
Esok harinya...
Di malam hari...
"Diana, waktunya makan malam." Kata Dokter Jeremy sembari berjalan dengan semangkuk nasi serta sup dan lauk pauk di atas nampan yang ia bawa, membuat Diana yang sedang duduk asyik melamun di atas ranjang terpaksa memalingkan wajahnya melihat kedatangan seseorang.
"Dokter, kapan aku bisa keluar dari ruangan ini? Aku harus menemani nenek." Kata Diana
Dokter meraih kursi yang berada tak jauh dari ranjang Diana, menariknya untuk di jadikan tempat dirinya duduk.
"Cairan infus mu belum habis Diana. Saat sudah habis kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan, sekarang waktunya makan singkirkan pikiran untuk melakukan aktivitas terlebih dahulu, karena kondisi kesehatan mu pun sangat drop dan kesehatanmu juga penting." Kata Dokter sembari meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja nakas, ia membantu Diana untuk duduk, matanya tak bisa membohongi dirinya, ia terus menatap Diana dengan sangat khawatir, ingin sekali ia menanyakan darimana uang itu Diana dapatkan secara mudah dalam 1 hari, tapi ia takut membuat Diana tidak nyaman karena pertanyaannya.
"Bersabarlah... Satu jam lagi operasinya akan dilakukan. Semua sedang bersiap. Kau berada dalam masa pemulihan dari sakit mu, makanlah untuk menjaga kesehatan mu karena itu penting juga bagimu." Lanjut Dokter Jeremy menasihati
Dengan raut wajah murung tidak bersemangat, Diana mengulurkan tangannya untuk menerima nampan yang berisi makanan untuknya.
"Terima Kasih, Dokter." Jawab Diana terdengar lemah
Dokter Jeremy hanya mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
Menuruti permintaan Dokter, Diana akhirnya memasukkan sebuah makanan ke dalam mulutnya.
Dokter Jeremy sendiri menyadari jika sepertinya Diana sedang memiliki beban pikiran yang sangat besar. Itu terlihat dari bagaimana dia makan, sesekali ia mengunyah dengan sangat lama dan kembali terhenti untuk melamun.
"Diana, Kau baik-baik saja? Jika sakit, tolong bicara padaku." Tanyanya dengan sangat khawatir
"Agh... Tidak ada Dokter. Aku baik-baik saja." Jawab Diana dengan sedikit terhenyak
"Ingin disuapi?" Tanya Dokter Jeremy yang langsung di tolak oleh Diana, membuat Jeremy sedikit terkekeh melihat tingkah gemas Diana saat menolaknya.
"Jangan terlalu canggung padaku. Kau dan keluarga mu sudah tahu jika paman ini adalah teman dekat ibumu. Paman sudah menganggap mu seperti putri paman sendiri dan sangat khawatir mengenai kondisi mu dari kemarin." Jelasnya
Diana terlihat diam saja. Dia hanya memainkan nasi yang sedang dimakannya.
"Sejak awal Dokter mengatakan tidak bisa membantuku. Aku tahu alasannya. Ini karena istri Dokter yang tidak akan bisa menerima keputusan Dokter untuk membantuku. Dokter tahu sendiri bagaimana hubungannya dengan ibuku di masa lalu, bukan. Istri dan anak Dokter sangat cemburu melihat kedekatan kalian sampai ibuku yang tidak berdosa dibenci oleh mereka." Jawab Diana
Mendengar perkataan Dokter entah kenapa hati Diana mencelos, ingatan semalam masih terputar terus di otaknya, ia merasa bersalah kepada ibunya serta Dokter yang selalu menyayanginya seperti anaknya sendiri. Ia sangat menyesal kenapa harus menerima uang itu dengan syarat menjadi pekerja seorang pria tanpa bayaran seumur hidup yang tidak dikenalnya.
"Jangan terlalu dipaksakan, Dokter. Ketika aku bisa mendapatkan uang itu adalah hasil dari usaha ku sendiri dan sudah menjadi tanggung jawab sendiri untuk mengembalikan uangnya yang dipinjam dalam bentuk apapun."
__ADS_1
Ucapan Diana penuh tanda-tanya sampai membuat Dokter Jeremy sulit mencerna perkataannya.
"Ada apa Diana? Apa ada masalah?" Ini bukan sekedar pertanyaan dari Dokter Jeremy, sebenarnya Dokter Jeremy sedikit tahu mungkin telah terjadi sesuatu pada Diana sampai membuat gadis yang ia kenal sangat kuat ini sampai pingsan dan terlihat sangat tertekan dan seolah menyembunyikan sesuatu.
"Tak perlu dipikirkan. Uang itu sudah ku dapatkan dan operasi Nenek akan dilakukan sekaligus ia akan sembuh. Setelahnya tinggal perjuangan hidupku untuk membayar pinjaman uang itu seperti keputusan yang sudah disepakati bersama."
Tanpa sadar, satu butiran air mata, telah lolos berlinang di pipi mulus Diana...
Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu tersenyum seolah dunianya baik-baik saja. Padahal?
...***...
Damian membanting pintunya kasar, ia baru saja pulang ke rumahnya karena kemarin malam ia menginap di hotel, di temani dengan sebotol vodka yang sengaja ia simpan di sana, kepalanya terasa sangat berat, walaupun efek mabuknya sudah tidak separah tadi malam tapi efek dari mabuknya bahkan masih tersisa sampai saat ini.
Damian berjalan menuju dapur mewahnya yang di penuhi oleh warna hitam dan putih yang terkesan elegan, dengan sebuah bar kecil yang terletak tepat di depan meja dapur, ia berjalan menuju meja bar tersebut menarik salah satu kursi lalu duduk di atasnya, ia menuangkan air yang berada dalam teko yang terletak di sebelah kanan dari meja tersebut ke dalam gelas yang sudah tersaji di sana, lalu ia meneguknya sampai habis melewati kerongkongannya yang terasa sangat kering menimbulkan bunyi nikmat dari mulut Damian, ia meletakkan kepalanya di atas meja bar, matanya sedikit terpejam, entahlah semalam pikirannya sangat kacau, ia bahkan tak bisa fokus melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk dan hari ini memilih memberikan tanggung jawabnya pada Asisten Joo.
"Oh ****, berendam air hangat sepertinya bagus." Damian berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar utama yang tidak lain adalah kamarnya sendiri, ia menyalakan air untuk mengisi bath up-nya mengatur suhu dan segala rupa lalu kembali berjalan keluar
la mengeluarkan kalung milik entah siapa yang ia temukan di kamar hotelnya kemarin, kalung itu bukanlah kalung yang mahal bagi Damian tapi mungkin bagi orang yang memiliki ekonomi menengah ke bawah kalung ini termasuk barang berharga mereka, kalung ini sejenis kalung emas putih dengan dua lingkaran yang saling mengait satu sama lain sebagai liontin nya. Damian menatap kalung itu sebentar lalu menyimpannya di dalam kotak berlian kecil yang ia letakkan di dalam lemari pakaiannya.
__ADS_1
Setelah bath up terisi penuh dengan air hangat, Damian melepas semua pakaiannya, melemparkannya ke dalam bak cucian, lalu segera masuk ke kamar mandi dan merendamkan dirinya dalam bath up yang sudah siap dengan air hangat serta parfumnya.
Walaupun ia memiliki banyak pelayan di rumahnya, mengenai keperluan pribadi ia memilih untuk mandiri melakukan segala hal dengan sendirinya, akan tetapi terkadang tidak terlalu sering selalu mengandalkan pelayannya.