Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 46 : Perasaanku Terhadapmu


__ADS_3

Diana mengerjapkan kedua matanya berulang kali, karena tak percaya Damian akan mengatakan hal yang demikian.


"Pernikahan bukan untuk penebusan kesalahan, Tuan. Pernikahan adalah penyatuan rasa dicintai dan mencintai yang dilandasi tanggung jawab itu sendiri, sedangkan kita tidak memiliki kedua itu." Pungkas Diana


"Tapi aku mencintai dirimu, Diana. Saat pertama kali aku bertemu dan selalu bertemu dengan mu, perasaanku terhadapmu tetap sama. Kapan aku bisa mengatakan hal ini padamu agar kau mengerti..."


"Tuan, saya tidak meminta Anda untuk menikahi saya, tapi saya hanya ingin kita melupakan semua kejadian kemarin, seolah-olah itu semua tidak pernah terjadi. Jadi tolong sekali lagi, jangan pernah bahas tentang hal itu!"


"Baiklah, jika itu memang keinginanmu, tapi apakah kau sudah memaafkan ku?"


Diana terdiam sejenak, walau mungkin ia masih belum sepenuhnya memaafkan Damian, tapi ia tak memiliki pilihan lain agar percakapan ini segera berakhir dan Diana bisa kembali jauh dari sosok pria yang masih membuatnya trauma saat berada didekatnya.


"Ya saya maafkan, tapi Tuan tidak perlu menikahi ku segala," Ucap Diana walau dengan nada yang agak ketus.


Damian menelan salivanya dengan kasar. Namun, saat ini hatinya sudah lebih tenang dari sebelumnya, karena setidaknya Diana sudah ingin memaafkannya. Ya, walaupun ada perasaan kecewa di dalam hati Damian atas penolakan yang terlontar dari mulut Diana.


"Ternyata hanya aku saja yang terlalu berharap untuk bisa menikahinya, tapi kenapa wajahnya selalu menghantui pikiranku, berputar-putar dalam benakku mengenai kejadian kemarin, padahal dia sendiri bersikap biasa saja dan tidak mengharapkan tanggung jawab dariku," Batin Damian merutuki rasa kecewanya dengan mengubur harapan di dalam hati.


"Oh, Jadinya rupanya kalian sudah saling mengenal sejak lama, ya. Aku pikir Diana hanya mengenali satu orang pria di dunia ini setelah ayahnya." Ucap Marvin datang tiba-tiba di tengah perbincangan mereka


"Benar, bahkan dia sudah mengetahui siapa kau bagiku." Ketus Damian menjawab


"Benarkah itu, Diana? Kau tahu apa hubungan ku dengan pria ini." Tunjuk Marvin pada Damian


"Benar Tuan, Saya baru mengetahuinya kemarin jika atasan peminjam dana perusahaan kita merupakan kakak tiri anda. Suatu kehormatan bagi saya dapat mengenal kalian berdua sebagai keluarga sander..." Jawab Diana sambil menunduk sopan


"Aku tak menyangka kejalinan perkenalan kalian bisa sampai tahap saling menceritakan keluarga masing-masing. Itu artinya kalian sangat dekat..." Kata Marvin seolah menyindir, namun terdengar iri


"Itu terjadi karena tidak kesengajaan dalam keadaan amarah..." Batin Diana


"Jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaan saya, Tuan. Permisi..." Diana pun memutar tubuhnya tanpa menunggu jawaban Damian ataupun Marvin.


Gadis berparas cantik itu pergi meninggalkan saudara tiri yang tengah bersitegang kelihatannya.


Damian menghempaskan tubuh rapuhnya di atas sofa. Seketika rasa pening mulai menjalar di kepalanya, karena terus dihantui rasa bersalah atas semua yang telah dilakukannya kepada Diana saat kemarin itu. Damian beberapa kali memijat pangkal hidungnya dengan perlahan, berharap itu dapat mengurangi rasa sakit yang saat ini menyerang kepalanya.


"Diana, kenapa Tuhan mempertemukan kita bila tidak dapat membuat kita bersama. Sejak pertama kali melihatmu, walau hanya melalui mimpi atau apapun itu, entah kenapa saat itu hatiku terasa bergetar dan tertantang untuk bisa memilikimu," Batin Damian mengingat awal pertama kali ia melihat Diana.

__ADS_1


Marvin menghampiri kakak tirinya dengan angkuh. Ia lihat Damian begitu memiliki banyak beban pikiran yang tidak bisa ketahui apa yang sedang dipikirkannya.


"Ingat Damian, caramu bersikap pada Diana menurutku itu terlalu menyimpan rahasia. Ingat, sekali kau salah mengambil langkah, maka image mu akan ku hancurkan secara mentah-mentah dihadapan publik. Kau pikir, kau akan pintar menyembunyikan kebenaran seperti udang dibalik batu?" Cerca Marvin, seolah rahasia hanya diketahui keluarga sander saja


Damian mengusap wajahnya yang terasa panas dengan kasar, sampai detik ini bayangan Diana masih bergelayut manja dalam benaknya sampai-sampai membuat pria itu frustasi dibuatnya. Namun, tiba-tiba Damian teringat akan satu hal yang membuat harapannya itu memang tidak akan pernah tercapai jika ia tidak memaksakan diri, dan tidak ada harapan walau harapan itu hanya sebesar biji cabai.


Apakah yang semakin membuat Damian tidak yakin untuk terus maju mendapatkan Diana itu?? Dan jika sampai Damian memaksakan perasaannya, Bukan hanya Damian, Diana pun harus bisa menerima risikonya!


...***...


1 Bulan Kemudian...


Diana mulai terbiasa dengan pekerjaannya sebagai sekretaris. Ia tidak kesulitan dalam melakoni tanggung jawabnya, karena memang Diana gadis yang sangat penurut, tanggap dalam memahami hal yang baru, dan pintar, sayangnya saja dia tidak mendapatkan pendidikan yang memumpuni.


Selama satu bulan, Jalinan hubungan antar atasan dengan sekretaris selalu dekat, mereka selalu menghabiskan waktu hanya sekadar pergi bersama-sama menemui klien dan melakukan meeting.


Malam Hari...


Waktu malam adalah waktu untuk istirahat. Terkadang para karyawan terburu-buru pulang lebih sore agar mereka bisa istirahat dengan waktu yang panjang untuk siap bekerja di esok harinya. Namun, berbeda dengan Diana yang hingga kini sampai pukul 22.00 belum pulang juga dan memilih lembur sendiri.


Sama halnya dengan Marvin yang baru keluar dari ruangannya setelah selesai pekerjaan yang menyibukkan dan ia pikir semua karyawan sudah pulang, ia malah harus melihat satu ruangan yang masih menyala berasal dari ruangan Diana.


Setibanya di depan pintu ruangan Diana, ia mulai mengetuk pintu sembari terus memanggil nama Diana berulang kali.


Awalnya Marvin mengetuk dengan pelan. Namun, sudah 5 menit itu ia lakukan, Diana masih tak juga menjawab panggilannya. Dan pintu pun sudah terkunci.


"Apa jangan-jangan Diana memang sudah pulang, ya? Tapi sepertinya tidak mungkin karena biasanya dia sering pamit terlebih dahulu padaku, bisa jadi dia masih ada di dalam dan mengunci pintu dari dalam. Kecuali dia seorang Ant-Man yang bisa mengecilkan tubuhnya, dan diam-diam pulang tanpa pamit." Kata Marvin bicara sendiri dengan penuh tanda tanya.


Marvin coba berpikir keras, sampai akhirnya sebuah ide terbesit dalam pikirannya. Sebuah ide untuk membuka pintu ruangan Diana dengan menggunakan kunci cadangan yang memang tersedia di setiap ruangan. Pria tampan itu mulai melangkah menuju sebuah ruang penyimpanan yang lumayan jauh dari tempatnya berada saat ini, untuk mengambil kunci cadangan. Sesampainya kembali di depan ruangan Diana, Marvin yang saat ini sudah menggenggam sebuah kunci, mulai membuka pintu kamar itu. Pintu pun terbuka dan Marvin melangkah masuk dengan perlahan.


"Diana," Seru Marvin dengan suara yang tak terlalu keras.


Marvin terus merangsek masuk, pikirannya saat ini sudah dipenuhi rasa penasaran yang kini berkutat di dalam pikirannya.


Kedua manik mata Marvin mulai menatap jauh ke arah meja kerja, Dan benar saja Diana belum pulang, ia melihat sosok Diana sedang tertidur pulas di atas mejanya.


"Kenapa dia masih belum pulang, Atau mungkin Diana ketiduran? Sayang sekali tidak ada orang yang menyadari akan hal ini, bagaimana jika aku sendiri tidak menyadarinya, Diana pasti akan tertidur di sini hingga pagi. Salahnya dia mengunci pintu dari dalam dan orang lain akan berpikir sudah tidak ada siapapun di dalam." Gerutu Marvin dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Marvin mendekat ke arah meja dengan langkah yang perlahan. Kini posisinya sudah berada tepat di samping Diana, pandangan mata pria tampan itu tak teralihkan dengan terus menatap dalam wajah Diana yang tengah tertidur.


"Wanita ini benar-benar mirip sangat cantik," Lirih Marvin kembali pada sosoknya yang playboy, ketika melihat wajah Diana saat masih terlelap.


Lewat tatapan mata inilah, Marvin mulai mengetahui bahwa rasa yang ada di dalam hatinya kepada Diana, hanyalah sebuah rasa kagum melihat kecantikan yang dimiliki wanita itu.


"Ternyata aku sangat mengagumi mu, bahkan jika ada wanita yang sangat mirip dengan wajahmu, kesadaranku akan menganggap itu adalah kau," Batin Marvin dengan raut wajah yang sendu.


Marvin masih menatap dalam wajah Diana dan ia menjadi tak tega membangunkan wanita yang saat ini masih sangat terlelap.


"Lebih baik aku berikan waktu untuknya tidur sejam lagi. Dan setelah itu aku sendiri yang akan mengantarkannya pulang."


Marvin melihat ke arah ponsel Diana di atas meja yang terus berdering dengan panggilannya. Pria tampan itu pun merapatkan tubuhnya, hingga menyentuh sedikit pada badan Diana untuk mengambil ponsel yang tergeletak di sana. Namun, ia harus melewati tubuh Diana yang saat ini berada didekatnya.


"Sepertinya itu adalah Neneknya yang menelepon." Ujar Marvin


"Ya Tuhan, kenapa ritme jantungku jadi tak karuan begini? Aku hanya ingin mengambil handphone Diana saja." Tanya Marvin dalam hatinya sambil terus menatap wajah cantik Diana.


Ketakutan Marvin ternyata benar terjadi, Diana membuka matanya dengan perlahan, kedua matanya tiba-tiba membulat seketika saat manik matanya menangkap sebuah objek yang tak asing dilihatnya.


Diana terkejut saat membuka mata sudah ada Marvin yang ada dihadapannya.


"Agh,, Tuan, Anda belum pulang juga." Kata Diana khas suara bangun tidur sembari mengucek matanya


"Kau sendiri belum pulang. Jika aku tidak menyadarinya, kau mungkin akan menginap di sini semalaman. Pintu pun kau kunci dari dalam." Kata Marvin


"Iya. Awalnya aku sudah ingin pulang tapi tanpa sadar ternyata aku malah tertidur karena terlalu mengantuk tadi."


"Tadi handphone mu berbunyi. Sepertinya itu Nenek mu yang menelepon karena khawatir kau belum pulang juga."


Diana pun sekilas melihat handphonenya, sudah ada 8 panggilan yang tidak terjawab dari neneknya. Bahkan ia sangat terkejut kala melihat waktu sudah menunjukkan pukul 22.45, itu artinya dia tertidur 1 jam yang lalu.


"Nenek pasti sangat mengkhawatirkan ku." Ucap Diana, yang setelahnya mengirimkan pesan pada neneknya


"Ayo, ku antar kau pulang. Ini sudah malam dan tidak mungkin kau sendirian mengendarai mobil." Tawar Marvin


Karena tidak ada pilihan lain dan Diana malas untuk berdebat penolakan, ia menyetujui tawaran dari Marvin yang akan mengantarkannya pulang.

__ADS_1


Bersambung✍️


__ADS_2