
Lanjutan...
"Menikah itu indah meskipun tidak dihadiri orang tersayang. Kita pasti bisa melaluinya bersama." Ujar Damian menenangkan.
Tak lama setelahnya dari luar terdengar orang yang berteriak memanggil Diana.
"Diana, Diana! Apakah kau sudah siap? Akadnya akan dimulai sebentar lagi." Teriak seseorang dari luar menuju ruangan di mana tempat Diana di rias.
"Hah! Sepertinya itu Tarisa yang ingin menemui ku. Jika dia sampai melihatmu ada di sini pasti dia akan mengadukan hal ini pada Nenek. Tuan, cepat segera pergi dari sini sebelum Tarisa sampai." Was-was Diana jadinya terburu-buru khawatir.
"Bagaimana aku bisa pergi? Di luar pasti aku akan tetap saling berhadapan dengan teman mu." Ikut Damian khawatir.
"Hah. Lalu, bagaimana sekarang? Tarisa semakin mendekat ke ruangan ini." Ucap Diana tak karuan lagi penuh kecemasan.
"Diana! Rupanya kau sudah siap." Bicara Tarisa di depan pintu dan belakang Diana.
Refleks Diana terhenyak dan memutar badannya sampai berhadapan dengan Tarisa dengan penuh raut wajah keterkejutan dan keringat dingin.
Terlambat. Tarisa sudah berhasil masuk dan entah di mana Damian itu.
"Hey, Apakah kau selesai berolahraga dengan gaun mu ini? AC nya juga tidak dinyalakan, ya." Tarisa semakin masuk lebih dalam untuk mengambil remote AC yang ada di atas meja nakas untuk niatnya menyalakan AC.
Diana pun sangat waspada. Ia terlihat begitu mengikuti arah pandang dan kemana perginya Tarisa pergi di sana. Yang anehnya tidak ada siapapun selain mereka di sana, entah kemana perginya Damian sekelibat menghilang tanpa siapapun yang menyadari.
"Kemana perginya Tuan? Tidak mungkin dia kabur lewat pintu depan. Apakah dia kabur lewat jendela? Tapi itu tinggi sekali." Gumam Diana menelisik sekitar dan tidak ditemukan sosok pria itu di dalam.
"Tapi tidak, AC nya sudah menyala bahkan suhunya terlalu tinggi, itu seharusnya kau kedinginan tapi kau malah berkeringat. Diana, apa kau sakit?" Ujar Tarisa setelah memastikan.
"Agh. Tidak. Tidak terjadi apa-apa. Aku baik-baik saja. Hehe..." Ucap Diana gugup sambil memasang senyum kaku.
Sedari tadi ada yang mengawasi Tarisa. Rupanya Damian bersembunyi dibalik gaun mengembang dan besar Diana, ia masuk ke dalam sana untuk bersembunyi. Ia buka sedikit gaun itu untuk melihat gerak-gerik Tarisa agar ia segera bisa keluar dari gaun Diana.
"Ya ampun!" Kejut Tarisa yang Diana khawatirkan ia melihat Damian yang bisa saja masih ada di sana.
__ADS_1
Damian sendiri terkejut karena Tarisa terlihat dekat menghampirinya. Spontan ia kembali menutup gaun itu agar tidak terlihat sedikit celah sedang mengintip.
"Lihat ini! Wajah mu jadi terlihat pucat dan keringatnya muncul di sekitar wajah mu. Untung saja make up yang kau pakai tidak sampai membuat luntur karena ini make up mahal. Tapi tetap saja masih ada yang kurang karena butir keringat ini perlu disingkirkan." Ucap Tarisa.
"Syukurlah. Aku pikir Tarisa menjumpai Tuan Damian yang sedang berusaha keluar. Ternyata dia hanya mencemaskan riasan wajah ku saja." Gumam Diana lebih tenang.
"Aku datang untuk memanggil mu dan melihat apakah kau sudah siap atau belum. Pernikahan akan di mulai sebentar lagi tapi aku tidak melihat Calon suami mu di altar. Mungkin dia juga masih bersiap untuk menampilkan tampilan terbaiknya dihadapan calon istrinya yang cantik ini." Ujar Tarisa bahagia dan mengawai dagu Diana untuk menggodanya.
Saat Tarisa sedang sibuk berbicara, di sanalah kesempatan Damian untuk keluar dari tempat persembunyian gaunnya Diana agar ia bisa menyelinap pergi keluar. Perlahan namun pasti, tidak ada yang menyadari di sela perbincangan mereka ada seorang pria yang sibuk membungkuk-bungkuk ke arah pintu luar dan akhirnya ia berhasil.
"Eh sebentar, tadi aku melihat gaun mu terangkat-angkat. Apa mungkin ada angin, ya. Aneh sekali! Mungkin karena memang jendelanya terbuka, aku akan menutupnya." Ujar Tarisa melihat ke arah belakang dan tidak menemukan apapun karena Damian sudah berhasil pergi.
Saat Tarisa pergi untuk menutup jendela. Giliran Diana yang masih sibuk mencari-cari dan mencemaskan keadaan Damian. Namun, dari arah luar sosok kepala pria itu muncul setengah badan dan memanggil Diana.
Suuuttt...
Siul Damian memanggil.
Diana pun berbalik dan merasa tenang saat Damian ternyata sudah berada di luar dan selamat. Mereka saling berkomunikasi tanpa suara dan Diana terlihat seperti memarahinya, namun Damian malah menyikapinya dengan santai dan tersenyum-senyum saja.
Tarisa sampai menyipitkan matanya curiga.
"Kau sedang berbicara dengan siapa??" Bicara Tarisa sekali lagi mengejutkan Diana dan Damian bergegas pergi.
"Agh, siapa? Tidak ada yang ku lakukan, hehe. Aku hanya mengusir kecoa saja tadi." Alasan Diana lagi terlihat kaku dan gugup.
Berusaha beberapa kali untuk memastikan apa yang ada dibalik pintu luar, tapi tidak terdapat siapapun di sana. Dan Tarisa percaya saja tanpa memikirkan apapun lagi meskipun ia sangat curiga dan masih ragu.
"Tadi aku bertemu dengan tata rias mu di luar, Kata mereka kau sudah siap, jadi mereka meninggalkan mu. Tapi aku akan memanggil mereka lagi untuk merias mu lagi agar keringatnya bisa dibersihkan. Tunggu di sini dan jangan kemana-mana!" Ucap Tarisa pergi keluar untuk memanggil MUA.
...***...
Di luar gedung tempat penerimaan tamu yang siapa saja tamu masuk dan keluar melalui pemeriksaan ketat oleh anak buah Damian dengan harus menunjukkan kartu undangan mereka. Yang awalnya proses itu terjalin lancar, kini sedang terjadi keributan dan menyebabkan tamu lain terhambat hanya karena ada seorang pria dewasa yang datang untuk menghadiri pernikahan Damian dan Diana, namun ia tidak membawa bahkan tidak memiliki kartu undangan yang menjadi syarat mutlak agar bisa masuk ke dalam gedung berlangsungnya pernikahan.
__ADS_1
"Maaf, anda tidak bisa masuk karena tidak memperlihatkan kartu undangan. Itu artinya anda bisa jadi orang sembarangan. Setiap tamu yang datang menghadiri pernikahan Tuan kami hanya orang-orang tertentu saja yakni yang bisa memperlihatkan kartu ekslusifnya." Ucap anak buah Damian pada pria berumur sekitar 48 tahun itu memaksakan diri untuk bisa masuk ke dalam gedung pernikahan dengan mengaku ayah dari mempelai wanita.
"Harus berapa kali aku katakan, Kenapa kau masih tidak percaya?! Aku adalah ayah dari mempelai wanita. Akan aku adukan perbuatan kalian ini pada menantu ku supaya kalian tahu rasa." Keras kepala pria dewasa akhir itu.
"Maaf Tuan, anda tetap tidak bisa masuk sebelum memperlihatkan kartu undangan anda. Tuan kami sudah mengerahkan pada kami siapa pun tamu baik yang ia kenal sekalipun tapi tanpa membawa kartu undangannya, maka mereka tidak bisa dibiarkan masuk. Sebaiknya anda silakan pergi sebelum kami melakukan tindakan yang tidak diinginkan." Pungkas anak buah Damian yang berjaga mengawasi para tamu yang hadir di luar untuk melakukan penjagaan yang ketat.
"Dia tetap bersikeras ingin masuk ke dalam dengan mengatakan bahwa ia adalah ayah dari Nyonya Diana. Kita akan bertindak normal pada keluarga mereka tanpa pengawasan yang ketat seperti ini. Jika dia benar ayahnya, Nyonya tidak mungkin menelantarkan ayahnya ini di luar." Bisik anak buah kedua pada ketua bawahan.
"Aku mengerti. Kita tidak bisa mengambil risiko untuk membiarkan Tuan ini masuk meskipun iming-iming dia mengatakan ayah dari Nyonya. Jika kita bertindak dan di dalam dia membuat masalah, maka janji Tuan Damian untuk memenggal kepala kita tidak bisa ditunda lagi." Bisik ketua anak buah menjawab.
"Biarkan aku masuk! Kalian sudah bicara pada menantu, bukan. Dengar sendiri, pasti menantu ku itu membiarkan ku masuk dan pasti nyawa kalian sudah terancam saat ini karena sudah melarang ku." Ujar Pak Mahendra yang benar-benar datang ke pernikahan Diana yang sedang digelar di sebuah gedung mewah itu. Dengan penuh kepercayadirian tinggi ia beranggapan jika Damian dapat mengenalnya.
"Tuan tidak mengatakan apapun pada kami karena kami tidak menghubungi siapapun. Bahkan jika kami berbicara dengannya, sepertinya beliau tidak akan mengenali anda."
Karena Pak Mahendra terlalu banyak bicara dan memancing keributan di luar sampai mengganggu kenyamanan menjadi pusat perhatian para tamu yang masih berdatangan, Kedua anak buah terpaksa mengambil tindakan dengan menarik Pak Mahendra untuk menjauh dan mengusirnya.
"Lepaskan!! Jika kalian berani mengusir mertua Tuan kalian, maka kalian akan habis setelah memperlakukan ku sangat buruk." Berontak Pak Mahendra yang keras kepala tidak ingin pergi dan tetap ingin masuk.
"Maaf, dia adalah teman saya dan dia datang bersama saya untuk menghadiri pernikahan ini. Ini kartu undangan kami." Ujar Dokter Jeremy yang syukurnya sudah datang dan memperlihatkan kartu undangan yang sempat diberikan Diana langsung padanya.
"Diana anak itu memang keterlaluan, seharusnya dia memberikan ku kartu undangannya juga padaku bukan padamu saja agar aku bisa masuk tanpa perlu ada perlawanan dengan anak buah baj*ngan ini!" Gertak Pak Mahendra berbicara kasar.
Ketua anak buah yang sudah menjadi kepercayaan Damian langsung menodongkan pistol pada Pak Mahendra, bawahan lain sigap langsung menghalangi dan langsung menodong, meniru ketua mereka.
"Kami tidak akan membiarkan siapapun Tuan dan Nyonya kami dihina begitu saja oleh orang asing. Jika anda berani, katakan sekali lagi umpatan mu itu, maka dengan mudah peluru ini menghancurkan mulut mu!!" Kecam Ketua sangat marah.
Pak Mahendra dan Dokter Jeremy tentu saja berdigik ngeri. Tapi Pak Mahendra seperti orang yang kehilangan akal yang sama sekali tidak ada ketakutan dalam dirinya dan malah meremehkan senjata itu.
"Tidak mungkin. Ini benar-benar asli." Ucap Pak Mahendra saat menyentuh sedikit pistol yang mengarah padanya itu.
"Maafkan atas keributan yang kami lakukan. Biarkan saya sendiri yang akan memperingatkannya. Permisi..." Ujar Dokter Jeremy yang melewat malu dan segera membawa Pak Mahendra segera pergi dari sana.
"Pistol P30 itu benaran?? Aku akan memastikan yang lainnya juga nanti, tidak ada maksud lain. Hahaha..." Ujar Pak Mahendra yang masih saja berbicara meskipun ia sudah di dorong menjauh.
__ADS_1
Akhirnya pistol yang sempat akan menjalankan tugasnya itu telah bersembunyi berada ditempatnya kembali.
"Aku merasa tidak yakin jika dia adalah benar Ayah kandung Nyonya. Dia malah terlihat seperti orang yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa." Umpat bawahan yang langsung ditutup mulutnya oleh Ketua.