
Diana pulang dalam keadaan dirinya menangis. Saat datang Nek Ira langsung bertanya dan Diana menangis di pelukan neneknya sambil menceritakan dengan tersedu-sedu apa yang terjadi mengenai bahan untuk membuat kue itu hancur tanpa sisa.
Nek Ira ikut menangis kala mendengarkan cerita menyedihkan yang dialami cucu tersayangnya. Hati seorang nenek mana yang tidak sakit melihat cucunya mendapatkan perlakuan seperti itu. Diana terlalu banyak menderita karena orang lain tapi sebagai nenek satu-satunya yang selalu ada memberikan dukungan ia tidak berdaya untuk melakukan sesuatu demi kebahagiaan cucunya.
Nek Ira hanya menyabarkan Diana sampai ia menghentikan tangisnya. Begitu tangisnya terhenti sampai matanya sembap, Diana mengatakan akan pergi keluar untuk menenangkan diri mencari udara segar di luar sana.
Diana pergi ke tempat pemakaman ibunya berada. Di sana ia menangis kembali, menceritakan segala kesedihan dan keluh kesah pada ibunya berharap ibunya pasti sedang mendengar curahan hatinya.
Hanya itu yang membuatnya tenang. Berbagi suka dan duka pada ibunya. Menjadikan seorang ibu sebagai tempat yang tepat untuk mengeluh, baik mereka masih bernyawa ataupun tidak, kehadirannya selalu dirindukan oleh sang anak.
Setelah tenang karena sudah menceritakan keluh kesahnya dihadapan makam ibunya, kini Diana berjalan sendirian menelusuri kota Jakarta. Entah berapa jauh ia berjalan sampai kini ia tengah duduk di kursi taman sedang melamun walaupun disekitarnya ramai.
Di sana, dengan tatapan kosong, Diana hanya terdiam dan merenung.
"Mengapa aku... Tak bisa tersenyum ceria seperti orang lain?"
"Mengapa aku... Selalu sedih?"
"Mengapa hatiku tidak pernah tenang?"
"Mengapa... Segalanya membosankan?"
"Mengapa, Segalanya begitu membosankan?"
Ucap Diana berkata penuh penekanan saat ia merenungkan segalanya dalam kesedihan.
"Aku harus tetap melangkah. Meski tidak tahu alasan hidup. Aku memutuskan untuk melangkah dengan baik selama masih hidup."
"Begitulah aku merasakan diri untuk melangkah. Dengan susah payah tiap hari."
Imbuh Diana selanjutnya sampai tangisnya sekarang pecah.
...***...
Di suatu jalan raya yang sedang disibukkan oleh kendaraan yang melintas. Terdapat Damian yang sedang mengendarai mobilnya sembari menerima telepon.
"Tidak. Aku berada di jalan arah pulang, tidak ada waktu untuk pulang ke Mansion."
__ADS_1
".........."
"Tidak bisa, Ibu. Jika ibu ingin menemui ku datang saja ke rumah ku. Aku juga sudah sering meminta ibu untuk keluar dari Mansion itu. Untuk apa sekarang ibu bertahan tinggal bersama makhluk iblis di sana sedangkan ibu masih meminta ku menemui mu."
".........."
"Aku bukan tidak ingin menemui Ibu. Ibu tahu sendiri ketika aku masuk ke Mansion itu ada orang yang pesimis melihat kedatanganku. Bukannya mencari ketenangan untuk bertemu dengan mu, malah menambah masalah lagi bagiku."
".........."
"Cukup Ibu. Untuk saat ini aku tidak memiliki niatan datang ke sana. Bukan tidak ingin menemui ibu, aku hanya menghindari orang-orang toxic."
".........."
"Sampai jumpa. Berdoa saja ada magnet yang menarik ku untuk menemui ibu di sana."
Akhir kata Damian, menutup panggilan bersama ibunya secara sepihak.
Hufftt...
Damian menghembuskan napas kasar.
Damian kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia mengendarai mobil dengan fokus tanpa memainkan handphone. Ia tahu tindakannya tadi salah dan dapat membahayakan orang lain atau dirinya. Tapi saat ini suasana hatinya sedang tidak baik dan lebih memilih memelankan kecepatan mobil dibandingkan meminggirkannya di tepi jalan.
Perjalanan menuju rumahnya cukup lancar dan tidak dipenuhi kepadatan kendaraan yang menyebabkan macet di perkotaan meskipun ini adalah hari libur. Dihiasi oleh pemandangan sekitar. Terkadang gedung-gedung tinggi, perumahan warga sampai tempat wisata dipenuhi pepohonan hijau membentang seperti karpet hijau raksasa.
Waktu liburan adalah waktu yang selalu dinanti-nanti oleh banyak orang. Terutama bagi mereka yang memiliki rutinitas yang padat. Ketika waktu libur tiba, mulai lah muncul banyak ide liburan yang menyenangkan. Apakah liburan kali ini akan pergi ke pantai, gunung, atau sekedar mengelilingi pusat perbelanjaan di kota?
Salah satu destinasi yang saat ini terkenal adalah sebuah taman yang asri dapat dikunjungi kapan saja tanpa tarif yang dikenakan. Setiap kendaraan yang melintas dapat melihat Taman Hijau itu dari kejauhan. Banyak sekali pengunjung di sana, menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka di tempat taman bermain, seorang pasang kekasih, dan ada juga yang sendiri melihat keharmonisan orang lain.
Damian yang melintasi Taman tersebut, tiba-tiba menghentikan mobilnya dan meminggirkannya di tepi jalan. Ia sedikit membuka jendela mobilnya mengarahkan tatapannya pada Taman tersebut sedang menelisik dan menatap seseorang.
"Bukankah itu Diana! Sedang apa Diana di sini?" Tegun Damian
Damian mengerutkan dahinya sangat dalam. Damian merasa bahwa saat mengendarai, mata elangnya tak sengaja membidik wajah seseorang yang ia kenali. Wanita itu seperti Diana terlihat dari kejauhan tampak sedang menangis sendirian di kursi taman.
Damian sudah memastikan bahwa itu memang Diana yang sedang menangis.
__ADS_1
"Apa yang sedang dialaminya saat ini? Kenapa, kenapa saat aku selalu bertemu dengannya, dia selalu saja mengeluarkan air mata seperti itu. Aku terlalu geram ingin menghancurkan kantung air matanya saja agar dia tidak bisa mengeluarkan tangisannya lagi." Ucap Damian kesal. Maksudnya ia ingin menghapus kesedihan Diana dan menggantikannya dengan sebuah kebahagiaan yang selalu membuat senyum gadis itu mengembang.
Damian dengan gerak cepat melepaskan sabuk pengamannya, ia beranjak dari dalam mobilnya untuk menghampiri Diana yang tengah duduk sendirian. Langkah kakinya begitu panjang, sepatunya bergesekan dengan lantai jalan sangat kasar, raut wajahnya pun jadi tidak enak untuk dilihat yang menampilkan sebuah kerutan amarah.
Langkahnya semakin cepat dan bahkan setelahnya Damian berlari. Ketika sampai, ia langsung memeluk Diana.
Diana sangat terhenyak mendapati sebuah pelukan yang tiba-tiba dari seorang pria. Tangisnya terhenti, yang tersisa hanya linangan air mata di pipinya, dan kerutan dalam di dahi yang kebingungan kenapa pria itu memeluknya seperti itu.
"Tu-tuan Damian, Kenapa bisa ada di sini?" Tanya Diana dengan suara serak dan wajah sembapnya
"Seharusnya aku yang banyak mengajukan pertanyaan padamu. Kenapa kau sendirian duduk di sini dan mengeluarkan air mata sampai diperlihatkan pada semua orang?"
Diana hanya terdiam dan menunduk kembali menangis tanpa suara.
Raut wajah kekhawatiran semakin terpampang nyata di wajah Damian. Ia meraih dagu Diana dan membuatnya mendongak. Tatapan mata memerah dan sedih wanita itu sudah mengguncang hati Damian dan bertambah cemas. Damian ingin sekali memberi balasan setimpal pada orang yang menyakiti Diana karena ia yakin bahwa ada orang yang sudah menyakiti wanitanya.
"Apa yang membuat mu menangis, hah?? Bisakah saat bertemu dengan ku kau menampilkan senyuman di wajah mu bukan tangisan yang membuatku sakit?" Geram Damian saat itu berbicara, sedikit terdengar membentak namun itu adalah bentuk rasa kekhawatirannya.
Diana hanya menatap Damian berkaca-kaca. Sedangkan Damian masih menatap kedua bola mata itu dengan nanar menunggu jawaban.
Lama sekali mereka bertatapan, dan Diana tidak kunjung membuka mulutnya. Akhirnya Damian sendiri yang menyerah, ia mengerti Diana tidak bisa membuka diri padanya. Damian sendiri memilih mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Diana. Sapuan tangannya terasa halus dan lembut di pipi Diana.
Setelah air matanya terhapus, Damian kembali memeluk erat Diana dan tangan yang lain mengusap lembut pucuk rambutnya. Diana merasakan kehangatan sentuhannya dan jauh lebih merasa tenang dari sebelumnya.
"Diana, Aku tahu ini akan sulit bagimu, tapi ada satu cara yang perlu dilakukan agar bisa mengubah hidupmu." Bicara Damian kali ini menjadi topik serius dan penuh penekanan.
Diana semakin menatap dalam ke arah Damian. Sebenarnya apa yang ingin ia katakan? Dan menunggu Damian kembali bicara setelah ia begitu terlihat mengambil ancang-ancang untuk lebih ke pembahasan berikutnya.
"Aku tidak bisa. Semakin aku menahan rasa ini padamu, perasaan ku menjadi-jadi. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya padamu."
Lalu, Berkata kembali
"Sesulit apa hidup mu setiap kali aku bertemu dan melihat mu selalu saja mata mu itu mengeluarkan air mata. Apakah kau selalu terpuruk seperti ini? Bisakah sekali saja aku melihat mu tersenyum walaupun sebentar."
Ada jeda waktu yang sangat panjang untuk Damian mengatakan inti pembahasan yang ingin ia sampaikan sebenarnya. Diana semakin penasaran dan geram sendiri menunggu lama Damian berucap kembali.
"Aku akan menikahimu. Bersiaplah untuk menjadi Nyonya Damian Sander!!"
__ADS_1
DEG!
Kalimat itu yang terdengar terakhir kalinya. Waktu seakan terhenti dan kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah itu artinya Damian benar ingin menikahi Diana?