Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 36 : Menabrak


__ADS_3

Pagi Hari...


Hari sudah berganti, dan matahari pun juga sudah menunjukkan eksistensinya dengan senyum cerah membuat hari semakin cerah.


"Diana, Kau sudah akan berangkat bekerja, Ya." Sapa Nek Ira yang tengah melihat Diana sedang bersolek tak terlalu menor


"Iya Nenek, Setiap harinya selain Sabtu dan Minggu kegiatan ku akan seperti ini. Maafkan aku membiarkan Nenek di rumah sendirian, terkadang aku berangkat pagi dan pulang malam."


"Tak apa Diana, Itu sudah menjadi tanggung jawabmu. Nenek sangat senang akhirnya kau menjadi orang kantoran bahkan menjadi sekretaris. Dulu kau selalu mempermasalahkan pendidikan mu yang hanya lulusan SMA, tapi lihatlah sekarang pendidikan itu tidak menjamin pekerjaan mu sekarang."


Diana hanya termenung. Menurutnya takdir hanya memberikan kebetulan, jika ia tidak menjaga dirinya mungkin akan kehilangan mahkota dan tidak akan mungkin mendapatkan pekerjaan yang halal seperti sekarang. Untunglah dia bertaruh waktu saat itu...


Diana menatap manik Neneknya sangat dalam. Menatap mata yang sangat tulus dan begitu mempercayai cucunya. Diana sangat merasa bersalah sudah membohongi Neneknya akan rahasia yang ia sembunyikan.


"Ada apa, Kenapa menatap Nenek seperti itu." Tanya Nek Ira dengan senyum lembutnya


"Nenek, ada satu hal yang belum ku ceritakan pada Nenek." Ucap Diana sedikit bergetar


"Apa? Ceritakan saja pada Nenek."


"Agh ... Kalung yang diberikan ibu untuk ku dan selalu aku pakai, Kalung itu hilang entah di mana. Kalungnya sudah lama hilang Nek, dan sampai sekarang aku belum menemukannya." Jelas Diana. Awalnya ia pikir akan menjelaskan kebenaran mengenai uang untuk pengobatan neneknya dan mengenai pekerjaannya. Namun, ia merasa belum siap dan takut Nek Ira akan syok mendengar kejujurannya.


"Hanya kalung? Nenek pikir kau memiliki masalah yang serius dan ingin diceritakan pada Nenek, Itu terlihat dari raut wajah mu." Balas Nek Ira yang seolah merasakan bahwa ada hal yang disembunyikan darinya


"Tidak masalah, Diana cucuku sayang... Dengan kalung yang hilang itu tidak akan membuat kau kehilangan ingatan mengenai ibumu." Imbuh Nek Ira


"Tapi Nek, itu adalah peninggalan terakhir dari ibu untuk ku. Saat aku sedih, aku sering berkomunikasi dengan kalung itu seolah mengadu pada ibu. Biasanya kalung itu selalu melingkar di leher ku, tapi setelah hilang rasanya ada satu hal yang membuatku kehilangan segalanya."


"Nenek mengerti betapa spesialnya kalung itu bagimu. Nanti coba kita cari kalung itu bersama-sama, Ya." Bujuk Nek Ira agar Diana tenang

__ADS_1


"Baiklah, Aku akan berangkat bekerja sekarang. Jaga diri Nenek di rumah baik-baik, Ya. Assalamualaikum..." Pamit Diana mencium tangan neneknya


"Hati-hati. Wa'alaikumsalam..."


...***...


Mansion Keluarga Sander...


Nyonya Rosaline tidur sekamar dengan Tuan Brata, namun di tempat tidur terpisah. Ia mengeluh semalaman tidak bisa tidur nyenyak karena ia sangat mengkhawatirkan Damian padahal mereka sudah berpisah rumah sejak lama dan menjadi gelisah di pagi hari. Entahlah apa yang dirasakan Nyonya Rosaline sampai membuatnya khawatir.


"Kau mendengkur…" Kata Tuan Brata di pagi hari saat bangun menahan geli


Nyonya Rosaline kesal dan berdalih jika udara di kamar kering.


"Apakah hati Damian sudah siap untuk pulang?" Tanya Tuan Brata tanpa mengalihkan pandangan dari surat kabar yang sedang dibacanya.


Nyonya Rosaline berkata Damian pergi bukan atas keinginan Damian sendiri. Bahkan jika Damian belum siap pulang, ia akan mengembalikan Damian. Selama 3 tahun ini ia sudah cukup berhati-hati dan menghindar dari masalahnya.


"Tentu saja," Kata Tuan Brata. "Akan lebih baik jika aku memiliki keduanya di mansion ini." (Damian dan Marvin)


Mendengar itu Nyonya Rosaline bertanya apakah Tuan Brata benar-benar dengan ucapannya barusan. Jika Damian pulang maka Tuan Brata harus menangani Marvin dan juga ibunya. Namun, masalahnya bukan itu, Damian pergi karena tidak menyukai ayahnya.


"Jika ia tidak bisa kembali karena bukan takut pada Marvin dan juga ibunya, Dari awal ia pergi karena ulah mu. Andai kau tahu sebenarnya Damian sangat membencimu atas apa yang kau lakukan pada ibunya." Ucapnya seraya menyindir


Nyonya Rosaline tidak ingin tahu, ia langsung menelepon Damian. Tapi seperti biasa, Damian tidak mengangkat teleponnya.


Di sisi lain...


Sementara itu, Damian kembali pada hidupnya yang lama, selalu merenung dan bertemankan sepi. Ia semakin tidak bisa menikmati hidup, karena yang ada di pikirannya hanyalah Diana. Wanita yang membuatnya terobsesi dan terus ingin bertemu dengannya. Tapi sudah lama dia tidak bertemu lagi.

__ADS_1


Assisten Joo yang tengah menyetir pun sesekali melihat Damian dari spion atas dan kebingungan melihat Tuannya tengah murung dan memijat keningnya.


"Tuan sedang tidak enak badan? Jika sakit jangan dipaksakan untuk datang ke perusahaan, Tuan. Saya takut kondisi anda akan semakin memburuk." Tanya Asisten Joo memberanikan diri bertanya


"Aku tidak tahu. Aku tidak bergairah untuk hidup saja. Hari-hari ku sangat membosankan, berangkat untuk bekerja dan pulang untuk istirahat. Tak ada satupun yang dapat menghibur ku." Ketus Damian menjawab


Jawaban Damian membuat Asisten Joo langsung tertuju memikirkan pada seorang wanita yang membuat Tuannya menjadi seperti itu.


"Sepertinya Tuan sedang mengingat wanita yang pernah ditolongnya. Ia berpikir bahwa dengan bertemu dengannya akan membuat dia senang, Tapi aku baru sadar bahwa mereka tidak pernah bertemu lagi." Gumam Asisten Joo


Di sisi lain...


Seorang gadis tengah menerima telepon disela mengendarai mobilnya. Gadis itu adalah Diana. Diana mendapatkan fasilitas berupa mobil untuk menunjang pekerjaanya selama bekerja bersama Marvin. Marvin memberikan mobil perusahaan untuk Diana agar ia bisa berangkat dan pulang tanpa memikirkan kendaraan. Walaupun pada awalnya Diana sempat menolak, malah Marvin yang terus memaksanya. Akhirnya Diana pun terpaksa...


"Iya, Tuan, Sebentar lagi Saya akan sampai. Mohon maaf atas keterlambatannya..." Bicara Diana pada telepon dari Marvin yang sudah menghubunginya pagi sekali karena agendanya Marvin akan menemui klien di tempat lain dan meminta Diana untuk ikut dengannya


"Tidak perlu terburu-buru, Diana. Kau sedang mengendarai mobil, bukan. Maka berhati-hatilah. Aku hanya mengingatkan mu saja untuk ikut dengan ku. Kita akan berangkat setelah kau sampai." Balas Marvin terdengar dari telepon


"Maafkan Saya lalai menjadi sekretaris, Tuan. Seharusnya seorang sekretaris yang menunggu atasannya, Bukan malah sebaliknya."


"Hey,,, Tidak perlu khawatir. Tenang saja... Aku tutup teleponnya, ya, agar kau bisa fokus menyetir untuk sampai lebih cepat." Ucap Marvin dengan nada menggodanya


"Baik Tuan. Terima kasih atas toleransinya... Saya tidak akan membuat Tuan menunggu lama." Jawab Diana dengan nada merasa bersalah


Panggilan diakhiri...


"Aku harus segera cepat sampai. Karena ini akan mempengaruhi kesan pertama Tuan Marvin terhadap kliennya. Dia tidak boleh dipandang jelek di hari pertama kalinya menemui klien."


Namun, Karena kegelisahannya, Diana mengalami kesalahan. Saat teleponnya ingin ditutup, handphone miliknya terjatuh dan Diana berusaha mengambil handphone miliknya tanpa menghentikan mobilnya lebih dulu. Sampai terseok-seok ia mencoba meraih handphonenya yang terjatuh.

__ADS_1


Baaammm...


Aksinya yang tidak fokus menyetir, membuat kesalahan yang fatal, mobil Diana tanpa disengaja telah menabrak bumper belakang mobil pengemudi lain di jalan yang cukup sepi untungnya.


__ADS_2