Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 35 : Kalung


__ADS_3

Malam ini Diana sedang makan malam berdua dengan Tarisa di restoran yang mengajak pertemuan tadi siang. Mereka makan di sebuah restoran korea. Dengan lihai Tarisa membolak balikkan potongan daging itu, setelah ia rasa sudah cukup matang ia mengangkat daging tersebut lalu meletakkannya di samping grill pan yang sudah tersiap tempat untuk meletakkan daging yang sudah matang. Sebelum makan, Tarisa menawarkannya kepada Diana, tetapi ia malah meminta Tarisa untuk memakannya terlebih dahulu saja. Diana tidak lihai memakan makanan elit seperti yang dilakukan Tarisa.


Tarisa yang menyukai makanan Korea selatan mengambil satu lembar daun selada lalu meletakkan dua potong daging di atasnya, ia juga menambahkan sepotong bawang putih serta sedikit kimci sebelum akhirnya ia bungkus dan langsung melahapnya, matanya seketika berbinar merasakan sensasi nikmat yang memanjakan lidahnya, tanpa bertanya pun Diana sudah bisa menyimpulkan bagaimana rasanya hanya dengan melihat ekspresi wajah Tarisa.


"Hmm... Ayo Diana, cepat dimakan!" Titah Tarisa dengan mulut yang penuh oleh makanan


"Aku tak begitu mengerti mengenai makanan ini." Polos Diana


"Makan saja. Tak perlu memikirkan bagaimana cara makannya, Toh aku sudah menyiapkannya untuk mu. Ini Ambillah..." Ucap Tarisa memberikan potongan daging yang sudah ia matangkan


Diana mencoba makanan itu dengan ragu-ragu yang akhirnya terkunyah oleh giginya.


"Aku dengar kau sudah bekerja di perusahaan. Selamat ya..." Ujar Tarisa disela makannya


"Iya. Aku bekerja sebagai sekretaris Tuan Marvin di perusahaannya yang menolong ku saat waktu itu. Dia yang berhasil melelang ku dan aku bisa membayar pengobatan Nenek." Jelas Diana


"Wah beruntung sekali... Aku pikir dia hanya sudah menikmati tubuh mu saja. Tapi ternyata dia memberikan mu sebuah pekerjaan bahkan di perusahaan yang besar sebagai sekretaris. Itu artinya dia memang sangat tertarik dan pelayanan mu di malam hari itu tak membuatnya kecewa." Kata Tarisa yang berbicara terlalu vulgar


"Agh... Tarisa, Ada satu hal yang tidak kau ketahui. Mungkin kebanyakan orang yang ada di malam hari itu berpikir bahwa aku akan menyerahkan seluruh tubuhku pada sosok pria yang mendapatkan lelang kemarin dan saat itu aku juga akan kehilangan kehormatan ku. Tapi tidak, Tuan Marvin tidak melakukannya karena aku mengganti perjanjiannya dengan yang lain." Jelas Diana serius dan terlihat tegang


"Hahaha... Tak perlu tegang seperti itu. Aku sudah tahu bahwa kau salah satu wanita lelang yang selamat dari jamahan pria yang berhasil mendapatkan mu. Kau adalah wanita yang bisa aku katakan seorang bidadari suci yang tersesat hanya karena masalah uang yang kau butuhkan. Aku pikir wanita seperti dirimu tak akan mungkin jatuh ke tubuh pria begitu saja." Kata Tarisa terdengar menyindir. Tapi memang begitulah gaya bicaranya.

__ADS_1


"Tapi jika kau tidak merasa baik bekerja di sana, ya jangan di paksa Diana, karena ini adalah hidupmu, hanya kau sendiri yang boleh menentukan ingin seperti apa arahnya." Imbuh Tarisa


Diana meletakkan sumpitnya tepat di depannya menimbulkan bunyi dentingan nyaring yang sukses membuat Tarisa terjengkit. Baru sedetik tadi Diana terdiam seperti melamun, Tarisa kira Diana tidak ingin bekerja di sana tapi sekarang ia malah membanting sumpitnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.


"Aku akan mencoba bekerja di sana, Tarisa. Saat itu Tuan Marvin membantuku dan aku merasa berhutang budi padanya. Lagipula bekerja di perusahaan adalah mimpi banyak orang, bukan?" Mendengar kesimpulan Diana yang ia utarakan dengan semangat membuat Tarisa hanya mengangguk-angguk paham saja


"Ah iya, Aku mengajak mu makan malam di sini untuk mengetahui kabar mu setelah malam itu sekaligus untuk mengembalikan bajumu yang tertinggal." Imbuh Tarisa menyodorkan paper bag


Diana menghela napas lega, lalu menerima paper bag dari Tarisa yang berisikan baju miliknya yang diganti dengan pakaian seksi saat lelang itu. Dengan segera ia membuka paper bag tersebut, lalu membongkarnya tapi seketika wajahnya terlihat panik.


"Apa tidak ada barang ku lainnya yang tertinggal, Tarisa? Apa hanya baju ini?" Tanya Diana kecewa


"Hanya itu Diana, apa ada yang tertukar? Atau ada yang kurang?"


"Kalungku hilang, kalung pemberian ibu, ku kira tertinggal di rumah mu."


Tarisa menggelengkan kepalanya, tak ia temukan kalung Diana maksud dimilik barangnya jatuh atau terselip, Tarisa tidak tahu.


"Kemana ya kira-kira. Aku sudah mencari di penjuru rumah tapi tidak ku temukan hingga sekarang. Padahal kalung itu hilang setelah kejadian pelelangan itu, Aku pikir kalung ku ada bersama baju ini."


"Atau terjatuh di tempatmu bersama Tuan 10 Milyar?"

__ADS_1


Diana yang tadinya menundukkan kepalanya dengan ekspresi lemas langsung mengangkat kepalanya, pria 10 Milyar? Apa maksud Tarisa, Tuan Marvin? Toh jika Marvin, Diana hanya mengambil uang darinya sebesar 8 Milyar sesuai kebutuhan yang harus ia bayarkan ke rumah sakit.


"Beberapa waktu yang lalu pria itu datang ke club mencarimu lagi."


Diana sedikit memekik tak percaya, untuk apa Tuan Marvin mencarinya? Bukankah bahkan mereka sudah sempat bertemu dan dia sendiri mengetahui rumah Diana.


"Untuk apa ia mencari ku?"


"Entahlah, Dia memaksa ku untuk memberitahukannya tempat tinggal mu."


Diana berpikir sebentar, ternyata saat pagi hari itu ia mendapati Marvin yang sudah ada di depan rumahnya karena ia berhasil mencari tahu tempat tinggalnya dari Tarisa.


"Mungkin dia ingin memberikan kalung yang ia temukan dan menyadari itu kalung milik mu. Lalu, apakah dia memberikan saat datang ke rumah mu?"


Diana menggelengkan kepalanya, dengan ekspresi seolah mengatakan jika lelaki itu aneh karena tidak memberikan barang apapun padanya melainkan hanya mengantarnya ke rumah sakit dan pergi ke restoran.


"Ini sangat sulit. Tak ada satupun yang menemukan kalung mu." Ucap Tarisa ikut pusing memikirkan kalung milik Diana


"Jika kalung ku ada bersama Tuan Marvin, itu serasa tidak mungkin. Jika ia menemukannya, mungkin dia akan membahasnya bersama ku atau bahkan jika ia tahu akan langsung mengembalikannya."


"Sayang sekali ... Aku tahu kalung itu sangat berharga bagimu karena itu pemberian ibumu. Semoga saja kalung itu bisa ditemukan." Kata Tarisa sembari mengulurkan tangannya untuk mengelus bahu Diana memberikan kesabaran

__ADS_1


__ADS_2