
1 Minggu Kemudian...
Akad pernikahan akan di mulai Pukul 09.00 Wib. Para tamu undangan satu persatu terus berdatangan dan hanya tamu yang menunjukkan kartu undangan eksklusif mereka agar bisa menghadiri pernikahan Damian dan Diana. Selain itu, tidak akan ada satupun penyusup ataupun orang lain yang bukan teman dan keluarga yang tidak dikenal mampu menerobos gedung pernikahan itu.
Di ruangan sepi, Damian sedang berbicara dengan satu anak buahnya. Pembicaraan mereka terlihat sangat serius.
"Aku peringatkan padamu. Atur semua pernikahan ku jangan sampai ada awak media yang mengetahui ataupun pernikahan ini santer terdengar sampai ke telinga Keluarga ku! Mengerti?!"
"Baik Tuan... Seekor semut pun tidak akan bisa masuk untuk mengetahui pernikahan anda. Akan kami pastikan bahwa pernikahan anda ini tidak akan diketahui keluarga anda sendiri."
"Utamakan saja pernikahan ini tidak sampai ke telinga Keluarga ku. Jika pun ada media yang datang dan masyarakat semua tahu mengenai pernikahan ku, itu tidaklah masalah karena masyarakat patut mengetahui istri Damian Sander. Aku hanya tidak ingin ayah dan ibuku mengetahuinya."
"Keamanan kita memiliki proteksi yang tinggi, Tuan. Hanya saja kehebatan mu sebanding dengan Tuan besar, anda tahu sendiri bagaimana anak buah yang dimilikinya dan mungkin akan mengerahkan untuk mencari informasi." Ucap anak buah itu sambil menundukkan wajahnya seketika.
Mata Damian menyipit. Ia mengerti akan kekhawatiran anak buahnya.
"Baru saja kau mengungkap kelebihan yang kita miliki. Itu adalah keunggulan kita. Lalu kenapa kau menjadi tidak yakin? Apakah kita kurang hebat dalam masalah ini? Bahkan banyak sekali rahasia yang tidak terungkap hingga saat ini, bukan?"
"Baik Tuan. Maaf, Saya hanya mengkhawatirkan anda." Ucap anak buah itu.
"Kau hanya meremehkan ku!!" Hardik Damian dengan mata elangnya itu.
Mendengar perkataan itu, Anak buah merasa tersudutkan hingga tidak mampu menatap atasannya. Ia mengaku bahwa dirinya salah berucap yang malah menyinggung perasaan atasannya.
"Dan ingat, tutup mulut semua para tamu yang datang hari ini bagaimanapun caranya agar mereka bisa diajak menjaga rahasia. Pernikahan ini harus tetap berjalan seperti pada umumnya tanpa dicurigai calon istriku meskipun sebenarnya aku melakukan kesalahan besar padanya. Mengerti!" Terlihat raut wajah kekecewaan pada dirinya sendiri. Tapi tidak ada satupun orang lain tahu selain anak buahnya apa yang sedang direncanakan Damian.
"Anda tenang saja, Tuan. Harapan anda akan selesai di tangan kami." Jawab anak buah itu lebih berhati-hati agar tidak menyinggung perasaan Damian.
"Baguslah. Atur segala sesuatunya, Jangan sampai kesalahan terjadi sampai menghancurkan strategi yang telah di susun." Akhir kata Damian. Setelahnya, ia segera pergi dari sana menuju ruang pernikahan yang satu jam lagi akan di mulai.
__ADS_1
Damian diam-diam pergi menyelinap dari keramaian untuk menuju suatu tempat. Menunggu satu jam di altar pernikahan tanpa melakukan apapun membuatnya sangat bosan.
Di Ruangan Tata Rias...
Terlihat para MUA yang ditugaskan untuk merias dan membantu Diana sedang sangat sibuk. Di ruangan itu dipenuhi berbagai macam-macam make up kualitas branded yang harganya dipastikan mahal. Berbagai macam warna eyeshadow sedang dicampurkan dengan kombinasi warna lain yang dibuat gradiasi dan gliter oleh tangan lihat seorang MUA profesional itu.
Kulit Diana yang putih, lembut dan mulus tanpa noda langsung menempel pas di wajahnya. Tak hanya itu, MUA lain sedang sibuk menata rambut Diana.
Ada satu MUA yang menyadari kedatangan seseorang ke ruangan mereka. Untunglah Diana sudah siap dan selesai di make up hanya tinggal mengoleskan foundation atau concealer pada kelopak mata sebelum mulai mengaplikasikan eyeshadow bagian satunya lagi.
Setelah selesai tanpa meminta Diana untuk membuka mata, Para MUA itu segera pergi meninggalkan Diana tanpa menimbulkan suara dan membiarkan mereka berdua.
Kedatangan Damian ke ruangan itu tidak ada yang mampu mencegahnya untuk menemui pengantin wanita sebelum mereka dipertemukan di altar nanti. Begitulah mitosnya karena bisa mengundang dampak buruk. Bisa dikatakan tindakan Damian kali ini sangat nekat untuk menemui Diana yang masih belum selesai di rias.
"Apakah semuanya sudah selesai? Kenapa kalian terhenti, bagian mana lagi yang perlu dirias?" Ucap Diana. Ia tidak mengetahui jika sebenarnya para make over itu sudah tidak ada di sana lagi karena Diana menutup matanya tadi sehabis memakai eyeshadow.
"Hanya bagian ini yang belum!" Kecup Damian di bibir Diana sekilas yang membuat wanita itu terperanjat dan membuka matanya saat mendapat kecupan tiba-tiba dan suara pria dekat di telinganya.
"Kenapa? Aku baru pertama kali melihat mu terkejut seperti ini. Maafkan aku..." Ujar Damian tak hentinya tertawa-tawa kecil melihat kondisi wajah Diana yang terkejut.
"Aku pikir kau siapa. Aku takut ada pria lain yang masuk ke ruangan ini dan melakukan tindakan tidak senonoh padaku." Ungkap Diana mengira.
"Maafkan aku, aku hanya ingin memberikan surprise padamu. Bukan bermaksud datang untuk menakut-nakuti mu, Diana. Lain kali aku akan lebih berhati-hati agar tidak membuat kau mengingat trauma yang masih membekas."
"Aku tahu aku belum bisa membuang ingatan kejadian yang dilakukan Tuan Marvin itu. Tapi tindakan mu kali ini justru salah, Tuan. Bagaimana jika ada yang melihat kita melakukan pertemuan seperti ini. Bukankah pengantin dilarang saling bertemu sampai pernikahan nanti tiba."
"Di Zaman sekarang apakah kau masih percaya terhadap mitos itu. Itu pernyataan yang sangat konyol Diana. Sudah cukup aku dibuat menderita oleh nenek mu karena kita tidak dibiarkan saling bertemu. Sekarang tidak lagi karena kau sudah terlanjur ada dihadapan ku." Ucap Damian menyeringai dan langkahnya perlahan mendekati Diana.
Melihat Damian mendekat, Diana hanya terpaku melihat Damian yang begitu tampan dihadapannya. Ia masih tidak menyangka takdir membuatnya menjadi istri seorang Damian Sander yang mimpinya sekalipun untuk saling mengenal tidak pernah terbayangkan.
__ADS_1
Kini posisi Damian sedang berhadapan dengan Diana dalam jarak yang sangat dekat. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain tanpa mengedarkannya ke objek yang lain.
Damian sangat terpana melihat kecantikan Diana kali ini dalam balutan gaun pengantin yang cantik seperti di negeri dongeng, namun ini dalam dunia nyata.
Perlahan tangan itu berhasil ia angkat untuk membelai wajah Diana dengan lembut dan Diana sendiri sangat terbuai oleh sentuhan itu.
"Kau sangat cantik dan selalu terlihat cantik dalam kondisi apapun. Kali ini sepertinya aku tidak akan mengalihkan pandangan ku untuk melihat hal lain dan hanya dirimu." Ucap Damian menggoda.
"A-aku be-belum selesai. Bisakah kau pergi sebelum ada yang datang dan bersabar menunggu sebentar lagi." Ucap Diana gugup. Karena ternyata para MUA yang ada bersamanya sudah pergi tidak ada satupun di sana. Ia mengira pasti Damian yang sudah melakukan hal ini.
Diana merasa sangat malu dan ia tersipu jadinya. Ia berupaya untuk mengalihkan Damian dengan pembicaraan lain dan Diana bertanya mengenai kedatangan calon mertuanya.
"Emm... Tuan, apa orang tua dan keluarga mu yang lain tidak datang? Mengapa kau hanya datang sendiri?" Pungkas Diana merusak keromantisannya sendiri dan membuat Damian menjadi malas sampai harus teringat akan satu hal yang ditanyakan calon istrinya.
"Hufftt... Kau sudah merusak suasananya, Diana. Aku jadi tidak berselera lagi." Terlihat raut kecewa dan tidak bergairah lagi untuk memuji calon istrinya itu lagi.
Diana hanya tersenyum penuh kemenangan karena bisa mengalihkan konsentrasi Damian.
"Agh, Diana, Aku belum mengatakan ini padamu. Benar, sepertinya aku harus mengatakannya padamu sekarang. Sayang sekali, Sehari menuju pernikahan kita, ibuku harus mendadak segera pergi ke Amsterdam perihal kerabat kami di sana menelepon jika Nenek sedang sakit dan malam tadi ia terpaksa terbang padahal ingin sekali menghadiri pernikahan kita. Maklum saja keadaan Nenek ku sudah tua renta, tapi dia masih bertahan hidup di usia kini 97 Tahun." Jelas Damian.
Lalu, berkata kembali
"Mengenai ayahku, ia juga tidak bisa datang. Karena kau sendiri mungkin sudah tahu kesehatannya itu sudah terganggu dari sejak dulu, tubuhnya tidak sekuat dulu lagi dan sering mengalami sakit itulah mengapa ia tidak memimpin perusahaan lagi, jadi dia tidak menghadiri pernikahan kita dan memilih beristirahat di Mansion." Kata Damian.
"Atas nama kedua orang tuaku, Aku meminta maaf. Tapi mereka berpesan pada menantunya ini bahwa mereka sangat bersedih hati, tapi akan menemui menantunya setelah kembali dari Amsterdam dan kau bisa datang menemui mereka nanti. Kau tidak masalah?" Imbuh Damian lagi.
"Masalahnya aku belum sama sekali bertemu dengan ayah ibumu. Walaupun kalian adalah keluarga terkenal dan sering melihat kalian tampil di media, aku rasa itu tidak cukup. Bahkan kau belum pernah mengajakku untuk menemui orang tua mu untuk memperkenalkan ku dan meminta restu dari mereka. Tapi, untuk selebihnya tidak ada masalah. Aku mengerti kebutuhan orang tua harus lebih di pentingkan dibandingkan anak muda, nenek mu itu pasti merindukan ibumu di masa tuanya yang ingin sekali berkumpul dengan anak-anaknya dan kesehatan ayahmu lebih penting." Jawab Diana. Meskipun ia merasa sangat sedih dan kecewa.
Terdengar hembusan napas Damian seolah ia merasa lega setelah Diana tidak mempermasalahkan ketidakdatangan calon mertuanya.
__ADS_1
"Aku jadi merasa sangat sedih karena pernikahan kita tidak dihadiri orang tua. Padahal mereka masih ada bersama kita di dunia ini." Ucap Diana jadi murung mengingat ayahnya.
"Menikah itu indah meskipun tidak dihadiri orang tersayang. Kita pasti bisa melaluinya bersama." Ujar Damian menenangkan.