
Sore Hari...
Sudut Pandang Marvin...
Berawal dari berebut botol alkohol di minuman keras, berakhir di hotel. Setelah mengetahui pernikahan kakak tirinya dengan Diana wanita yang sempat ia incar, membuat Marvin merasa cemburu dan frustasi meskipun tadi ia datang cukup berani menghina kakak tirinya. Tapi di sisi lain hati ia juga sangat marah karena Diana yang membuatnya terobsesi itu didapatkan oleh Damian. Dan seperti biasanya saat ia stress selalu datang ke toko minuman keras.
Setelah keluar dari gedung Marvin langsung pergi ke perusahaannya sebentar. Setiap menyelesaikan pekerjaan di perusahaan, sepulangnya ia selalu mampir ke toko minuman keras untuk menyetok alkohol yang selalu di minum hingga menghabiskan 4 botol setiap hari saat malam secara diam-diam di kamarnya. Tentu saja Keluarga terutama Tuan Brata tidak mengetahui tabiat buruk Marvin ini, jika tahu maka ia akan hancur ditangan ayahnya.
Dengan merek minuman keras yang tidak lazim harganya sangat mahal ia tak tanggung-tanggung mengocek uang miliknya hanya untuk mengonsumsi alkohol saja. The Dalmore 62. Satu botol Dalmore 62 dihargai sekitar Rp 300 juta. Dihitung jumlah uang yang dikeluarkan Marvin selalu membeli 4 botol setiap harinya, pengunjung yang memberikan keuntungan cukup besar pada pemilik tokonya.
Pada sore hari suasana toko itu sepi tak terlalu ramai banyak orang walaupun pada saat itu waktu jam pulang para pekerja hidung belang maupun para berandalan yang akan menjelang malam berdatangan menghabiskan waktu di sana karena selain toko tempat itu dijadikan dunia malam. Di sana hanya ada pengunjung sekitar 10 orang dan akan banyak setelah malam nanti, dan Marvin segera bergegas menuju rak yang berisikan banyak sekali macam-macam nama Alkohol. Ketika Marvin akan mengambil minuman keras bermerek The Dalmore 62 tersebut yang sayangnya stok hanya tinggal satu, tiba-tiba ada seseorang wanita yang juga akan mengambil alkohol yang sama.
Saat itu mereka sempat saling berebut, namun setelah beberapa detik kemudian saling melepaskan pegangan dari alkohol tersebut sehingga hal itu pun membuat jatuh ke lantai dan untung saja tidak pecah.
"Ma.. Maaf..." Ucap wanita itu sembari mengambil dan memberikannya lagi pada Marvin.
Jika Marvin melihat sekilas wanita itu berusia kisaran 23 tahun terpaut usia 1 tahun dengan Marvin. Gadis itu berwajah oval, memiliki pandangan mata sinis, dan tingginya badannya hampir sama dengan Marvin karena dia memakai sepatu high hills. Pada saat itu Marvin tidak berani menatap wajahnya lama-lama, tapi pada saat itu mata Marvin tertuju pada pay*daranya yang membusung montok dan bentuk tubuhnya yang bisa dikatakan semok.
Kemudian Marvin berkata...
"Tidak apa-apa, Itu untukmu saja. Kau mencari alkohol ini juga, ya?" Ujar dan tanya Marvin.
"Iya Tuan, hhe… Ini alkohol sudah lama saya cari dan jarang ditemukan di toko-toko lain yang katanya jarang karena harganya mahal jika di jual di sini. Mana ada yang mampu membeli karena uang mereka tak cukup jika bukan para milyader. Giliran menemukan minuman merek ini eh.. sekarang malah berebut, hhe... Aku sudah lama mengumpulkan uang agar bisa membeli minuman ini." Ucapnya sembari tersenyum manis.
"Benar. Penjual mengatakan memang salah satu minuman edisi crazy rizh di negara kita." Ucap Marvin menerangkannya.
__ADS_1
"Eumm… Ngomong-ngomong, kau juga suka minum, ya?" Tanya wanita itu.
"Selalu. Saya membeli untuk dikonsumsi hari ini." Jawab Marvin.
Setelah itu mereka pun berbincang banyak tentang minuman alkohol mengenai merek favorit atau bagaimana sensasi ketika meminumnya sampai pada akhirnya obrolan mereka berakhir.
Pada akhirnya Marvin mengalah dengan gadis itu, dan pada akhirnya Marvin tidak mendapat alkohol yang ia sangat inginkan itu, bahkan Marvin memberikannya percuma-cuma dengan akan mengatakan akan membayarkan untuknya. Ya sudahlah, tidak dapat The Dalmore 62 tidak apa-apa, toh Marvin masih bisa membeli yang lain saja berganti menjadi merek Absinthe, kali ini bukan harganya yang tinggi tapi dengan kadar alkoholnya yang tinggi sebagai pengganti.
Singkat cerita sekitar 30 menit kemudian ketika Marvin sedang asyik meleguk satu botol alkohol yang masih ditempat yang sama sembari duduk di sofa yang tersedia, dari belakang ada yang menegurnya.
"Yang sedang asyik minum sepertinya tidak bisa diganggu. Kau sedang memiliki masalah, ya…" Tegur seorang wanita kepada Marvin.
Setelah Marvin menengok ternyata suara wanita itu gadis yang berebut alkohol dengannya tadi, ia sudah pergi dan kini menghampiri Marvin lagi. Tidak Marvin sangka dia kembali lagi ke toko ini. Kemudian Marvin berbasa-basi bertanya...
"Tidak kok, Tuan." Balasnya singkat.
"Oh mungkin memang masih ada keperluan di sini." Ujar Marvin tak begitu memperpanjang dan memutuskan jawabannya sendiri.
Saat itu mereka pun melanjutkan pembicaraan yang sempat dibicarakan tadi. Wanita itu seolah mempelajari tentang alkohol dari Marvin cukup lama, sekitar 20 menit mereka berbincang tenggorokan pun menjadi kering. Dari perbincangan mereka, pada akhirnya Marvin mengetahui nama beliau adalah Vania. Karena saat itu mereka sama-sama merasa haus dan lelah, pada akhirnya Vania pun mengajak Marvin ke restoran fast food.
Restoran itu kebetulan letaknya berada di tidak jauh dari toko minuman keras. Saat itu Marvin mendapat tempat duduk di dekat jendela dan Vania di bangku sampingnya. Karena Marvin dekat dengannya, saat itu terciumlah harum parfum dari tubuhnya yang tiba-tiba membuat adiknya ereksi. Saat itu Marvin merasa semakin lama dia semakin mendekatkan badannya pada Vania, Marvin juga merasakan tubuhnya sangat hangat.
Sering sekali lengan kanannya selalu bergesekan dengan lengan kirinya, tidak keras dan kasar tapi sehalus mungkin.
Kemudian, seolah sengaja paha kanan Vania pada paha kiri Marvin terus ia naik turunkan tumitnya sehingga paha Marvin menggesek-gesek dengan perlahan. Terlihat Marvin beberapa kali menelan salivanya dan menggaruk-garukkan tangannya ke rambutnya.
__ADS_1
"Sepertinya wanita ini kena juga!" Ucap Marvin dalam hati. Pada akhirnya dia pun mengajak Vania pergi meninggalkan restoran tersebut.
"Yuk, Kita hangout saja dari sini!!" Ajaknya.
"Eumm… Memangnya kita ingin kemana? Padahal baru saja kita saling kenal." Tanya Vania.
"Kemana ya, terserah kau saja. Kau ingin kita pergi kemana?" Tanyanya Mesra.
"Eummm… kemana? Aku saja bingung." Balasnya sekali lagi dengan jawaban sama.
"Kebetulan kau tahu tidak tempat yang private supaya kita bisa mengobrol enak?" Ucap Marvin berbalik terus memintakan pendapat.
Marvin berkata seperti itu dengan maksud ke sebuah hotel. Hotel atau semacamnya. Ia berharap semoga saja Vania mengerti maksudnya.
"Oh kau ingin di tempat Private, ya. Aku tahu tempat yang private dan enak untuk mengobrol, hhe…" Katanya sambil tersenyum.
Setelah itu mereka pun segera meninggalkan restoran itu. Saat itu mereka pergi menggunakan taksi, dan mobil mewah Marvin ia tinggalkan di restoran begitu saja, dan di dalam taksi itu mereka hanya berdiam diri lalu bodohnya Marvin berani untuk *******-***** jemari lentik gadis itu dan dia pun membalasnya dengan cukup panas.
Kini hawa tubuh mereka meningkat dengan tajam, Marvin tidak tahu apakah karena AC di taksi itu sangat buruk atau nafsunya yang sudah sangat tinggi.
Mereka tiba di sebuah hotel di kawasan kota dan langsung memesan kamar standard. Mereka masuk lift diantar oleh seorang room boy, dan di dalam lift tersebut Marvin memilih berdiri di belakang Vania yang berdiri sejajar dengan sang room boy. Dari belakang Marvin mengesek-gesekan dengan perlahan adiknya ke pan*at Vania. Vania pun memberi respon dengan menggoyang-goyangkan pan*atnya berlawanan arah dengan gesekan Marvin.
Ketika room boy meninggalkan mereka di kamar, langsung Marvin peluk Vania dari belakang, ia remas-remas dadanya yang membusung dan ia cium tengkuknya.
"Hemmm… Kau haus akan kasih sayang, ya. Sebelumnya pasti tidak ada yang memperlakukan seperti ini. Masih muda dan belum menikah Kau nakal sekali rupanya. Dasar anak bungsu Keluarga Sander!!" Ucap Vania genit dan mengetahui asal-usul Marvin yang merupakan keluarga ternama. Sepertinya ia berniat untuk menjebak Marvin yang hiperseksual itu.
__ADS_1