiasi untuk menyambut Diana dihari pernikahan yang nampak elegan dengan hiasan ala kamar ratu. Di ranjang king size beralaskan seprei berwarna putih, Damian dan Diana duduk berhadapan dan saling pandang dengan tatapan yang penuh cinta. Tangan Damian menggenggam erat jari jemari lentik Diana. Siang tadi keduanya telah resmi menikah di depan penghulu dengan disaksikan para tamu meskipun kedatangan pembuat onar yang merubah suasana kenyamanan.


Damian menyadari sepenuhnya pada makna ijab kabul yang ia ucapkan saat menghalalkan gadis cantik yang sedang duduk di depannya saat ini. Sebuah pelimpahan tanggung jawab dari sang Nenek dan Ibu Diana untuk menjaga Diana kepadanya telah resmi ia terima, dan ia harus menjaga amanah itu dengan segenap jiwa dan raganya meskipun tak ada yang memintanya menjaga Diana tapi ia tahu istrinya memang perlu di bahagiakan akibat selalu saja menangis. Diana pun menyadari setelah semua saksi menyatakan sah, maka sejak detik itu seluruh urusan hidupnya baik dunia dari saat ini hingga maut memisahkan kini menjadi tanggung jawab Damian, dan ia pun harus siap mengabdikan dirinya sebagai istri yang baik serta menjaga kehormatan suami tampannya itu.


"Diana, rasanya tak ada kata yang bisa aku ucapkan untuk mewakili rasa bahagiaku malam ini, kau sekarang telah menjadi istriku?" Ucap Damian


"Tuan, aku juga sangat bahagia." Ucap Diana malu-malu.


"Aku merasa agak kurang jika kau terus manggil pria ini yang sudah menjadi suami mu dengan ucapan “Tuan”!"


"Lalu, aku harus memanggil dengan panggilan apa jika bukan Tuan?" Tanya Diana mengangkat kepalanya.


"Panggil namaku saja. Tidak perlu sungkan. Sekarang bukan hanya seluruh tubuhku yang menjadi milikmu, tapi namaku yang sepatutnya hanya diucapkan oleh mulut mu dan apapun yang ku miliki di dunia ini sudah menjadi bagian milikmu." Jawab Damian tersenyum.


"Baiklah, mulai malam ini aku akan memanggilmu “Damian”!" Sahut Diana sambil tersenyum sipu.


"Yah..." Damian malah tidak senang.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah tadi kau memintaku untuk memanggil dengan namamu saja!" Ujar Diana merasa tertekan.


"Tadi aku hanya bercanda. Aku pikir kau akan berinisiatif untuk bersikap romantis dengan memanggil ku Sayang, Baby, Dear, atau My Honey Bunny Sweety." Ujar Damian tertawa kecil.


Diana jadi tersipu malu dan pipinya berubah menjadi merah tomat.


"Aku tidak bisa melakukannya untuk mu. Mendengarnya saja membuatku geli lebih dulu." Jawab Diana


"Benar. Tadi aku hanya berusaha menahan mengumpulkan seluruh kekuatan untuk menggoda dirimu menyebut satu persatu panggilan itu. Aku saja sangat geli mendengarnya saja, entah mengapa aku heran pada pasangan lain yang bisa menyebut panggilan itu."


"Jadi, tak masalah jika aku hanya memanggil namamu? Padahal dengan panggilan Tuan menurut ku itu lebih baik kemana-mana." Kata Diana


Diana hanya membalas senyumnya tanpa menjawab jika ditanya perihal bagaimana perasaannya kali ini pada Damian. Apakah cinta itu sudah mulai tumbuh?


"Baiklah, Damian..." Jawab Diana singkat


"Mungkin selain Damian sepertinya kau akan menyebutku dengan Pterodactyl. Kau masih ingat dengan panggilan itu, aku sampai harus mencari tahu apa artinya dan ternyata itu reptil di zaman dinosaurus."


"Kau masih mengingatnya? Padahal aku sudah hampir lupa. Tolong maafkan aku, saat itu aku benar-benar marah padamu karena kau sangat membuatku kesal." Kata Diana dengan wajah memelasnya untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Malah aku sangat menyukainya. Itu adalah julukan sayang darimu." Jawab Damian selalu tersenyum.


Lalu, berkata kembali...


"Dan kau sendiri ingin dipanggil apa?" Imbuh Damian bertanya.


"Terserah pada Tuan saja eh… maksudku terserah kau saja, Damian." Jawab Diana yang masih nampak kaku dengan panggilan baru untuk sang suami.


"Ah ... bahagianya aku mendengar panggilan itu. Rasanya aku semakin sayang padamu." Ujar Damian dengan senyum semringah.


"Panggil saja namaku seperti biasanya. Tidak perlu mengikuti jejak era digital yang segala sesuatunya perlu diungkapkan dengan panggilan khusus. Aku lebih menyukai suara mu itu saat memanggil namaku."


"Cieee, istriku ingin romantis, nih!" Goda Damian mencubit pelan hidung mancung Diana.


Wajah Diana langsung bersemu merah saat suaminya itu mulai menggodanya lagi. Membuat Damian semakin tak tahan untuk menyentuhnya, namun sekuat mungkin ia harus menahannya karena ia tahu Diana belum siap.


"Sebaiknya kita tidur. Ini sudah malam dan bukan hanya aku yang kelelahan, kau pasti juga." Ujar Damian mengajak Diana tidur tanpa melepas lebih dulu pakaian resepsi mereka dengan baju tidur karena hari ini sangat melelahkan baginya.


"Hmm..." Jawab Diana mengangguk.

__ADS_1


"Aku matikan lampunya, ya." Ucap Damian sudah berbaring dan mematikan lampu tidur. Hingga siapa yang tahu mereka sudah terlelap tidur begitu cepat, tidak ada yang tahu mereka melewati malam pengantin baru mereka tanpa adanya terjadi sesuatu.


__ADS_2