Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 43 : Kebodohan


__ADS_3

"Maaf Tuan, sebaiknya alangkah baiknya aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita." Diana pergi dari hadapan Damian, sambil meraih dokumen yang bertebaran di lantai


"Maafkan aku Diana. Aku sudah salah paham padamu. Aku pikir kau dan pria itu... Kau mungkin sudah tahu bagaimana kelakuan pria itu yang selalu menghabiskan waktunya di hotel bersama wanita. Aku pikir kau..."


Diana semakin geram mendengarnya disamakan dengan Wanita ja*lang. Diana pun menajamkan sorot matanya menatap ke arah Damian yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Lebih baik Anda melupakan apapun mengenai saya, Tuan! Anggap saja hal tadi tidak terjadi dan kita tidak pernah bertemu dan jangan berusaha untuk menemui ku. Sebelum aku melaporkan tindakan ini pada polisi." Kecam Diana dengan kedua alis yang saling bertaut


Damian menghilangkan perkataan Diana karena ia masih ingin bertemu dengannya untuk menebus kesalahan.


"Maafkan aku Diana. Aku telah kurang ajar padamu, tapi sungguh aku melakukan semua ini murni, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau dengan pria itu bersama."


"Aku tidak ingin mendengar alasanmu, Tuan. Kau hanya mencari kesempatan dariku. Sebaiknya kita tak perlu bertemu lagi." Titah Diana dengan suara yang lebih lantang dari sebelumnya.


Damian akhirnya tak mampu berkata apapun lagi. Ia sungguh menyesali apa yang telah diperbuatnya. Mungkin karena rasa rindu, cemburu, membuatnya sangat sulit mengontrol emosi yang terpendam dalam hatinya.


"Dan aku tidak mengerti atas maksud apa anda melakukan ini pada Saya. Kita baru saling mengenal tapi anda bertingkah seolah sudah lama mengenal saya begitu dekat. Jika mengambil pengalaman dari orang lain karena mereka cemburu, Saya tidak mungkin bisa berpikir seperti itu, karena kita bukan sepasang kekasih dan saya baik anda tidak menyukai satu sama lain!!" Pungkas Diana


"Andai kau tahu aku sangat kagum padamu. Dan aku tidak mengerti mengenai perasaan ini." Gumam Damian


"Bodoh! Kenapa aku berani sekurang ajar ini terhadap wanita yang tidak ku kenal dekat yang hanya merindukan pertemuannya?" Batin Damian menyesali semua yang telah ia lakukan.


Diana yang sudah sangat kesal berlalu dengan rasa kecewa yang tampak jelas di wajahnya.


"Dan ya, Terima Kasih karena anda sudah menemukan dan menyimpan kalung berharga ini untuk saya. Walaupun mendapatkan pengakuan yang tidak mengenakkan."


Diana langsung menutup pintu dengan keras dari luar. la kembali melangkah menuju luar dengan berlari dan air mata yang tidak terbendung lagi setelah mendapatkan pelecehan ciuman bibir pertama yang direnggut dan hampir pelecehan yang lebih.


Di dalam ruangan Damian.


"Sial... Tidak seharusnya aku terlarut dalam amarah. Aku sudah menyangka Diana dengan yang tidak-tidak hanya karena menemukan kalungnya di kamar hotel ku. Kenapa setan merasuki tubuhnya di waktu yang tidak tepat seperti ini. Ini akan membuat Diana menjauh dari ku."


Damian meremas rambutnya frustasi dengan kesal, ia menyesal dengan kejadian yang baru saja dilaluinya.

__ADS_1


"Bodoh! Kau bodoh, Damian!" Berulang kali pria itu terus merutuki kebodohannya sendiri.


"Kenapa aku bisa bersikap murahan seperti tadi? Pasti Diana akan menghindar saat bertemu dengan ku. Ah, jika seperti ini aku yang akan sulit bertemu dengannya lagi!"


Damian menjatuhkan dirinya duduk di sofa dan masih mengacak-acak rambutnya penuh penyesalan.


...***...


Saat ini Damian tengah mengendarai mobil dengan perasaan yang kacau. Ia berulang kali memukul kemudinya dengan keras, untuk melampiaskan amarahnya atas kebodohan yang ia lakukan tadi kepada Diana.


"Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku harus melakukan itu pada Diana? Aku akui, aku memang sangat merindukannya, dan aku cemburu padanya, otak ku menangkap Diana telah dihancurkan oleh pria brengsek itu. Tapi kenapa aku harus melampiaskan emosi ku pada wanita yang bukan milikku dan bodohnya dia baru aku kenal!" Damian terus berteriak selama dalam perjalanan dengan wajah yang merah padam.


"Jika sudah begini, bagaimana mungkin Diana ingin mengenal ku saat bisa saja kita berpas-pasan bertemu? Sekarang dia pasti sangat membenciku." Damian meremas rambutnya karena frustasi.


Walau begitu Damian masih dapat bernapas lega, karena ia tidak sampai menodai Diana karena terburu menjelaskan kebenaran. Selain itu, ia lega karena ternyata Diana masih terjaga kehormatannya. Namun bayangan saat mencecapi bibir, masih melekat erat dalam pikirannya. Demikian, Ia masih tetap merasa bersalah karena sudah mencuri ciuman pertama Diana yang pastinya setiap wanita ingin menjaga hal itu yang nantinya akan diberikan pada seorang pangeran berkuda putih dicintainya.


...***...


Setiba di ruangan kantornya, Diana langsung terduduk dengan meja yang penuh dengan berkas-berkas milik atasannya.


Tak lama kemudian, Suara pintu diketuk dan menampakkan Marvin yang datang ke ruangan Diana.


"Diana, ada apa? Kau menangis?" Kedatangan Marvin ke ruangan Diana yang begitu tiba-tiba


"Agh... Tidak ada, Tuan. Mata Saya hanya kelilipan debu." Jawab Diana sambil menyembunyikan wajahnya dan sibuk mengusap air mata diam-diam.


Marvin tidak begitu yakin dengan jawaban yang Diana berikan. Tapi ia tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.


"Maaf Tuan, Ada apa kedatangan Tuan ke ruangan saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Diana


"Tidak ada. Aku hanya ingin menanyakan satu hal padamu."


Marvin duduk berhadapan langsung dengan Diana di depan mejanya. Ia tidak begitu mempedulikan bagaimana posisi duduknya saat ini yang lebih seperti karyawan berhadapan dengan atasannya.

__ADS_1


"Tentu Saja, Tuan. Anda bisa mengajukan pertanyaan apapun mengenai pekerjaan pada saya." Balas Diana


"Tadi pagi kau menemui CEO di perusahaan tempat kita mendapatkan pinjaman untuk meminta persetujuan, bukan?" Lontar tanya Marvin


"Iya Tuan. Pinjaman itu sudah disetujui. Apakah dananya belum masuk juga sampai sekarang, padahal mereka mengatakan sudah mengirimkannya ke rekening perusahaan." Kata Diana


"Bukan mengenai itu. Dananya memang sudah masuk. Aku ingin bertanya mengenai bagaimana kesanmu saat bertemu dengan atasannya?"


"Sangat buruk dan lebih buruk dari yang ku alami. Tapi aku tidak mungkin menceritakan masalah ini pada Tuan Marvin, karena aku pun tahu rupanya mereka adalah saudara tiri." Batin Diana


"Kenapa Tuan bertanya seperti itu pada saya?" Tanya Diana berbalik


"Agh... Tidak ada. Aku hanya ingin tahu bagaimana CEO di perusahaan itu. Karena katanya banyak yang mengatakan jika dia adalah orang yang pemarah pada karyawannya, aku bisa saja berpikir jika dia tidak ramah padamu." Ujar Marvin


"Bahkan sepertinya dia lebih dari itu, Tuan. Saya sendiri tidak mengerti kenapa anda menanyakan hal itu pada saya, Toh kalian adalah keluarga dan sikap anda seolah berpura-pura tidak saling mengenal. Tapi baiklah saya pun akan memainkan peran seolah tidak tahu kalian bersaudara." Hina Diana dalam hatinya ketika membahas Damian yang sudah ia cap buruk


"Sepertinya berita itu tidak benar, Tuan. Karena pada saat saya bertemu dengan beliau tadi pagi, beliau sangat baik dan ramah pada saya. Awalnya beliau sudah pergi keluar, tapi petugas memberitahu jika ia kembali saat mengetahui saya sudah datang. Itu terkesan baik, bukan?"


"Cuiihh... Bahkan aku ingin mual mendengar pujian Diana yang terlalu mengarang menurutku. Terlihatnya saja berperilaku baik dihadapan wanita dan orang yang baru dikenalinya, kenyataannya jika sudah lama kenal dia sama-sama buaya yang siap-siap menerkam mangsanya." Hina Marvin pada Damian


"Tidak ada lagi pendapatmu mengenai dia?"


"Apalagi memangnya yang harus saya katakan, Tuan? Hanya itu pendapat saya mengenai CEO perusahaan Goc'ta. Saya rasa itu cukup. Memangnya untuk apa tuan ingin mendengarkan kesannya?"


"Tidak Ada. Aku hanya ingin mengetahui pendapat mu tentangnya. Hey, kalung mu sudah ditemukan, ya." Lontar Marvin mengalihkan pembicaraan saat melihat kalung indah melingkar di leher Diana


"Hmm... Iya. Syukurlah kalungnya sudah ditemukan, Tuan." Jawab Diana bahagia


"Aku ikut senang melihatnya. Kalung mu itu sangat bagus. Di mana kau menemukannya?"


"Agh... Ternyata saya sendiri yang lupa menyimpannya, Tuan. Jelas-jelas kalung ini ada di dalam laci lemari." Jawab Diana tak jujur


"Aku tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Cukup saja aku mendapatkan kalung ku kembali dan melupakan bagaimana aku bisa menemukan kalung ini lagi." Batin Diana

__ADS_1


"Memang tidak ada hadiah yang terindah selain yang diberikan seorang ibu pada anaknya. Sama seperti aku yang mendapatkan perusahaan ini dari ayahku dan selalu didambakan ibuku agar aku bisa menjadi CEO. Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu, dan aku akan melanjutkan pekerjaan ku juga." Kata Marvin yang berbicara lebih dewasa dan setelahnya dia pergi


__ADS_2